Lima belas tahun setelah hari ketika Pak Gunawan menyelamatkan seorang anak kecil yang dibuang oleh dunia, tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa anak itu akan kembali membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Namun saat itu, Pak Gunawan hanya seorang pria tua yang duduk sendirian di depan kontrakan kecilnya.
Kaki kanannya yang sudah tidak kuat menopang tubuhnya membuat langkahnya semakin berat. Tongkat kayu sederhana selalu berada di samping kursi plastik tempat ia duduk setiap pagi.
Sudah hampir tiga bulan sejak Dika pergi ke Jakarta Pusat mencari pekerjaan.
Tidak ada kabar.
Tidak ada telepon.
Tidak ada pesan.
Setiap kali suara kendaraan berhenti di depan gang sempit itu, Pak Gunawan selalu mengangkat kepala dengan harapan yang sama.
Mungkin Dika pulang.
Mungkin anak yang selama ini ia besarkan akhirnya kembali.
Namun setiap kali pintu kendaraan terbuka, harapannya kembali runtuh.
“Pak, jangan terlalu berharap pada anak itu,” kata Pak Danu suatu sore sambil berdiri di depan kontrakan.
“Kamu sudah merawat dia memang baik, tapi jangan lupa. Dia bukan anak kandungmu.”
Pak Gunawan menatap pria itu dengan tenang.
“Dika mungkin bukan anak yang lahir dari darah saya, Pak Danu.”
“Tapi dia anak yang saya besarkan dengan hati.”
Pak Danu tertawa kecil.
“Hati tidak bisa membayar sewa rumah, Gunawan.”
Kalimat itu menusuk, tetapi Pak Gunawan hanya menundukkan kepala.
Ia tahu hidup memang keras.
Namun ia tidak pernah menyesal telah mengambil Dika dari jalanan lima belas tahun lalu.
Bagi Pak Gunawan, hari ketika ia melihat Dika kecil menggenggam roti kotor dari tempat sampah adalah hari ketika ia sadar bahwa seorang anak tidak membutuhkan belas kasihan.
Ia membutuhkan seseorang yang percaya bahwa dirinya masih berharga.
Malam itu, Pak Gunawan duduk sendirian di dalam kontrakan.
Di tangannya ada sebuah foto lama.
Foto dirinya bersama Dika saat anak itu pertama kali memakai seragam sekolah.
Dika tersenyum lebar sambil memegang tas baru yang dibelikan Pak Gunawan dari hasil bekerja lembur di pasar.
“Ayah janji, suatu hari nanti aku akan membuat Ayah bangga,” kata Dika dalam foto kenangan itu.
Pak Gunawan tersenyum kecil.
“Kamu sudah membuat Ayah bangga, Nak.”
Tanpa ia ketahui, di waktu yang sama, di sebuah gedung tinggi kawasan Sudirman Jakarta, seorang pria muda sedang berdiri di depan ruang rapat besar.
Pria itu mengenakan jas hitam rapi.
Di layar besar belakangnya terpampang presentasi tentang sebuah perusahaan teknologi digital yang berkembang pesat.
Namanya adalah Dika Gunawan.
Pendiri sekaligus direktur utama sebuah perusahaan pemasaran digital yang dalam waktu tiga tahun berhasil menarik perhatian banyak investor.
Namun meskipun semua orang mengenalnya sebagai pengusaha muda sukses, hanya sedikit orang yang tahu bahwa Dika pernah tidur di trotoar dan makan sisa makanan pasar.
Dan hanya satu orang yang tahu kisah lengkapnya.
Pak Gunawan.
Setelah meninggalkan rumah tiga bulan sebelumnya, Dika sebenarnya tidak pergi untuk meninggalkan ayah angkatnya.
Ia pergi karena ia tidak sanggup melihat pria yang membesarkannya hidup dalam kesulitan.
Saat mengetahui kondisi kaki Pak Gunawan dan ancaman kehilangan rumah, Dika merasa hancur.
Ia tidak ingin ayahnya melihat dirinya menangis.
Malam sebelum pergi, Dika berdiri lama di depan tempat tidur Pak Gunawan.
Ia melihat pria tua itu tertidur sambil masih memegang tongkatnya.
Air mata Dika jatuh.
“Maafkan Dika, Yah.”
“Dika pergi bukan karena malu punya Ayah.”
“Dika pergi karena Dika ingin membawa Ayah keluar dari kehidupan seperti ini.”
Keesokan harinya, Dika menggunakan seluruh kemampuan yang ia miliki.
Ia mendatangi berbagai perusahaan.
Mengirim ratusan lamaran.
Mengikuti puluhan wawancara.
Hingga akhirnya, seorang investor melihat ide bisnis yang ia buat sejak kuliah.
Sebuah platform pemasaran digital untuk membantu usaha kecil berkembang melalui teknologi.
Awalnya banyak orang meremehkannya.
Seorang mantan anak jalanan dianggap tidak mungkin memahami dunia bisnis.
Namun Dika membuktikan sebaliknya.
Dalam waktu dua tahun, perusahaan kecil yang ia bangun berubah menjadi perusahaan besar.
Meski sudah sukses, satu hal tidak pernah berubah.
Setiap bulan, Dika selalu menyisihkan sebagian besar pendapatannya untuk membantu anak-anak terlantar.
Karena ia tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang dianggap tidak berguna.

Hari itu, setelah rapat penting dengan para investor, Dika berdiri di depan jendela kantornya.
Asistennya masuk membawa sebuah dokumen.
“Pak Dika, semua sudah siap.”
“Besok pagi kita akan menyelesaikan pembelian gedung baru.”
Dika mengangguk.
Namun pikirannya tidak berada di sana.
Ia melihat sebuah foto kecil di meja.
Foto dirinya bersama Pak Gunawan.
“Ayah…” bisiknya.
“Sudah terlalu lama aku membuat Ayah menunggu.”
Keesokan paginya, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan kontrakan kecil di pinggir Jakarta.
Warga sekitar langsung keluar karena penasaran.
Mereka melihat seorang pria muda berpakaian rapi turun dari mobil.
Beberapa orang langsung mengenalinya.
“Itu Dika?”
“Yang sering muncul di berita itu?”
“Pengusaha muda itu?”
Dika tidak peduli dengan tatapan mereka.
Ia berjalan cepat menuju pintu kontrakan.
Di dalam, Pak Gunawan sedang berusaha berdiri mengambil gelas air.
Tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat ia rindukan.
“Ayah.”
Tubuh Pak Gunawan langsung membeku.
Perlahan ia menoleh.
Di depan pintu berdiri Dika.
Bukan lagi anak kecil kurus yang dulu ia temukan di belakang terminal.
Tetapi seorang pria dewasa dengan mata yang masih sama.
Mata seorang anak yang dulu hanya ingin memiliki keluarga.
“Dika…”
Suara Pak Gunawan bergetar.
“Kamu pulang?”
Dika langsung berlari dan memeluk pria tua itu.
Pelukan mereka berlangsung lama.
Tidak ada kata-kata selama beberapa saat.
Hanya suara tangisan dua orang yang selama ini sama-sama menahan rindu.
“Maafkan Dika, Yah.”
“Ayah pasti berpikir Dika meninggalkan Ayah.”
Pak Gunawan menggeleng sambil menangis.
“Tidak pernah.”
“Ayah tidak pernah percaya kamu meninggalkan Ayah.”
Dika memeluk lebih erat.
“Aku pergi untuk satu alasan.”
“Aku ingin membalas semua yang Ayah lakukan.”
Lalu Dika mengeluarkan sebuah map.
Pak Gunawan membuka perlahan.
Di dalamnya terdapat sertifikat rumah baru.
Bukan rumah biasa.
Sebuah rumah nyaman dengan taman kecil di halaman belakang.
“Apa ini?”
“Rumah untuk kita, Yah.”
Pak Gunawan terdiam.
“Dika… Ayah tidak pernah meminta semua ini.”
“Aku tahu.”
“Tapi dulu ketika aku tidak punya apa-apa, Ayah memberiku rumah meskipun Ayah sendiri hanya punya kontrakan kecil.”
“Sekarang izinkan aku memberikan tempat yang layak untuk Ayah.”
Air mata Pak Gunawan kembali jatuh.
Namun kejutan Dika belum selesai.
Ia kemudian memberikan sebuah surat.
Surat itu berasal dari sebuah yayasan pendidikan.
“Ayah, aku juga mendirikan yayasan.”
“Namanya Yayasan Gunawan Peduli Anak Jalanan.”
Pak Gunawan menatapnya tidak percaya.
“Kenapa menggunakan nama Ayah?”
Dika tersenyum.
“Karena tanpa Ayah, mungkin aku tidak pernah punya kesempatan untuk hidup.”
“Ayah bukan hanya menyelamatkan satu anak.”
“Ayah menyelamatkan masa depanku.”
Berita tentang kisah mereka kemudian tersebar luas.
Orang-orang yang dulu menertawakan Pak Gunawan mulai datang meminta maaf.
Termasuk Pak Danu.
Pria yang dulu mengejeknya kini berdiri dengan wajah penuh penyesalan.
“Gunawan, saya salah menilai kamu.”
“Saya pikir kamu hanya menambah beban hidup.”
“Ternyata kamu sedang membesarkan seseorang yang akan mengubah banyak kehidupan.”
Pak Gunawan hanya tersenyum.
Ia tidak menyimpan dendam.
Karena selama lima belas tahun, ia sudah belajar satu hal.
Kebaikan tidak selalu langsung mendapatkan balasan.
Kadang ia harus menunggu bertahun-tahun.
Kadang harus melewati masa sulit.
Tetapi kebaikan yang diberikan dengan tulus tidak pernah benar-benar hilang.
Beberapa bulan kemudian, Pak Gunawan duduk di halaman rumah barunya.
Di depannya, beberapa anak yatim dari yayasan Dika sedang bermain.
Ia melihat wajah-wajah kecil itu.
Wajah yang dulu pernah ia lihat pada Dika.
Ketakutan.
Kesepian.
Tidak memiliki siapa-siapa.
Namun kini mereka memiliki harapan.
Dika duduk di sampingnya sambil tersenyum.
“Ayah.”
“Ya?”
“Kalau dulu Ayah tidak berhenti memperbaiki angkot di terminal itu, mungkin hidupku akan berbeda.”
Pak Gunawan tertawa kecil.
“Mungkin memang sudah takdir.”
Dika menggeleng.
“Bukan hanya takdir, Yah.”
“Itu karena hati Ayah memilih untuk peduli.”
Pak Gunawan menatap langit sore.
Dulu ia hanyalah seorang sopir angkot miskin yang bahkan tidak mampu membeli makanan untuk dirinya sendiri.
Banyak orang mengatakan ia bodoh karena membawa pulang anak yang bukan darah dagingnya.
Namun lima belas tahun kemudian, anak kecil yang dulu dianggap tidak memiliki masa depan justru menjadi alasan hidupnya berubah.
Karena terkadang, manusia tidak mendapatkan balasan dari apa yang ia miliki.
Tetapi dari kebaikan yang ia berikan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
