SELAMA ENAM TAHUN, AKULAH YANG MEMBAYAR KONTRAKAN KAMI, MEMBELI OBAT UNTUK GULA DARAH IBU, MEMBAYAR LISTRIK, DAN MENANGGUNG MAKAN SEHARI-HARI.

Pesan Maya terus terbayang di kepalaku sepanjang perjalanan menuju kota sebelah.

Andi baru telepon. Dia tahu uang susu anak bulan lalu ternyata kamu yang kirim. Dia bilang kalau kamu benar-benar pergi, dia akan datang dan mengambil anaknya. Kamu sebenarnya sudah melakukan apa?

Aku mematikan layar ponsel dan menatap keluar jendela.

Selama enam tahun aku terbiasa menyelesaikan masalah tanpa banyak bicara. Kalau Ibu butuh obat, aku membelinya. Kalau listrik hampir habis, aku mengisi token. Kalau Maya menelepon sambil menangis karena anaknya demam dan Andi belum menerima gaji, aku mengirim uang.

Aku tidak pernah bertanya terlalu banyak.

Mungkin itulah kesalahanku.

Aku terlalu sibuk menjadi orang yang membereskan semuanya sampai tidak sadar bahwa orang lain mulai menganggap pengorbananku sebagai sesuatu yang memang seharusnya mereka terima.

Aku tiba di cabang baru warung Pak Budi menjelang siang.

Bangunannya jauh lebih besar daripada tempat kerjaku sebelumnya. Lantai bawah dipenuhi meja kayu baru, dapurnya bersih, dan di lantai atas ada kamar kecil dengan kasur, lemari, kipas angin, serta kamar mandi sendiri.

Pak Budi menyerahkan kunci kepadaku.

“Tidak mewah, tapi cukup untuk istirahat.”

Aku tersenyum.

“Ini lebih dari cukup, Pak.”

Dia menatap kardus-kardusku yang baru diturunkan.

“Masalah keluarga?”

Aku terdiam sesaat.

“Sedikit.”

Pak Budi tidak bertanya lagi.

Itulah salah satu hal yang kusukai darinya. Dia tahu kapan harus bicara dan kapan harus membiarkan orang menyimpan masalahnya sendiri.

Malam pertama di kamar itu terasa aneh.

Tidak ada suara televisi Ibu.

Tidak ada tangisan anak Maya.

Tidak ada suara pintu dibanting.

Aku merebahkan tubuh dan memandangi langit-langit sambil merasa seperti sedang tidur di rumah orang lain.

Lalu ponselku berdering.

Maya.

Aku membiarkannya sampai berhenti.

Beberapa detik kemudian, dia menelepon lagi.

Aku akhirnya menjawab.

“Apa?”

Suara Maya terdengar panik.

“Andi datang.”

Aku langsung duduk.

“Terus?”

“Dia marah. Dia bilang mau bawa Nisa.”

Dari kejauhan aku mendengar suara laki-laki berteriak.

“Mana Rina? Suruh dia pulang!”

Jantungku berdegup lebih cepat.

“Apa hubungannya denganku?”

Maya terisak.

“Dia bilang kamu selama ini ikut campur rumah tangga kami.”

Aku menutup mata.

Beberapa bulan sebelumnya, Maya pernah meneleponku tengah malam.

Saat itu dia menangis sambil mengatakan Andi tidak memberi uang belanja selama hampir dua minggu.

Nisa hanya minum susu murah yang tidak cocok dengan perutnya.

Aku mengirim satu juta rupiah.

Bukan kepada Maya.

Aku mentransfer langsung ke rekening toko tempat dia biasa membeli susu dan popok karena aku tahu kalau uang diberikan kepada Maya, Andi sering mengambilnya.

Aku tidak pernah mengatakan hal itu kepada siapa pun.

“Rina,” kata Maya, “tolong pulang.”

Aku menarik napas.

“Kalau Andi melakukan kekerasan, telepon polisi atau minta bantuan tetangga.”

“Kamu tega?”

Kalimat itu menusukku bukan karena menyakitkan, melainkan karena begitu familiar.

Tega.

Selama bertahun-tahun, kata itu selalu muncul setiap kali aku mencoba mengatakan tidak.

Saat aku ingin membeli sepatu kerja baru, Ibu berkata aku tega karena uang itu bisa dipakai membeli obat.

Saat aku menolak membayar utang Maya sebelum menikah, dia berkata aku tega melihat kakakku dipermalukan.

Saat aku ingin menerima pekerjaan kantor enam tahun lalu, Ibu menangis karena katanya aku tega meninggalkannya sendirian.

Akhirnya aku selalu mengalah.

“Maya,” kataku pelan, “aku sudah membantu kalian bertahun-tahun. Tapi masalah dengan suamimu bukan sesuatu yang bisa kuselesaikan dengan uang.”

Dia terdiam.

Lalu suara Andi terdengar semakin dekat.

“Kasih teleponnya!”

Sambungan tiba-tiba terputus.

Aku hampir menelepon kembali ketika sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Jangan ikut campur keluarga saya lagi.

Aku tahu itu Andi.

Tanganku dingin.

Namun beberapa menit kemudian, datang pesan kedua.

Kalau kamu merasa paling berjasa, tanya Ibumu ke mana uang dua puluh lima juta yang saya kirim tahun lalu.

Aku membeku.

Dua puluh lima juta?

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Lalu aku menelepon Andi.

Dia mengangkat dengan cepat.

“Akhirnya.”

“Uang apa?”

Andi tertawa pendek.

“Jadi kamu benar-benar tidak tahu?”

“Jelaskan.”

“Tahun lalu saya kirim dua puluh lima juta kepada Ibu Sri.”

“Untuk apa?”

“Untuk mengembalikan uang Maya.”

Aku semakin bingung.

“Uang Maya yang mana?”

Andi terdiam beberapa detik.

Lalu dia berkata, “Kakakmu mengambil uang darimu sebelum menikah, kan?”

Aku merasa tengkukku menegang.

“Aku memberinya tabunganku sendiri.”

“Bukan itu.”

Suara Andi berubah lebih rendah.

“Maya pernah bilang ibumu meminjam uang tabunganmu tanpa izin buat biaya pernikahan kami. Katanya sekitar dua puluh juta lebih. Setelah usaha saya membaik, saya kirim dua puluh lima juta supaya dikembalikan kepada kamu.”

Dunia seolah berhenti.

Aku berdiri dari kasur.

“Kapan?”

“Sekitar sebelas bulan lalu.”

“Ke rekening siapa?”

“Rekening Ibumu.”

Aku tidak percaya.

Aku membuka aplikasi bank di ponsel dan mencoba mengingat setiap kejadian tahun lalu.

Sebelas bulan lalu.

Saat itu Ibu tiba-tiba mengatakan atap dapur bocor dan membutuhkan perbaikan.

Aku memberikan tiga juta.

Beberapa minggu kemudian, Ibu mengatakan biaya obatnya naik.

Aku menambah uang bulanan.

Tak pernah sekali pun dia mengatakan ada dua puluh lima juta dari Andi.

“Kenapa kamu baru bilang sekarang?”

Andi mendengus.

“Karena saya kira uangnya sudah sampai ke kamu.”

Aku menutup telepon tanpa menjawab.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku mengeluarkan buku catatan pengeluaran dan mulai membuka halaman demi halaman.

Tanggal.

Transfer.

Belanja.

Obat.

Kontrakan.

Semuanya tercatat.

Lalu aku menemukan sesuatu.

Sekitar sebelas bulan lalu, pembayaran kontrakan sempat kulakukan terlambat dua hari karena Ibu mengatakan pemilik rumah sudah memberikan kelonggaran.

Padahal sebelumnya Ibu selalu panik kalau pembayaran terlambat sehari saja.

Aku mulai merasa ada sesuatu yang sangat salah.

Keesokan paginya, aku menelepon pemilik kontrakan, Pak Hendra.

“Pak, saya mau tanya sedikit.”

“Ya, Rina.”

“Selama ini pembayaran rumah selalu dari saya, kan?”

Pak Hendra tertawa kecil.

“Ya, sebagian besar.”

Aku langsung terdiam.

“Sebagian besar?”

“Ada satu kali Ibumu bayar beberapa bulan sekaligus.”

Tanganku mencengkeram ponsel.

“Kapan?”

Pak Hendra menyebutkan tanggal.

Tepat setelah Andi mengirim dua puluh lima juta.

“Berapa bulan?”

“Enam bulan.”

Aku menghitung cepat.

Totalnya bahkan tidak sampai setengah dari uang yang dikirim Andi.

“Pak, bukti pembayarannya masih ada?”

“Mungkin ada di catatan saya.”

“Tolong kirim kalau ketemu.”

Setengah jam kemudian, foto bukti pembayaran masuk.

Nama pengirimnya memang Ibu Sri.

Aku duduk lama di tepi kasur.

Jadi selama enam bulan itu, aku tetap mentransfer uang kontrakan kepada Ibu, sementara kontrakan sebenarnya sudah dibayar.

Ke mana uangku pergi?

Aku langsung menelepon Maya.

Dia menjawab dengan suara lelah.

“Andi sudah pergi.”

“Aku mau tanya sesuatu.”

“Apa?”

“Uang dua puluh lima juta.”

Hening.

Maya tidak langsung menjawab.

“Kamu tahu?”

“Jadi memang ada.”

Dia mengembuskan napas panjang.

“Rina, aku sebenarnya ingin bilang dari dulu.”

“Katakan sekarang.”

“Ibu yang melarang.”

Dadaku terasa sesak.

Maya mulai bercerita.

Ternyata hampir setahun sebelumnya, Andi pernah merasa bersalah karena mengetahui sebagian biaya pernikahan mereka berasal dari uang tabunganku.

Saat kondisi keuangannya membaik, dia mengirim dua puluh lima juta kepada Ibu supaya diberikan kepadaku.

Namun Ibu mengatakan aku sedang memiliki banyak uang dan tidak membutuhkan dana itu.

Ibu meminta izin kepada Maya untuk memakai sebagian uang tersebut sebagai simpanan darurat.

“Kenapa kamu diam?” tanyaku.

Suara Maya mengecil.

“Karena Ibu bilang uang itu akan dipakai untuk kebutuhan rumah.”

“Kebutuhan rumah yang tetap aku bayar?”

Maya terdiam.

Aku mulai gemetar.

“Lalu sisa uangnya?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu yakin?”

“Rina, aku benar-benar tidak tahu.”

Aku memutus sambungan.

Hari itu seharusnya aku mengikuti pelatihan pengelola warung bersama Pak Budi, tetapi pikiranku tidak bisa fokus.

Sepanjang sore, aku terus memikirkan satu pertanyaan.

Kalau Ibu menyimpan uang dariku, untuk apa?

Jawabannya datang tiga hari kemudian.

Pak Hendra menelepon.

“Rina, kamu sekarang sudah tidak tinggal di rumah itu?”

“Tidak, Pak.”

“Kalau begitu mungkin kamu perlu tahu. Ibumu tadi bertanya apakah kontrakan bisa dipindahkan atas nama seseorang.”

“Siapa?”

“Maya.”

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Katanya mau mengajukan pinjaman.”

Aku langsung berdiri.

“Pinjaman apa?”

“Saya kurang tahu. Tapi dia minta fotokopi surat kontrak dan bilang rumah itu mau dijadikan bukti tempat tinggal tetap.”

Aku tahu kontrakan tidak bisa dijadikan jaminan kepemilikan.

Namun kalimat tentang pinjaman membuatku teringat sesuatu.

Kotak dokumen milik Bapak.

Aku membawanya saat pindah.

Malam itu aku membuka kotak kayu tersebut.

Di dalamnya ada KTP lama Bapak, kartu keluarga, beberapa surat rumah sakit, dan buku tabungan yang sudah tidak aktif.

Di bawah tumpukan kertas, ada sebuah amplop cokelat yang selama ini tidak pernah kubuka.

Tulisan tangan Bapak masih terlihat di bagian depan.

Untuk Rina dan Maya.

Tanganku gemetar saat membukanya.

Di dalamnya terdapat fotokopi sertifikat tanah kecil di kampung halaman Bapak, sekitar dua jam dari kota kami.

Aku bahkan tidak tahu tanah itu masih ada.

Ada juga surat sederhana yang ditandatangani Bapak.

Jika suatu hari tanah ini dijual, hasilnya untuk kedua anak saya, Rina dan Maya, sama rata.

Aku membaca surat itu berulang kali.

Lalu melihat tanggal pada fotokopi sertifikat.

Aku menelepon seorang paman dari pihak Bapak yang sudah lama tidak berhubungan dengan kami.

“Om Darto, tanah Bapak di kampung masih ada?”

Dia terdiam cukup lama.

“Bukannya sudah dijual?”

Darahku terasa turun ke kaki.

“Dijual?”

“Sekitar dua tahun setelah Bapakmu meninggal.”

“Siapa yang menjual?”

“Ibumu.”

Aku hampir menjatuhkan telepon.

“Berapa?”

“Waktu itu kalau tidak salah hampir seratus juta.”

Aku tidak mampu berbicara.

Hampir seratus juta.

Dua tahun setelah Bapak meninggal.

Pada tahun yang sama, aku bekerja dua shift karena Ibu mengatakan uang peninggalan Bapak benar-benar habis.

Pada tahun yang sama aku berhenti membeli makan siang di warung dan mulai membawa nasi dari rumah supaya bisa menghemat sepuluh ribu rupiah sehari.

Pada tahun yang sama aku pernah berjalan kaki tiga kilometer karena tidak punya uang untuk naik ojek setelah membeli obat Ibu.

Sementara ternyata ada hampir seratus juta rupiah dari tanah Bapak.

Malam itu juga aku pulang ke rumah kontrakan.

Untuk pertama kalinya sejak pindah, aku memasuki gang lama.

Ibu sedang duduk di teras.

Begitu melihatku, wajahnya langsung pucat.

“Kamu pulang.”

Aku berdiri di depannya.

“Tanah Bapak dijual berapa?”

Tidak ada sapaan.

Tidak ada basa-basi.

Wajah Ibu berubah.

“Tanah apa?”

“Jangan bohong lagi.”

Maya keluar dari rumah sambil menggendong Nisa.

Aku mengeluarkan fotokopi sertifikat dan surat Bapak.

“Tanah di kampung. Om Darto bilang Ibu menjualnya.”

Ibu memandang surat itu.

Lalu perlahan duduk.

“Sekitar sembilan puluh enam juta.”

Suara Maya terdengar kaget.

“Ibu punya uang sebanyak itu?”

“Pernah.”

“Ke mana?”

Ibu menatap lantai.

Aku merasa kemarahanku mulai naik.

“Enam tahun aku bekerja untuk rumah ini. Enam tahun aku bayar obat, makan, listrik, kontrakan. Dan ternyata Ibu menjual tanah Bapak hampir seratus juta?”

Ibu mulai menangis.

“Aku punya alasan.”

“Alasan apa?”

“Aku pinjamkan ke seseorang.”

Aku tertawa pendek karena tidak percaya.

“Kepada siapa?”

Ibu tidak menjawab.

Maya tiba-tiba berkata, “Bu?”

Tatapan Ibu beralih kepadanya.

Lalu aku tahu.

Bahkan sebelum dia membuka mulut, aku sudah tahu jawabannya berkaitan dengan Maya.

“Waktu Andi mau membuka usaha pertamanya,” kata Ibu perlahan, “dia butuh modal.”

Wajah Maya langsung pucat.

“Apa?”

“Dia bilang akan mengembalikan.”

Aku menatap Maya.

Maya menggeleng cepat.

“Aku tidak tahu, Rin. Aku sumpah.”

Ibu menangis semakin keras.

“Waktu itu Ibu pikir kalau usaha Andi berhasil, Maya akan hidup enak. Dia sudah menikah. Dia punya masa depan.”

Aku berdiri tanpa bergerak.

“Lalu aku?”

Ibu mendongak.

“Apa?”

“Kalau Maya punya masa depan, lalu aku apa?”

Ibu terdiam.

Enam tahun.

Tiba-tiba semuanya terasa begitu jelas.

Aku bukan anak yang paling kuat.

Aku hanya anak yang dianggap paling aman untuk dikorbankan.

Karena aku tidak pernah berteriak.

Tidak pernah pergi.

Tidak pernah menolak.

Maya mulai menangis.

“Ibu, kenapa?”

“Aku hanya ingin membantu keluarga.”

“Dengan uang Rina juga?”

Ibu terdiam.

Aku mengeluarkan buku catatan pengeluaranku dan meletakkannya di meja.

“Mulai sekarang aku tidak akan bayar apa pun.”

Ibu menatapku panik.

“Rina.”

“Obat Ibu bulan ini masih cukup. Kontrakan sudah dibayar sampai akhir bulan. Setelah itu, Maya dan Ibu harus mengatur hidup kalian sendiri.”

“Tapi kami tidak punya penghasilan.”

Aku menatap Maya.

“Maya masih sehat.”

Maya menunduk.

Aku melanjutkan.

“Dan ada satu hal lagi. Kalau tanah Bapak dijual tanpa pembagian seperti yang tertulis di surat ini, aku akan cari tahu secara hukum apa yang bisa kulakukan.”

Ibu berdiri mendadak.

“Kamu mau bawa Ibu ke polisi?”

“Aku belum mengatakan itu.”

“Rina, aku ibumu.”

Aku menatap wajahnya.

“Aku tahu.”

Suara itu keluar lebih tenang daripada yang kubayangkan.

“Justru karena Ibu adalah ibuku, selama ini aku selalu percaya.”

Aku pergi malam itu tanpa menoleh.

Seminggu kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Maya datang ke tempat kerjaku.

Dia membawa Nisa dan sebuah amplop.

Wajahnya terlihat lebih kurus.

“Aku sudah dapat kerja.”

Aku terdiam.

“Di laundry dekat rumah.”

Aku mengangguk kecil.

Maya meletakkan amplop di meja.

“Apa ini?”

“Uang.”

Aku tidak menyentuhnya.

“Untuk apa?”

“Cicilan.”

“Cicilan apa?”

Dia menatapku dengan mata merah.

“Semua yang selama ini kamu keluarkan untuk aku.”

Aku ingin tertawa, tetapi tidak bisa.

“Maya, jumlahnya terlalu banyak.”

“Aku tahu.”

“Dengan gaji laundry, kamu butuh bertahun-tahun.”

“Kalau begitu bertahun-tahun.”

Aku menatap kakakku lama.

Untuk pertama kalinya aku melihatnya bukan sebagai Maya yang selalu dibela Ibu, bukan sebagai perempuan yang mengambil kamarku, bukan sebagai orang yang meminta uang.

Aku melihat seorang perempuan yang akhirnya dipaksa melihat hidupnya sendiri.

“Andi bagaimana?”

“Kami pisah.”

Aku sedikit terkejut.

“Dia ternyata juga bohong soal uang tanah itu,” lanjut Maya. “Ibu memang kasih dia modal. Tapi sebagian besar habis untuk bayar utang yang tidak pernah dia ceritakan kepadaku.”

Aku mengembuskan napas.

“Dan uang dua puluh lima juta?”

Maya tersenyum pahit.

“Itu satu-satunya uang yang benar-benar dia kembalikan.”

“Ibu pakai buat apa?”

Maya menunduk.

Lalu jawabannya membuatku benar-benar tidak siap.

“Ibu simpan sebagian besar.”

Aku mengernyit.

“Masih ada?”

Maya mengangguk.

“Delapan belas juta.”

Dadaku terasa sesak.

“Kenapa?”

“Katanya buat kamu.”

Aku tidak mengerti.

Maya mengusap air matanya.

“Ibu bilang sebenarnya dia tahu suatu hari kamu akan pergi. Dia takut kalau kamu punya uang cukup, kamu benar-benar akan meninggalkan rumah. Jadi uang itu dia simpan supaya kamu tetap merasa dibutuhkan.”

Aku tidak bisa berkata-kata.

Maya melanjutkan.

“Semalam Ibu kasih uang itu kepadaku. Dia suruh aku mengantarkannya ke kamu.”

Aku menatap amplop di meja.

Ternyata selama ini bukan hanya uangku yang ditahan.

Kebebasanku juga.

Aku tidak langsung mengambil amplop itu.

“Bagaimana Ibu?”

“Dia mulai jualan nasi bungkus pagi-pagi. Sedikit-sedikit.”

Aku menoleh ke luar jendela warung.

Langit sore mulai berubah jingga.

Aneh sekali.

Enam tahun aku percaya Ibu tidak mampu lagi bekerja.

Ternyata ketika aku berhenti menjadi penyangga, dia menemukan cara untuk berdiri.

Bukan berarti semua luka langsung hilang.

Bukan berarti satu amplop bisa mengembalikan enam tahun hidupku.

Namun hari itu aku memahami sesuatu.

Kadang keluarga tidak menghancurkan kita dengan kebencian.

Kadang mereka melakukannya dengan ketergantungan yang dibungkus kata sayang.

Aku mengambil amplop itu.

Bukan karena uangnya.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, sesuatu yang seharusnya menjadi milikku akhirnya benar-benar dikembalikan kepadaku.

Beberapa bulan kemudian, cabang warung yang kukelola berkembang pesat.

Pak Budi memberiku bagian bonus dari keuntungan bulanan.

Aku mulai mengikuti kelas akuntansi malam secara daring, meneruskan sesuatu yang pernah kutinggalkan enam tahun lalu.

Maya tetap bekerja di laundry dan sesekali mengirim uang kepadaku meskipun aku selalu mengatakan tidak perlu.

Ibu tidak pernah meminta uang lagi.

Kami belum kembali seperti dulu.

Mungkin kami tidak akan pernah bisa.

Tetapi suatu sore, sebuah pesan masuk dari Ibu.

Tidak ada permintaan obat.

Tidak ada tagihan listrik.

Tidak ada keluhan tentang uang.

Hanya satu kalimat.

Rina, Ibu baru sadar selama ini Ibu takut kehilanganmu sampai akhirnya justru membuatmu ingin pergi.

Aku membaca pesan itu lama.

Lalu meletakkan ponsel.

Aku tidak langsung membalas.

Aku belum siap memaafkan semuanya.

Namun untuk pertama kalinya, aku juga tidak merasa bersalah karena memilih hidupku sendiri.

Malam itu setelah warung tutup, aku berdiri di depan pintu lantai dua sambil melihat lampu kota dari kejauhan.

Dulu aku mengira rumah adalah tempat yang harus terus kita pertahankan, bahkan jika kita harus mengorbankan diri sendiri agar semua orang di dalamnya tetap nyaman.

Sekarang aku tahu rumah seharusnya bukan tempat seseorang dibutuhkan hanya karena dia membayar semuanya.

Rumah adalah tempat di mana keberadaan kita tetap dihargai, bahkan ketika tangan kita kosong.

Dan ternyata, kepergianku bukanlah hal yang menghancurkan keluarga kami.

Justru setelah aku pergi, untuk pertama kalinya kami semua dipaksa belajar berdiri dengan kaki sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang