Aku terus mengenakan cincin yang dulu dia bilang tidak boleh kulepas seumur hidup. Tapi ketika akhirnya kulepas malam itu… cincin itu masih hangat, seolah baru saja dipakai oleh orang lain beberapa detik sebelumnya.

Aku tidak langsung membuang pesan itu.

Jari-jariku gemetar saat membaca kalimat pendek tersebut berulang kali.

“Kalau cincin itu akhirnya kembali hangat, berarti waktunya sudah tiba.”

Aku menatap layar ponsel dalam gelap.

Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Sebagian dari diriku ingin menganggapnya sebagai lelucon buruk. Mungkin seseorang sedang mencoba menakutiku. Mungkin ada orang yang mengetahui tentang cincin Adrian dan sengaja mempermainkanku.

Tetapi bagian lain dari diriku merasa takut karena satu alasan.

Tidak ada seorang pun yang tahu tentang hal ini.

Bahkan keluargaku sendiri tidak tahu bahwa Adrian pernah mengatakan sesuatu yang aneh tentang cincin itu sebelum pergi.

Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memegang cincin emas tersebut.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun benda kecil ini menjadi satu-satunya hal yang masih terasa menghubungkanku dengan Adrian.

Aku masih ingat malam terakhir kami.

Saat itu hujan turun deras di luar apartemen kami di Jakarta. Adrian sudah mengemas kopernya untuk perjalanan kerja selama dua bulan ke Singapura dan beberapa negara lain.

Aku masih ingat bagaimana dia berdiri di depan pintu sambil tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa lelahnya.

“Aku tidak suka kamu pergi selama itu,” kataku sambil melipat tangan.

Dia tertawa kecil.

“Aku juga tidak suka meninggalkan kamu.”

“Lalu kenapa harus pergi?”

“Karena ini kesempatan besar untuk perusahaan.”

Aku menghela napas.

Adrian mendekat dan menggenggam tanganku.

Tatapannya berubah serius ketika melihat cincin pernikahan kami.

“Janji sama aku.”

“Apa?”

“Jangan pernah lepas cincin ini.”

Aku tertawa karena mengira dia sedang bercanda.

“Adrian, aku mandi saja harus pakai cincin ini?”

“Iya.”

Aku menggeleng sambil tersenyum.

“Kamu aneh.”

Namun dia tidak ikut tertawa.

“Aku serius.”

Senyumnya menghilang.

“Kalau suatu hari nanti sesuatu terjadi padaku, tetap pakai cincin ini.”

Aku langsung memukul lengannya pelan.

“Jangan bicara seperti itu.”

Dia diam beberapa detik.

Kemudian dia mencium keningku.

“Maaf. Aku cuma ingin memastikan satu hal.”

“Apa?”

“Bahwa aku selalu punya jalan untuk kembali kepadamu.”

Saat itu aku tidak mengerti maksudnya.

Aku pikir dia hanya sedang bersikap romantis.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa tiga minggu kemudian aku akan berdiri di depan televisi, melihat berita tentang pesawat yang hilang di Laut Sulawesi.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa cincin itu akan menjadi satu-satunya peninggalan yang selalu melekat padaku.

Aku membuka kembali pesan dari nomor asing itu.

Tanganku bergerak perlahan.

Aku mengetik:

Siapa kamu?

Tidak sampai satu menit, balasan muncul.

Seseorang yang tahu kenapa Adrian memberimu cincin itu.

Dadaku langsung terasa sesak.

Aku menatap kata-kata tersebut cukup lama.

Kemudian aku mengetik lagi.

Apa hubunganmu dengan suamiku?

Kali ini balasannya lebih lama.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lalu akhirnya masuk.

Namaku Dimas. Aku teman Adrian.

Aku pernah bekerja dengannya sebelum kecelakaan itu.

Aku menggigit bibir.

Teman?

Aku tidak pernah mendengar nama itu.

Aku membalas:

Kalau kamu benar teman Adrian, kenapa baru muncul sekarang?

Balasan datang cepat.

Karena aku baru tahu kamu masih memakai cincin itu.

Aku berdiri dari tempat tidur.

“Apa maksudnya?”

Malam itu aku tidak tidur sama sekali.

Keesokan paginya, aku pergi menemui Dimas di sebuah kafe kecil di daerah Kemang.

Aku hampir membatalkan pertemuan itu beberapa kali.

Namun rasa penasaranku lebih besar daripada ketakutanku.

Dimas datang tepat waktu.

Dia seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan wajah serius dan mata yang terlihat lelah.

Begitu melihatku, dia langsung berdiri.

“Kamu Maya?”

Aku mengangguk.

“Dan kamu Dimas?”

Dia mengangguk.

“Aku minta maaf karena datang terlambat.”

Aku duduk.

“Aku ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Kenapa cincin ini?”

Dimas terdiam.

Matanya turun melihat cincin di jariku.

“Karena Adrian tidak pernah memberimu cincin biasa.”

Aku menahan napas.

“Apa maksudmu?”

Dimas membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Di dalamnya ada sebuah cincin yang bentuknya hampir sama dengan milikku.

Aku langsung berdiri.

“Itu…”

“Cincin Adrian.”

Aku menatap benda itu dengan wajah pucat.

“Bagaimana mungkin?”

Dimas menarik napas panjang.

“Sebelum pergi, Adrian meminta bantuanku.”

“Bantuan apa?”

“Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres.”

Aku mengerutkan dahi.

“Apa?”

Dimas melihat sekeliling sebelum berbicara pelan.

“Adrian tidak pergi hanya untuk perjalanan bisnis.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Dia sedang menyelidiki seseorang.”

“Siapa?”

Dimas tidak langsung menjawab.

“Orang yang menyebabkan pesawat itu jatuh.”

Aku merasa seluruh tubuhku kehilangan tenaga.

“Tunggu… apa yang kamu katakan?”

Dimas membuka sebuah dokumen dari ponselnya.

“Adrian menemukan adanya manipulasi data penerbangan. Dia curiga ada seseorang yang ingin menghilangkan beberapa orang dalam pesawat itu.”

Aku menggeleng.

“Tidak mungkin.”

Selama tiga tahun aku percaya Adrian meninggal karena kecelakaan.

Aku sudah menerima kenyataan itu.

Aku sudah belajar hidup tanpa dirinya.

Tetapi sekarang seseorang datang dan menghancurkan semua yang aku percaya.

“Kenapa dia tidak memberitahuku?”

Dimas menatapku dengan sedih.

“Karena dia ingin melindungimu.”

“Melindungiku dari apa?”

“Kalau orang itu tahu kamu mengetahui semuanya, kamu juga akan menjadi target.”

Aku terdiam.

Kemudian aku bertanya dengan suara kecil.

“Jadi cincin ini?”

Dimas menunjuk cincin di jariku.

“Adrian memasang alat kecil di dalamnya.”

Aku langsung menatapnya.

“Tapi toko perhiasan bilang tidak ada elektronik.”

“Karena alat itu bukan untuk komunikasi biasa.”

Dimas mengambil cincin miliknya.

“Ini adalah kunci.”

“Kunci?”

“Iya. Adrian membuat sistem penyimpanan data tersembunyi. Cincin kalian berdua harus digunakan bersama untuk membuka informasinya.”

Aku menatap cincin itu.

Tiba-tiba semua hal yang selama ini terasa aneh mulai masuk akal.

Kalimat Adrian.

“Suatu hari nanti kamu akan mengerti.”

Cincin yang tiba-tiba hangat.

Pesan misterius.

Semua seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Malam itu, aku dan Dimas pergi ke sebuah tempat yang sudah lama ditinggalkan Adrian.

Sebuah gudang kecil milik perusahaan lama tempat dia bekerja.

Di dalam ruangan kosong itu, Dimas membawa sebuah alat pemindai.

Ketika kedua cincin diletakkan berdampingan, layar kecil menyala.

Aku menahan napas.

Sebuah file muncul.

Nama file itu hanya satu kata.

MAYA.

Tanganku langsung gemetar.

“Dia membuat file untukku?”

Dimas mengangguk.

Aku membuka file tersebut.

Video muncul.

Wajah Adrian terlihat di layar.

Wajah yang sudah tiga tahun tidak kulihat.

Air mataku langsung jatuh.

“Hai, Maya.”

Suaranya masih sama.

Suara yang selalu membuatku merasa aman.

“Kalau kamu melihat video ini, berarti sesuatu yang buruk mungkin sudah terjadi.”

Aku menutup mulut menahan tangis.

“Aku minta maaf karena membuatmu menunggu begitu lama.”

Adrian tersenyum kecil.

“Tapi aku harus memastikan kamu aman.”

Dia menarik napas.

“Ada satu hal yang tidak pernah aku katakan.”

Aku mendekat ke layar.

“Aku sebenarnya tidak meninggalkanmu.”

Jantungku berhenti sejenak.

“Malam sebelum penerbangan itu, aku mengetahui bahwa seseorang dalam perusahaan kami melakukan kejahatan besar. Aku mencoba mencari bukti.”

Video berhenti beberapa detik.

Lalu Adrian melanjutkan.

“Pesawat itu bukan kecelakaan.”

Air mataku jatuh semakin deras.

“Tapi jika kamu melihat ini, berarti aku gagal kembali.”

Aku menangis.

“Tidak…”

“Aku ingin kamu tahu satu hal, Maya.”

Wajah Adrian terlihat sangat tenang.

“Aku memilih cincin itu bukan karena aku takut mati.”

“Tapi karena aku tahu suatu hari kamu akan membutuhkan bukti bahwa semua yang terjadi bukan kebetulan.”

Video hampir berakhir.

Lalu Adrian berkata:

“Dan satu hal lagi…”

Dia tersenyum.

“Kalau cincin itu terasa hangat, itu bukan karena aku masih di sana.”

Aku menatap layar.

“Melainkan karena di dalam cincin itu ada pesan terakhirku yang hanya bisa terbuka ketika waktunya tepat.”

Video selesai.

Ruangan menjadi sunyi.

Aku menangis tanpa suara.

Selama tiga tahun aku percaya cincin itu adalah cara Adrian tetap bersamaku.

Ternyata cincin itu adalah cara Adrian menyelamatkanku.

Beberapa bulan kemudian, kasus kecelakaan pesawat itu akhirnya dibuka kembali.

Bukti dari Adrian membantu mengungkap jaringan besar yang selama ini tersembunyi.

Namun pelaku utama sudah menghilang sebelum ditangkap.

Aku tidak pernah tahu apakah Adrian sebenarnya memiliki kesempatan untuk selamat atau tidak.

Tetapi aku tahu satu hal.

Cinta seseorang tidak selalu berakhir ketika orang itu pergi.

Kadang cinta berubah menjadi keberanian.

Menjadi pesan terakhir.

Menjadi sebuah tanda kecil yang menunggu waktu yang tepat untuk berbicara.

Bertahun-tahun kemudian, aku masih menyimpan cincin itu.

Namun aku tidak lagi memakainya karena takut kehilangan Adrian.

Aku memakainya karena aku tahu.

Ada orang yang pernah mencintaiku begitu dalam, sampai bahkan setelah kepergiannya pun, dia masih berusaha melindungiku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang