Malam itu, Bu Ratmi sama sekali tidak menyangka bahwa ketukan di pintu rumahnya akan membawanya pada pengalaman yang tidak pernah bisa ia lupakan seumur hidup.
Selama hampir dua puluh tahun menjadi bidan di daerah pedesaan, ia sudah melihat banyak hal. Ia pernah membantu persalinan di rumah sederhana dengan lampu minyak, pernah berjalan melewati jalan berlumpur saat hujan deras demi menyelamatkan seorang ibu hamil, bahkan pernah menangani bayi yang lahir dalam kondisi darurat tanpa peralatan lengkap.
Bagi Bu Ratmi, persalinan selalu memiliki satu tujuan.

Membantu seorang ibu dan bayi melewati batas antara hidup dan mati.
Namun malam itu, ia tidak sedang menghadapi persalinan biasa.
Ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya apakah dunia yang selama ini ia kenal memang sesederhana yang ia pikirkan.
Saat itu usia Bu Ratmi sekitar empat puluh lima tahun.
Ia tinggal bersama suaminya di sebuah desa kecil di daerah Jawa yang dikelilingi perkebunan dan hutan lebat. Warga desa mengenalnya sebagai bidan yang tidak pernah menolak membantu siapa pun.
Bahkan jika seseorang datang tengah malam.
Bahkan jika rumahnya berada jauh di pelosok.
Karena itulah ketika suara ketukan terdengar pada malam yang dingin itu, Bu Ratmi langsung terbangun.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia membuka mata dan melihat jam dinding.
Hampir pukul sebelas malam.
Hujan baru saja berhenti. Suara tetesan air masih terdengar dari atap rumah.
Suaminya sudah tertidur lelap.
Bu Ratmi berjalan menuju pintu dengan membawa lampu kecil.
Saat pintu dibuka, seorang laki-laki berdiri di luar.
Tubuhnya tinggi.
Pakainya basah terkena hujan.
Wajahnya terlihat pucat di bawah cahaya lampu teras.
“Bu Bidan?”
“Iya. Ada apa?”
Laki-laki itu menatapnya sebentar sebelum berkata,
“Tolong ikut saya, Bu. Istri saya mau melahirkan.”
Mendengar kalimat itu, Bu Ratmi langsung mengambil tas perlengkapannya.
“Rumahnya di mana?”
“Tidak jauh.”
Bu Ratmi sempat berbalik untuk membangunkan suaminya.
Namun laki-laki itu buru-buru berkata,
“Tidak sempat, Bu. Istri saya sudah kesakitan sekali.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Bu Ratmi berhenti.
Bukan rasa panik biasa.
Melainkan seperti seseorang yang sedang mengejar waktu.
Akhirnya Bu Ratmi mengambil keputusan.
Ia memakai jaket tipis, membawa tas bidan, lalu mengikuti laki-laki tersebut.
Di depan rumah sudah ada sepeda motor tua.
Bu Ratmi duduk di belakang.
Awalnya perjalanan masih melewati jalan desa yang ia kenal.
Rumah-rumah warga mulai terlihat semakin sedikit.
Lampu jalan semakin jarang.
Namun beberapa menit kemudian, motor itu berbelok ke sebuah jalan kecil yang tidak pernah ia lewati sebelumnya.
Bu Ratmi mulai merasa tidak nyaman.
Jalan berubah menjadi tanah.
Pepohonan semakin rapat.
Ranting-ranting kecil mengenai lengannya.
“Mas,” katanya.
“Iya, Bu?”
“Rumahnya masih jauh?”
“Sebentar lagi.”
Bu Ratmi melihat ke kanan dan kiri.
Tidak ada rumah.
Tidak ada suara manusia.
Hanya suara serangga malam dan angin yang melewati pepohonan.
“Kenapa lewat jalan ini?”
Laki-laki itu tidak menjawab.
Motor terus berjalan masuk semakin dalam.
Bu Ratmi mulai menghitung waktu.
Lima belas menit.
Dua puluh menit.
Hampir tiga puluh menit.
Padahal laki-laki itu mengatakan rumahnya tidak jauh.
Tangannya mulai menggenggam erat tas bidan.
Ada perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya.
Seperti ada sesuatu yang salah.
Namun sebelum ia memutuskan turun, cahaya kecil terlihat dari kejauhan.
Sebuah rumah kayu berdiri sendirian di tengah hutan.
Tidak ada rumah lain di sekitarnya.
Tidak ada tetangga.
Tidak ada kebun.
Hanya bangunan tua itu dengan satu lampu minyak yang menyala redup.
Motor berhenti.
“Masuk, Bu.”
Bu Ratmi turun perlahan.
Saat kakinya menyentuh tanah, ia langsung mencium aroma aneh.
Campuran tanah basah, bunga melati, dan bau amis yang samar.
Ia menatap laki-laki itu.
“Mana istrinya?”
“Di dalam.”
Laki-laki itu menunjuk pintu rumah.
Bu Ratmi masuk.
Ruangan depan sangat sederhana.
Ada meja kayu tua.
Dua kursi.
Lampu minyak.
Tidak ada siapa pun.
Tidak ada keluarga yang membantu.
Tidak ada orang yang menunggu seperti biasanya ketika seorang perempuan akan melahirkan.
Bu Ratmi mulai merasa semakin curiga.
Lalu terdengar suara dari kamar belakang.
“Aaaah…”
Suara perempuan menahan sakit.
Naluri seorang bidan langsung mengambil alih.
Ia membuka pintu kamar.
Di dalam, seorang perempuan muda terbaring di atas tikar.
Rambutnya panjang dan berantakan.
Wajahnya pucat.
Tubuhnya berkeringat.
“Bu, saya bidan. Saya akan membantu.”
Perempuan itu hanya menangis.
Bu Ratmi mendekat.
“Ayo, coba berbaring lebih nyaman. Saya periksa dulu.”
Namun perempuan itu langsung menggeleng.
“Nggak bisa…”
“Kenapa?”
“Sakit sekali…”
“Bagian mana yang sakit?”
Perempuan itu perlahan menunjuk punggungnya.
Bu Ratmi mengerutkan dahi.
“Punggung?”
Ia meminta perempuan itu miring.
Dan ketika tubuh perempuan tersebut berbalik, Bu Ratmi melihat sesuatu yang membuat napasnya berhenti.
Di bagian tengah punggung perempuan itu terdapat luka besar yang tidak biasa.
Kulitnya seperti tertarik dari dalam.
Ada sesuatu yang bergerak di bawahnya.
Pelan.
Kemudian semakin kuat.
Bu Ratmi mundur satu langkah.
“Apa yang terjadi?”
Perempuan itu menangis.
“Tolong keluarkan anak saya, Bu…”
Bu Ratmi langsung menoleh ke arah pintu.
“Mas!”
Laki-laki yang membawanya berdiri di sana.
“Ini bukan persalinan normal. Kita harus ke rumah sakit.”
Namun laki-laki itu hanya menjawab dengan suara datar.
“Nggak bisa.”
“Kenapa tidak bisa?”
Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba perempuan itu menjerit keras.
Tubuhnya melengkung.
Gerakan di punggungnya semakin kuat.
Lalu Bu Ratmi mendengar sesuatu.
Suara kecil.
Sangat kecil.
Tetapi jelas.
Tangisan bayi.
Bu Ratmi membeku.
Suara itu berasal dari dalam tubuh perempuan tersebut.
“Nggak mungkin…”
Ia mundur.
Tangannya gemetar.
Selama bertahun-tahun menjadi bidan, ia pernah melihat berbagai kondisi medis.
Tetapi tidak pernah sesuatu seperti ini.
Kulit di punggung perempuan itu mulai terbuka perlahan.
Bukan seperti luka biasa.
Seolah ada sesuatu dari dalam yang sedang berusaha keluar.
Bu Ratmi ingin lari.
Namun ketika ia menoleh ke pintu, laki-laki tadi sudah menghilang.
Pintu kamar tertutup.
Ia mencoba membukanya.
Tidak bisa.
“Mas! Buka pintunya!”
Tidak ada jawaban.
Dari belakang terdengar suara lirih.
“Bu Bidan…”
Bu Ratmi berbalik.
Perempuan itu menatapnya dengan mata penuh air mata.
“Tolong anak saya.”
Pada saat itu, Bu Ratmi sadar.
Tidak peduli apa pun yang terjadi.
Di hadapannya tetap ada seseorang yang meminta pertolongan.
Ia menarik napas panjang.
Ketakutan masih ada.
Namun rasa kemanusiaannya lebih besar.
Ia mendekat.
Dengan tangan gemetar, ia mulai membantu proses yang tidak pernah ia bayangkan.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
Tangisan bayi semakin jelas.
Sampai akhirnya, sesuatu keluar dari luka tersebut.
Seorang bayi kecil.
Bu Ratmi segera membungkus tubuh bayi itu dengan kain.
Namun ada sesuatu yang membuatnya kembali merasa takut.
Tubuh bayi itu sangat dingin.
Bukan seperti bayi baru lahir.
Dingin seperti baru keluar dari tempat yang lama tidak terkena cahaya.
Ia mengusap tubuh bayi itu.
“Ayo menangis…”
Tetapi bayi itu tidak menangis.
Ia hanya membuka mata.
Menatap Bu Ratmi.
Lalu tersenyum kecil.
Bulu kuduk Bu Ratmi langsung berdiri.
Di belakangnya terdengar suara tertawa pelan.
Ia menoleh.
Perempuan yang baru melahirkan tadi sudah tidak terlihat kesakitan.
Wajahnya justru tenang.
Ia tersenyum.
“Sudah lahir…”
Bu Ratmi memegang bayi itu lebih erat.
“Siapa sebenarnya kamu?”
Perempuan itu tidak menjawab.
Ia hanya menunjuk ke sudut kamar.
Di sana tergantung sebuah foto lama.
Bu Ratmi berjalan mendekat.
Foto hitam putih.
Dalam foto itu ada seorang perempuan muda dan seorang laki-laki.
Perempuan dalam foto itu sama persis dengan perempuan yang sekarang berada di belakangnya.
Tangannya mulai gemetar ketika melihat tulisan di bawah foto.
“Meninggal tahun 1978 bersama bayinya.”
Bu Ratmi perlahan mundur.
Tidak mungkin.
Perempuan itu sudah meninggal puluhan tahun lalu.
“Tidak…”
Sosok perempuan itu tersenyum.
Air matanya mengalir.
“Anak saya dulu tidak sempat lahir, Bu.”
Suaranya terdengar sedih.
Bukan marah.
Bukan penuh kebencian.
Hanya penuh kehilangan yang sudah dipendam terlalu lama.
Ia menatap bayi di tangan Bu Ratmi.
“Selama puluhan tahun saya menunggu.”
Bu Ratmi diam.
“Saya hanya ingin merasakan menjadi seorang ibu.”
Angin tiba-tiba berembus keras.
Lampu minyak di kamar berkedip.
Perempuan itu mendekat perlahan.
“Sekarang saya sudah mendapatkannya kembali.”
Bu Ratmi menatap bayi tersebut.
Dalam hatinya muncul pertanyaan.
Apakah bayi ini benar-benar anak yang baru lahir?
Atau sesuatu yang selama ini ditunggu oleh arwah seorang ibu yang kehilangan kesempatan menjadi seorang ibu?
Tiba-tiba pintu kamar terbuka sendiri.
Cahaya dari luar masuk.
Dan laki-laki yang menjemputnya berdiri di sana.
Wajahnya penuh kesedihan.
Bu Ratmi menatapnya.
“Kamu siapa?”
Laki-laki itu menunduk.
“Saya anaknya.”
Bu Ratmi terdiam.
“Anak siapa?”
Laki-laki itu melihat ke arah perempuan tersebut.
“Ibu saya.”
Jantung Bu Ratmi berdegup keras.
“Tapi…”
Laki-laki itu menangis.
“Ibu meninggal saat melahirkan saya puluhan tahun lalu.”
Bu Ratmi tidak mampu berkata apa-apa.
Laki-laki itu melanjutkan.
“Setiap tahun, saya kembali ke rumah ini. Saya berharap bisa menemukan seseorang yang cukup berani membantu ibu saya menyelesaikan penantiannya.”
Bu Ratmi melihat perempuan itu.
Perlahan sosok tersebut mulai memudar.
Namun sebelum menghilang, ia tersenyum kepada Bu Ratmi.
“Terima kasih, Bu Bidan.”
Kemudian semuanya menjadi gelap.
Ketika Bu Ratmi membuka mata, ia sudah berada di pinggir jalan desa.
Tas bidannya masih ada.
Namun rumah kayu itu sudah tidak terlihat.
Pagi harinya, warga desa menemukan Bu Ratmi dan membawanya pulang.
Saat ia menceritakan kejadian itu, beberapa orang tua di desa langsung terdiam.
Mereka mengatakan bahwa puluhan tahun lalu memang pernah ada seorang perempuan muda yang meninggal di tengah hutan saat melahirkan.
Ia dan bayinya tidak pernah ditemukan.
Sejak saat itu, banyak orang mengaku melihat cahaya lampu minyak dari sebuah rumah kayu tua di tengah hutan.
Bu Ratmi tidak pernah lagi melewati tempat itu.
Namun hingga bertahun-tahun kemudian, ia masih menyimpan satu hal yang tidak pernah bisa ia jelaskan.
Sebuah kain bayi kecil yang ia temukan di dalam tasnya pagi itu.
Kain yang sama persis dengan yang ia gunakan untuk membungkus bayi malam itu.
Dan di sudut kain tersebut, terdapat tulisan tangan kecil:
“Terima kasih sudah membuat saya menjadi ibu.”
Sejak kejadian itu, Bu Ratmi selalu percaya satu hal.
Tidak semua jiwa yang datang meminta pertolongan membawa niat buruk.
Terkadang, bahkan mereka yang sudah tidak memiliki tubuh pun hanya ingin merasakan satu hal yang paling manusiawi.
Kesempatan untuk mencintai dan dicintai.
