Nadine tiba-tiba berlari menuju meja dan mencoba merebut ponsel saya.
Namun kali ini saya sudah lebih siap.
Saya mundur satu langkah sambil mengangkat tangan yang memegang ponsel.
“Jangan sentuh ponsel saya, Nadine.”
Dia berhenti.
Wajahnya yang tadi penuh keyakinan kini berubah panik.

“Arga, dengarkan aku dulu.”
“Dengar apa?”
Suara saya terdengar lebih dingin daripada yang saya kira.
“Bahwa kamu tidak tahu apa-apa? Bahwa semua ini hanya kesalahpahaman?”
Nadine menelan ludah.
“Iya.”
Saya menatap perempuan yang enam hari lagi seharusnya berdiri di samping saya di depan altar.
Perempuan yang selama hampir dua tahun membuat saya percaya bahwa saya menemukan pasangan hidup.
Ternyata selama ini saya hanya mengenal wajah yang dia pilih untuk saya lihat.
“Bu Maya,” kata saya ke telepon.
“Saya masih di sini.”
“Tolong lanjutkan.”
Hening beberapa detik.
Kemudian suara Bu Maya terdengar serius.
“Arga, pinjaman empat koma delapan miliar itu diajukan tiga minggu lalu.”
Saya mengerutkan kening.
“Tiga minggu lalu?”
“Iya.”
“Itu saat saya sedang mengurus kontrak di Surabaya.”
“Benar.”
Saya melihat Nadine.
Dia mulai pucat.
“Siapa yang mengajukan?”
Bu Maya menarik napas.
“Dokumen digital menggunakan akun perusahaan. Tanda tangan elektronik menggunakan salinan identitas Anda.”
Saya mengepalkan tangan.
“Tapi siapa yang menjadi penerima dana?”
“Perusahaan bernama PT Nusa Karya Investama.”
Saya terdiam.
Nama itu terasa asing.
“Saya tidak pernah membuat perusahaan itu.”
“Saya tahu.”
Suara Bu Maya semakin berat.
“Itulah sebabnya kami melakukan pemeriksaan lebih dalam.”
Nadine mulai menggeleng.
“Arga, aku bisa jelaskan.”
Saya tidak menjawab.
“Dan hasil pemeriksaan sementara menunjukkan bahwa salah satu nomor kontak utama perusahaan tersebut terhubung dengan nomor pribadi Nadine.”
Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.
Ibu saya yang sejak tadi duduk di sofa menatap Nadine dengan mata penuh kekecewaan.
Bukan kemarahan.
Justru itu yang membuat suasana terasa lebih berat.
“Nadine…”
Suara ibu pelan.
“Kamu melakukan ini?”
Nadine langsung menangis.
Bukan tangisan yang tadi terlihat di wajah ibu.
Tangisan yang muncul karena seseorang mulai kehilangan kendali.
“Aku tidak berniat mengambil uang Arga.”
Saya tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena saya tidak percaya apa yang saya dengar.
“Lalu apa?”
“Aku hanya ingin mengamankan masa depan kita.”
“Masa depan kita?”
Saya menunjuk kardus-kardus milik ibu.
“Dengan membuang ibu saya ke panti?”
“Itu bukan seperti itu.”
“Dengan meminta password rekening ibu?”
“Itu hanya sementara.”
“Dengan mengurus pinjaman miliaran tanpa sepengetahuan saya?”
Nadine diam.
Jawaban itu sudah cukup.
Saya berjalan mendekati jendela.
Pemandangan halaman rumah yang biasanya membuat saya tenang sekarang terasa asing.
Rumah ini dibangun ayah saya ketika bisnis kami mulai berkembang.
Dulu hanya tanah kosong dengan rumput liar.
Saya masih ingat bagaimana ayah membawa saya melihat tempat ini.
“Arga,” katanya waktu itu.
“Rumah bukan sekadar tembok.”
“Rumah adalah tempat orang yang kita cintai merasa aman.”
Kalimat itu baru benar-benar saya pahami hari itu.
Karena orang yang ingin masuk ke rumah saya ternyata adalah orang yang ingin mengusir orang paling berjasa dalam hidup saya.
“Kenapa?” tanya saya.
Nadine menatap saya.
“Apa?”
“Kenapa kamu melakukan semua ini?”
Dia terdiam cukup lama.
Lalu perlahan wajahnya berubah.
Tidak lagi seperti orang yang ketakutan.
Tapi seperti seseorang yang sudah lelah menyembunyikan dirinya.
“Karena aku tahu kamu tidak akan pernah berubah.”
“Maksudmu?”
“Kamu selalu memilih ibu kamu.”
Saya mengerutkan kening.
“Dia ibuku.”
“Itulah masalahnya.”
Nadine berdiri.
“Kamu selalu merasa punya utang kepada dia.”
“Karena memang saya punya.”
“Dan selama saya menikah dengan kamu, saya harus selalu menjadi orang kedua.”
Saya menggeleng pelan.
“Jadi semua ini karena kamu merasa kalah dari ibu saya?”
“Bukan.”
Nadine tersenyum pahit.
“Karena saya tahu, selama ibu kamu masih ada di rumah ini, saya tidak akan pernah benar-benar memiliki hidup yang saya mau.”
Ibu menunduk.
Saya bisa melihat luka di wajahnya.
Bukan karena Nadine ingin mengusirnya.
Tapi karena selama ini ibu percaya Nadine menyayanginya.
“Nadine,” kata ibu pelan.
“Saya tidak pernah menganggap kamu orang lain.”
“Saya tahu.”
“Kalau kamu punya masalah, kenapa tidak bicara?”
Nadine tertawa kecil.
“Karena orang seperti Ibu tidak akan mengerti.”
“Orang seperti saya?”
“Ibu selalu berpikir pengorbanan adalah hal yang harus dihargai.”
Dia menatap saya.
“Tapi saya tidak mau hidup saya habis untuk mengurus keluarga orang lain.”
Saya menatapnya lama.
Dan saat itu saya akhirnya mengerti.
Bukan uang yang mengubah Nadine.
Bukan rumah.
Bukan pernikahan.
Dia memang sejak awal melihat hubungan kami sebagai transaksi.
Sementara saya melihatnya sebagai keluarga.
Bu Maya masih berada di telepon.
“Arga.”
“Iya?”
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Kami menemukan sesuatu dari pemeriksaan rekening.”
Saya kembali fokus.
“Apa?”
“Ada transfer kecil yang terjadi selama delapan bulan terakhir.”
“Berapa?”
“Tidak besar. Sekitar lima sampai sepuluh juta setiap transaksi.”
Saya diam.
“Totalnya hampir dua ratus juta.”
Dada saya terasa sesak.
“Dari rekening mana?”
“Rekening operasional pribadi Anda.”
Saya melihat Nadine.
“Untuk apa?”
Bu Maya menjawab,
“Pembayaran cicilan kartu kredit, belanja pribadi, dan beberapa transaksi ke luar negeri.”
Nadine langsung berkata,
“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Saya menatapnya.
“Lalu seperti apa?”
“Kita akan menikah.”
“Belum.”
“Tapi kamu bilang semua yang kamu punya akan menjadi milik kita.”
“Saya bilang setelah menikah.”
“Kamu mencintaiku.”
Kalimat itu membuat saya diam.
Karena benar.
Saya pernah mencintainya.
Saya pernah melihatnya sebagai perempuan yang akan menemani saya tua nanti.
Tapi cinta tanpa kejujuran hanya menjadi alasan bagi seseorang untuk menyakiti kita.
“Saya mencintai kamu, Nadine.”
Matanya sedikit berubah.
“Tapi saya lebih mencintai kebenaran.”
Air matanya jatuh.
“Jadi kamu membuang saya?”
Saya menatapnya.
“Tidak.”
Saya menggeleng.
“Kamu yang membuang kesempatan untuk menjadi keluarga saya.”
Setelah itu, saya meminta Nadine pergi dari rumah.
Dia tidak melawan lagi.
Mungkin karena dia tahu semuanya sudah berakhir.
Sebelum keluar, dia berhenti di depan pintu.
“Arga.”
Saya diam.
“Kamu pikir kamu menang?”
Saya menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Dia tersenyum tipis.
“Suatu hari nanti kamu akan sadar. Semua orang hanya mencari keuntungan dari kamu.”
Lalu dia pergi.
Pintu tertutup.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, rumah terasa benar-benar sunyi.
Saya duduk di samping ibu.
Tidak ada kata-kata selama beberapa menit.
Kemudian ibu memegang tangan saya.
“Maaf.”
Saya terkejut.
“Untuk apa?”
“Karena mungkin saya menjadi alasan hubungan kamu gagal.”
Saya langsung menggeleng.
“Jangan pernah bilang begitu.”
“Tapi kalau saya tidak tinggal di sini…”
“Ibu.”
Saya menggenggam tangannya.
“Sejak ayah meninggal, ibu tidak pernah meminta apa pun dari saya.”
Ibu tersenyum kecil.
“Saya hanya ingin melihat kamu bahagia.”
“Saya juga.”
Air mata ibu jatuh.
“Kalau begitu jangan pilih orang yang membuat kamu harus meninggalkan hati nurani.”
Kalimat itu membuat saya terdiam.
Beberapa hari kemudian, pernikahan yang seharusnya berlangsung di Jakarta Selatan resmi dibatalkan.
Tamu yang sudah menerima undangan diberi penjelasan seperlunya.
Tidak semua orang percaya.
Ada yang menyalahkan saya.
Ada yang mengatakan saya terlalu keras.
Ada yang bertanya kenapa saya menghancurkan pernikahan hanya karena masalah keluarga.
Saya tidak menjelaskan semuanya.
Karena terkadang kebenaran tidak perlu diumumkan kepada semua orang.
Cukup diketahui oleh mereka yang benar-benar perlu tahu.
Kasus pinjaman ilegal itu akhirnya masuk penyelidikan.
Ternyata PT Nusa Karya Investama dibuat menggunakan identitas beberapa orang yang terhubung dengan mantan rekan bisnis Nadine.
Dia bukan bekerja sendirian.
Tujuannya bukan hanya mendapatkan uang.
Dia ingin memiliki akses terhadap aset saya setelah menikah.
Kalau pernikahan itu terjadi, proses hukumnya akan jauh lebih rumit.
Enam bulan setelah kejadian itu, saya membawa ibu kembali ke tempat yang paling dia sukai.
Bukan rumah besar.
Bukan restoran mewah.
Tapi taman kecil di belakang rumah.
Tempat ayah dulu menanam pohon mangga.
Ibu duduk di kursi sambil membaca buku.
Saya melihat wajahnya.
Untuk pertama kalinya setelah lama, dia terlihat tenang.
“Arga.”
“Iya, Bu?”
“Kamu masih takut menikah?”
Saya tersenyum.
“Mungkin sedikit.”
“Kenapa?”
“Karena ternyata mengenal seseorang tidak selalu berarti mengetahui hatinya.”
Ibu mengangguk.
“Jangan takut mencintai lagi.”
Saya menatap pohon mangga tua di depan kami.
“Tapi kali ini saya akan lebih hati-hati.”
Ibu tersenyum.
“Yang penting jangan cari orang yang hanya ingin tinggal di rumah kamu.”
“Lalu?”
“Cari orang yang ingin membangun rumah bersama kamu.”
Saya tersenyum.
Setahun kemudian, saya bertemu seseorang yang berbeda.
Bukan perempuan yang melihat nama belakang saya.
Bukan seseorang yang tertarik dengan aset atau perusahaan.
Tapi seseorang yang ketika mengetahui ibu saya tinggal bersama saya, justru berkata,
“Kalau begitu saya harus belajar membuat Ibu Ratih merasa punya anak perempuan lagi.”
Saat mendengar kalimat itu, saya tidak langsung percaya.
Saya hanya tersenyum.
Karena setelah kehilangan seseorang yang salah, saya akhirnya mengerti satu hal.
Rumah terbesar bukanlah rumah yang memiliki tanah luas dan nilai miliaran rupiah.
Rumah terbesar adalah tempat di mana orang yang kita cintai tidak pernah merasa harus meminta izin untuk tetap tinggal.
