IBU MERTUAKU MENDUDUKKAN SELINGKUHAN SUAMIKU DI KURSI ISTRI SAAT PESTANYA—AKU PERGI TANPA SEPATAH KATA, TAPI TENGAH MALAM SUAMIKU DATANG MEMOHON DI DEPAN PINTUKU

Tanganku langsung bergerak mengambil ponsel.

Aku tidak membuka pintu.

Aku tidak berteriak.

Aku hanya mengirim satu pesan kepada petugas keamanan apartemen.

Ada tiga orang mencoba masuk ke unit saya tanpa izin. Tolong naik sekarang dan hubungi polisi jika mereka tidak mau pergi.

Setelah itu aku membuka kembali halaman terakhir di folder merah.

Di luar, suara logam masih terdengar beberapa kali.

Namun kunci yang mereka bawa tidak berhasil.

Dua bulan lalu aku sudah mengganti seluruh sistem pengunci apartemen setelah merasa ada seseorang yang pernah masuk ke rumahku tanpa izin. Saat itu Bima menertawakanku dan mengatakan aku terlalu paranoid.

Malam ini, untuk pertama kalinya, aku bersyukur telah mengikuti firasatku sendiri.

Aku menatap halaman terakhir.

Di bagian atas terdapat tulisan Laporan Pemeriksaan Hubungan Biologis.

Namaku tercetak di sana.

Alya Prameswari.

Nama yang selama tiga puluh dua tahun kuanggap sebagai identitasku.

Di bawahnya terdapat nama lain.

Haryanto Santosa.

Aku menahan napas.

Hasilnya negatif.

Haryanto bukan ayah kandungku.

Aku hampir tertawa karena ancaman Bu Ratih tadi tiba tiba terasa tidak masuk akal.

Namun kemudian aku membaca halaman berikutnya.

Nama seorang laki laki muncul.

Arman Wijaya.

Probabilitas hubungan biologis 99,98 persen.

Aku membeku.

Nama itu tidak asing.

Arman Wijaya adalah salah satu pendiri Santosa Group.

Nama yang sudah bertahun tahun hampir tidak pernah disebut keluarga Bima.

Menurut cerita resmi perusahaan, Arman meninggalkan bisnis karena mengalami masalah keuangan dan kemudian meninggal dalam kecelakaan ketika aku masih kecil.

Tanganku mulai gemetar ketika membaca dokumen berikutnya.

Akta lama.

Perjanjian kepemilikan saham.

Surat wasiat.

Santosa Group ternyata tidak sepenuhnya dibangun oleh keluarga Santosa.

Empat puluh sembilan persen saham awal perusahaan adalah milik Arman Wijaya.

Dan seluruh kepemilikan itu diwariskan kepada anak biologisnya.

Kepadaku.

Tiba tiba suara dokter di luar terdengar lagi.

“Bima, jangan diam saja. Kita tidak punya banyak waktu.”

Aku berjalan mendekati pintu, lalu menyalakan pengeras suara.

“Dokter Surya.”

Semua suara di luar langsung berhenti.

“Apa yang sebenarnya ada di halaman terakhir?”

Tidak ada jawaban.

Aku melanjutkan.

“Kalau Dokter tidak menjawab, lima menit lagi seluruh dokumen ini akan saya kirim ke polisi, pengacara saya, bank, dan media.”

“Alya, jangan!” teriak Bima.

Aku tersenyum pahit.

Akhirnya ia terdengar takut.

Bukan takut kehilangan istrinya.

Takut kehilangan rahasia keluarganya.

Dokter Surya akhirnya bicara.

“Arman Wijaya adalah ayah kandungmu.”

Lorong di luar mendadak sunyi.

Aku memejamkan mata.

“Mengapa keluarga Santosa tahu?”

Kali ini suara Bu Ratih terdengar dari ponsel Bima.

Rupanya mereka sedang melakukan panggilan.

“Alya, dengarkan Ibu.”

Aku hampir tertawa.

Beberapa jam lalu aku dianggap bukan bagian dari keluarga.

Sekarang suaranya mendadak lembut.

“Saya tidak ingin kamu mengetahui semuanya dengan cara seperti ini.”

“Tapi Ibu tetap ingin saya tidak pernah mengetahuinya.”

Ia diam.

Aku menatap dokumen di layar.

“Lima tahun lalu, kenapa Ibu menerima saya menikah dengan Bima?”

Tidak ada jawaban.

“Lima tahun lalu Ibu bahkan tidak menyukai saya. Tapi tiba tiba Ibu mendesak pernikahan dipercepat. Kenapa?”

Suara Bima muncul.

“Alya, aku bisa jelaskan.”

“Tidak. Aku ingin ibumu yang menjawab.”

Beberapa detik kemudian Bu Ratih berkata pelan.

“Karena kami tahu kamu anak Arman.”

Dadaku terasa sesak.

Ia melanjutkan.

“Ayahmu dan Pak Haryanto membangun perusahaan bersama. Tapi setelah ayahmu meninggal, terjadi persoalan soal kepemilikan. Kami pikir saham itu sudah selesai secara hukum.”

“Sudah selesai atau sengaja kalian hilangkan?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku membuka dokumen lain.

Di sana terdapat salinan surat yang menunjukkan bahwa setelah kematian Arman, hak kepemilikannya seharusnya disimpan dalam rekening aman sampai ahli waris biologis ditemukan.

Aku adalah ahli waris itu.

Namun seseorang telah memindahkan aset tersebut ke perusahaan induk milik keluarga Santosa.

Tanda tangan di bawah dokumen itu membuat darahku mendidih.

Haryanto Santosa.

Dan Ratih Santosa.

“Ibu tahu sejak awal.”

“Alya.”

“Ibu tahu siapa saya sejak sebelum saya menikah dengan Bima.”

“Alya, keadaan waktu itu rumit.”

“Makanya kalian memilih saya sebagai istri Bima?”

Keheningan kembali menjawab.

Aku tiba tiba memahami semuanya.

Mereka tidak pernah benar benar menerima perempuan biasa seperti aku.

Mereka menerima aset yang melekat pada namaku.

Mereka membiarkanku membantu bisnis keluarga.

Membiarkanku menggunakan relasi dan uang perusahaan milikku.

Membiarkanku menanggung utang mereka.

Karena selama aku menjadi istri Bima, mereka merasa aku akan tetap berada di bawah kendali keluarga.

Aku tertawa kecil.

Air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena patah hati.

Melainkan karena selama lima tahun aku hidup di tengah kebohongan yang dibangun begitu rapi.

“Jadi Bima tahu?”

“Aku baru tahu setelah kita menikah,” katanya cepat.

“Sejak kapan?”

“Tahun kedua.”

Aku menutup mata.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun lelaki itu tidur di sampingku setiap malam sambil menyimpan rahasia tentang siapa ayah kandungku.

“Tiga tahun, Bima.”

“Aku takut kehilangan kamu.”

“Bukan. Kamu takut aku mengambil kembali apa yang sebenarnya milikku.”

“Aku mencintaimu.”

Aku memandang wajahnya melalui kamera.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat seperti lelaki yang dulu kunikahi.

Rapuh.

Ketakutan.

Namun semuanya sudah terlambat.

“Kalau kamu mencintaiku, kenapa Nadira duduk di kursiku?”

Bima menunduk.

“Karena Mama memaksaku.”

“Dan kehamilannya?”

Bima mengepalkan tangan.

“Nadira bukan selingkuhanku.”

Aku terdiam.

Dari kamera terlihat Nadira memalingkan wajah.

Bima melanjutkan.

“Aku tidak pernah tidur dengannya.”

“Jangan bohong.”

“Aku tidak bohong.”

“Dia diumumkan sebagai perempuan yang akan memberikan penerus keluarga.”

“Itu rencana Mama dan Papa.”

Aku melihat Nadira.

“Katakan sendiri.”

Perempuan itu akhirnya mendekati kamera.

Wajahnya pucat.

“Aku memang tidak pernah tidur dengan Bima.”

“Lalu bayi yang kamu kandung?”

Ia menangis.

“Bayi Pak Haryanto.”

Aku merasa mual.

Semua potongan akhirnya tersusun.

Anak Nadira dua tahun lalu memang anak Haryanto.

Dan bayi yang sedang dikandungnya sekarang juga anak Haryanto.

“Tapi kenapa diumumkan seolah anak Bima?”

Nadira mengusap air matanya.

“Pak Haryanto punya perjanjian keluarga. Saham mayoritas akan jatuh ke garis keturunan Bima kalau dia memiliki penerus. Kalau tidak, sebagian kepemilikan harus dikembalikan sesuai struktur perusahaan lama.”

Aku langsung menoleh ke dokumen.

Kepada ahli waris Arman Wijaya.

Kepadaku.

Mereka membutuhkan seorang bayi.

Tidak penting bayi siapa.

Selama dunia percaya bahwa bayi itu anak Bima.

“Dan Bima setuju?”

Aku menatap suamiku.

Ia tidak menjawab.

Itulah jawaban paling jelas.

Rasa sakit yang tadi kurasakan mendadak berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.

Aku akhirnya mengerti mengapa malam ini mereka sengaja mempermalukanku di depan begitu banyak orang.

Mereka ingin membuatku pergi.

Mereka ingin aku marah, meminta cerai, lalu menerima penyelesaian cepat.

Setelah itu Bima akan menikahi Nadira.

Bayi Haryanto akan dicatat sebagai anak Bima.

Dan struktur pewarisan keluarga akan tetap berada di tangan Santosa.

Aku tidak pernah menjadi menantu yang tidak mereka sukai.

Aku adalah risiko hukum yang harus mereka kendalikan.

Suara lift terdengar dari ujung lorong.

Dua petugas keamanan muncul bersama seorang polisi.

Dokter Surya langsung mundur.

Bima mengangkat kedua tangannya.

Nadira menangis semakin keras.

Aku membuka pintu sedikit setelah petugas berdiri di depannya.

Bima mencoba mendekat.

“Alya, tolong. Kita bisa menyelesaikan ini sebagai keluarga.”

Aku menatapnya.

“Keluarga mana?”

Ia terdiam.

Aku kemudian menoleh kepada Nadira.

“Kenapa kamu datang ke sini?”

Nadira memandang Dokter Surya sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah flashdisk dari tasnya.

“Aku mau memberikan ini kepadamu.”

Dokter Surya langsung pucat.

“Nadira!”

“Aku capek.”

Ia menyerahkan flashdisk kepada petugas keamanan, lalu meminta mereka memberikannya kepadaku.

“Ada rekaman percakapan Bu Ratih, Pak Haryanto, dan Dokter Surya. Mereka membicarakan tes DNA, pemalsuan dokumen medis, dan rencana membuat Bima diakui sebagai ayah bayi ini.”

Bima menatapnya tak percaya.

“Kamu merekam Mama?”

“Aku tidak sebodoh yang kalian kira.”

Nadira tertawa getir.

“Setelah melahirkan anak Pak Haryanto dua tahun lalu, aku dijanjikan rumah dan biaya hidup. Tapi setelah bayi lahir, mereka menyuruhku diam. Kali ini mereka menjanjikan lima miliar kalau aku mau menikah dengan Bima setelah kalian bercerai.”

Aku memandang Bima.

“Jadi kamu benar benar akan menikahinya?”

Wajahnya hancur.

“Aku tidak punya pilihan.”

“Semua orang punya pilihan.”

Aku menutup pintu.

Malam itu aku tidak tidur.

Sampai matahari terbit, aku mengirim seluruh dokumen kepada pengacara, auditor independen, dan pihak bank.

Aku juga mengaktifkan klausul penghentian fasilitas pembiayaan.

Namun aku tidak langsung menghancurkan Santosa Group.

Ada hampir delapan ratus karyawan yang hidup dari perusahaan itu.

Mereka tidak bersalah.

Yang harus bertanggung jawab adalah orang orang yang menjadikan perusahaan sebagai alat untuk menutupi kebohongan keluarga.

Tiga bulan kemudian, penyelidikan resmi dimulai.

Haryanto terbukti memindahkan aset milik Arman Wijaya melalui serangkaian transaksi yang tidak sah.

Bu Ratih diketahui membantu menyembunyikan keberadaan ahli waris.

Dokter Surya kehilangan izin praktik setelah terbukti memanipulasi beberapa dokumen medis.

Dan Nadira menjadi saksi utama.

Hasil pemeriksaan DNA terhadap bayi yang kemudian dilahirkannya membuktikan bahwa Bima memang bukan ayah biologisnya.

Bima akhirnya mengakui semuanya.

Ia mengaku tidak pernah berselingkuh secara fisik dengannya.

Tapi pengakuan itu tidak mengubah keputusanku.

Pengkhianatan tidak selalu terjadi di atas ranjang.

Kadang pengkhianatan terjadi ketika seseorang mengetahui kebenaran tentang hidupmu lalu memilih menyembunyikannya demi keuntungan dirinya sendiri.

Enam bulan setelah pesta itu, perceraian kami resmi.

Pada hari terakhir sidang, Bima menungguku di depan gedung pengadilan.

Ia terlihat lebih kurus.

“Alya.”

Aku berhenti.

“Aku benar benar mencintaimu.”

Aku memandangnya beberapa saat.

“Mungkin.”

Ia terlihat terkejut.

“Tapi cinta tanpa keberanian tidak pernah cukup.”

Ia menunduk.

“Apa kamu membenciku?”

Aku menggeleng.

“Sudah tidak.”

Itulah kebenarannya.

Aku bahkan sudah tidak punya energi untuk membencinya.

Setahun kemudian, keputusan sengketa kepemilikan perusahaan keluar.

Sebagian besar saham yang dahulu milik Arman Wijaya dikembalikan kepadaku sebagai ahli waris sah.

Aku tidak mengganti nama Santosa Group.

Aku hanya menghapus satu kata dari papan besar di lobi kantor pusat.

Family.

Selama puluhan tahun, perusahaan itu disebut Santosa Family Group.

Sekarang hanya tertulis Santosa Group.

Karena aku akhirnya memahami bahwa darah tidak selalu menciptakan keluarga.

Dan pernikahan juga tidak otomatis menciptakan kesetiaan.

Pada suatu sore, sekretarisku masuk ke ruang kerja membawa sebuah kotak tua.

“Ini ditemukan di gudang arsip lama.”

Di dalamnya terdapat foto seorang lelaki muda berdiri di depan bangunan kecil bersama Haryanto.

Aku langsung mengenalinya.

Arman Wijaya.

Ayah kandungku.

Di balik foto terdapat tulisan tangan.

Untuk Alya, jika suatu hari kamu menemukan ini.

Jangan pernah mempertahankan sesuatu hanya karena takut kehilangan keluarga. Orang yang benar benar menganggapmu keluarga tidak akan meminta kamu kehilangan dirimu sendiri untuk tetap berada di sisi mereka.

Aku membaca kalimat itu berkali kali.

Lalu untuk pertama kalinya sejak malam pesta Bu Ratih, aku menangis tanpa berusaha menahannya.

Bukan karena Bima.

Bukan karena keluarga Santosa.

Bukan pula karena perusahaan yang hampir dirampas dariku.

Aku menangis untuk seorang ayah yang bahkan tidak sempat kukenal.

Dan untuk diriku sendiri yang selama bertahun tahun berusaha mendapatkan tempat di meja sebuah keluarga yang sejak awal hanya melihatku sebagai aset.

Aku mengambil foto itu dan meletakkannya di atas meja kerjaku.

Keesokan harinya, saat rapat direksi pertama dimulai, seseorang bertanya apakah kursi di sebelahku perlu disiapkan untuk anggota keluarga Santosa.

Aku melihat kursi kosong itu.

Kursi yang dulu mungkin akan kuberikan kepada siapa saja demi diterima.

Aku tersenyum.

“Biarkan kosong.”

Semua orang terdiam.

Aku membuka dokumen rapat.

“Lain kali, orang yang duduk di sebelah saya harus berada di sana karena dia pantas dipercaya. Bukan karena nama keluarga.”

Dan saat itulah aku akhirnya mengerti.

Malam ketika Bu Ratih memberikan kursiku kepada Nadira bukanlah malam ketika aku kehilangan tempatku.

Itu adalah malam ketika aku berhenti memohon tempat di meja orang lain.

Dan mulai membangun mejaku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang