IBUKU MENEMUKAN SELEMBAR KULIT ANEH YANG BISA MENGABULKAN PERMINTAAN! MALAM ITU IA MEMINTA PRIA PERKASA, TAPI YANG DATANG JUSTRU LIMA ULAR COBRA RAKSASA!

Aku tidak pernah percaya pada cerita tentang benda-benda terkutuk, sampai malam ketika aku melihat sendiri sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat.

Sejak malam itu, hidupku berubah selamanya.

Benda yang ditemukan ibuku bukan sekadar kulit kering yang aneh. Benda itu menyimpan rahasia mengerikan tentang masa lalu keluarga kami, tentang sebuah perjanjian yang telah berlangsung selama puluhan tahun, dan tentang alasan mengapa ayahku meninggal dengan membawa ketakutan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Pagi itu, setelah melihat lembaran kulit yang menempel di perut ibu, aku tidak tahu harus melakukan apa.

Aku hanya berdiri diam di sudut kamar, memandangi benda mengerikan itu.

“Ibu… dari mana Ibu mendapatkan benda ini?” tanyaku dengan suara gemetar.

Ibu tidak langsung menjawab.

Senyum tenangnya perlahan menghilang.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku melihat wajah ibu yang benar-benar ketakutan.

“Kamu tidak seharusnya melihatnya,” bisik ibu.

Aku menggenggam balok kayu lebih erat.

“Ibu melihat lima ular raksasa di kamar ini tadi malam. Aku hampir mati ketakutan. Sekarang ada kulit aneh menempel di tubuh Ibu. Tolong jelaskan semuanya.”

Ibu menundukkan kepala.

Tangannya perlahan menyentuh benda di perutnya.

“Ini bukan sesuatu yang ibu cari,” katanya pelan.

“Ibu menemukannya tiga hari lalu.”

Aku terdiam.

“Tiga hari lalu?”

Ibu mengangguk.

Saat itu, ibu mulai menceritakan kejadian yang selama ini ia sembunyikan dariku.

Tiga hari sebelumnya, ketika membersihkan gudang tua di belakang rumah, ibu menemukan sebuah kotak kayu kecil yang sudah tertutup debu.

Kotak itu bukan milik ayah.

Bukan juga milik ibu.

Di dalamnya hanya ada satu benda.

Lembaran kulit berwarna kuning pucat itu.

“Awalnya ibu pikir itu kain tua,” kata ibu.

“Tapi ketika ibu menyentuhnya, benda itu terasa hangat.”

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

“Ibu membawa benda itu ke kamar karena penasaran. Saat malam tiba, ibu mendengar suara seseorang berbisik.”

“Suara siapa?”

Ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Suara nenekmu.”

Aku terdiam.

Nenekku sudah meninggal lebih dari dua puluh tahun lalu.

“Ibu mendengar suara itu berkata, ‘Gunakan tiga kali, tapi jangan pernah meminta sesuatu untuk dirimu sendiri.'”

Aku menggeleng perlahan.

“Ini tidak masuk akal.”

“Ibu juga berpikir begitu.”

“Tapi malam itu, ibu mencoba meminta sesuatu.”

Aku menatap wajah ibu.

“Apa?”

Ibu menarik napas panjang.

“Ibu hanya ingin kembali sehat. Ibu ingin tidak menjadi beban bagi kalian.”

Aku melihat wajah ibu yang memang berubah jauh lebih muda.

Kerutan di wajahnya hampir menghilang.

Energinya kembali seperti bertahun-tahun lalu.

Namun harga dari perubahan itu ternyata bukan sesuatu yang sederhana.

“Malam pertama, tidak terjadi apa-apa,” lanjut ibu.

“Malam kedua, aku mulai mendengar suara desisan.”

“Malam ketiga…”

Ibu berhenti.

“Lima ular itu datang.”

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Aku mencoba mencari alasan yang masuk akal.

Mungkin ibu mengalami halusinasi.

Mungkin aku juga bermimpi.

Namun benda yang menempel di tubuh ibu adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah.

“Apa yang terjadi kalau permintaan itu terus dilakukan?” tanyaku.

Ibu tidak menjawab.

Dan diamnya membuatku semakin takut.

Siang itu, aku membawa ibu menemui seorang dokter kulit di rumah sakit.

Aku mengatakan bahwa ada benda asing yang menempel di tubuhnya.

Dokter memeriksa ibu dengan alat pemindai.

Namun hasilnya membuat semua orang bingung.

Tidak ada luka.

Tidak ada jahitan.

Tidak ada tanda benda asing masuk melalui kulit.

Benda itu dianggap sebagai bagian dari tubuh ibu.

Dokter bahkan berkata dengan wajah bingung bahwa jaringan di sekitar kulit tersebut terlihat seperti jaringan hidup.

“Kita perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” kata dokter.

Namun sebelum pemeriksaan selesai, lampu ruangan tiba-tiba berkedip.

Udara menjadi sangat dingin.

Ibu langsung memegang tanganku.

“Jangan biarkan mereka mengambilnya.”

Aku menoleh.

“Maksud ibu siapa?”

Ibu tidak menjawab.

Saat itu, dari lorong rumah sakit terdengar suara desisan panjang.

Orang-orang mulai panik.

Seorang perawat berlari sambil berteriak.

“Ada ular di lantai bawah!”

Aku dan ibu saling menatap.

Kami tahu itu bukan kebetulan.

Aku segera membawa ibu pulang.

Malam itu, aku tidak tidur.

Aku duduk di depan kamar ibu sambil membawa telepon dan sebuah pisau kecil untuk berjaga-jaga.

Sekitar pukul dua dini hari, suara aneh kembali terdengar.

Desisan.

Perlahan.

Mendekat.

Aku membuka pintu kamar ibu sedikit.

Dan darahku kembali terasa membeku.

Lima ular cobra hitam besar berdiri di dalam kamar.

Namun kali ini aku melihat sesuatu yang berbeda.

Mereka tidak menyerang ibu.

Mereka mengelilinginya seperti sedang menjaga sesuatu.

Di tengah lingkaran itu, muncul bayangan seorang wanita tua.

Aku mengenal wajah itu.

Itu nenekku.

“Nenek?”

Suara itu keluar tanpa sadar dari mulutku.

Bayangan itu menoleh.

“Kamu akhirnya melihatnya,” katanya.

Aku tidak bisa bergerak.

“Nenek yang membuat benda ini?”

Bayangan nenek menggeleng.

“Tidak. Benda itu sudah ada jauh sebelum keluarga kita mengenalnya.”

“Lalu apa sebenarnya benda itu?”

Nenek menatap ibu.

“Itu adalah sisa perjanjian lama.”

Aku semakin bingung.

“Perjanjian dengan siapa?”

Nenek tidak menjawab langsung.

“Dulu, leluhur keluarga kita hidup dalam kemiskinan. Mereka meminta kekuatan, kesehatan, dan keberuntungan.”

“Namun setiap permintaan memiliki bayaran.”

Aku melihat lima ular itu.

“Mereka?”

Nenek mengangguk.

“Lima penjaga.”

“Setiap permintaan akan dikabulkan, tetapi ular-ular itu akan mengambil sesuatu yang paling berharga dari orang yang meminta.”

Aku melihat ibu.

“Apa yang akan mereka ambil?”

Nenek menatapku dengan sedih.

“Ingatan.”

Aku terdiam.

“Setiap kali permintaan dikabulkan, sebagian kenangan ibu kalian akan hilang.”

Aku menatap ibu yang mulai menangis.

“Tidak…”

Ibu memegang kepalanya.

“Aku sudah mulai lupa.”

Aku mendekat.

“Apa yang ibu lupa?”

Air mata ibu jatuh.

“Suara ayahmu.”

Jantungku seperti berhenti.

Ibu menatapku.

“Tadi pagi aku mencoba mengingat suara suamiku sendiri… tapi aku tidak bisa.”

Aku memeluk ibu.

Aku baru sadar.

Kulit itu bukan memberi kehidupan baru.

Kulit itu mengambil bagian dari kehidupan seseorang secara perlahan.

Tiba-tiba lima ular cobra itu bergerak.

Mereka mengangkat kepala.

Nenek berkata dengan suara keras.

“Permintaan terakhir akan menentukan semuanya.”

Aku menatap ibu.

“Ibu pernah meminta tiga hal?”

Ibu mengangguk perlahan.

“Pertama, kesehatan.”

“Kedua, umur panjang.”

“Lalu yang ketiga?”

Ibu menangis.

“Aku meminta agar anak-anakku selalu dilindungi.”

Aku terdiam.

Karena saat itu aku mengerti.

Lima ular itu tidak datang untuk menyakiti ibu.

Mereka datang karena permintaan terakhir ibu belum selesai.

Mereka mencari harga yang harus dibayar.

Aku melangkah maju.

“Ambil dari aku.”

Ibu langsung menoleh.

“Tidak!”

“Aku tidak akan membiarkan ibu kehilangan semuanya.”

Lima ular itu berhenti bergerak.

Bayangan nenek memandangku.

“Kamu bersedia kehilangan sesuatu yang berharga?”

Aku mengangguk.

“Apa pun.”

Tiba-tiba kulit di perut ibu mulai bergerak.

Cahaya samar muncul dari permukaan benda itu.

Aku merasakan kepalaku sakit.

Lalu satu per satu kenangan mulai muncul.

Masa kecilku.

Ayah yang menggendongku.

Ibu yang menyanyikan lagu sebelum tidur.

Hari-hari bahagia yang hampir terlupakan.

Aku sadar benda itu ingin mengambil kenangan terindahku.

Aku hampir menyerah.

Namun kemudian aku mendengar suara ibu.

“Jangan.”

Aku membuka mata.

Ibu berdiri di depanku.

Wajahnya kembali terlihat tua.

Kerutan kembali muncul.

Energi mudanya menghilang.

Kulit itu perlahan terlepas dari tubuhnya dan jatuh ke lantai.

“Aku sudah mendapatkan cukup banyak waktu,” kata ibu sambil tersenyum.

“Aku tidak ingin hidup panjang jika harus kehilangan alasan kenapa aku ingin hidup.”

Lima ular cobra itu perlahan menghilang.

Bayangan nenek tersenyum.

“Kalian akhirnya memahami.”

Pagi berikutnya, kulit aneh itu sudah berubah menjadi abu.

Tidak ada jejak.

Tidak ada tanda.

Sejak hari itu, ibu kembali menjadi dirinya sendiri.

Wajahnya kembali tua.

Tubuhnya tidak sekuat sebelumnya.

Namun ada satu hal yang berbeda.

Ibu kembali mengingat semuanya.

Ia masih mengingat ayah.

Ia masih mengingat masa kecil kami.

Dan setiap malam, sebelum tidur, ibu selalu berkata hal yang sama kepadaku.

“Jangan pernah meminta sesuatu yang membuatmu lupa siapa dirimu.”

Bertahun-tahun kemudian, ketika aku membersihkan rumah lama, aku menemukan sebuah kotak kayu kosong di gudang.

Di dalamnya hanya ada satu tulisan kecil yang terukir pada dasar kotak.

Lima permintaan bisa mengubah hidupmu.

Namun satu keputusan bisa menyelamatkan jiwamu.

Sejak saat itu aku tidak pernah mencari tahu dari mana benda itu berasal.

Karena beberapa rahasia memang tidak diciptakan untuk ditemukan.

Beberapa rahasia hanya datang untuk menguji apakah manusia masih mampu memilih antara keinginan dan kasih sayang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang