AYAHKU YANG BEKERJA SEBAGAI PEMULUNG BERSEMBUNYI DI BALIK TEMBOK SAAT WISUDAKU—NAMUN KETIKA NAMAKU DIPANGGIL, AKU TURUN DARI PANGGUNG DAN MEMASANGKAN TOGA KEPADANYA

Kalimat Ayah membuat suara tepuk tangan di sekitar kami seolah lenyap begitu saja.

Aku menatapnya, yakin bahwa aku salah mendengar.

“Apa?”

Ayah menarik napas panjang. Matanya masih tertuju pada sang dekan yang berdiri beberapa meter dari kami.

“Dia yang memastikan kamu mendapat beasiswa itu.”

Aku menoleh cepat.

Dekan fakultasku, Prof. Arman Prasetyo, tampak seperti kehilangan kemampuan untuk bergerak. Lelaki yang selama empat tahun kukenal sebagai sosok tegas dan dingin itu kini berdiri dengan wajah pucat.

“Pak Arman?” tanyaku.

Ia akhirnya berjalan mendekat.

“Maya, sebaiknya kita bicara di tempat lain.”

“Tidak.”

Aku bahkan tidak mengenali suaraku sendiri.

“Kalau semua ini berkaitan dengan Ayah, saya ingin mendengarnya sekarang.”

Kerumunan semakin hening.

Prof. Arman melirik Pak Surya, lalu kepada Ayah.

“Dua puluh tahun lalu, saya memang membuat laporan itu.”

Tanganku mengepal.

“Jadi Bapak menjebak Ayah saya?”

“Tidak sesederhana itu.”

“Nama Bapak ada di dokumen.”

“Karena saya pengecut.”

Jawaban itu membuat semua orang terdiam.

Prof. Arman mengeluarkan saputangan dari sakunya, mengusap keringat di kening meski udara pagi tidak terlalu panas.

“Saat itu saya masih peneliti junior. Pak Jatmiko adalah teknisi kepala di laboratorium. Dia menemukan adanya penggelembungan pembelian alat penelitian.”

Ayah menutup mata.

Prof. Arman melanjutkan.

“Nilainya sangat besar. Pak Jatmiko hendak melaporkannya.”

“Lalu?” tanyaku.

“Orang yang melakukan penggelapan mengetahui rencana itu lebih dulu.”

Pak Surya mengerutkan kening.

“Siapa?”

Prof. Arman tidak langsung menjawab.

Ia menatap seseorang di dalam auditorium.

Kemudian dua petugas keamanan muncul membawa seorang lelaki tua berjas hitam yang berusaha berjalan menjauh melalui pintu belakang.

Aku mengenalnya.

Pak Hendra Wijaya.

Anggota senior dewan pembina yayasan.

Wajah Pak Surya langsung berubah.

“Pak Hendra?”

Lelaki itu berhenti.

“Apa-apaan ini?”

Prof. Arman menelan ludah.

“Dialah kepala laboratorium saat itu.”

Pak Hendra menatap tajam kepadanya.

“Arman, pikirkan baik-baik sebelum bicara.”

“Dua puluh tahun saya sudah memikirkannya.”

Suara Prof. Arman bergetar, tetapi kali ini ia tidak mundur.

“Pak Hendra yang menggelapkan dana penelitian. Ketika Pak Jatmiko menemukan bukti, dia menyuruh saya membuat laporan seolah Pak Jatmiko pelakunya.”

“Fitnah!”

Pak Hendra berteriak.

Namun Pak Surya mengangkat tangan.

“Biarkan dia bicara.”

Prof. Arman memandang Ayah.

“Saya baru berusia dua puluh delapan tahun. Ayah saya sakit. Saya punya dua adik yang masih sekolah. Pak Hendra mengancam akan memecat saya dan memasukkan nama saya ke dalam kasus itu kalau saya menolak.”

Air mata mulai memenuhi matanya.

“Saya menandatangani laporan.”

Aku menatap Ayah.

“Kenapa Ayah tidak melawan?”

Ayah tertawa kecil, getir.

“Ayah melawan.”

“Lalu kenapa pergi?”

Ayah diam.

Pak Surya yang menjawab.

“Karena setelah kebakaran laboratorium, sebagian besar bukti hilang.”

Prof. Arman menggeleng.

“Bukan cuma itu.”

Ia menatap Ayah.

“Jatmiko pergi karena istrinya diancam.”

Jantungku seperti berhenti.

“Ibu?”

Ayah akhirnya menatapku.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku melihat sesuatu di wajahnya yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Ketakutan.

“Waktu itu ibumu sedang mengandung kamu.”

Dadaku sesak.

Ayah melanjutkan perlahan.

“Ada orang datang ke rumah. Mereka bilang kalau Ayah terus bicara, mereka akan membuat kecelakaan kecil.”

Aku langsung mengerti.

“Jadi Ayah memilih menghilang?”

“Ayah memilih kalian.”

Air mataku jatuh.

“Semua orang menganggap Ayah pencuri. Tidak ada perusahaan yang mau menerima Ayah bekerja. Identitas Ayah ada di daftar pemeriksaan selama bertahun-tahun. Ayah pindah dari satu tempat ke tempat lain, sampai akhirnya kita tinggal di kampung.”

“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”

“Ibumu tahu sedikit. Tidak semuanya.”

Ayah menunduk.

“Setelah dia meninggal, Ayah pikir tidak ada gunanya membuka masa lalu.”

Aku ingin marah.

Aku ingin bertanya kenapa ia membiarkan dirinya hidup begitu keras selama dua puluh tahun.

Namun ketika melihat tangan kasarnya yang masih menggenggam ujung togaku, amarahku berubah menjadi rasa sakit.

Prof. Arman maju satu langkah.

“Beberapa tahun lalu, saya menemukan nama Maya dalam daftar calon penerima beasiswa.”

Aku menatapnya.

“Bapak mengenali nama Jatmiko?”

Ia mengangguk.

“Awalnya saya tidak yakin. Kemudian saya mencari alamat.”

Ayah menatapnya tajam.

“Jadi kamu yang datang ke kampung waktu itu?”

Aku langsung menoleh.

Prof. Arman terlihat terkejut.

Ayah tersenyum pahit.

“Seorang laki-laki datang malam-malam empat tahun lalu. Berdiri jauh dari rumah. Ayah tahu itu kamu.”

“Kenapa Ayah tidak bilang?”

“Untuk apa?”

Prof. Arman menunduk.

“Saya tidak berani menemui Pak Jatmiko.”

Kemudian ia menatapku.

“Nilaimu memang cukup untuk mendapatkan beasiswa, Maya. Saya tidak memalsukan hasil apa pun. Tetapi ketika ada perdebatan karena kuota terbatas, saya mempertahankan namamu.”

Aku mengernyit.

“Jadi selama ini Bapak membantu saya karena merasa bersalah?”

“Awalnya iya.”

Jawaban itu terasa seperti tamparan.

“Tapi setelah saya melihat prestasimu, saya sadar kamu tidak membutuhkan belas kasihan siapa pun.”

Ia mengeluarkan amplop tipis dari dalam jasnya.

“Dana bantuan biaya hidup yang kamu terima pada tahun pertama dan kedua bukan berasal dari universitas.”

Aku membeku.

Aku ingat uang tambahan yang dua kali masuk ke rekening mahasiswa. Aku selalu mengira itu bantuan khusus bagi penerima beasiswa.

“Itu dari Bapak?”

Prof. Arman mengangguk.

“Agar Pak Jatmiko tidak perlu bekerja terlalu berat.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Karena Ayah tetap bekerja setiap hari.

Tetap mengumpulkan botol.

Tetap makan seadanya.

Tetap menyimpan setiap lembar uang untukku.

Ayah memandang Prof. Arman.

“Kamu pikir uang bisa menghapus dua puluh tahun?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

“Karena saya terlalu takut meminta maaf.”

Jawaban itu sederhana.

Dan justru karena sederhana, terasa lebih menyakitkan.

Tiba-tiba Pak Hendra tertawa.

“Kalian selesai membuat sinetron?”

Semua kepala menoleh.

Ia berdiri dengan wajah penuh kemarahan.

“Dokumen dua puluh tahun lalu tidak membuktikan apa-apa.”

Pak Surya mengangkat ponselnya.

“Dokumen lama mungkin tidak.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi arsip digital yang ditemukan bulan lalu menyimpan salinan transaksi rekening.”

Wajah Pak Hendra berubah.

Pak Surya melanjutkan.

“Dana pembelian peralatan penelitian masuk ke tiga perusahaan pemasok fiktif. Pemilik ketiganya terhubung dengan keluarga Anda.”

Pak Hendra mencoba berjalan pergi.

Petugas keamanan menghalanginya.

“Jangan sentuh saya!”

Ia berteriak.

“Bapak belum ditahan,” kata Pak Surya dingin. “Tapi pihak yayasan sudah menghubungi kepolisian dan auditor.”

Kerumunan mulai gaduh.

Beberapa orang merekam.

Prof. Arman tiba-tiba berkata, “Ada satu hal lagi.”

Pak Hendra langsung menoleh.

Tatapannya berubah seperti seseorang yang mengetahui rahasia terakhirnya akan terbuka.

Prof. Arman mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Salinan rekaman CCTV lama.”

Pak Surya tercengang.

“Bukankah semua rekaman terbakar?”

“Rekaman utama iya. Tapi teknisi keamanan menyimpan cadangan.”

Ayah membeku.

Prof. Arman memandangnya.

“Saya menemukannya tiga minggu lalu.”

“Apa isinya?” tanyaku.

Prof. Arman menjawab dengan suara pelan.

“Pak Jatmiko tidak menyebabkan kebakaran.”

Pak Hendra langsung berteriak.

“Cukup!”

Ia berusaha merebut flashdisk, tetapi petugas menahannya.

Prof. Arman menatapnya.

“Rekaman menunjukkan Pak Hendra masuk ke ruang penyimpanan lima belas menit sebelum api muncul.”

Semua orang terdiam.

Pak Hendra mengamuk.

“Kalian tidak bisa membuktikan saya membakar tempat itu!”

“Mungkin tidak,” jawab Prof. Arman. “Tapi polisi bisa memeriksanya.”

Beberapa menit kemudian, suara sirene terdengar dari depan kampus.

Hari wisudaku yang seharusnya berisi bunga, foto keluarga, dan ucapan selamat berubah menjadi pembukaan kembali kasus yang telah terkubur selama dua puluh tahun.

Pak Hendra dibawa untuk dimintai keterangan.

Prof. Arman ikut pergi sebagai saksi.

Sebelum meninggalkan halaman, ia berdiri di hadapan Ayah.

Lama sekali keduanya hanya saling menatap.

Kemudian Prof. Arman membungkukkan badan.

“Saya minta maaf.”

Ayah tidak menjawab.

“Saya tahu maaf saya tidak cukup.”

“Memang tidak.”

Prof. Arman mengangguk.

“Apa pun konsekuensinya, saya akan menerimanya.”

Ayah menatapnya beberapa detik.

“Kalau begitu, jangan minta saya melupakan.”

“Saya tidak akan.”

“Tapi jangan lari lagi.”

Mata Prof. Arman berkaca-kaca.

Ia mengangguk.

Hari itu acara wisuda sempat dihentikan hampir empat puluh menit.

Ketika akhirnya kami kembali ke auditorium, aku berjalan berdampingan dengan Ayah.

Togaku masih berada di tubuhnya.

“Sudah, Nduk,” bisiknya gugup. “Kembalikan saja. Semua orang lihat.”

Aku tersenyum sambil menangis.

“Biar.”

“Tapi kamu yang wisuda.”

“Ayah juga.”

Ketika kami masuk, seluruh ruangan berdiri.

Aku melihat ibu-ibu yang tadi menutup hidung karena mencium bau pakaian Ayah.

Kini mereka tidak tertawa.

Selina berdiri di samping orang tuanya dengan wajah merah.

Ia mendekat kepadaku.

“Maya, soal tadi pagi… aku minta maaf.”

Aku memandangnya.

“Aku benar-benar tidak bermaksud merendahkan.”

Aku tidak marah.

Entah kenapa, setelah semua yang terjadi, komentarnya terasa sangat kecil.

“Lain kali,” kataku, “jangan menilai orang dari pakaian yang mereka pakai. Kita tidak pernah tahu apa yang mereka korbankan untuk bisa berdiri di tempat itu.”

Selina mengangguk tanpa berani menatapku.

Rektor kembali naik ke panggung.

Namun kali ini ia meminta sesuatu yang tidak pernah masuk susunan acara.

“Pak Jatmiko, boleh bergabung dengan kami di atas panggung?”

Ayah langsung panik.

“Tidak usah, Pak.”

Semua orang tertawa kecil.

Rektor ikut tersenyum.

“Bapak sudah berjalan puluhan kilometer setiap hari mendorong gerobak. Masa naik beberapa anak tangga saja takut?”

Untuk pertama kalinya sejak pagi, Ayah tertawa lepas.

Aku menggenggam tangannya dan membawanya naik.

Di atas panggung, aku berdiri di depan mikrofon.

Naskah pidato masih ada di meja.

Aku tidak mengambilnya.

Aku melihat ribuan orang di hadapanku.

Kemudian menatap Ayah.

“Pagi tadi saya meminta ayah saya menunggu di luar.”

Suaraku bergetar.

“Saya pikir saya sedang melindunginya dari tatapan orang lain. Ternyata tanpa sadar, saya justru ikut membuatnya merasa tidak pantas berada di sini.”

Ruangan sunyi.

“Saya mendapat nilai tertinggi di universitas ini. Tapi hari ini saya belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah.”

Aku menggenggam tangan Ayah.

“Kita sering mengukur keberhasilan dari gelar, pakaian, pekerjaan, rumah, dan kendaraan.”

Aku menatap tangan Ayah yang penuh kapalan.

“Padahal kadang-kadang, orang paling hebat berdiri di depan kita dengan kuku hitam, baju tambalan, dan tangan yang berbau besi tua.”

Beberapa orang mulai menangis.

Aku sendiri hampir tidak sanggup melanjutkan.

“Kalau hari ini nama saya tertulis sebagai lulusan terbaik, sebenarnya ada nama lain yang seharusnya tertulis lebih besar.”

Aku menunjuk Ayah.

“Jatmiko.”

Tepuk tangan meledak.

Ayah menangis.

Namun saat aku hendak turun dari panggung, ia mengambil mikrofon.

Aku terkejut.

Ayah biasanya bahkan malu berbicara di depan tetangga.

Ia menatap ruangan.

“Saya cuma pemulung.”

Aku langsung menggeleng.

Namun Ayah tersenyum kepadaku.

“Dulu saya malu mengatakan itu.”

Ia menarik napas.

“Tapi sekarang tidak.”

Tangannya menggenggam toga.

“Sampah yang orang buang bisa saya kumpulkan, saya bersihkan, lalu menjadi sesuatu yang berguna.”

Ia menatapku.

“Mungkin hidup juga begitu.”

Suasana mendadak sangat hening.

“Kadang orang membuang harga diri kita. Membuang nama baik kita. Menganggap hidup kita sudah tidak berguna.”

Air mata mengalir di pipinya.

“Tapi selama kita tidak ikut membuang diri kita sendiri, kita masih bisa berdiri lagi.”

Aku tidak tahan.

Aku memeluknya di atas panggung.

Beberapa minggu kemudian, kasus laboratorium dua puluh tahun lalu resmi dibuka kembali.

Nama Ayah akhirnya dibersihkan.

Pak Hendra ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penggelapan dana dan pemalsuan dokumen. Penyelidikan kebakaran masih berlangsung.

Prof. Arman mengundurkan diri sementara dari jabatannya agar proses pemeriksaan berjalan tanpa konflik kepentingan.

Ia datang ke rumah kami beberapa bulan kemudian.

Tidak membawa uang.

Tidak membawa hadiah.

Hanya membawa satu map.

Di dalamnya terdapat surat keputusan resmi yang menyatakan bahwa Pak Jatmiko tidak pernah terbukti melakukan penggelapan.

Ayah membacanya lama.

Kemudian melipatnya dan menyimpannya di lemari kayu.

Aku kira ia akan menangis.

Ternyata tidak.

Ia hanya berkata, “Sudah.”

Aku menatapnya.

“Cuma begitu?”

Ayah tersenyum.

“Nama Ayah sudah kembali. Itu cukup.”

Setelah aku bekerja, hal pertama yang ingin kulakukan adalah membeli rumah baru untuknya.

Ayah menolak.

Aku lalu menawarkan membelikan mobil.

Ia juga menolak.

“Ayah mau apa, sih?”

Ia menunjuk gerobak tuanya.

“Perbaiki rodanya.”

Aku hampir menangis sekaligus tertawa.

“Masih mau mulung?”

“Bukan.”

Beberapa bulan kemudian, gerobak itu kami cat ulang.

Bukan untuk dipakai berkeliling mencari sampah.

Kami membuka sebuah tempat kecil untuk menampung barang bekas dari warga. Ayah mempekerjakan beberapa pemulung lansia yang sudah tidak kuat berjalan jauh.

Ia membayar mereka dengan harga lebih baik daripada pengepul lain.

Di depan bangunan sederhana itu, Ayah memasang papan kecil.

Namanya bukan Jatmiko Recycling.

Bukan pula nama perusahaan yang terdengar mewah.

Ia menulis satu kata saja.

Maya.

Ketika aku protes, Ayah tertawa.

“Dulu botol-botol bekas itu membiayai sekolahmu. Sekarang biarkan namamu membantu orang-orang yang hidup dari botol bekas.”

Video wisudaku bersama Ayah terus beredar selama berbulan-bulan.

Banyak orang mengenalku sebagai lulusan yang memberikan toga kepada ayahnya.

Namun setiap kali ada yang berkata aku telah membuat pengorbanan besar dengan memberikan toga itu kepada Ayah, aku selalu tersenyum.

Mereka salah.

Hari itu aku tidak memberikan apa pun kepadanya.

Aku hanya mengembalikan sesuatu yang memang sejak awal menjadi miliknya.

Empat tahun pendidikan itu mungkin tercatat atas namaku.

Gelar itu mungkin tercetak di ijazahku.

Tetapi setiap huruf di dalamnya dibayar oleh langkah kaki seorang ayah yang mendorong gerobak sebelum matahari terbit.

Dan sampai hari ini, bunga kertas yang ia bawa saat wisudaku masih kusimpan di dalam kotak kaca di ruang kerja.

Bunganya murah.

Beberapa kelopaknya sudah kusut.

Warnanya mulai memudar.

Tetapi di bawahnya aku menempelkan sebuah kalimat.

Bukan gelar yang membuat seseorang layak dihormati.

Melainkan apa yang bersedia ia korbankan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang