Bagas berdiri di depan pria itu dengan wajah penuh amarah yang selama ini hampir tidak pernah terlihat oleh siapa pun.
“Berhenti menyentuh ibu Anda seperti itu.”
Suara Bagas terdengar tenang, tetapi memiliki tekanan yang membuat Setyo berhenti sejenak.
Setyo menatapnya dari atas ke bawah. Ia melihat seorang pria dengan setelan mahal, jam tangan mewah, dan beberapa orang yang berdiri tidak jauh darinya.
“Siapa kamu ikut campur urusan keluarga saya?” bentak Setyo.
Bagas tidak langsung menjawab.
Matanya masih tertuju pada Mbah Maryam yang duduk gemetar di bangku taman.
Wanita tua itu menunduk, seolah sudah terlalu sering menerima perlakuan kasar hingga menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
Pemandangan itu menghancurkan hati Bagas.
Dua puluh tahun lalu, ketika dirinya hampir menyerah karena lapar dan putus asa, Mbah Maryam tidak pernah bertanya apakah ia punya uang.
Wanita tua itu hanya melihat seorang anak muda yang membutuhkan pertolongan.
Kini, saat Mbah Maryam sudah tidak berdaya, anak kandungnya sendiri justru memperlakukannya seperti beban.
“Saya orang yang pernah ditolong ibu Anda,” jawab Bagas akhirnya.
Setyo tertawa kecil.
“Ditolong? Ibu saya memang suka mengasihani orang. Dulu dia jualan bubur murah sampai tua. Jangan-jangan kamu salah satu orang yang pernah diberi makan gratis olehnya?”
Bagas menatap tajam.
“Benar. Saya salah satunya.”
Setyo mengangkat bahu.
“Lalu? Apa hubungannya dengan masalah saya dan ibu saya?”
Bagas menarik napas panjang.
“Hubungannya adalah, ketika saya tidak punya siapa-siapa, ibu Anda memperlakukan saya seperti keluarga. Tapi hari ini saya melihat anak kandungnya sendiri membuang dia seperti barang yang tidak berguna.”
Wajah Setyo berubah.
“Jangan sok tahu. Kamu tidak tahu apa yang terjadi di rumah saya.”
Bagas diam.
Karena kalimat itu memang benar.
Ia belum tahu seluruh cerita.
Namun ia tahu satu hal.
Tidak ada alasan bagi seorang anak untuk menghina dan mendorong ibunya sendiri.
Bagas kemudian berjongkok di depan Mbah Maryam.
“Mbah, ikut saya.”
Mbah Maryam terlihat panik.
“Tidak, Nak… jangan ikut campur. Setyo anak Mbah. Bagaimanapun dia tetap anak Mbah.”
Kalimat itu membuat dada Bagas terasa sesak.
Bahkan setelah disakiti, wanita tua itu masih membela anaknya.
“Kenapa Mbah masih membelanya?” tanya Bagas pelan.
Mbah Maryam tersenyum sedih.
“Karena sejak dia kecil, Mbah tidak pernah berhenti menjadi ibunya.”
Jawaban sederhana itu membuat Bagas terdiam.
Ia sadar, kasih sayang seorang ibu tidak hilang meskipun anaknya berubah.
Namun Setyo kembali maju.
“Ibu ikut saya pulang sekarang.”
Mbah Maryam langsung menegang.
Bagas melihat ketakutan di matanya.
Bukan ketakutan kepada orang asing.

Tetapi ketakutan kepada anaknya sendiri.
“Pulang ke mana?” tanya Bagas.
“Ke rumah saya.”
“Rumah yang membuat Mbah harus tidur di gudang belakang?”
Pertanyaan itu membuat semua orang terdiam.
Setyo membeku.
Bagas mendapatkan informasi itu bukan dari dugaan.
Salah satu pedagang taman yang mengenal Mbah Maryam sebelumnya telah menceritakan kepadanya.
Setelah kehilangan gerobak bubur, Mbah Maryam memang tinggal bersama Setyo.
Namun bukan sebagai ibu.
Ia hanya dianggap sebagai tanggungan.
Ia tidur di ruangan kecil belakang rumah.
Uang pensiun kecilnya diambil.
Ketika sakit, ia sering dibiarkan sendiri.
Bahkan beberapa minggu sebelumnya, Setyo sengaja meninggalkannya di taman karena merasa malu membawa ibu tua yang sudah pikun.
“Saya tidak tahu siapa yang memberi tahu kamu,” kata Setyo dengan wajah keras.
“Tapi jangan campuri keluarga kami.”
Bagas berdiri.
“Baik. Kalau ini hanya masalah keluarga, saya akan diam.”
Setyo terlihat puas.
Namun kemudian Bagas melanjutkan.
“Tapi kalau ada tindakan penelantaran terhadap orang tua, itu bukan lagi sekadar urusan keluarga.”
Ekspresi Setyo berubah.
Ia mulai menyadari siapa pria di depannya.
Salah satu orang yang berdiri di belakang Bagas mendekat dan berbisik.
“Pak Bagas, dokumen yang tadi diminta sudah siap.”
Setyo menatap mereka.
“Pak Bagas?”
Ia mulai pucat.
Beberapa detik kemudian ia baru sadar.
Pria yang selama ini ia lihat di berita ekonomi.
Direktur Utama Bagas Wijaya.
Pemimpin perusahaan konstruksi terbesar yang sering muncul dalam berita nasional.
Setyo langsung mengubah sikap.
“Pak Bagas, saya rasa ada kesalahpahaman.”
Bagas menatapnya dingin.
“Tidak ada kesalahpahaman. Saya melihat sendiri apa yang Anda lakukan.”
Setyo mencoba tersenyum.
“Pak, ibu saya memang keras kepala. Dia sering pergi sendiri. Saya hanya mencoba mendisiplinkannya.”
“Dengan mendorongnya?”
Setyo terdiam.
Bagas tidak berkata apa-apa lagi.
Ia membawa Mbah Maryam pergi dari tempat itu.
Malam itu, Bagas membawa Mbah Maryam ke rumahnya.
Bukan rumah besar yang penuh kemewahan yang membuat wanita tua itu kagum.
Tetapi kamar tamu yang nyaman dengan jendela besar, makanan hangat, dan seseorang yang memperlakukannya dengan hormat.
Ketika pelayan menyajikan bubur ayam untuk makan malam, tangan Mbah Maryam langsung berhenti.
Matanya berkaca-kaca.
“Kenapa Mbah?”
tanya Bagas.
Wanita tua itu tersenyum.
“Sudah lama sekali Mbah tidak makan bubur hangat yang dibuat dengan penuh perhatian.”
Bagas tersenyum.
“Mbah dulu melakukan hal yang sama kepada saya.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, Bagas menceritakan semuanya.
Tentang malam ketika ia tidak punya uang.
Tentang ujian terakhirnya.
Tentang janji yang ia buat dalam hati.
Mbah Maryam mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi kamu benar-benar anak yang dulu itu?”
Bagas mengangguk.
“Iya, Mbah.”
Mbah Maryam memegang tangan Bagas.
“Mbah tidak pernah menyangka anak yang dulu hanya mampu membayar dengan ucapan terima kasih akan menjadi orang sebesar ini.”
Bagas tersenyum.
“Kalau bukan karena Mbah, mungkin saya tidak pernah sampai di sini.”
Namun beberapa hari kemudian, Bagas menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut.
Saat membantu Mbah Maryam membereskan barang-barangnya, ia menemukan sebuah buku catatan kecil yang sudah sangat tua.
Di dalamnya ada daftar nama orang-orang yang pernah diberi makan oleh Mbah Maryam.
Bukan hanya Bagas.
Ada puluhan nama mahasiswa lain.
Di halaman terakhir, terdapat satu kalimat yang ditulis dengan tangan gemetar.
“Kalau suatu hari anak-anak yang pernah Mbah bantu menjadi orang sukses, jangan balas Mbah dengan uang. Cukup mereka terus membantu orang lain.”
Bagas membaca kalimat itu berulang kali.
Air matanya jatuh.
Ia baru sadar.
Mbah Maryam tidak pernah membantu orang lain agar mendapatkan balasan.
Ia membantu karena memang hatinya penuh kasih.
Sementara itu, kasus Setyo mulai berjalan.
Setelah penyelidikan dilakukan, ditemukan bahwa selama bertahun-tahun Setyo mengambil uang pensiun ibunya dan membiarkan Mbah Maryam hidup dalam kondisi tidak layak.
Bagas sebenarnya bisa saja menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan Setyo.
Namun ia memilih menyerahkan semuanya melalui jalur hukum.
Di persidangan, Setyo akhirnya duduk tertunduk.
Untuk pertama kalinya, ia melihat ibunya bukan sebagai beban.
Tetapi sebagai seseorang yang pernah mengorbankan seluruh hidup untuknya.
“Mengapa Ibu masih membela saya?” tanya Setyo dengan suara bergetar ketika bertemu Mbah Maryam.
Wanita tua itu menatap anaknya.
“Karena kamu tetap anak Mbah.”
Setyo menangis.
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada hukuman apa pun.
Karena ia baru sadar, orang yang paling ia sakiti adalah orang yang paling mencintainya.
Beberapa bulan kemudian, Mbah Maryam tinggal di sebuah rumah kecil yang nyaman dekat keluarga Bagas.
Bagas juga mendirikan sebuah program bantuan makanan gratis untuk mahasiswa kurang mampu.
Nama program itu sederhana.
“Bubur Mbah Maryam.”
Setiap tahun, ribuan mahasiswa mendapatkan makanan dan bantuan pendidikan dari program tersebut.
Ketika ditanya mengapa ia membuat program itu, Bagas hanya menjawab,
“Karena dua puluh tahun lalu, ada seorang nenek yang memberi saya semangkuk bubur ketika dunia terasa tidak peduli kepada saya.”
Suatu sore, Bagas duduk bersama Mbah Maryam di taman yang sama tempat mereka bertemu kembali.
Mbah Maryam tersenyum melihat banyak mahasiswa muda menikmati makanan gratis.
“Bagas, sekarang kamu sudah membayar utangmu?”
Bagas tersenyum.
“Tidak, Mbah.”
Mbah Maryam terlihat heran.
“Kenapa?”
“Karena kebaikan Mbah tidak pernah bisa dibayar. Saya hanya meneruskannya.”
Mbah Maryam menggenggam tangan Bagas.
Angin sore berhembus pelan.
Di tempat yang sama, dua puluh tahun lalu seorang mahasiswa miskin hampir kehilangan harapan.
Dan di tempat yang sama pula, seorang direktur utama akhirnya menemukan bahwa kekayaan terbesar dalam hidup bukanlah uang, jabatan, atau kekuasaan.
Melainkan kesempatan untuk meneruskan kebaikan dari seseorang yang pernah menolongnya ketika tidak ada siapa pun yang peduli.
