Aku menemukan pesan-pesan perselingkuhan di ponsel suamiku. Tapi ketika kulacak nomor perempuan itu, data operator menunjukkan sesuatu yang membuatku membeku.

“Bu…”

“Iya?”

Petugas operator itu menatap layar komputer sekali lagi, seolah memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukan kesalahan.

“Nomor ini benar terdaftar atas nama Ibu Naila.”

Aku terdiam.

Untuk beberapa detik, aku bahkan lupa bagaimana cara bernapas.

“Maksud Bapak… nomor itu atas nama saya?”

Petugas itu mengangguk pelan.

“Iya, Bu. Berdasarkan data kami, nomor ini sudah aktif sejak tujuh tahun lalu. Identitas pemiliknya menggunakan KTP Ibu.”

Tanganku mulai dingin.

“Tapi itu tidak mungkin.”

Aku menggeleng.

“Aku tidak pernah punya nomor itu.”

Petugas itu melihatku dengan tatapan bingung.

“Mungkin Ibu pernah lupa mendaftarkan nomor lama?”

Aku ingin menjawab tidak.

Aku ingin mengatakan bahwa aku mengenal semua nomor yang pernah kupakai. Aku tidak pernah menggunakan nomor itu. Tidak pernah membeli kartu itu. Tidak pernah memegangnya.

Tapi di kepalaku tiba-tiba muncul satu pertanyaan yang membuat dadaku semakin sesak.

Kalau nomor itu atas namaku…

Lalu siapa perempuan yang selama enam bulan terakhir mengirim pesan kepada suamiku?

Aku pulang dengan langkah yang tidak terasa nyata.

Sepanjang perjalanan, pikiranku berputar.

Pesan-pesan itu.

Foto makanan mereka.

Panggilan sayang.

Rencana bertemu.

Semua bukti perselingkuhan yang selama ini kupikir berasal dari perempuan lain.

Ternyata terhubung dengan identitasku sendiri.

Sampai di rumah, aku melihat Fajar sedang duduk di ruang tamu.

Dia tersenyum seperti biasa.

“Kamu dari mana?”

Aku menatap wajah pria yang sudah menjadi suamiku selama delapan tahun.

Pria yang selalu kupikir adalah rumahku.

“Aku pergi mengurus sesuatu.”

Dia mengangguk tanpa curiga.

“Kamu kelihatan pucat. Kamu sakit?”

Aku hampir tertawa.

Aneh.

Bagaimana seseorang bisa bertanya apakah aku baik-baik saja, sementara mungkin dialah alasan aku hancur?

“Aku baik-baik saja.”

Aku masuk kamar dan menutup pintu.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku membuka kembali semua foto percakapan yang kusimpan.

Lalu aku memperhatikan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kusadari.

Nomor perempuan itu tidak pernah menyebut namanya.

Fajar hanya menyimpannya dengan nama “N”.

Awalnya aku mengira itu hanya nama panggilan.

Tapi sekarang…

Aku mulai merasa ada sesuatu yang jauh lebih buruk dari sekadar perselingkuhan.

Keesokan harinya, aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri.

Aku pergi ke kantor operator lagi dan meminta riwayat pendaftaran nomor tersebut.

Petugas awalnya mengatakan data itu tidak bisa diberikan sembarangan.

Namun setelah aku menjelaskan bahwa nomor itu digunakan dalam kasus dugaan penyalahgunaan identitas, mereka akhirnya membantu memeriksa.

Hasilnya membuatku semakin terkejut.

Nomor itu memang terdaftar atas namaku.

Tetapi pendaftarannya dilakukan tujuh tahun lalu.

Tanggalnya tepat.

Tanggal yang sama ketika aku dan Fajar baru menikah.

Aku memejamkan mata.

Tujuh tahun lalu.

Saat itu aku sedang sibuk mengurus pernikahan.

Aku ingat Fajar pernah berkata bahwa semua urusan kartu keluarga, administrasi, dan pendaftaran data akan dia bantu.

“Aku yang urus saja. Kamu fokus ke persiapan pernikahan.”

Saat itu aku percaya.

Karena bukankah pernikahan berarti saling percaya?

Aku kembali ke rumah dengan perasaan kacau.

Aku tidak langsung menuduh Fajar.

Aku ingin tahu kebenarannya.

Malam hari, saat makan malam, aku memperhatikan setiap gerakannya.

Cara dia memegang sendok.

Cara dia melihat ponselnya setiap kali ada notifikasi.

Cara dia tersenyum kecil ketika membaca sesuatu.

Dulu semua itu terasa biasa.

Sekarang semuanya terlihat mencurigakan.

“Fajar.”

Dia menatapku.

“Iya?”

“Aku mau tanya sesuatu.”

Dia tersenyum.

“Tanya saja.”

“Kamu pernah membuatkan aku nomor telepon baru tujuh tahun lalu?”

Tangannya berhenti bergerak.

Hanya satu detik.

Tapi aku melihatnya.

“Apa maksud kamu?”

“Kamu pernah mendaftarkan nomor atas namaku?”

Wajahnya berubah.

Sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Tapi aku mengenal suamiku.

Delapan tahun hidup bersama membuatku tahu perubahan sekecil apa pun.

“Aku tidak ingat.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku menatapnya.

“Tidak ingat?”

“Iya. Sudah lama.”

Aku tersenyum tipis.

“Tapi aku ingat.”

Dia diam.

“Aku ingat kamu bilang semua administrasi akan kamu urus.”

Fajar mulai terlihat tidak nyaman.

“Naila, kenapa tiba-tiba membahas ini?”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya mengeluarkan ponselku dan menunjukkan tangkapan layar percakapan.

Wajahnya langsung berubah.

Dalam satu detik.

Semua warna di wajahnya menghilang.

“Kamu membuka ponselku?”

Itu pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya.

Bukan penyangkalan.

Bukan penjelasan.

Bukan rasa bersalah.

Aku tertawa kecil.

“Jadi benar?”

“Naila…”

“Siapa dia?”

Fajar diam.

“Siapa perempuan yang enam bulan ini kamu temui?”

Dia mengusap wajahnya.

“Aku bisa menjelaskan.”

“Jelaskan.”

Suara ku bergetar.

“Tapi jangan bohong lagi.”

Ruangan menjadi sunyi.

Akhirnya Fajar menunduk.

“Namanya Rani.”

Aku merasakan sakit yang tajam di dada.

“Rani?”

“Iya.”

“Kenapa nomor dia atas namaku?”

Fajar tidak menjawab.

Dan diamnya adalah jawaban.

Aku berdiri.

“Kamu menggunakan identitasku untuk membuat nomor rahasia?”

“Naila, dengarkan dulu.”

“Delapan tahun aku menjadi istrimu. Delapan tahun aku percaya kamu.”

Air mataku jatuh.

“Dan ternyata selama ini kamu bahkan menggunakan namaku untuk menyembunyikan pengkhianatanmu?”

Fajar mendekat.

“Aku salah.”

Aku mundur.

“Sejak kapan?”

Dia terdiam.

“Sejak kapan kamu mengenal dia?”

Fajar menutup mata.

“Enam bulan.”

Aku menggeleng.

“Enam bulan?”

Aku hampir percaya.

Tapi kemudian aku ingat sesuatu.

Pesan pertama.

Percakapan lama.

Aku membuka kembali arsip pesan.

Ada satu kalimat yang membuatku membeku.

“Akhirnya setelah bertahun-tahun, kita bisa bertemu lagi.”

Aku mengangkat kepala.

“Fajar.”

Dia menatapku.

“Kenapa dia bilang begitu?”

Wajah Fajar berubah.

Aku tahu.

Ada sesuatu yang belum dia katakan.

“Siapa Rani sebenarnya?”

Tidak ada jawaban.

Sampai akhirnya dia duduk dan menangis.

Tangisan seorang pria yang selama ini tidak pernah kulihat.

“Rani adalah mantanku.”

Aku terdiam.

“Pacarmu sebelum aku?”

Dia mengangguk.

“Kami berpisah sebelum aku menikah dengan kamu.”

“Lalu kenapa dia kembali?”

Fajar menatap lantai.

“Karena dia sakit.”

Aku mengernyit.

“Sakit?”

“Dia terkena penyakit serius. Dia menghubungiku enam bulan lalu.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi karena dia sakit, kamu merasa boleh menghancurkan rumah tangga kita?”

“Tidak seperti itu.”

“Lalu seperti apa?”

Fajar menangis.

“Aku hanya ingin membantu dia.”

Aku menatapnya.

“Dengan cara berselingkuh?”

Dia tidak bisa menjawab.

Tapi masih ada satu hal yang belum masuk akal.

“Kenapa nomor itu menggunakan namaku?”

Fajar terdiam lama.

Lalu dia berkata pelan.

“Karena aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu tahu.”

Aku menunggu.

“Aku membuat nomor itu tujuh tahun lalu.”

Jantungku berdegup.

“Tujuh tahun lalu?”

“Iya.”

“Untuk apa?”

Fajar menarik napas.

“Bukan untuk Rani.”

Aku membeku.

“Lalu?”

Dia menatapku dengan mata penuh penyesalan.

“Untuk kamu.”

Aku tidak mengerti.

“Apa maksudmu?”

Fajar mengambil ponselnya dan membuka sebuah folder lama.

Di dalamnya ada foto.

Foto aku.

Saat aku masih muda.

Saat aku belum menikah dengannya.

“Aku membuat nomor itu karena saat itu aku tahu kamu sering kehilangan ponsel.”

Aku terdiam.

“Aku ingin memberikan nomor cadangan untukmu.”

“Lalu kenapa aku tidak pernah tahu?”

Fajar menunduk.

“Karena beberapa minggu setelah itu, aku menemukan sesuatu.”

“Apa?”

Dia membuka satu pesan lama.

Pesan dari nomor yang tidak dikenal.

Isinya hanya satu kalimat.

“Kalau kamu menikahi Naila, aku akan menghancurkan hidup kalian.”

Tanganku gemetar.

“Apa ini?”

Fajar menarik napas.

“Rani.”

Aku terdiam.

“Tujuh tahun lalu dia masih terobsesi denganku.”

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

“Karena aku pikir semuanya sudah selesai.”

Aku menatapnya.

“Lalu enam bulan lalu?”

Fajar menangis.

“Dia datang lagi.”

“Dan kamu menyambutnya.”

Dia menunduk.

“Iya.”

Aku tidak langsung marah.

Karena untuk pertama kalinya aku melihat seluruh kebenaran.

Fajar memang telah berkhianat.

Tapi masalahnya lebih besar dari sekadar perselingkuhan.

Rani tidak hanya ingin mengambil Fajar.

Dia ingin menghancurkan aku.

Beberapa hari kemudian, setelah aku mencari bantuan hukum, kami menemukan fakta mengejutkan.

Nomor yang digunakan Rani bukan hanya terdaftar atas namaku.

Dia juga menggunakannya untuk membuat beberapa akun palsu.

Seolah-olah aku adalah perempuan yang menghubungi Fajar.

Seolah-olah aku mengetahui hubungan mereka.

Sebuah rencana untuk membuatku terlihat sebagai orang yang tidak stabil jika semuanya terbongkar.

Ketika polisi memanggil Rani untuk memberikan keterangan, dia akhirnya mengaku.

“Aku hanya ingin Fajar kembali.”

Katanya dengan air mata.

“Aku tahu kalau aku tidak bisa melawannya dengan cara biasa.”

Aku menatapnya.

“Kamu menggunakan namaku.”

Dia menangis.

“Aku hanya ingin dia meninggalkanmu.”

Aku menggeleng.

“Tidak. Kamu tidak ingin dicintai.”

Suaraku tenang.

“Kamu hanya ingin menang.”

Rani tidak menjawab.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku dan Fajar menjalani proses panjang untuk menentukan masa depan kami.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Karena luka yang dibuat oleh orang yang kita percaya tidak bisa sembuh dalam satu malam.

Suatu sore, Fajar bertanya kepadaku.

“Apakah kamu masih bisa mencintaiku?”

Aku melihat pria di depanku.

Pria yang pernah membuatku bahagia.

Pria yang juga pernah menghancurkanku.

“Aku tidak tahu.”

Jawabku jujur.

“Tapi aku tahu satu hal.”

“Apa?”

“Delapan tahun pernikahan kita tidak boleh menjadi alasan bagiku untuk terus terluka.”

Fajar menunduk.

Aku memilih memberi kesempatan.

Bukan karena aku lupa.

Tapi karena aku ingin melihat apakah dia benar-benar berubah.

Setahun kemudian, kami masih bersama.

Tidak sempurna.

Tidak seperti dulu.

Tapi lebih jujur.

Dan nomor telepon yang dulu menjadi awal kehancuran kami akhirnya aku simpan kembali.

Bukan sebagai pengingat pengkhianatan.

Tapi sebagai pengingat bahwa terkadang kebenaran datang melalui jalan yang paling menyakitkan.

Karena dalam sebuah hubungan, kebohongan terbesar bukanlah ketika seseorang menyembunyikan orang lain.

Melainkan ketika seseorang membuat kita percaya bahwa kita tidak pantas mengetahui kebenaran tentang hidup kita sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang