Kantong kresek berisi tiga potong baju lama Naura jatuh tepat di depan kaki saya.
Untuk beberapa detik, saya hanya menatapnya tanpa bergerak.
Bukan karena saya tidak bisa mengambilnya.
Tetapi karena saya sedang berusaha menahan sesuatu yang jauh lebih berat daripada rasa malu.
Rasa sakit.
Boneka kelinci kecil kesayangan Naura ada di dalam kantong itu. Telinganya sudah rusak dan dijahit kasar. Saya masih ingat malam ketika Naura menangis mencarinya. Saya bertanya kepada Rendy, tetapi dia hanya menjawab bahwa boneka itu sudah tidak layak dipakai.
Saya tidak tahu bahwa sebenarnya ibu Rendy yang sengaja merusaknya karena menganggap mainan itu terlalu kotor untuk rumah mereka.
Saya menunduk dan mengambil kantong itu.

Sisca tersenyum puas.
“Lihat, Mas. Dia bahkan masih mau mengambil barang bekas seperti itu.”
Rendy hanya diam.
Dulu saya selalu berharap suatu hari dia akan membela saya.
Hari itu saya akhirnya mengerti.
Diamnya bukan karena dia tidak tahu.
Diamnya karena dia memilih mereka.
Saya menatap wajah Rendy untuk terakhir kalinya.
“Tenang saja. Setelah ini aku tidak akan mengganggu hidup kalian lagi.”
Rendy terlihat sedikit lega.
Mungkin dia mengira saya menyerah.
Dia tidak tahu bahwa ada sesuatu dalam diri saya yang sudah mati sejak hari dia meninggalkan saya dan Naura.
Saya membawa Naura pulang dengan motor tua saya.
Sepanjang perjalanan, tangan kecilnya memeluk pinggang saya.
“Ibu…”
“Iya, Nak?”
“Kalau kita tidak punya rumah besar seperti Ayah, apakah Ibu malu?”
Pertanyaan itu membuat dada saya sesak.
Saya menepi sebentar di pinggir jalan.
Saya melepas helm Naura dan menatap matanya.
“Naura, dengarkan Ibu. Rumah besar tidak membuat seseorang menjadi orang baik. Mobil mahal tidak membuat seseorang punya hati.”
“Lalu apa yang membuat orang hebat?”
Saya tersenyum kecil.
“Orang yang tetap baik meskipun pernah disakiti.”
Naura mengangguk pelan.
Hari itu saya berjanji pada diri sendiri.
Saya mungkin kehilangan suami.
Saya mungkin kehilangan rumah.
Tetapi saya tidak akan membiarkan Naura kehilangan ibunya yang kuat.
Namun, sejak kemampuan aneh itu muncul, hidup saya berubah.
Setiap kali melihat seseorang, saya bisa melihat garis waktu kematian mereka.
Awalnya saya takut.
Saya bahkan takut menatap wajah orang lain.
Tetapi semakin lama saya sadar, kemampuan itu bukan hadiah.
Itu adalah beban.
Karena saya bisa mengetahui sesuatu yang mengerikan, tetapi tidak selalu bisa mengubahnya.
Beberapa hari kemudian, saat mengantar pesanan makanan ke sebuah gedung perkantoran di pusat Jakarta, saya melihat seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berjalan keluar dari lift.
Di atas kepalanya muncul tulisan.
Usia 51 tahun, enam bulan lagi, kecelakaan di gedung.
Saya berhenti melangkah.
Pria itu tampak seperti orang biasa.
Dia membawa tas kerja, memakai kemeja rapi, bahkan sempat tersenyum kepada satpam.
Saya ingin memperingatkannya.
Tetapi apa yang harus saya katakan?
“Pak, saya bisa melihat Anda akan meninggal enam bulan lagi?”
Dia pasti menganggap saya gila.
Saya hanya bisa berdiri diam.
Tiga hari kemudian saya melihat berita.
Seorang direktur perusahaan konstruksi meninggal setelah terjatuh dari tangga darurat kantornya.
Foto di berita itu adalah pria yang sama.
Sejak saat itu saya semakin takut.
Saya mulai bertanya-tanya.
Apakah semua kematian memang sudah ditentukan?
Atau apakah saya diberi kemampuan ini untuk mengubah sesuatu?
Jawabannya datang ketika saya melihat Naura.
Suatu sore, ketika saya menjemputnya dari sekolah, tulisan di atas kepalanya muncul.
Saya langsung merasa tubuh saya kehilangan tenaga.
Usia 6 tahun.
Dua belas tahun lagi.
Kecelakaan kendaraan.
Saya hampir jatuh di tempat.
Tidak.
Tidak mungkin.
Bukan Naura.
Bukan anak saya.
Saya memeluknya begitu erat sampai dia bertanya dengan bingung.
“Ibu kenapa?”
Saya menahan air mata.
“Tidak apa-apa, Sayang. Ibu cuma rindu.”
Malam itu saya tidak tidur.
Saya duduk di samping tempat tidur Naura sambil melihat wajah kecilnya.
Untuk pertama kalinya sejak kemampuan itu muncul, saya merasa sangat marah kepada takdir.
Saya tidak peduli siapa pun.
Saya tidak peduli apakah saya dianggap gila.
Kalau ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan anak saya, saya akan melakukannya.
Keesokan harinya saya mulai mencari tahu tentang semua kecelakaan yang pernah terjadi pada anak-anak.
Saya mengubah rute sekolah Naura.
Saya melarangnya bermain dekat jalan.
Saya selalu menjemputnya sendiri.
Tetapi tulisan di atas kepalanya tidak berubah.
Dua belas tahun lagi.
Suatu malam, ketika saya sedang mengantar makanan, saya menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal.
“Jangan mencoba mengubah sesuatu yang bukan milikmu.”
Saya terdiam.
Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.
“Kamu sudah melihat terlalu banyak.”
Jantung saya berdebar.
Saya melihat sekitar.
Tidak ada siapa-siapa.
Saya mencoba menelepon nomor itu.
Tidak aktif.
Malam itu saya tidak bisa tidur.
Bagaimana seseorang tahu tentang kemampuan saya?
Keesokan paginya, seseorang datang ke rumah kontrakan saya.
Saya membuka pintu dan membeku.
Itu Rendy.
Dia terlihat berbeda.
Tidak lagi percaya diri seperti saat bersama Sisca.
Wajahnya pucat.
Matanya terlihat lelah.
“Ada apa?” tanya saya dingin.
Rendy menunduk.
“Aku butuh bantuan.”
Saya hampir tertawa.
Setelah semua yang terjadi, dia datang kepada saya meminta bantuan.
“Bantuan apa?”
Dia menarik napas panjang.
“Sisca kehilangan bayinya.”
Saya diam.
“Dokter bilang kandungannya berhenti berkembang. Dia menyalahkan aku. Dia bilang sejak aku meninggalkan kamu, hidupku mulai hancur.”
Saya menatapnya tanpa rasa iba.
“Lalu kenapa kamu datang?”
Rendy menatap saya.
“Karena aku tahu kamu selalu tahu cara memperbaiki semuanya.”
Kalimat itu membuat saya tersenyum pahit.
Dulu saya memang selalu memperbaiki semuanya.
Pernikahan kami.
Masalah keluarganya.
Hubungan dia dengan ibunya.
Saya bahkan memperbaiki kesalahan yang bukan saya buat.
Tetapi tidak pernah sekali pun dia bertanya apakah saya baik-baik saja.
“Aku bukan orang yang bisa menyelamatkan hidup kalian lagi, Rendy.”
Dia terdiam.
Sebelum pergi, dia berbalik.
“Siska… aku minta maaf.”
Untuk pertama kalinya setelah perceraian, dia memanggil saya dengan nama saya.
Bukan “mantan istri”.
Bukan “ibu Naura”.
Hanya Siska.
Tetapi permintaan maaf yang terlambat tetap tidak bisa menghapus luka.
Dua minggu kemudian, sesuatu yang tidak saya duga terjadi.
Saya melihat berita tentang kebakaran besar di sebuah kompleks perumahan elit.
Lokasinya adalah rumah baru Rendy dan Sisca.
Saya langsung teringat tulisan di atas kepala mantan ibu mertua saya.
Keracunan kebocoran gas.
Saya mengambil ponsel.
Jari saya berhenti di atas nama Rendy.
Dulu saya mungkin akan langsung menelepon.
Tetapi sekarang saya bertanya pada diri sendiri.
Apakah saya ingin menyelamatkan mereka karena saya masih peduli?
Atau karena saya takut menjadi orang jahat?
Saya menutup mata.
Kemudian saya menelepon.
“Rendy, keluar dari rumah sekarang.”
Suara di seberang terdengar panik.
“Apa?”
“Ada kebocoran gas. Jangan nyalakan listrik. Bawa semua orang keluar.”
Beberapa detik hening.
Lalu suara Rendy berubah.
“Kamu tahu dari mana?”
Saya tidak menjawab.
“Rendy, lakukan saja!”
Telepon terputus.
Malam itu saya menunggu berita.
Dan akhirnya muncul kabar.
Kebakaran berhasil dicegah sebelum membesar.
Rendy, Sisca, dan ibu Rendy selamat.
Tetapi ada sesuatu yang membuat saya terkejut.
Keesokan harinya Rendy datang lagi.
Kali ini dia membawa sebuah kotak kecil.
“Saya menemukan ini setelah memeriksa rumah.”
Dia menyerahkan kotak itu kepada saya.
Di dalamnya ada surat lama.
Surat yang saya tulis tiga tahun lalu.
Surat yang berisi semua impian saya untuk keluarga kecil kami.
Rendy menatap saya dengan mata merah.
“Aku menemukan ini di antara barang-barang kita.”
Saya membuka surat itu.
Di bagian akhir tertulis:
Aku tidak butuh suami yang sempurna. Aku hanya butuh seseorang yang memilih aku setiap hari.
Air mata saya jatuh.
Bukan karena ingin kembali.
Tetapi karena saya akhirnya menyadari sesuatu.
Selama ini saya menunggu orang lain menyadari nilai saya.
Padahal saya sendiri yang seharusnya pertama kali menghargai diri saya.
Beberapa bulan berlalu.
Saya berhenti menjadi pengantar makanan.
Dengan pengalaman saya membantu pelanggan dan memahami banyak orang, saya membuka usaha katering kecil bersama beberapa ibu tunggal lainnya.
Perlahan usaha itu berkembang.
Naura tumbuh menjadi anak yang ceria.
Suatu hari, ketika dia berusia tujuh tahun, dia bertanya kepada saya.
“Ibu, apakah Ibu masih bisa melihat tulisan di kepala orang?”
Saya terkejut.
Dari mana dia tahu?
Naura tersenyum kecil.
“Dulu waktu Ibu menangis melihat aku tidur, aku dengar Ibu bilang jangan ambil anak Ibu.”
Saya memeluknya.
“Lalu kenapa sekarang Ibu tidak takut?”
Saya melihat keluar jendela.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya tidak melihat angka kematian di atas kepala orang-orang.
Kemampuan itu hilang.
Entah kapan tepatnya.
Mungkin ketika saya berhenti mencoba mengendalikan takdir semua orang.
Mungkin ketika saya menerima bahwa hidup bukan tentang berapa lama seseorang tinggal.
Tetapi tentang bagaimana seseorang menjalani waktu yang diberikan.
Bertahun-tahun kemudian, saya bertemu Rendy secara tidak sengaja.
Dia tidak lagi menjadi pria yang dulu saya kenal.
Dia bekerja keras, hidup sederhana, dan sering menghabiskan waktu bersama Naura.
Kami tidak kembali menjadi pasangan.
Tetapi kami belajar menjadi orang tua yang lebih baik untuk anak kami.
Sebelum pergi, Rendy berkata pelan.
“Kalau dulu aku tahu kehilangan kamu akan membuatku kehilangan segalanya, mungkin aku tidak akan pergi.”
Saya tersenyum.
“Tapi kalau dulu aku tidak kehilangan kamu, mungkin aku tidak akan pernah menemukan diriku sendiri.”
Rendy terdiam.
Saya berjalan pergi sambil menggandeng tangan Naura.
Saat itu saya sadar.
Takdir memang tidak selalu memberi kita apa yang kita inginkan.
Kadang takdir mengambil sesuatu dari hidup kita bukan untuk menghukum kita.
Tetapi untuk membuka jalan agar kita menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi di dalam diri kita.
