Seorang perempuan berlutut di bawah hujan sambil memohon agar aku mengembalikan suaminya. Masalahnya, seumur hidup aku belum pernah bertemu laki-laki itu.

Seorang perempuan berlutut di bawah hujan sambil memohon agar aku mengembalikan suaminya. Masalahnya, seumur hidup aku belum pernah bertemu dengan laki-laki itu.

Malam itu seharusnya menjadi malam biasa bagiku.

Aku hanya ingin pulang setelah menutup toko bunga kecil yang sudah menjadi sumber penghasilanku selama lima tahun terakhir. Toko itu tidak besar, hanya sebuah bangunan sederhana di sudut jalan Kota Bandung dengan rak-rak kayu penuh bunga segar, aroma melati, mawar, dan lili yang selalu menyambut setiap pelanggan.

Namaku Alina Prameswari.

Aku hidup sendiri sejak kedua orang tuaku meninggal. Tidak banyak yang kumiliki, tetapi aku selalu percaya bahwa bunga bisa membawa sedikit kebahagiaan bagi orang lain.

Namun malam itu, hidupku berubah hanya karena satu nama.

Alina.

Hujan turun begitu deras ketika aku menurunkan pintu besi toko.

Aku baru saja selesai menghitung uang hasil penjualan hari itu ketika seseorang tiba-tiba menarik lenganku.

“Tolong…”

Suara itu terdengar lemah.

Aku menoleh dan melihat seorang perempuan berdiri di tengah hujan.

Tidak.

Lebih tepatnya, dia sedang berlutut.

Usianya mungkin sekitar empat puluh tahun. Pakaiannya basah kuyup, wajahnya pucat, dan rambutnya menempel di pipinya.

Tangannya menggenggam ujung bajuku seperti orang yang sedang kehilangan harapan terakhir.

“Mohon… kembalikan suami saya.”

Aku terpaku.

“Apa?”

Dia menangis.

“Jangan ambil dia dari saya lagi.”

Beberapa orang yang sedang berteduh mulai memperhatikan kami. Ada yang berbisik, ada yang mengangkat ponsel.

Aku merasa panik.

“Bu, saya rasa Ibu salah orang.”

Aku mencoba membantunya berdiri, tetapi dia menolak.

“Tidak. Saya tidak salah.”

Dia membuka tas plastik yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah foto yang sudah sedikit basah.

“Ini suami saya.”

Aku melihat foto itu.

Seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun tersenyum di samping perempuan itu.

Wajahnya terlihat ramah.

Aku menggeleng.

“Saya tidak mengenal dia.”

Perempuan itu langsung menatapku.

“Kamu bohong.”

“Saya serius. Saya bahkan baru pertama kali melihat wajahnya malam ini.”

Air matanya semakin deras.

“Namanya Bima.”

Aku diam.

“Dia suami saya selama dua belas tahun. Dia tidak pernah meninggalkan rumah tanpa alasan. Tapi seminggu lalu dia pergi dan tidak kembali.”

Aku masih tidak mengerti apa hubungannya denganku.

Lalu dia berkata,

“Selama beberapa hari sebelum menghilang, dia terus menyebut satu nama.”

Jantungku tiba-tiba terasa tidak nyaman.

“Nama siapa?”

Dia menatapku.

“Alina.”

Aku terdiam.

“Nama itu yang dia tulis di ponselnya. Nama itu yang dia cari di internet. Nama itu yang dia ucapkan saat tidur.”

Aku menarik napas panjang.

“Bu, nama Alina bukan hanya satu di dunia ini.”

Aku mencoba tersenyum kecil agar dia mengerti.

“Mungkin ada Alina lain.”

Namun perempuan itu mengeluarkan ponselnya.

Tangannya gemetar saat membuka sebuah catatan.

Di layar terlihat tulisan tangan digital.

“Aku harus menemui Alina sebelum semuanya terlambat.”

Aku menatap layar itu lama.

Ada sesuatu yang aneh.

Aku tidak mengenal Bima.

Aku yakin.

Tapi mengapa namaku ada dalam catatan terakhirnya?

“Saya mohon,” kata perempuan itu pelan. “Kalau kamu benar-benar tidak mengenalnya, bantu saya menemukan dia.”

Aku seharusnya menolak.

Aku seharusnya masuk ke toko, mengunci pintu, lalu melupakan kejadian ini.

Tapi melihat mata perempuan itu membuatku tidak sanggup.

Ada ketakutan yang sangat dalam di sana.

Bukan hanya takut kehilangan suami.

Tapi takut kehilangan jawaban.

Akhirnya aku mengangguk.

“Baik. Saya akan membantu.”

Perempuan itu bernama Nila.

Malam itu kami duduk di sebuah kedai kopi kecil dekat toko karena hujan belum berhenti.

Nila menunjukkan semua hal yang berkaitan dengan Bima.

Foto keluarga mereka.

Pesan terakhir Bima.

Riwayat pencarian di ponselnya.

Semuanya mengarah pada satu hal.

Aku.

“Aku benar-benar tidak mengerti,” kataku.

Nila menatapku.

“Ada satu hal yang belum saya ceritakan.”

“Apa?”

“Seminggu sebelum dia pergi, Bima menemukan sebuah kotak lama di gudang rumah.”

“Apa isinya?”

Nila ragu.

“Surat.”

“Surat dari siapa?”

Dia menggeleng.

“Saya tidak tahu. Dia tidak pernah memperlihatkannya kepada saya.”

Aku semakin penasaran.

Keesokan harinya, aku pergi bersama Nila ke rumahnya.

Rumah itu berada di daerah pinggiran Bandung. Sederhana, tetapi terlihat nyaman.

Di ruang tamu terdapat banyak foto keluarga.

Foto Nila dan Bima.

Foto perjalanan mereka.

Foto kehidupan yang tampak bahagia.

Aku merasa bersalah.

Mungkin aku memang tidak mengenal Bima, tetapi kehadiranku telah menghancurkan ketenangan keluarga ini.

Di gudang, Nila menunjukkan kotak tua yang ditemukan Bima.

Kotak itu sudah kosong.

Namun di bagian bawahnya terdapat sebuah amplop kecil.

Namaku tertulis di sana.

“Untuk Alina.”

Tanganku langsung membeku.

“Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya,” kata Nila.

Aku membuka amplop itu dengan hati-hati.

Di dalamnya hanya ada satu halaman.

Tulisan tangan seorang pria.

Alina,

Jika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah menemukan keberanian untuk mencari kebenaran.

Maaf karena selama ini aku diam.

Aku tidak tahu apakah kamu masih mengingatku.

Aku menatap tulisan itu dengan bingung.

Aku tidak pernah mengenal siapa pun bernama Bima.

Aku membalik halaman itu.

Di bagian bawah ada sebuah kalimat.

“Aku adalah orang yang seharusnya menjaga ibumu saat terakhir kali dia membutuhkan bantuan.”

Dadaku langsung terasa sesak.

Ibuku?

Aku membaca surat itu sekali lagi.

Perlahan, potongan masa lalu mulai muncul.

Ibuku meninggal ketika aku berusia dua puluh tahun karena kecelakaan.

Selama ini aku hanya tahu satu cerita.

Ibuku meninggal sendirian di rumah sakit.

Tidak ada yang menemaninya.

Tidak ada yang tahu kenapa.

Tapi surat itu mengatakan sesuatu yang berbeda.

Bima tahu tentang ibuku.

Aku menatap Nila.

“Suami Ibu… siapa sebenarnya?”

Nila terlihat sama bingungnya denganku.

“Saya juga tidak tahu.”

Kami mencari lebih banyak informasi.

Dari teman-teman Bima, kami menemukan bahwa sebelum menjadi pengusaha kecil, Bima pernah bekerja sebagai jurnalis.

Lima belas tahun lalu, dia pernah menyelidiki sebuah kasus kecelakaan yang melibatkan seorang perempuan bernama Ratih Prameswari.

Nama ibuku.

Aku merasa dunia berhenti berputar.

Bima ternyata bukan mencari hubungan denganku.

Dia mencari kebenaran tentang kematian ibuku.

Menurut catatan lamanya, Bima menemukan bukti bahwa kecelakaan itu bukan sekadar kecelakaan.

Ada seseorang yang menyembunyikan sesuatu.

Namun sebelum dia bisa menyelesaikan penyelidikan, dia menghilang.

Aku dan Nila mulai mencari keberadaan Bima.

Kami mengikuti petunjuk terakhir dari catatan di ponselnya.

Sebuah alamat.

Sebuah gedung lama.

Tempat yang dulu menjadi kantor Bima sebagai jurnalis.

Di sana kami menemukan sebuah ruangan kecil yang penuh dokumen lama.

Dan di tengah ruangan itu…

Ada Bima.

Dia duduk di kursi.

Masih hidup.

Tetapi wajahnya penuh kelelahan.

Nila langsung berlari memeluknya.

“Bima!”

Pria itu terkejut.

“Nila?”

Aku berdiri di belakang.

Bima menatapku.

Matanya langsung membesar.

“Kamu Alina?”

Aku mengangguk pelan.

Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Akhirnya…”

Nila menangis.

“Kamu pergi selama seminggu hanya untuk mencari dia?”

Bima menatap istrinya dengan rasa bersalah.

“Aku tidak ingin melibatkan kalian.”

“Melibatkan kami dalam apa?”

Bima mengambil sebuah map dari meja.

Di dalamnya ada dokumen lama.

“Lima belas tahun lalu, aku menemukan bahwa kecelakaan ibu Alina bukan kecelakaan biasa.”

Aku menahan napas.

“Apa yang terjadi?”

Bima menatapku.

“Ada seseorang yang sengaja membuat mobil ibumu kehilangan kendali.”

Aku merasa tubuhku melemah.

“Siapa?”

Bima diam beberapa detik.

“Orang yang selama ini kamu percaya.”

Aku terkejut.

“Siapa?”

Bima menyerahkan sebuah foto lama.

Di dalam foto itu ada ibuku.

Dan seorang pria yang sangat kukenal.

Paman yang selama ini merawatku setelah orang tuaku meninggal.

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Selama bertahun-tahun aku mengira dia adalah orang yang menyelamatkanku.

Ternyata dia adalah orang yang menyimpan rahasia terbesar keluargaku.

Kasus itu akhirnya dibuka kembali setelah bukti dari Bima diserahkan kepada pihak berwenang.

Paman yang selama ini menyembunyikan kebenaran akhirnya mengakui perbuatannya.

Dia tidak pernah menyangka bahwa satu penyelidikan lama akan kembali muncul setelah bertahun-tahun.

Beberapa bulan kemudian, hidup kami berubah.

Bima dan Nila kembali membangun rumah tangga mereka.

Aku akhirnya mendapatkan jawaban tentang ibuku.

Namun ada satu hal yang tidak pernah kulupakan.

Malam ketika Nila datang dalam hujan dan berlutut di depanku.

Dulu aku mengira dia datang untuk menuduhku merebut suaminya.

Ternyata dia datang membawa jalan menuju kebenaran yang selama ini hilang.

Kadang seseorang datang ke hidup kita bukan untuk menghancurkannya.

Kadang mereka datang membawa potongan cerita yang belum selesai.

Dan terkadang, sebuah nama yang sama sekali tidak kita kenal bisa menjadi kunci untuk menemukan masa lalu yang selama ini kita cari.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang