Selama sebelas tahun menikah, aku selalu percaya bahwa kesabaran adalah kunci agar sebuah rumah tangga tetap utuh. Aku menahan banyak hal, mulai dari perkataan pedas, sikap dingin, hingga perlakuan tidak adil dari ibu mertuaku.
Aku selalu berpikir, mungkin suatu hari nanti beliau akan melihat bahwa aku bukan musuhnya.
Namun hari itu, ketika segenggam garam sengaja dimasukkan ke dalam masakanku hanya untuk membuat suamiku marah kepadaku, aku akhirnya sadar.
Ada orang yang tidak ingin memahami kebaikan.
Mereka hanya ingin melihat kita hancur.
Malam setelah kejadian itu, aku duduk sendirian di kamar sambil memandang cincin pernikahan di jariku.
Dulu, cincin ini terasa seperti simbol janji.
Sekarang, rasanya seperti pengingat bahwa selama ini aku terlalu banyak mengalah.
Aku bukan tidak mencintai Mas Riko.
Aku sangat mencintainya.
Dialah pria yang dulu datang ke rumah orang tuaku dengan senyum sederhana dan berkata bahwa dia ingin membangun keluarga bersamaku.
Saat itu, aku tidak pernah membayangkan bahwa setelah menikah, masalah terbesar dalam rumah tanggaku bukanlah uang, bukan pekerjaan, bahkan bukan orang ketiga.
Melainkan seseorang yang tinggal di bawah atap yang sama denganku.
Ibu mertua.
Sejak awal pernikahan, Ibu memang tidak pernah benar-benar menerimaku.
Bukan karena aku tidak menghormatinya.
Aku selalu berusaha menjadi menantu yang baik.
Aku memasak makanan kesukaannya.
Aku menemani beliau ketika sakit.
Aku bahkan pernah menjual gelang emas pemberian ibuku sendiri agar bisa membantu biaya pengobatannya ketika beliau harus menjalani operasi.
Namun semua itu seperti tidak pernah cukup.
Bagi Ibu, aku selalu kurang.
“Menjadi istri itu bukan cuma pintar memasak, Fi. Kamu harus tahu cara melayani suami,” katanya suatu malam ketika aku baru pulang kerja.
Padahal hari itu aku pulang terlambat karena harus menyelesaikan laporan kantor.
Aku hanya tersenyum.
“Iya, Bu. Fiona akan berusaha.”
Aku selalu menjawab seperti itu.
Berusaha.
Mengalah.
Diam.
Karena aku takut jika aku membela diri, Mas Riko akan berada di tengah-tengah kami.
Dan aku tidak ingin membuat suamiku merasa harus memilih antara ibu dan istrinya.
Tapi ternyata, diamku justru dianggap kelemahan.
Setelah kejadian makan siang itu, sikapku berubah.
Bukan menjadi kasar.

Aku hanya berhenti memberikan sesuatu yang tidak dihargai.
Aku mulai memasak hanya ketika memang aku ingin memasak.
Aku tidak lagi berlari setiap kali Ibu meminta sesuatu.
Aku tidak lagi mencoba membeli perhatian seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak menyukaiku.
Hal pertama yang membuat Mas Riko menyadari perubahan itu adalah ketika suatu pagi dia mencari kemeja favoritnya.
“Fi, kemeja putih Mas yang biasa dipakai kerja mana?”
Aku sedang membuat kopi di dapur.
“Dalam lemari, Mas.”
“Biasanya sudah disetrika.”
Aku menatapnya sebentar.
“Iya. Biasanya Fiona yang menyiapkan. Tapi sekarang Mas bisa menyetrika sendiri kalau memang butuh.”
Mas Riko terdiam.
Seolah tidak percaya dengan jawabanku.
“Kamu kenapa sih, Fi?”
Aku mengaduk kopi perlahan.
“Aku hanya sedang belajar berhenti melakukan semuanya sendiri.”
Dia terlihat bingung.
Namun sebelum dia bertanya lagi, Ibu keluar dari kamar.
“Nah, baru sekarang kamu tahu rasanya punya istri yang tidak mau melayani?”
Nada suara Ibu terdengar seperti sedang menyindir.
Aku tidak menjawab.
Tapi Mas Riko mulai memperhatikanku.
Mungkin untuk pertama kalinya dia mulai melihat bahwa selama ini aku bukan berubah tanpa alasan.
Beberapa hari kemudian, aku mendapat telepon dari adik iparku, Dina.
Dina adalah satu-satunya anggota keluarga Riko yang selama ini cukup dekat denganku.
“Fi, aku mau ngomong sesuatu, tapi jangan marah ya.”
“Ada apa, Din?”
Dina menarik napas panjang.
“Sebenarnya aku tahu soal kejadian garam itu.”
Tanganku berhenti bergerak.
“Kamu tahu?”
“Iya. Hari itu aku datang sebentar ke rumah. Aku melihat Ibu mengambil wadah garam dan masuk ke dapur setelah kamu pergi.”
Dadaku terasa sesak.
Selama ini aku bertanya-tanya apakah aku terlalu curiga.
Apakah aku terlalu cepat menuduh.
Ternyata dugaanku benar.
“Dina, kenapa kamu tidak bilang waktu itu?”
“Aku takut, Fi. Aku takut Ibu marah. Tapi aku juga tidak tega melihat kamu terus disalahkan.”
Aku memejamkan mata.
Ada rasa sakit, tetapi juga lega.
Setidaknya ada seseorang yang tahu kebenarannya.
“Aku cuma tidak mengerti kenapa Ibu melakukan itu,” kataku pelan.
Dina terdiam beberapa saat.
“Fi… sebenarnya ada hal lain yang belum kamu tahu.”
Jantungku berdebar.
“Apa?”
“Ibu sering cerita ke tetangga kalau Riko sebenarnya lebih bahagia kalau menikah dengan perempuan pilihannya dulu.”
Aku terdiam.
“Perempuan pilihan?”
“Iya. Namanya Maya.”
Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Dina melanjutkan.
“Sebelum menikah dengan kamu, Riko pernah dekat dengan Maya. Tapi hubungan mereka tidak direstui keluarga Maya karena kondisi ekonomi. Lalu Riko bertemu kamu.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Jadi Ibu masih berharap Riko kembali dengan dia?”
“Aku tidak tahu, Fi. Tapi belakangan ini Maya sering datang menemui Ibu.”
Dunia seakan berhenti sesaat.
Bukan karena aku takut kehilangan Mas Riko.
Tapi karena aku sadar.
Selama ini mungkin ada alasan lain mengapa Ibu tidak pernah menerimaku.
Aku pulang hari itu dengan pikiran yang penuh.
Namun aku tidak langsung menuduh.
Aku ingin melihat sendiri.
Beberapa hari kemudian, aku pulang lebih cepat dari kantor.
Ketika membuka pintu rumah, aku mendengar suara percakapan dari ruang tamu.
Suara Ibu.
Dan suara seorang perempuan.
“Aku sudah bilang, Riko pasti akan capek dengan Fiona. Dia cuma bertahan karena kasihan.”
Aku membeku.
Itu suara Ibu.
“Tenang, Bu. Aku cuma menunggu waktu yang tepat,” jawab perempuan itu.
Aku perlahan mendekat.
Dan ketika melihat wajah perempuan itu, aku langsung mengenalinya.
Maya.
Ibu terkejut ketika melihatku berdiri di sana.
“Fiona?”
Aku tersenyum tipis.
“Maaf mengganggu pembicaraan penting kalian.”
Maya langsung berdiri.
“Aku bisa jelaskan.”
“Tidak perlu.”
Suaraku tenang.
“Selama ini aku bertanya-tanya kenapa Ibu selalu berusaha membuat aku terlihat buruk di depan Mas Riko.”
Aku menatap mereka berdua.
“Ternyata jawabannya bukan karena aku kurang baik.”
Ibu langsung memotong.
“Jangan menuduh sembarangan!”
“Tidak, Bu. Aku tidak menuduh.”
Aku mengeluarkan ponsel.
“Aku hanya ingin Mas Riko mendengar sendiri.”
Aku sudah merekam sebagian percakapan mereka.
Wajah Ibu langsung pucat.
Malam itu, ketika Mas Riko pulang, aku meminta dia duduk.
“Ada sesuatu yang harus Mas dengar.”
Awalnya dia terlihat lelah.
Namun setelah mendengar rekaman itu, wajahnya berubah.
“Bu…”
Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya.
Ibu mulai menangis.
“Riko, Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu.”
“Tapi Ibu menghancurkan istri saya.”
Suara Mas Riko terdengar berat.
Untuk pertama kalinya, dia tidak membelaku karena kasihan.
Dia membelaku karena dia akhirnya melihat kenyataan.
“Aku selalu pikir Fiona berubah setelah kejadian itu,” katanya pelan.
Dia menatapku.
“Ternyata selama ini kamu hanya lelah.”
Aku tidak menjawab.
Karena memang benar.
Aku lelah.
Bukan karena memasak.
Bukan karena mengurus rumah.
Tapi karena terus berusaha membuktikan bahwa aku pantas dicintai.
Beberapa minggu kemudian, Ibu akhirnya memilih tinggal sementara di rumah saudara beliau.
Sebelum pergi, beliau berdiri di depan pintu.
“Fi.”
Aku menoleh.
Untuk pertama kalinya, tidak ada sindiran dalam suaranya.
“Apa kamu benar-benar membenci Ibu?”
Aku terdiam.
Lalu aku menjawab jujur.
“Tidak, Bu.”
Beliau terlihat terkejut.
“Aku hanya berhenti menyakiti diri sendiri demi membuat orang lain bahagia.”
Mata Ibu berkaca-kaca.
Aku tidak tahu apakah beliau benar-benar berubah.
Mungkin iya.
Mungkin tidak.
Tapi aku tahu satu hal.
Hari ketika aku membuang masakan yang sengaja dirusak itu bukanlah hari ketika aku menjadi istri yang buruk.
Itu adalah hari ketika aku akhirnya belajar menghargai diriku sendiri.
Beberapa bulan kemudian, Mas Riko mengajakku makan malam di sebuah restoran.
Bukan restoran mewah.
Hanya tempat sederhana yang dulu sering kami datangi ketika masih pacaran.
“Aku minta maaf, Fi.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
“Karena selama ini aku terlalu sibuk menjadi anak yang baik sampai lupa menjadi suami yang baik.”
Aku tersenyum kecil.
“Aku tidak butuh suami yang sempurna, Mas.”
“Lalu?”
“Aku hanya butuh seseorang yang mau melihat kebenaran.”
Dia menggenggam tanganku.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa tidak sendirian.
Aku tidak tahu apakah semua luka bisa benar-benar hilang.
Tapi aku tahu, sebuah rumah bukan dibangun hanya dari cinta.
Rumah dibangun dari rasa hormat.
Karena orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan membiarkan kita terus terluka hanya demi menjaga kedamaian palsu.
