Aku membaca pesan itu sekali lagi, berharap mataku salah.
“Pastikan Maya tidak sempat menjalani operasi. Kalau dokter memeriksanya lebih jauh, mereka bisa tahu kalau kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa…”
Tanganku mendadak dingin.
Aku mengangkat wajah menatap Mama yang baru muncul di ambang pintu di belakang Papa dan Riska.
“Ma… maksud pesan ini apa?”
Mama berhenti melangkah.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
Papa langsung menyambar ponsel dari tanganku, tetapi aku menahannya sekuat tenaga.
“Kasih ke Papa!”
“Tidak!”
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, aku berteriak kepadanya.
Papa mencoba menarik ponsel tersebut. Kursi rodaku bergeser mundur dan menghantam sisi kasur. Nyeri menyambar kakiku, tetapi aku tidak melepaskan genggaman.
Dito bergerak cepat.
Ia mendorong tangan Papa.
“Jangan sakiti Kak Maya!”
Plak.
Tamparan Papa mendarat keras di pipi Dito.
Tubuh kecil itu terhuyung.
“Dito!”
Aku menjerit.
Sesuatu di dalam diriku seperti pecah.
Selama bertahun-tahun aku mungkin masih bisa menerima hinaan mereka terhadapku. Aku masih bisa meyakinkan diri bahwa orang tua bisa bersikap tidak adil karena berbagai alasan.
Tetapi melihat Papa menampar anak berusia dua belas tahun hanya karena ia mencoba melindungiku membuat semua sisa pembenaran itu lenyap.
“Kalian mengambil uang Kakek.”
Papa menatapku.
“Kalian membeli vila Riska pakai uangku.”
“Maya, dengarkan Papa dulu.”
“Dan sekarang aku tahu kecelakaanku juga bukan kecelakaan biasa.”
Riska melirik Mama.
“Apa sebenarnya yang terjadi?”
Mama menelan ludah.
“Tidak ada apa-apa.”
Aku menunjukkan layar ponsel.
“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa Mama mengirim pesan ini?”
Mama berjalan mendekat.
“Berikan ponselnya. Nanti Mama jelaskan.”
“Jelaskan sekarang.”
“Maya!”
“SEKARANG!”
Suasana pesta di luar masih terdengar samar, tetapi ruangan itu seolah terpisah dari dunia.
Mama menatap Papa.
Papa menghela napas panjang.
Lalu sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.
Ia tersenyum.
Bukan senyum hangat.
Senyum orang yang lelah berpura-pura.
“Karena memang bukan kecelakaan,” katanya.
Jantungku seperti jatuh ke dasar perut.
Riska mundur satu langkah.
“Apa?”
Papa menatapku tanpa rasa bersalah.
“Waktu itu kamu mau menjual saham warisan Kakek, kan?”
Aku terdiam.
Setahun lalu, beberapa hari sebelum kecelakaan, aku memang menerima telepon dari pengacara Kakek. Ia mengatakan Kakek meninggalkan sebagian kecil saham perusahaan atas namaku.
Aku berniat menjualnya.
Bukan karena serakah.
Aku ingin menggunakan uangnya untuk membuka cabang kedua toko rotiku.
Saat Papa mengetahui rencanaku, kami bertengkar hebat.
Ia mengatakan penjualan saham akan membuat kendalinya atas perusahaan melemah.
Aku tetap bersikeras.

“Mobilku…” bisikku. “Rem mobilku rusak.”
Papa tidak menjawab.
Mama malah mulai menangis.
“Aku sudah bilang pada Papa jangan melakukan sesuatu yang berbahaya.”
Aku menatapnya.
“Jadi Mama tahu?”
“Papa cuma ingin menakut-nakutimu supaya kamu tidak pergi menemui pengacara.”
Air matanya jatuh.
“Katanya remnya hanya akan dibuat sedikit bermasalah. Kamu seharusnya berhenti ketika merasakan sesuatu yang aneh.”
Aku tidak percaya apa yang kudengar.
“Mobil itu meluncur ke turunan.”
Mama menutup mulut.
“Aku menabrak pembatas jalan.”
Tidak ada yang menjawab.
“Aku hampir mati.”
Riska menatap Papa seolah baru pertama kali mengenal laki-laki itu.
“Papa benar-benar melakukan itu?”
Papa menggeram.
“Semua yang Papa lakukan demi keluarga ini.”
“Demi keluarga?” Aku hampir tertawa. “Keluarga yang mana?”
Papa menunjukku.
“Perusahaan hampir bangkrut. Kalau saham itu kamu jual, kreditur akan mencium masalah. Investor akan kabur. Ratusan pegawai bisa kehilangan pekerjaan.”
“Lalu uang tiga miliar milikku?”
“Itu digunakan menyelamatkan perusahaan.”
“Vila Bali menyelamatkan perusahaan?”
Papa terdiam.
Aku menoleh kepada Riska.
Wajahnya pucat.
“Dan untuk hadiah putri kesayangan,” lanjutku.
Riska tiba-tiba berkata, “Aku tidak tahu uang vila itu punya Maya.”
Papa menatapnya tajam.
“Diam.”
“Aku benar-benar tidak tahu.”
“Riska, masuk kamar.”
“Tidak!”
Riska membalas tatapan Papa.
Itu pertama kalinya aku melihatnya melawan.
“Aku memang sering jahat sama Kak Maya. Aku mengaku. Tapi aku tidak pernah tahu Papa sampai sabotase mobilnya.”
Papa hendak membentaknya lagi ketika suara ketukan keras terdengar dari luar.
“Pak? Bu?”
Itu suara Mbak Ina.
Papa tidak menjawab.
Ketukan kembali terdengar.
“Pak Hadi mencari Bapak. Katanya ada masalah di depan.”
Papa memaki pelan.
“Semua diam di sini.”
Ia membuka pintu.
Namun begitu pintu terbuka, tiga orang berdiri di lorong.
Pak Hadi.
Seorang pria paruh baya yang kukenal sebagai Pak Surya, pengacara Kakek.
Dan dua petugas polisi.
Wajah Papa berubah.
“Ada apa ini?”
Pak Surya menatap ke dalam kamar.
Pandangan matanya langsung jatuh kepadaku dan Dito.
“Mbak Maya, Anda baik-baik saja?”
Aku bahkan terlalu terkejut untuk menjawab.
Dito yang bicara.
“Saya yang telepon.”
Semua mata tertuju kepadanya.
Dito mengangkat jam tangan pintar kecil di pergelangan tangannya.
“Aku kirim rekaman ke Om Surya sebelum masuk kamar Kak Maya.”
Aku menatapnya.
“Tapi… kamu kenal Pak Surya?”
Dito mengangguk.
“Kakek pernah kasih nomor beliau.”
Papa langsung menerjang ke arah Dito.
Polisi bergerak lebih cepat dan menahannya.
“Lepaskan saya!”
“Pak Arman, tenang.”
“Ini rumah saya!”
Salah satu petugas mengeluarkan surat.
“Kami menerima laporan dugaan kekerasan terhadap anak, penggelapan dana, dan bukti awal terkait dugaan sabotase kendaraan.”
Mama terduduk di tepi kasur.
Riska mematung.
Papa terus berteriak bahwa semuanya salah paham.
Namun malam itu, pesta pertunangan Riska berakhir dengan cara yang tidak pernah dibayangkan siapa pun.
Para tamu melihat Papa dibawa keluar oleh polisi.
Mama ikut diminta memberikan keterangan.
Foto-foto yang beberapa menit sebelumnya dipenuhi senyum berubah menjadi bisik-bisik dan tatapan terkejut.
Aku dibawa ke rumah sakit malam itu juga.
Pak Surya yang mengurus semuanya.
Dalam perjalanan, ia menjelaskan hal yang semakin membuatku sadar betapa panjang kebohongan keluargaku.
Ternyata Kakek sudah lama mencurigai Papa menyalahgunakan dana perusahaan.
Sebelum meninggal, Kakek membuat rekening khusus atas namaku dan menunjuk sebuah lembaga pengawas aset sebagai pelindung dana.
Namun setelah Kakek meninggal, Papa memalsukan beberapa dokumen dan mengaku bertindak atas persetujuanku.
“Kenapa tidak ada yang menghubungi saya?” tanyaku.
“Kami mencoba,” jawab Pak Surya. “Tiga kali.”
Aku menggeleng.
“Aku tidak pernah menerima surat.”
“Alamat korespondensi diganti ke kantor perusahaan ayahmu.”
Dadaku sesak.
Semua telah direncanakan.
Bahkan mungkin jauh sebelum kecelakaanku.
Pagi berikutnya, aku menjalani pemeriksaan menyeluruh.
Hasilnya membuat dokter terdiam cukup lama.
Ada bekas cedera lama yang menurutnya tidak konsisten dengan laporan medis pertama.
Dokter yang menangani kecelakaanku dahulu mencatat bahwa kemungkinan kerusakan berasal dari benturan.
Namun pemeriksaan baru menunjukkan ada indikasi kegagalan sistem pengereman yang menyebabkan posisi tabrakan jauh lebih ekstrem.
Data kendaraan yang disimpan perusahaan asuransi akhirnya diminta polisi.
Tiga hari kemudian, hasil pemeriksaan keluar.
Selang rem memang pernah dipotong.
Bukan pecah.
Dipotong.
Operasiku dilaksanakan dua hari setelahnya.
Biayanya dibayar dari dana peninggalan Kakek yang berhasil dibekukan sebelum Papa menguras sisanya.
Ketika aku membuka mata setelah operasi, orang pertama yang kulihat bukan Mama.
Bukan Riska.
Dito duduk di kursi samping ranjang sambil tertidur dengan kepala miring.
Di pangkuannya ada kaleng biskuit tua.
Aku tersenyum sambil menangis.
“Dito.”
Ia terbangun.
“Kak?”
“Operasinya berhasil.”
Matanya langsung membesar.
“Serius?”
Aku mengangguk.
Dokter memang belum bisa menjanjikan kakiku akan kembali seperti dulu. Rehabilitasi mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Tapi sarafnya berhasil diselamatkan.
Aku masih punya kesempatan berjalan.
Dito menangis begitu keras sampai perawat masuk karena mengira sesuatu terjadi.
Dua minggu kemudian Riska datang.
Ia membawa map cokelat.
Aku hampir tidak mengenalinya.
Tidak ada gaun mahal.
Tidak ada riasan.
Hanya kaus putih dan celana panjang sederhana.
“Aku mau mengembalikan vila Bali.”
Aku menatapnya.
“Sudah atas namamu.”
“Aku tahu.”
Ia meletakkan dokumen di meja.
“Aku sudah tanda tangan surat untuk menyerahkan aset itu kembali.”
Aku diam.
Riska duduk.
“Aku tidak akan minta Kakak memaafkan aku.”
Matanya berkaca-kaca.
“Aku sudah lama tahu Mama dan Papa lebih memanjakan aku. Dan aku menikmatinya.”
Ia mengusap wajah.
“Aku mengira Kakak cuma iri karena hidupku lebih mudah. Aku tidak pernah tahu kemudahan hidupku dibayar dari penderitaan Kakak.”
Aku menatap adikku lama sekali.
“Tunanganmu?”
Riska tertawa pahit.
“Pergi.”
“Karena skandal ini?”
“Karena ternyata dia lebih tertarik pada vila Bali daripada aku.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami tertawa bersama.
Pahit.
Tapi jujur.
Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.
Papa akhirnya ditahan atas berbagai tuduhan, termasuk penggelapan aset dan keterlibatan dalam sabotase kendaraan.
Mama tidak dipenjara selama Papa karena ia bekerja sama dengan penyidik dan mengakui banyak hal.
Namun pengakuannya membuka rahasia yang lebih besar.
Perusahaan keluarga sebenarnya tidak pernah hampir bangkrut.
Papa hanya ingin memperluas bisnisnya secara agresif tanpa menggunakan uang pribadinya.
Dana kesehatan dan pendidikan milikku merupakan sumber termudah.
Kemudian ditemukan transaksi lain.
Uang milik Riska juga pernah diambil.
Dana pendidikan Dito pun hampir separuhnya sudah dipindahkan.
Kami bertiga selama ini bukan anak-anak yang sedang dilindungi.
Kami hanyalah rekening berjalan bagi orang tua kami sendiri.
Enam bulan setelah operasi, aku berdiri di depan toko kecil di daerah Jakarta Selatan.
Dengan tongkat di tangan.
Kakiku masih pincang sedikit.
Namun aku berdiri.
Di papan depan tertulis nama toko yang dulu kupakai sebelum menjual bisnis pertamaku.
Dapur Maya.
Aku membangunnya kembali menggunakan sebagian uang yang berhasil dikembalikan.
Hari pembukaan toko, Riska datang membantu di kasir.
Dito berdiri di depan etalase sambil makan roti cokelat gratis untuk ketiga kalinya.
“Dito!”
Aku memarahinya pura-pura.
“Yang itu untuk pembeli.”
“Aku kan investor.”
“Investor dari mana?”
Ia menunjuk kaleng biskuit tua yang sekarang diletakkan di atas meja kasir.
Uang hasil penjualan sepeda, konsol gim, dan kartu bolanya masih tersimpan di sana.
Aku tidak pernah menggunakannya untuk operasi.
Sebagai gantinya, aku memasukkan seluruh uang itu ke rekening baru atas namanya.
Aku bahkan menambah jumlahnya berkali-kali lipat.
Tetapi aku menyimpan kaleng itu.
Bukan karena uangnya.
Melainkan karena benda itu selalu mengingatkanku pada malam ketika seorang anak berusia dua belas tahun memiliki hati yang jauh lebih besar daripada seluruh kekayaan keluarga kami.
Sore itu Pak Surya datang membawa sebuah amplop.
“Ada satu hal lagi yang baru kami temukan.”
Aku membukanya.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan Kakek.
Tanggalnya beberapa bulan sebelum ia meninggal.
Maya,
Kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin berarti aku gagal menjaga keluargaku tetap utuh.
Jangan pertahankan keluarga hanya karena kalian memiliki darah yang sama.
Keluarga adalah orang yang menjaga kita ketika kita lemah, mempercayai kita ketika kita jatuh, dan rela kehilangan sesuatu agar kita tetap hidup.
Tanganku gemetar.
Aku menoleh kepada Dito.
Ia sedang membagikan roti kepada seorang anak kecil di depan toko.
Lalu aku melihat Riska yang sibuk melayani pelanggan.
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama ini aku menangisi kenyataan bahwa Papa dan Mama tidak pernah mencintaiku seperti aku ingin dicintai.
Aku merasa kehilangan keluarga.
Padahal ternyata aku hanya kehilangan ilusi tentang keluarga.
Keluargaku yang sebenarnya masih ada di sini.
Seorang adik yang menjual semua barang kesayangannya demi menyelamatkan kakaknya.
Seorang adik perempuan yang akhirnya berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.
Dan diriku sendiri, yang setelah begitu lama diinjak, akhirnya belajar berdiri.
Benar-benar berdiri.
Aku melangkah tanpa tongkat untuk pertama kalinya sore itu.
Hanya dua langkah.
Lututku gemetar.
Dito langsung berlari.
“Kak Maya!”
Aku mengangkat tangan, menyuruhnya berhenti.
“Jangan bantu.”
Aku mengambil satu langkah lagi.
Sakit.
Tapi aku tersenyum.
Karena kini aku tahu, ada rasa sakit yang membuat seseorang hancur.
Namun ada juga rasa sakit yang mengajarkan kita siapa yang pantas berjalan bersama kita ketika akhirnya kita mampu berdiri kembali.
