Saya akan melanjutkan cerita tersebut dalam bahasa Indonesia dengan gaya narasi yang sama. Namun, panjang maksimal satu respons terbatas, jadi saya akan membaginya menjadi beberapa bagian agar tetap mencapai sekitar 1.500 kata dan alurnya tidak terpotong. Berikut lanjutan bagian pertama:
Aku menatap foto Damar di atas meja Nadia.
Lima tahun.

Lima tahun aku menangisi makam yang mungkin tidak pernah berisi tubuh suamiku.
Lima tahun aku merasa bersalah karena masih bisa bernapas, sementara mungkin seseorang lain kehilangan hidupnya demi menutupi kebusukan yang bahkan belum kuketahui.
Tanganku mengepal.
“Jadi selama ini…” suaraku bergetar, “aku menangisi orang yang salah?”
Nadia tidak langsung menjawab.
Sebagai pengacara, dia tahu ada kalimat-kalimat tertentu yang terlalu berat untuk dijawab dengan kata-kata.
Akhirnya dia berkata pelan,
“Rania, kita belum bisa memastikan siapa yang ada di dalam makam itu. Tapi satu hal jelas. Ada seseorang yang sengaja membuatmu percaya bahwa Ardi meninggal.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Bayangan lima tahun terakhir muncul satu per satu.
Aku yang duduk sendirian di rumah sakit.
Aku yang menandatangani dokumen perusahaan sambil menahan tangis.
Aku yang menjual rumah kami karena setiap sudutnya mengingatkanku pada seseorang yang sudah tidak ada.
Aku yang setiap minggu membeli melati putih.
Sementara pria yang kukira sudah terkubur sedang tertawa, memeluk anak kecil, dan membangun keluarga baru.
“Aku ingin makam itu dibuka.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Nadia dan Fadli saling melihat.
“Rania…”
“Aku ingin tahu siapa yang sebenarnya aku kubur.”
Nada suaraku tidak tinggi.
Tidak ada tangisan.
Hanya keputusan.
Fadli mengangguk perlahan.
“Kalau begitu kita harus bergerak secara hukum. Pembongkaran makam tidak bisa dilakukan sembarangan.”
“Aku tidak peduli berapa lama prosesnya.”
Aku menatap mereka.
“Aku sudah kehilangan lima tahun hidupku. Aku tidak mau kehilangan satu hari lagi.”
Selama dua minggu berikutnya, Nadia bekerja tanpa henti.
Ia mengajukan permohonan resmi kepada pihak berwenang untuk pemeriksaan ulang makam atas dasar dugaan pemalsuan identitas dan penipuan finansial.
Sementara itu, Fadli terus menyelidiki masa lalu Ardi.
Dan semakin banyak fakta yang ditemukan, semakin terasa bahwa selama ini aku hanya melihat sebagian kecil dari sebuah rencana besar.
Tiga bulan sebelum Ardi dinyatakan meninggal, ada beberapa transaksi besar dari rekening perusahaan.
Jumlahnya mencapai hampir Rp11 miliar.
Awalnya aku mengira uang itu digunakan untuk biaya pengobatan.
Ternyata tidak.
Uang itu berpindah ke beberapa rekening berbeda.
Kemudian semuanya bermuara ke sebuah perusahaan bernama PT Lestari Sentosa Investama.
Perusahaan milik Siska.
Perempuan yang selama ini hidup bersama suamiku.
“Ardi tidak hanya memalsukan kematiannya,” kata Nadia saat kami melihat dokumen di laptopnya.
“Dia mempersiapkan kehidupan barunya.”
Aku diam.
“Ada sesuatu yang lebih buruk.”
Nadia membuka satu file.
“Seminggu sebelum kematiannya, Ardi mengubah beberapa dokumen kepemilikan perusahaan.”
Aku membaca nama-nama yang tertulis.
Sebagian saham dipindahkan ke perusahaan baru.
Sebagian aset dijadikan jaminan.
Dan ada satu nama yang membuat dadaku sesak.
Ratih Pratama.
Ibu mertuaku.
Perempuan yang selama lima tahun aku anggap sebagai ibu kandung kedua.
Perempuan yang menangis di bahuku sambil berkata kehilangan Ardi adalah luka terbesar dalam hidupnya.
Ternyata dia tahu.
Atau bahkan terlibat.
“Aku ingin bertemu dengannya.”
Nadia langsung menggeleng.
“Jangan sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena mereka belum tahu seberapa banyak yang kita punya.”
Aku tersenyum pahit.
“Selama lima tahun mereka memainkan perasaanku. Sekarang biarkan aku memainkan ketakutan mereka.”
Untuk pertama kalinya sejak Ardi muncul di bandara, aku merasa memiliki kendali atas hidupku sendiri.
Namun malam itu, sesuatu terjadi.
Pukul sebelas malam, ketika aku sedang mencoba tidur, ponselku berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
Aku hampir tidak mengangkatnya.
Tetapi entah mengapa, ada perasaan aneh yang membuatku menjawab.
“Halo?”
Tidak ada suara selama beberapa detik.
Lalu terdengar suara laki-laki.
Suara tua.
Lemah.
“Apakah ini Rania?”
Aku duduk.
“Iya. Siapa ini?”
“Saya suami dari Damar.”
Jantungku berhenti sejenak.
“Damar?”
“Iya.”
Suara perempuan itu mulai bergetar.
“Saya dengar nama suami saya muncul dalam penyelidikan tentang makam Ardiansyah.”
Aku tidak menjawab.
“Bu Rania…”
Tangisnya terdengar.
“Selama lima tahun saya mencari tahu apa yang terjadi pada suami saya.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Suami Ibu hilang kapan?”
“Dua hari sebelum kabar kematian Ardi.”
Ruangan terasa semakin dingin.
“Apa yang Ibu tahu?”
Perempuan itu menarik napas panjang.
“Damar bekerja sebagai kepala gudang di perusahaan suami Ibu.”
“Aku tahu.”
“Satu minggu sebelum dia hilang, dia menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Dia menemukan bahwa Pak Ardi mengambil uang perusahaan secara diam-diam.”
Aku menutup mata.
Nadia pernah mengatakan hal yang sama.
“Tapi Damar tidak mau langsung menuduh.”
Perempuan itu melanjutkan.
“Dia bilang kepada saya, dia akan menyerahkan bukti kepada Ibu Rania karena menurutnya hanya Ibu yang masih bisa dipercaya.”
Tanganku mulai gemetar.
“Lalu?”
“Lalu malam itu dia menelepon saya.”
Suaranya pecah.
“Dia bilang ada orang yang mengikutinya.”
Aku menahan napas.
“Dia berkata kalau sesuatu terjadi padanya, saya harus mencari Bu Rania.”
Aku berdiri dari tempat tidur.
“Apakah Ibu masih punya bukti?”
Ada jeda.
“Punya.”
“Apa?”
“Damar meninggalkan sebuah flashdisk.”
Aku membeku.
“Di mana?”
“Saya tidak tahu isinya. Saya takut membukanya.”
“Kenapa?”
“Karena setelah Damar hilang, seseorang datang ke rumah saya.”
“Siapa?”
Perempuan itu terdiam.
Lalu menjawab dengan suara hampir berbisik.
“Ibu mertua suami Ibu.”
Darahku terasa dingin.
“Bu Ratih?”
“Iya.”
Malam itu aku tidak tidur.
Pagi harinya, aku bersama Nadia pergi menemui istri Damar di sebuah rumah kecil di pinggiran Bandung.
Namanya Lina.
Usianya sekitar empat puluh tahun.
Wajahnya menunjukkan seseorang yang terlalu lama menunggu jawaban.
Dia membawa sebuah kotak kecil dari lemari tua.
Di dalamnya ada sebuah flashdisk hitam.
“Ini terakhir kali saya melihat Damar.”
Aku mengambilnya perlahan.
“Kenapa baru sekarang?”
Lina menunduk.
“Karena saya takut.”
“Takut pada siapa?”
Dia menatapku.
“Pada orang yang berhasil membuat suami Ibu terlihat meninggal.”
Aku membawa flashdisk itu ke kantor Nadia.
Fadli memeriksa isinya dengan hati-hati.
Ada beberapa dokumen.
Foto.
Rekaman suara.
Dan satu video pendek.
Ketika video itu diputar, wajah Ardi muncul.
Tetapi bukan Ardi yang sakit.
Bukan Ardi yang lemah.
Dia berdiri di sebuah ruangan kantor.
Berbicara dengan seseorang yang wajahnya tidak terlihat.
“Aku sudah siapkan semuanya.”
Suara Ardi terdengar jelas.
“Rania tidak akan pernah curiga. Setelah pemakaman, semua aset akan masuk sesuai rencana.”
Aku menahan napas.
Kemudian terdengar suara perempuan.
Suara yang sangat kukenal.
Suara Bu Ratih.
“Bagaimana dengan Damar?”
Ardi menjawab santai.
“Dia sudah menemukan terlalu banyak.”
Video berhenti.
Aku tidak menangis.
Tidak berteriak.
Aku hanya duduk diam.
Karena akhirnya aku mengerti.
Suamiku tidak meninggal.
Dia melarikan diri.
Dan seseorang yang dikuburkan di makam itu mungkin adalah korban yang dibungkam agar rahasia mereka tetap terkubur.
Namun yang tidak mereka sadari…
adalah makam itu kini menjadi awal kehancuran mereka.
