Aku masih ingat jelas suara rekaman itu.
Suara mesin mobil yang samar di basement gedung SCBD. Suara langkah kaki orang yang sesekali melewati lorong parkir. Dan suara Arga yang selama enam tahun menjadi orang paling aku percaya, tetapi malam itu menjadi orang yang menghancurkan seluruh keyakinanku tentang cinta.
Tanganku masih gemetar saat layar ponsel menunjukkan angka rekaman berjalan.
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di balik pilar beton itu.
Satu menit.
Lima menit.

Atau mungkin lebih lama.
Yang aku tahu, dunia yang selama ini kubangun bersama Arga runtuh perlahan tanpa suara.
Di depanku, laki-laki yang setiap pagi mengirim pesan menanyakan apakah aku sudah sarapan, laki-laki yang selalu menggenggam tanganku saat kami berjalan bersama, kini sedang memeluk Laras.
Laras.
Calon istri kakakku.
Perempuan yang besok pagi akan mengenakan gaun pengantin dan mengucapkan janji suci di depan keluargaku.
Aku ingin berteriak.
Aku ingin keluar dari persembunyian itu dan menampar wajah mereka berdua.
Namun tubuhku tidak bergerak.
Karena terkadang kenyataan yang paling menyakitkan bukanlah saat kita mengetahui seseorang berkhianat.
Melainkan saat kita sadar bahwa selama ini kita mungkin menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa pun.
Aku terus merekam.
Bukan karena aku ingin mencari bukti.
Tapi karena ada bagian kecil dalam diriku yang masih berharap aku salah.
Mungkin aku salah dengar.
Mungkin aku salah melihat.
Mungkin Arga sedang menjelaskan sesuatu.
Namun harapan itu hancur ketika aku mendengar suara Laras.
“Kamu benar-benar masih mencintaiku, Ga?”
Arga diam.
Diam yang terlalu panjang.
Kemudian terdengar suaranya.
“Aku enggak pernah berhenti.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Aku menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara.
Laras tertawa pelan.
“Tapi kamu tetap memilih Nadira.”
“Aku tidak memilih dia.”
Jawaban Arga membuat kakiku hampir kehilangan tenaga.
“Aku cuma menjalani apa yang sudah terjadi.”
“Enam tahun, Arga.”
Suara Laras mulai bergetar.
“Enam tahun dia percaya kamu mencintainya.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu masih mau menikahinya?”
“Aku belum pernah bilang aku mau menikahinya.”
Aku membeku.
Selama ini aku yang menunggu.
Aku yang bersabar.
Aku yang meyakinkan diriku bahwa Arga hanya butuh waktu.
Ternyata selama ini dia tidak pernah merencanakan masa depan bersamaku.
Laras menghela napas.
“Besok aku menikah dengan Raka.”
“Aku tahu.”
“Setelah itu semuanya selesai.”
Arga tidak menjawab.
Lalu Laras berkata dengan suara pelan.
“Kamu tahu kenapa aku minta gaun itu?”
Aku menatap mereka.
Arga juga diam.
“Karena aku ingin membawa sesuatu dari masa lalu sebelum aku benar-benar meninggalkannya.”
“Laras…”
“Jangan panggil namaku seperti itu.”
Nada suara Laras berubah.
“Dulu kamu bilang warna mauve adalah warna yang membuatku terlihat seperti perempuan yang kamu bayangkan menjadi istrimu.”
Tanganku semakin erat menggenggam ponsel.
“Dulu kamu bilang akan melamarku setelah kamu punya pekerjaan tetap.”
Arga menunduk.
“Tapi kamu pergi.”
“Aku pergi karena kamu memilih keluargamu daripada aku.”
Laras tertawa pahit.
“Dan sekarang aku akan menikah dengan adik dari perempuan yang kamu jadikan pengganti.”
Aku tidak sanggup mendengar lebih banyak.
Aku keluar dari balik pilar.
“Nadira.”
Suara Laras langsung berubah.
Wajah mereka berdua pucat.
Arga mundur satu langkah.
“Nadira, dengarkan aku dulu.”
Aku menatapnya.
Aneh.
Saat itu aku tidak menangis.
Aku tidak marah.
Aku hanya merasa kosong.
“Dengar apa, Ga?”
Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
“Bahwa aku salah dengar? Bahwa kalian cuma sedang bernostalgia?”
Arga mendekat.
“Nadira, semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku mengangkat ponselku.
“Tidak seperti yang aku pikirkan?”
Aku menunjukkan layar rekaman.
“Jelaskan bagian mana yang harus aku pikirkan berbeda.”
Wajah Arga berubah.
Laras menatapku dengan ekspresi sulit dibaca.
Ada rasa bersalah di sana.
Tapi juga ada kesedihan.
“Nadira…”
Aku menoleh kepadanya.
“Kenapa?”
Pertanyaan itu keluar lebih pelan daripada yang kubayangkan.
“Kenapa kamu melakukan ini padaku?”
Laras menunduk.
“Aku tidak pernah ingin menyakitimu.”
“Tapi kamu tetap melakukannya.”
“Aku tahu.”
Air mata mulai jatuh di wajahnya.
“Aku salah.”
Aku tertawa kecil.
“Besok kamu menikah dengan kakakku.”
“Aku tahu.”
“Kamu sadar kamu menghancurkan dua keluarga sekaligus?”
Laras tidak menjawab.
Karena dia tahu aku benar.
Arga tiba-tiba berdiri di depanku.
“Nadira, aku bisa jelaskan.”
Aku menatapnya.
“Enam tahun.”
Aku menggeleng.
“Enam tahun aku selalu membela kamu ketika orang bertanya kenapa kita belum menikah.”
Arga terdiam.
“Aku bilang kamu sedang membangun karier.”
Aku menahan air mata.
“Aku bilang kamu butuh waktu.”
“Nadira…”
“Padahal alasan sebenarnya karena hatimu masih ada di tempat lain.”
Arga membuka mulut, tetapi tidak ada kata keluar.
Karena untuk pertama kalinya, dia tidak punya alasan.
Aku pergi meninggalkan mereka malam itu.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai ke mobil.
Aku hanya ingat duduk di kursi pengemudi selama hampir satu jam tanpa menyalakan mesin.
Ponselku terus bergetar.
Puluhan pesan dari Arga.
Aku tidak membukanya.
Namun satu pesan dari Raka membuatku akhirnya menatap layar.
“Nad, kamu sudah sampai rumah? Besok jangan lupa datang pagi ya. Laras bilang kamu sudah membantunya dengan gaun. Terima kasih sudah baik sama calon istriku.”
Aku menangis saat membaca pesan itu.
Bukan karena Raka.
Tapi karena aku sadar.
Ada satu orang yang paling tidak pantas terluka dalam cerita ini.
Dan dia adalah kakakku.
Pagi harinya, aku datang ke rumah seperti biasa.
Semua orang sibuk.
Mama mengatur bunga.
Ayah memastikan katering.
Raka terlihat bahagia.
Dan Laras duduk di ruang tamu dengan wajah seorang calon pengantin.
Ketika melihatku, dia berdiri.
“Nadira…”
Aku hanya tersenyum tipis.
“Kita perlu bicara.”
Dia langsung pucat.
Aku membawa dia ke kamar kosong di lantai atas.
“Aku tidak akan menghentikan pernikahanmu.”
Laras terkejut.
“Kenapa?”
“Karena itu keputusanmu.”
Aku menarik napas.
“Tapi sebelum kamu menikah dengan kakakku, kamu harus mengatakan kebenaran.”
Air mata Laras jatuh.
“Aku takut.”
“Aku juga takut.”
Aku menatapnya.
“Tapi Raka lebih berhak tahu daripada siapa pun.”
Beberapa menit kemudian, Raka berdiri di depan kami.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku hanya memberikan ponselku.
Dia mendengarkan rekaman itu.
Wajahnya berubah perlahan.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada teriakan.
Justru itu yang membuat suasana lebih menyakitkan.
Setelah rekaman selesai, Raka duduk diam.
Lama sekali.
Kemudian dia bertanya kepada Laras.
“Sejak kapan?”
Laras menangis.
“Sebelum aku mengenal kamu.”
“Dan setelah mengenal aku?”
Laras tidak menjawab.
Raka tersenyum pahit.
“Berarti aku bukan orang yang kamu pilih.”
“Raka, maaf…”
“Aku tidak butuh maaf.”
Suaranya bergetar.
“Aku hanya berharap kamu mencintaiku karena aku adalah aku. Bukan karena kamu sedang mencoba melupakan orang lain.”
Pernikahan itu akhirnya tidak berlangsung hari itu.
Banyak orang bertanya.
Banyak yang menyalahkan.
Banyak yang membuat cerita sendiri.
Namun hanya kami bertiga yang tahu betapa hancurnya hari itu.
Beberapa bulan kemudian, aku bertemu Arga untuk terakhir kalinya.
Dia datang ke sebuah kafe kecil membawa sebuah kotak.
“Aku ingin memberikan sesuatu.”
Aku membuka kotak itu.
Di dalamnya ada sebuah cincin.
Cincin yang dulu pernah dia beli untukku.
“Aku sebenarnya sudah berniat melamarmu.”
Aku menatapnya.
“Setelah enam tahun?”
Dia menunduk.
“Aku takut.”
Aku tersenyum sedih.
“Bukan takut, Ga.”
Aku menutup kotak itu.
“Kamu hanya tidak yakin.”
Arga menangis.
“Aku kehilangan kamu.”
Aku mengangguk.
“Iya.”
“Karena kamu baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya.”
Aku pergi meninggalkannya.
Tidak dengan kebencian.
Tidak dengan dendam.
Hanya dengan rasa lega.
Setahun kemudian, aku mendengar kabar Raka dan Laras tidak pernah bersama lagi.
Raka memilih pergi ke luar kota untuk memulai hidup baru.
Sedangkan Laras pindah ke luar negeri.
Sementara aku?
Aku akhirnya belajar satu hal.
Cinta yang sehat tidak membuat kita terus menunggu seseorang memilih kita.
Karena orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan pernah membiarkan kita merasa seperti pilihan kedua.
Dan malam ketika tanganku membeku di atas tombol rekam itu bukanlah malam ketika hidupku berakhir.
Itulah malam ketika aku akhirnya menemukan keberanian untuk menyelamatkan diriku sendiri.
