Aku mengira telah menikahi wanita yang tepat..

Di bagian belakang salah satu foto, ada tulisan tangan yang sangat kukenali. Tulisan tangan Andrea yang rapi namun sedikit miring.

“Milikku selamanya, Gabriel. 12 April 2016.”

Tanganku gemetar. Tanggal itu sepuluh tahun yang lalu. Berarti, lima tahun sebelum aku dan Andrea pertama kali bertemu. Aku membalik foto-foto lain. Di sana ada potongan koran lama yang terlipat rapi di dasar kotak. Judul beritanya membuat jantungku seakan berhenti berdetak:

“Kecelakaan Tragis di Jalur Selatan, Sepasang Kekasih Terperosok ke Jurang; Satu Korban Jiwa Ditemukan.”

Nama korbannya adalah Gabriel. Dia meninggal di tempat. Sementara penumpang wanitanya—Andrea—selamat dengan luka parah.

Fakta itu menghantamku telak. Jadi, inilah alasan mengapa Andrea selalu menolak jika kuajak bepergian lewat jalur darat ke luar kota. Inilah alasan mengapa dia selalu memakai gelang perak tipis di pergelangan tangan kirinya yang tak pernah boleh kulepas—gelang yang dalam foto itu, ternyata juga melingkar di tangan Gabriel.

Aku pulang ke rumah kami dengan jiwa yang kosong. Kotak itu tidak kubawa, tapi isinya sudah melekat mati di kepalaku.

Konfrontasi di Ruang Tengah

Malamnya, suasana rumah terasa begitu sunyi. Andrea sedang menyiapkan makan malam di dapur, bersenandung kecil seolah dunia baik-baik saja. Namun bagiku, senyuman itu kini terasa seperti topeng yang sangat tebal.

“Marco, makanannya sudah siap. Kamu mau minum apa?” tanyanya lembut saat melihatku duduk di sofa ruang tengah.

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya lurus. “Siapa Gabriel, Andrea?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Dingin dan menusuk.

Seketika, gerakan Andrea terhenti. Sendok di tangannya berdenting pelat saat menyentuh piring. Wajahnya yang tadinya cerah mendadak pucat pasi, kehilangan seluruh rona darahnya.

“M-marco… apa maksudmu?” suaranya bergetar.

“Malam pernikahan kita,” kataku sambil berdiri, melangkah perlahan mendekatinya. “Kamu memanggil namanya dalam tidurmu. Kamu menangis untuknya. Dan hari ini, aku pergi ke gudang rumah ibumu. Aku menemukan kotak itu.”

Andrea mundur satu langkah, bersandar pada meja dapur seolah kakinya tak lagi kuat menopang berat badannya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?” tanyaku lagi, kali ini dengan nada yang getir. “Tiga tahun kita pacaran, Andrea. Kita baru saja berjanji di depan altar untuk saling terbuka. Tapi ternyata, kamu membawa hantu masa lalumu ke dalam tempat tidur kita!”

Kebenaran yang Menyakitkan

Andrea tergugu. Dia jatuh terduduk di lantai dapur, menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya. Isak tangis yang malam itu kudengar samar, kini pecah dengan begitu hebatnya di hadapanku.

“Maaf… Maafkan aku, Marco…” bisiknya di sela tangis.

Setelah beberapa menit yang menyiksa, dia akhirnya mendongak. Matanya merah dan sembap.

“Dia… dia adalah tunanganku. Kami bersiap untuk menikah ketika kecelakaan itu terjadi,” ucap Andrea dengan suara parau. “Malam itu, aku yang memintanya menyetir di tengah badai. Aku yang menyebabkannya meninggal, Marco! Aku bertahan hidup dengan rasa bersalah yang membunuhku setiap hari.”

Dia memegang dadanya, napasnya tersengal-sengal.

“Lalu kenapa kamu menikahiku jika hatimu masih tertinggal di masa lalu?” tanyaku, merasakan perih yang luar biasa di dadaku sendiri. Aku mencintainya, sangat mencintainya, dan kenyataan bahwa aku hanyalah pelarian atau pengganti membuatku hancur.

“Tidak, Marco! Demi Tuhan, tidak seperti itu!” Andrea merangkak mendekatiku, memegang ujung celanaku dengan tatapan memohon. “Aku mencintaimu. Sungguh. Bersamamu, aku merasa bisa bernapas lagi setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan. Kamu adalah masa depanku.”

“Tapi kamu masih menangisinya,” sahutku lirih.

“Malam pernikahan kita… aku bermimpi tentang kecelakaan itu lagi. Gabriel datang dalam mimpiku, dia tersenyum dan berkata dia ikut bahagia untukku. Itu adalah cara otakku melepaskannya, Marco. Itu adalah ucapan selamat tinggal terakhir darinya di alam bawah sadarku…”

Persimpangan Jalan

Aku menatap istri yang baru kunikahi beberapa hari ini. Ada rasa amarah yang besar karena merasa dibohongi, namun ada juga rasa iba yang mendalam melihat luka menganga yang selama ini dia sembunyikan sendirian.

Aku mundur selangkah, melepaskan pegangan tangannya dengan perlahan.

“Aku butuh waktu, Andrea,” kataku dengan suara yang nyaris tak terdengar. “Aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa hidup dalam bayang-bayang pria mati. Aku tidak tahu apakah aku bisa berjalan bersamamu jika setiap kali aku melihatmu, aku akan selalu bertanya-tanya: apakah kamu melihatku sebagai Marco, atau sebagai Gabriel?

Malam itu, aku pergi meninggalkan rumah, membawa kunci mobil dan menyisakan Andrea yang menangis sendirian di lantai dapur. Pernikahan kami yang baru seumur jagung kini berada di tepi jurang yang sama dengan jurang yang merenggut nyawa Gabriel lima tahun lalu. Dan aku belum tahu, apakah kami akan selamat, atau ikut hancur di dalamnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang