Keluarga suaminya menyuruhnya menanggalkan pakaian di depan semua orang

Nyonya Foster mencoba menguasai diri. Ia berdeham, memaksakan senyum angkuh yang tampak kaku. “Kalian siapa? Berani sekali masuk tanpa izin ke kediaman Foster! Dan apa maksudnya ‘anggota keluarga’? Anna hanyalah gadis miskin dari Ohio yang beruntung bisa menikah dengan putraku.”

Ethan melangkah maju, senyum sinis tersungging di bibirnya. Ia membuka kancing jas desainer kustomnya dan berdiri tepat di depan Anna, seolah menjadi perisai hidup bagi adiknya.

“Gadis miskin?” Ethan tertawa, suara yang terdengar renyah namun dingin menusuk tulang. “Oh, Nyonya Foster yang terhormat. Sepertinya jaringan intelijen bisnismu yang katanya ‘terpandang’ itu sudah sangat kedaluwarsa.”

Liam berjalan mendekati Anna, melepaskan jas wol mewahnya, dan menyampirkannya dengan lembut ke bahu Anna yang gemetar. “Kamu tidak apa-apa, Ann? Maaf kami terlambat. Menjaga rahasiamu ternyata hampir membuatmu celaka,” bisik Liam, matanya melembut hanya untuk adiknya, sebelum kembali berubah menjadi sekeras es saat menatap Daniel.

Daniel, yang akhirnya menyadari ada sesuatu yang salah, meletakkan gelas wiskinya dengan tangan gemetar. “Anna… siapa mereka?”

Anna menghapus air matanya. Rasa takut yang tadinya melumpuhkannya kini menguap, digantikan oleh gelombang kekuatan baru. “Mereka adalah kakak-kakak kandungku, Daniel. Kakak yang selama dua tahun ini sengaja kukemas dalam cerita ‘latar belakang sederhana’ karena aku ingin tahu… apakah kamu mencintaiku apa adanya, atau karena uangku.”

Ruangan itu seketika hening. Begitu sunyi hingga detak jam dinding terdengar seperti bom waktu.

“Williams…” gumam salah satu tamu undangan di sudut ruangan, wajahnya mendadak pucat. “Apakah mereka… Williams dari Williams Global Logistics? Konglomerat yang baru saja membeli hak jalur pelayaran Teluk Texas senilai ratusan juta dolar?”

Mendengar hal itu, wajah Nyonya Foster langsung kehilangan seluruh warnanya. Bisnis keluarga Foster bergerak di bidang manufaktur dan mereka sangat bergantung pada jalur logistik tersebut untuk bertahan hidup dari kebangkrutan yang mengintai.

“Itu tidak mungkin!” seru Nyonya Foster, suaranya melengking panik. “Anna hanya anak yatim dari Ohio!”

“Kami memang tumbuh besar di Ohio dengan penuh perjuangan, Nyonya Foster,” Liam menyahut, suaranya tenang namun penuh penekanan. “Namun dalam tujuh tahun terakhir, kami membangun imperium kami. Dan Anna? Dia bukan hanya adik kami. Dia adalah pemegang saham utama dari 40% aset Williams Global.”

Liam kemudian menatap gaun yang dikenakan Anna. “Dan mengenai gaun itu… itu bukan buatan China, Nyonya Foster. Itu adalah mahakarya khusus dari rumah mode Haute Couture di Paris yang dipesan Ethan untuk ulang tahun Anna. Labelnya ada di bagian dalam kerah, dijahit dengan benang emas 24 karat. Apakah Anda masih ingin adikku melepaskannya untuk memuaskan ego rendahan Anda?”

Nyonya Foster terduduk lemas di kursi kulitnya. Matanya terbelalak penuh horor. Ia memandang ke arah Daniel, memberi kode agar putranya melakukan sesuatu.

Daniel langsung merangkak mendekati Anna, mencoba meraih tangannya. “Anna… Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu… Aku hanya bingung tadi. Tolong, katakan pada kakak-kakakmu kalau ini hanya kesalahpahaman. Aku mencintaimu, Anna!”

Anna menarik tangannya dari jangkauan Daniel dengan tatapan jijik. Dua tahun kesetiaannya dibalas dengan keheningan Daniel saat harganya dirinya diinjak-injak.

“Kamu tidak mencintaiku, Daniel. Kamu hanya mencintai dirimu sendiri dan ketakutanmu pada ibumu,” kata Anna, suaranya kini terdengar begitu dingin dan tegas.

Ethan mengeluarkan sebuah map tebal dari tas kulitnya dan melemparkannya ke atas meja kopi di depan Daniel. Map itu mendarat dengan suara debukan keras.

“Itu adalah dokumen gugatan cerai dan pembatalan seluruh kontrak kerja sama logistik antara Williams Global dan Foster Enterprises,” ujar Ethan dingin. “Mulai besok pagi, seluruh truk dan kapal kami tidak akan menyentuh satu pun produk dari perusahaan kalian. Mari kita lihat seberapa lama nama besar ‘Foster’ bisa bertahan tanpa logistik kami.”

“Tidak! Tolong jangan lakukan ini! Kita bisa bicarakan ini!” ratap Nyonya Foster, keangkuhannya runtuh total. Ia bahkan mencoba berlutut di depan Anna, namun Liam menghalanginya.

“Waktu untuk bicara sudah habis saat Anda menyuruh adikku menanggalkan pakaiannya,” ucap Liam tajam.

Anna menatap Daniel dan ibunya untuk terakhir kali. Tidak ada lagi air mata, yang ada hanyalah kebebasan. Ia membalikkan badan, berjalan di antara Liam dan Ethan yang menjaganya layaknya seorang ratu.

Saat mereka melangkah keluar dari mansion Foster yang megah, pintu besar dari kayu oak itu tertutup di belakang mereka, meninggalkan keluarga Foster dalam kehancuran yang mereka ciptakan sendiri. Malam musim panas yang gerah itu menjadi saksi hilangnya harga diri sebuah keluarga angkuh, dan bangkitnya kembali seorang wanita yang tidak akan pernah bisa mereka sentuh lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang