Hujan malam itu turun begitu deras sampai suara petir menenggelamkan tangisku.
Aku masih berlutut di lantai ruang tamu rumah yang selama tiga tahun kusebut sebagai rumahku. Ujung pakaian rumahku basah karena air hujan yang masuk dari teras. Tanganku gemetar, bukan hanya karena dingin, tetapi karena aku tidak percaya bahwa malam ini aku benar-benar diusir dari tempat yang selama ini menjadi saksi semua perjuanganku.
Di depanku, koperku tergeletak.

Semua pakaian yang kususun rapi selama tiga tahun kini berantakan. Beberapa baju bahkan sudah terkena cipratan air hujan. Foto pernikahan kami yang kusimpan di dalam koper ikut jatuh ke lantai.
Bu Ratna, ibu mertuaku, berdiri di hadapanku dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya begitu dingin, seolah aku bukan orang yang selama ini memasak untuknya ketika sakit, mengantar kontrol ke rumah sakit, dan menemaninya saat dia merasa kesepian.
“Keluar.”
Satu kata itu menghancurkan hatiku.
Aku menggeleng pelan.
“Bu, tolong.”
“Jangan panggil aku begitu.”
Dadaku terasa sesak.
Aku menoleh ke arah suamiku.
“Arga.”
Dia berdiri di dekat tangga. Wajahnya pucat. Matanya menatap lantai. Aku menunggu dia bergerak. Aku menunggu dia membelaku seperti saat kami pertama kali berjanji untuk saling menjaga.
Apa saja.
Satu kalimat.
Satu alasan.
Satu pembelaan.
Namun Arga hanya diam.
Aku merasa seperti berdiri sendirian di tengah ruangan yang penuh dengan orang-orang yang pernah kucintai.
“Aku tidak melakukan apa yang Mama tuduhkan,” kataku dengan suara bergetar.
Bu Ratna mendengus.
“Bukti sudah ada.”
“Aku tidak mencuri uang itu.”
“Rekening atas namamu.”
Kalimat itu membuat tubuhku seakan kehilangan tenaga.
Aku tahu tentang rekening itu.
Itu adalah rekening yang dibuat tiga tahun lalu ketika Arga meminta bantuanku mengurus keuangan usaha keluarganya. Aku hanya menggunakan rekening itu untuk menerima pembayaran dari beberapa pelanggan karena saat itu rekening perusahaan sedang bermasalah.
Aku tidak pernah menyangka rekening itu akan menjadi alasan aku dihancurkan.
“Uang itu bukan milikku, Bu. Aku hanya membantu mengelola transaksi.”
“Jangan berbohong lagi.”
“Aku punya bukti.”
“Bukti?” Bu Ratna tertawa kecil. “Semua orang yang melakukan kesalahan selalu bilang mereka punya bukti.”
Aku menatap Arga lagi.
“Mas, jelaskan pada Mama.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Arga mengangkat wajahnya.
“Aku…”
Suaranya berhenti.
Aku menunggu.
Namun yang keluar dari mulutnya justru kalimat yang membuat hatiku runtuh.
“Kamu sebaiknya pergi dulu, Maya.”
Aku terdiam.
“Pergi?”
“Mama sedang marah. Kalau kamu tetap di sini, semuanya akan semakin buruk.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi kamu percaya aku mencuri?”
Arga tidak menjawab.
Dan diamnya adalah jawaban paling menyakitkan.
Aku berdiri perlahan. Lututku terasa lemah setelah terlalu lama berada di lantai.
“Tiga tahun aku tinggal di rumah ini. Tiga tahun aku menjaga Mama seperti ibuku sendiri. Saat Mama sakit, siapa yang menemani di rumah sakit? Saat usaha keluarga kalian hampir bangkrut, siapa yang membantu mencari solusi?”
Tidak ada yang menjawab.
“Aku tidak meminta kalian membalas semuanya. Aku hanya ingin kalian percaya padaku.”
Bu Ratna berjalan mendekat lalu menunjuk pintu.
“Kamu akan segera kembali.”
Aku menatapnya bingung.
“Apa maksud Ibu?”
“Kamu akan kembali ke sini dan meminta maaf.”
Aku hampir tertawa karena tidak percaya.
“Untuk kesalahan yang tidak aku lakukan?”
Bu Ratna hanya tersenyum tipis.
“Waktu akan membuktikan siapa yang benar.”
Lalu dia mengambil koperku dan mendorongnya keluar.
Pintu rumah tertutup di belakangku.
Aku berdiri di bawah hujan dengan tubuh menggigil.
Malam itu aku pulang ke rumah orang tuaku dengan membawa satu koper dan hati yang hancur.
Aku tidak tahu bahwa kalimat terakhir Bu Ratna akan menjadi sesuatu yang benar-benar terjadi.
Tapi bukan seperti yang dia bayangkan.
Dua hari setelah aku pergi, hidupku berubah.
Aku tinggal sementara di rumah kecil milik orang tuaku di Bekasi. Ibuku tidak banyak bertanya ketika melihat mataku bengkak. Dia hanya memelukku dan berkata bahwa rumah itu tetap menjadi tempatku pulang.
Namun aku tidak bisa hanya diam.
Aku tahu aku harus membersihkan namaku.
Aku mulai mencari semua dokumen transaksi yang pernah kulakukan. Untungnya, selama bekerja membantu usaha keluarga Arga, aku selalu menyimpan catatan.
Aku bukan orang yang ceroboh.
Aku tahu uang bukan sesuatu yang bisa diperlakukan sembarangan.
Setelah memeriksa semua dokumen, aku menemukan sesuatu yang aneh.
Ada beberapa transaksi besar yang masuk ke rekening atas namaku, tetapi bukan aku yang mengirimkannya.
Nomor perangkat yang digunakan untuk mengakses rekening itu berbeda.
Aku segera pergi ke bank.
Setelah melakukan pemeriksaan, pihak bank mengatakan bahwa ada aktivitas mencurigakan dari perangkat lain.
“Ada kemungkinan akun Anda digunakan oleh orang lain,” kata petugas bank.
Aku menarik napas panjang.
Selama ini semua orang menganggap aku pencuri.
Padahal seseorang telah menggunakan namaku.
Aku mulai mencari tahu.
Dan semakin dalam aku mencari, semakin banyak rahasia yang terbuka.
Ternyata beberapa bulan sebelum aku diusir, Arga mengalami masalah besar dalam bisnis keluarganya. Ada utang yang tidak pernah dia ceritakan kepadaku.
Aku menemukan beberapa email lama di laptop bersama yang dulu kami gunakan.
Ada pesan dari seseorang yang menagih pembayaran.
Aku membaca semuanya dengan tangan gemetar.
Arga terlilit utang.
Tetapi yang lebih mengejutkan, ada transaksi uang besar dari rekening keluarganya ke rekening pribadi seseorang.
Seseorang yang sangat aku kenal.
Aku mencoba menghubungi Arga.
Awalnya dia tidak menjawab.
Sampai akhirnya malam ketiga dia meneleponku.
“Maya.”
Suaranya terdengar lelah.
“Mas, aku tahu semuanya.”
Hening.
“Kamu tahu apa?”
“Aku tahu tentang utangmu. Aku tahu tentang transaksi itu.”
Napasnya terdengar berat.
“Maya, dengarkan aku…”
“Kenapa, Mas?”
Suaraku pecah.
“Kenapa kamu diam saat aku dituduh?”
Lama sekali dia tidak menjawab.
“Aku takut.”
Aku menutup mata.
“Takut apa?”
“Aku takut kehilangan semuanya.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tuduhan pencurian.
“Aku tidak mencuri uang kalian, Mas. Tapi kamu membiarkan semua orang percaya bahwa aku pencuri hanya karena kamu ingin menyelamatkan dirimu sendiri.”
“Aku akan memperbaikinya.”
“Tidak. Aku yang akan memperbaiki namaku.”
Aku menutup telepon.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan kami, aku memilih diriku sendiri.
Seminggu kemudian, aku kembali ke rumah Arga.
Bukan untuk meminta maaf.
Bukan untuk memohon diterima kembali.
Aku datang membawa bukti.
Bu Ratna sedang duduk di ruang tamu ketika aku masuk. Wajahnya langsung berubah.
“Kamu kembali?”
Aku meletakkan sebuah map di meja.
“Ya. Tapi bukan seperti yang Ibu pikirkan.”
Arga turun dari tangga. Wajahnya langsung pucat ketika melihat dokumen yang kubawa.
“Apa ini?”
“Bukti bahwa aku tidak mencuri uang kalian.”
Bu Ratna membuka dokumen itu.
Semakin lama membaca, wajahnya semakin berubah.
“Tidak mungkin…”
“Ada rekaman akses rekening, laporan bank, dan bukti transaksi.”
Aku menatap Arga.
“Mas yang tahu siapa yang menggunakan rekening itu.”
Arga menunduk.
Ruangan itu menjadi sangat sunyi.
Akhirnya dia berkata pelan.
“Aku yang mengambil uang itu.”
Bu Ratna menatap anaknya dengan kaget.
“Apa?”
“Aku menggunakan rekening Maya karena rekening perusahaan sedang dibekukan.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Arga menangis.
“Karena aku takut Mama kecewa.”
Aku tersenyum pahit.
“Dan karena lebih mudah membiarkan aku disalahkan.”
Bu Ratna terdiam.
Untuk pertama kalinya aku melihat wanita yang selalu terlihat kuat itu kehilangan kata-kata.
“Aku pikir kamu yang mengambil uang itu,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Aku salah.”
Aku tidak langsung menjawab.
Tiga tahun aku berusaha menjadi menantu yang baik. Tiga tahun aku menganggap keluarga Arga sebagai keluargaku sendiri.
Tetapi satu tuduhan cukup untuk membuat semuanya runtuh.
Bu Ratna mendekat.
“Maya…”
Aku mengangkat tangan menghentikannya.
“Aku menerima permintaan maaf Ibu. Tapi aku tidak bisa kembali seperti dulu.”
Arga menatapku dengan mata penuh penyesalan.
“Maya, apakah masih ada kesempatan untuk kita?”
Aku memandang pria yang dulu sangat kucintai.
“Ada hal yang bisa diperbaiki, Mas. Tapi kepercayaan bukan sesuatu yang bisa dikembalikan hanya dengan kata maaf.”
Aku mengambil koper yang sudah kuletakkan di dekat pintu.
Kali ini bukan karena aku diusir.
Tetapi karena aku memilih pergi.
Beberapa bulan kemudian, hidupku berubah.
Aku membangun usaha kecil sendiri. Perlahan, aku kembali menemukan diriku yang dulu hilang karena terlalu sibuk menjadi istri dan menantu yang sempurna.
Suatu hari, aku menerima sebuah surat.
Surat itu dari Bu Ratna.
Di dalamnya hanya ada beberapa kalimat.
“Maya, dulu aku berkata kamu akan segera kembali. Aku salah. Yang kembali bukan kamu, tetapi kesadaranku bahwa aku telah kehilangan seseorang yang tulus karena aku terlalu cepat percaya pada tuduhan.”
Aku membaca surat itu lama.
Aku tidak membenci mereka.
Tapi aku juga tidak lagi menunggu mereka mengakui nilainya.
Karena malam ketika aku berdiri di bawah hujan dengan koper di tangan, aku kehilangan sebuah rumah.
Namun aku menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.
Diriku sendiri.
