ORANG PERTAMA YANG MEMBERIKU NAMA PERNAH BERKATA, BULUKU HITAM SEPERTI ARANG, TAPI HATIKU SETULUS EMAS.

Aku masih ingat hari ketika aku hampir kehilangan satu-satunya tempat yang pernah kusebut rumah.

Hari itu, rantai di leherku terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena besinya, tetapi karena aku tahu manusia yang dulu selalu berdiri di sampingku sudah tidak ada.

Bang Rian.

Tiga bulan berlalu sejak dia menghilang di hutan perbatasan. Banyak manusia berkata kemungkinan besar dia tidak akan kembali. Sebagian mulai melupakannya. Sebagian lain hanya menganggapnya sebagai satu nama dalam laporan kehilangan.

Namun aku tidak pernah percaya.

Karena setiap malam aku masih menunggu suara langkahnya.

Aku masih menunggu aroma kayu segar dari tangannya.

Aku masih menunggu suara lembut yang selalu memanggil namaku.

“Bara, duduk.”

“Bara, jangan terlalu jauh.”

“Bara, kamu adalah partner terbaikku.”

Bagi manusia lain, aku hanya seekor anjing hitam dengan kaki belakang yang tidak sempurna.

Tetapi bagi Bang Rian, aku adalah keluarga.

Dan seekor anjing tidak pernah melupakan keluarga.

Ketika gadis asing itu memasuki halaman pos perbatasan, seluruh tubuhku langsung menegang.

Aku menarik rantai yang mengikat leherku.

Letnan Dodi yang berdiri tidak jauh dariku langsung membentak.

“Diam, Bara!”

Namun aku tidak mendengarnya.

Semua inderaku hanya tertuju pada gadis itu.

Ransel tua yang tergantung di punggungnya mengeluarkan aroma yang membuat jantungku berdetak lebih cepat.

Bukan hanya aroma Bang Rian.

Ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang pernah kukenal.

Sesuatu yang membuat ingatanku kembali ke malam terakhir sebelum dia menghilang.

Gadis itu berjalan mendekat dengan wajah lelah.

Usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahun.

Matanya terlihat seperti seseorang yang sudah melewati perjalanan panjang.

Dia berhenti beberapa meter dariku.

Lalu perlahan membuka ranselnya.

Letnan Dodi segera maju.

“Siapa kamu? Dan apa tujuanmu datang ke pos ini?”

Gadis itu menarik napas panjang.

“Nama saya Alya.”

“Saya datang mencari Letnan Rian.”

Suasana langsung berubah.

Beberapa anggota polisi yang berada di sekitar halaman saling melihat.

Nama itu masih menjadi luka bagi mereka.

Dodi menyipitkan mata.

“Rian sudah dinyatakan hilang tiga bulan lalu. Kalau kamu datang membawa cerita aneh, sebaiknya pergi.”

Alya tidak menjawab.

Dia hanya membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang dibungkus kain.

Seketika hidungku bergerak.

Aku mengenali baunya.

Sebuah gantungan kayu kecil.

Benda itu selalu ada di saku Bang Rian.

Dia pernah membuatnya sendiri saat kami sedang bertugas di hutan.

Dia mengukir bentuk sederhana menyerupai telapak kaki anjing.

Aku ingat malam itu.

Bang Rian duduk di depan api unggun sambil menggosok kayu dengan pisau kecil.

“Suatu hari nanti kalau kamu sudah tua, Bara, aku akan tetap mengenali kamu.”

Aku hanya menggonggong kecil saat itu.

Aku tidak tahu arti perkataannya.

Sekarang aku mengerti.

Dia tahu sesuatu tentang kehilangan.

Alya melihat ke arahku.

“Dia mengenal benda ini, bukan?”

Aku berdiri dan berjalan mendekat.

Rantai di leherku ditahan oleh petugas lain, tetapi aku terus menarik.

Akhirnya mereka melepaskannya.

Aku berlari menuju Alya.

Aku mencium gantungan kayu itu.

Lalu aku mencium tangannya.

Dan saat itulah aku tahu.

Aroma itu bukan hanya berasal dari barang milik Bang Rian.

Aroma itu berasal dari seseorang yang pernah bersama dengannya.

Alya berlutut di depanku.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Jadi kamu Bara…”

Suaranya bergetar.

“Dia benar-benar sering membicarakanmu.”

Aku menatap wajahnya.

Ada kesedihan di sana.

Kesedihan yang selama ini hanya bisa kurasakan melalui aroma.

“Dia bilang kalau suatu hari dia tidak kembali, jangan biarkan orang-orang membuangmu.”

Semua orang terdiam.

Letnan Dodi tertawa kecil dengan nada tidak percaya.

“Jadi sekarang kita harus percaya pada cerita seorang gadis dan seekor anjing?”

Alya menatapnya.

“Saya tidak datang hanya membawa cerita.”

Dia mengambil sebuah kartu memori kecil dari dalam ranselnya.

“Saya membawa bukti.”

Wajah Dodi berubah.

Alya menyerahkan kartu itu kepada salah satu petugas.

“Kak Rian menemukan sesuatu sebelum dia hilang.”

“Dia tahu ada penyelundupan besar di wilayah hutan perbatasan.”

“Dia hampir menemukan siapa yang terlibat.”

Ruangan mendadak sunyi.

Semua anggota mulai saling melihat.

Karena selama ini laporan kehilangan Rian dianggap sebagai kecelakaan saat patroli.

Tidak ada yang menduga ada sesuatu yang lebih besar.

Letnan Dodi mengambil kartu itu.

Namun sebelum dia bisa berbicara, aku mulai menggonggong keras.

Aku berlari menuju sisi belakang pos.

Semua orang terkejut.

“Bara!”

Aku tidak berhenti.

Aku mencium sesuatu.

Aroma tanah basah.

Aroma kain tua.

Aroma yang sangat kukenal.

Aroma Bang Rian.

Aku terus menarik mereka menuju gudang lama di belakang pos.

Tempat yang jarang digunakan.

Petugas membuka pintu gudang.

Di dalam hanya ada barang-barang lama.

Tetapi hidungku tidak pernah salah.

Aku menuju sebuah kotak kayu yang tertutup debu.

Salah satu petugas membukanya.

Di dalamnya terdapat jaket milik Bang Rian.

Semua orang membeku.

Pada bagian dalam jaket terdapat noda tanah dan sebuah catatan kecil.

Tulisan tangan itu langsung dikenali oleh semua orang.

Tulisan Bang Rian.

Aku tidak bisa membaca tulisan manusia.

Tetapi aku tahu aromanya.

Aroma tangannya masih ada di kertas itu.

Alya mengambil catatan tersebut.

Wajahnya berubah pucat saat membacanya.

“Aku menemukan siapa yang membocorkan informasi patroli.”

“Jika sesuatu terjadi padaku, jangan percaya laporan pertama.”

“Orang yang paling dekat dengan kami mungkin bukan orang yang bisa dipercaya.”

Semua mata perlahan mengarah kepada Letnan Dodi.

Wajah pria itu berubah.

“Apa maksud kalian?”

Alya berdiri.

“Bang Rian menemukan bukti bahwa jalur patroli kalian digunakan untuk membantu penyelundupan.”

“Dia mengirim data terakhir kepada saya sebelum kehilangan kontak.”

Dodi mundur selangkah.

“Itu fitnah.”

Namun suara lain terdengar dari belakang.

“Letnan Dodi.”

Seorang petugas senior berjalan masuk sambil membawa hasil pemeriksaan kartu memori.

“Semua data cocok.”

“Dan ada rekaman komunikasi yang menunjukkan keterlibatan seseorang dari dalam unit.”

Suasana langsung berubah.

Dodi tidak lagi bisa berkata apa-apa.

Aku hanya duduk di samping Alya.

Karena aku tahu.

Aku akhirnya menemukan alasan mengapa aroma Bang Rian ada di ranselnya.

Alya bukan orang asing.

Dia adalah adik perempuan Rian.

Selama tiga bulan terakhir, dia mencari kakaknya sendirian.

Dia mengikuti petunjuk terakhir yang ditinggalkan Rian.

Dan petunjuk itu membawanya kepadaku.

Malam itu, setelah semuanya terungkap, aku duduk di depan pos sambil memandang hutan yang gelap.

Alya duduk di sampingku.

Dia mengusap kepalaku perlahan.

“Bang Rian benar.”

Aku menoleh kepadanya.

“Dia bilang kamu bukan anjing biasa.”

Aku menggerakkan telinga.

“Dia bilang suatu hari nanti, kamu yang akan menemukan jalan pulang untuknya.”

Aku tidak memahami semua kata-katanya.

Tetapi aku memahami satu hal.

Manusia yang memberiku nama itu masih hidup dalam ingatan banyak orang.

Beberapa hari kemudian, pencarian besar dilakukan kembali berdasarkan petunjuk yang ditemukan.

Dan akhirnya, di sebuah lembah terpencil, mereka menemukan Bang Rian.

Dia masih hidup.

Luka dan lemah, tetapi masih hidup.

Saat kendaraan membawanya kembali ke pos, aku adalah makhluk pertama yang mengenalinya.

Bukan dari wajah.

Bukan dari suara.

Tetapi dari aroma.

Aroma matahari.

Aroma kayu.

Aroma ketulusan.

Aku berlari sekuat tenaga.

Bang Rian membuka mata.

Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan, dia tersenyum.

“Bara…”

Suaranya lemah.

“Kamu masih menungguku?”

Aku hanya menggonggong.

Aku tidak bisa menjelaskan kepada manusia.

Aku tidak pernah pergi.

Karena sejak hari pertama dia memberiku nama, aku sudah memilihnya.

Bertahun-tahun lalu, orang-orang berkata aku terlalu kecil.

Mereka berkata kakiku lemah.

Mereka berkata aku tidak akan pernah berguna.

Tetapi Bang Rian melihat sesuatu yang tidak mereka lihat.

Dia tidak melihat tubuhku.

Dia melihat hatiku.

Dan akhirnya aku memahami kalimat yang dulu pernah dia dengar dari seseorang.

Buluku hitam seperti arang.

Tetapi hatiku setulus emas.

Karena kesetiaan tidak pernah terlihat dari penampilan.

Kesetiaan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang tahu cara menghargainya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang