Ketiga pria itu terdiam selama satu detik, saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak.
“Bocah ingusan?” ejek pemimpin mereka. “Mending kamu pulang dan cuci piring, daripada tulangmu patah malam ini.”
Bima, yang terbiasa mengendalikan rapat direksi dengan satu tatapan, merasa situasi ini konyol. Namun, ia melihat sorot mata gadis itu—bukan rasa takut, melainkan determinasi liar yang mengingatkannya pada sesuatu dari masa lalu yang terkubur dalam.
Tanpa peringatan, pemimpin preman itu menerjang ke arah Nara.

Nara tidak mundur. Dengan kelincahan yang terlatih oleh kerasnya jalanan, ia merunduk menghindari pukulan kasar si pria, lalu mengayunkan kayu di tangannya dengan telak ke arah tulang kering penyerangnya. Braak! Pria itu mengerang keras dan jatuh berlutut.
“Sekarang!” teriak Nara pada Bima.
Bima yang terkejut, segera bertindak. Ia menggunakan berat badannya untuk menghantam pria kedua yang lengah dengan bahunya, lalu memberikan pukulan hook yang ia pelajari di pusat kebugaran elit ke arah rahang pria ketiga. Pertarungan itu singkat, brutal, dan berakhir dengan ketiga pria itu lari terbirit-birit setelah salah satu dari mereka terkena hantaman kayu Nara di punggungnya.
Suasana kembali sunyi. Hanya ada suara napas terengah-engah.
Bima memperbaiki letak jasnya yang sedikit miring, mencoba memulihkan martabatnya. Ia menoleh ke arah gadis itu. Namun, ketika matanya menangkap wajah Nara di bawah lampu jalan yang temaram, jantungnya seolah berhenti berdetak.
“Nara?” suaranya pecah, tidak terdengar seperti miliarder yang ditakuti.
Nara membeku. Ia menatap pria di depannya, lalu perlahan menjatuhkan kayunya. Matanya melebar, mengenali fitur wajah yang tak pernah benar-benar ia lupakan meski lima tahun telah berlalu sejak Bima memutus hubungan karena tuntutan keluarganya.
“Bima?” bisik Nara.
Sebelum mereka sempat berkata lebih jauh, sebuah gerakan di balik tumpukan kardus di pojok jalan menarik perhatian. Seorang anak laki-laki kecil, kira-kira berusia empat tahun dengan wajah yang sangat mirip Bima—terutama pada garis rahang dan bentuk matanya yang tajam—merangkak keluar. Anak itu memegang sepotong roti kering yang ia ambil dari tempat sampah.
“Mama?” panggil anak itu dengan suara serak.
Bima tertegun. Ia menatap anak itu, lalu menatap Nara, dan kembali ke anak itu. Dunia seakan berputar. Sisa-sisa roti di tangan anak itu, baju lusuh yang dikenakannya, dan tatapan mata yang ia kenali sebagai miliknya sendiri—sebuah kilatan kecerdasan yang angkuh—membuat Bima tersungkur lemas ke atas kap mobilnya.
“Nara…” Bima tercekat. “Siapa… siapa dia?”
Nara memeluk anak itu erat-erat, melindunginya dari tatapan Bima yang penuh dengan keterkejutan dan rasa bersalah yang menghantam dadanya seperti palu godam.
“Dia tidak punya siapa-siapa, Bima,” suara Nara bergetar, dingin dan penuh kebencian yang terpendam. “Seperti aku yang tidak punya siapa-siapa setelah kamu pergi. Jangan pernah bermimpi untuk mengenalnya sekarang.”
Bima menatap anak itu—darah dagingnya sendiri yang kini sedang mengunyah sisa makanan dari tempat sampah—dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kekuasaan dan uangnya terasa tidak ada artinya dibandingkan dengan tatapan lapar yang diberikan putranya sendiri.
Apa yang harus Bima lakukan sekarang untuk memperbaiki keadaan setelah mengetahui kebenaran yang pahit ini?
