3 TAHUN PACARAN RAHASIA, AKU DIPAKSA PAKAI SANDAL SEKALI PAKAI DAN PIRING PLASTIK. TAPI DI ULANG TAHUN ASISTENNYA, SEMUA BARANG MEWAH SUDAH DISIAPKAN!

Suara perempuan di ujung telepon itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup untuk menghancurkan sesuatu yang Maya pertahankan selama tiga tahun.

“Mas Dimas, handuk bersihnya masih disimpan di lemari baju kamarmu, kan?”

Maya tidak langsung menjawab.

Di ruang tunggu klinik yang dingin, ia menatap perban baru yang membungkus telapak kaki kirinya. Bau antiseptik menusuk hidung. Di depannya, seorang perawat sedang merapikan meja administrasi, sementara jam digital di dinding menunjukkan pukul 00.17.

“Maya?” suara Dimas terdengar.

Maya menggenggam ponselnya lebih erat.

“Keisha sering menginap di sana?”

Sunyi.

Hanya tiga detik.

Namun tiga detik itu terasa lebih jujur daripada semua penjelasan Dimas selama tiga tahun.

“Jangan mulai bikin drama,” jawab Dimas akhirnya. “Dia kemalaman. Aku cuma menawarkan kamar tamu.”

Maya tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia justru merasa sangat tenang.

“Kamar tamu punya lemari bajumu?”

“Maksudnya bukan begitu.”

“Dan dia tahu handukmu disimpan di mana.”

“Maya, dengarkan dulu.”

“Selamat malam, Dimas.”

Maya memutus sambungan.

Panggilan berikutnya datang kurang dari semenit kemudian.

Ia menolak.

Dimas menelepon lagi.

Ditolak.

Pesan masuk bertubi-tubi.

Kamu salah paham.

Keisha cuma teman kerja.

Jangan mempermalukan aku di depan orang kantor.

Kita bicara besok.

Maya berhenti membaca setelah kalimat ketiga.

Bukan karena sakit hati.

Melainkan karena baru malam itu ia memahami sesuatu yang sangat sederhana.

Dimas tidak takut kehilangan dirinya.

Dimas takut kehilangan kendali atas dirinya.

Pagi berikutnya, Maya datang ke kantor seperti biasa.

Ia mengenakan blus krem, celana hitam, dan sepatu datar yang sedikit longgar agar luka di kakinya tidak tertekan.

Ketika lift terbuka di lantai dua puluh tiga, percakapan beberapa staf langsung berhenti.

Maya tahu alasannya.

Foto pesta Keisha sudah beredar.

Namun bukan foto ulang tahun yang menjadi bahan pembicaraan.

Sekitar pukul dua pagi, Keisha sempat mengunggah foto dirinya memakai kaus putih kebesaran di balkon apartemen Dimas.

Unggahan itu sudah dihapus.

Sayangnya, salah satu staf sudah mengambil tangkapan layar.

Maya berjalan menuju mejanya tanpa bertanya apa pun.

Dimas muncul lima belas menit kemudian.

Wajahnya tegang.

“Maya. Ke ruanganku.”

Maya tetap menatap laptop.

“Kalau urusan pekerjaan, kirim undangan rapat.”

Beberapa orang menunduk, pura-pura sibuk.

Rahang Dimas mengeras.

“Sekarang.”

Maya akhirnya berdiri.

Begitu pintu ruangan tertutup, Dimas langsung menarik tirai kaca.

“Kamu sengaja mau bikin semua orang curiga?”

Maya menatapnya tidak percaya.

“Aku?”

“Kemarin kamu pergi tanpa pamit. Hari ini sikapmu begini. Orang-orang bisa menghubungkan semuanya.”

Maya mengangguk perlahan.

“Jadi itu yang kamu pikirkan sejak tadi?”

“Aku sedang melindungi karier kita.”

“Karier kita?”

Maya tersenyum hambar.

“Selama tiga tahun aku makan pakai piring plastik di apartemenmu supaya ibumu tidak tahu aku pernah datang. Tapi asistenmu punya sandal sendiri, cangkir sendiri, sikat gigi sendiri, bahkan tahu letak handukmu.”

“Barang-barang itu baru.”

“Jangan bohong.”

Dimas terdiam.

Maya melanjutkan.

“Sandal Keisha ada di rak paling atas dan dia bilang akhirnya dipakai lagi. Berarti bukan pertama kali.”

“Maya.”

“Berapa lama?”

“Tidak ada apa-apa antara aku dan Keisha.”

“Kalau begitu jawab satu pertanyaan.”

Maya menatap lurus ke matanya.

“Kenapa aku yang sudah menjadi pacarmu tiga tahun harus dihapus setiap pagi, sementara Keisha boleh meninggalkan jejak?”

Dimas membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban keluar.

Maya akhirnya berbalik.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Dimas terdengar.

“Karena ibuku menyukai Keisha.”

Maya berhenti.

Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada pengakuan perselingkuhan.

Dimas mengusap wajah.

“Ibu sudah mengenal keluarganya. Mereka dekat. Kalau ibu melihat barang Keisha di apartemen, dia tidak akan curiga.”

Maya menoleh.

“Jadi ibumu tahu Keisha sering ke sana?”

Dimas kembali diam.

Maya mengangguk.

Sekarang semuanya jelas.

Hubungan mereka bukan disembunyikan karena pekerjaan.

Yang disembunyikan hanyalah Maya.

Siang itu Maya mengirim satu pesan kepada Dimas.

Kita selesai.

Tidak ada paragraf panjang.

Tidak ada tuntutan penjelasan.

Tidak ada air mata di toilet kantor.

Ia hanya bekerja sampai pukul enam sore lalu pulang.

Namun dua hari kemudian, keadaan berubah.

Direktur regional memanggil Maya ke ruangannya.

Namanya Armand Wijaya, pria berusia lima puluhan yang terkenal jarang berbasa-basi.

“Duduk, Maya.”

Di atas mejanya terdapat beberapa dokumen.

“Kami menerima laporan bahwa kamu memiliki hubungan pribadi dengan atasan langsung.”

Darah Maya seketika terasa dingin.

“Dari siapa?”

“Sumbernya anonim.”

Maya langsung tahu.

Dimas.

“Laporan itu menyebut hubungan tersebut berpotensi memengaruhi keputusan proyek dan evaluasi kinerja.”

Maya menahan napas.

Selama tiga tahun, ia bekerja dua kali lebih keras justru agar tidak ada yang menganggap pencapaiannya berasal dari Dimas.

Sekarang hubungan yang selama ini dipaksa disembunyikan digunakan untuk menghancurkan reputasinya.

“Saya siap menyerahkan seluruh riwayat proyek, evaluasi, dan komunikasi kerja saya,” kata Maya.

Armand mengamatinya.

“Kamu tidak menyangkal hubungan itu?”

“Tidak.”

“Kenapa tidak dilaporkan?”

Maya menelan ludah.

“Karena saya percaya ketika diberi tahu bahwa hubungan itu hanya perlu dirahasiakan sementara.”

Armand bersandar.

“Siapa yang mengatakan itu?”

Maya belum sempat menjawab ketika pintu diketuk.

Keisha masuk membawa tablet.

Mata mereka bertemu.

Wajah Keisha pucat.

“Pak, maaf. Ada dokumen yang harus Bapak lihat sekarang.”

Keisha meletakkan tablet di depan Armand.

Dimas ternyata telah mengirim laporan resmi kepada HRD pagi itu.

Dalam laporan tersebut, ia menyatakan bahwa Maya beberapa kali mencoba mendekatinya secara personal dan hubungan mereka tidak pernah bersifat resmi.

Maya membaca kalimat itu dua kali.

Tangannya mulai gemetar.

Tiga tahun.

Ratusan malam.

Rencana masa depan.

Percakapan tentang rumah.

Tentang menikah.

Tentang anak.

Semuanya dihapus hanya dengan satu dokumen.

“Ini fitnah,” kata Maya.

Armand mengangguk.

“Itulah sebabnya saya belum mengambil tindakan.”

Keisha tiba-tiba berbicara.

“Saya bisa membuktikannya.”

Maya menoleh tajam.

Keisha berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam.

“Saya punya sesuatu.”

Sore itu, mereka bertiga duduk di ruang rapat kecil.

Keisha membuka laptop pribadinya.

“Saya minta maaf, Kak Maya.”

“Untuk apa?”

Keisha menarik napas.

“Karena selama ini saya tahu.”

Maya membeku.

“Tahu apa?”

“Hubungan Kak Maya dengan Pak Dimas.”

Keisha menunjukkan beberapa percakapan.

Dimas sering meminta Keisha mengatur jadwal agar Maya dan dirinya tidak terlihat datang atau pulang bersamaan.

Ada pula pesan yang jauh lebih buruk.

Pastikan Maya tidak meninggalkan barang di apartemen. Ibu datang Minggu.

Pesan lain dikirim enam bulan sebelumnya.

Kalau Maya tanya soal promosi regional, bilang prosesnya masih ditunda.

Padahal promosi itu sudah dibatalkan sejak delapan bulan lalu.

Maya menutup mulutnya.

Janji yang membuatnya bertahan ternyata sudah lama mati.

“Kenapa kamu baru menunjukkan ini?”

Keisha menunduk.

“Karena saya juga dibohongi.”

Ternyata setahun terakhir, Dimas mendekati Keisha secara pribadi.

Ia mengatakan hubungannya dengan Maya sudah berakhir sejak lama.

Dimas bahkan memperkenalkan Keisha kepada ibunya sebagai calon pasangan yang serius.

Pesta ulang tahun di apartemen itu bukan sekadar perayaan.

Malam itu, ibu Dimas seharusnya datang membawa sebuah cincin.

Namun penerbangannya dari Surabaya tertunda.

Keisha baru mengetahui kebenaran setelah Maya pergi dan salah seorang rekan kantor mempertanyakan mengapa Maya terlihat begitu terpukul.

“Saya pikir Kak Maya mantan pacarnya,” ujar Keisha dengan mata berkaca-kaca.

“Pak Dimas bilang Kak Maya tidak bisa menerima perpisahan.”

Maya tidak marah kepada Keisha.

Anehnya, ia justru merasa iba.

Mereka bukan dua perempuan yang sedang memperebutkan satu laki-laki.

Mereka adalah dua perempuan yang ditempatkan dalam cerita berbeda oleh laki-laki yang sama.

Investigasi internal berlangsung hampir tiga minggu.

Semakin banyak hal terungkap.

Dimas ternyata sengaja menahan rekomendasi promosi Maya dua kali.

Bukan karena kinerjanya buruk.

Sebaliknya.

Maya mendapat nilai evaluasi tertinggi di tim.

Dalam surel kepada direktur sebelumnya, Dimas menyebut Maya belum siap memimpin proyek regional karena “kurang stabil dalam tekanan”.

Padahal pada periode yang sama, Maya berhasil menyelamatkan proyek Cikarang dari keterlambatan hampir dua bulan.

Alasannya baru diketahui kemudian.

Jika Maya dipromosikan, ia akan pindah divisi.

Dan jika pindah divisi, Dimas kehilangan alasan untuk terus mengatakan mereka harus menyembunyikan hubungan.

Selama ini Dimas bukan sedang menunggu waktu yang tepat.

Ia sengaja memastikan waktu itu tidak pernah datang.

Sebulan kemudian, hasil investigasi diumumkan.

Dimas dicopot dari jabatan direktur operasional dan kontraknya dihentikan karena pelanggaran konflik kepentingan, manipulasi evaluasi bawahan, serta pemberian informasi palsu dalam investigasi internal.

Maya tidak merasa menang ketika mendengarnya.

Ia hanya merasa lelah.

Beberapa hari setelah Dimas keluar, sebuah pesan masuk.

Dari ibunya.

Maya sempat ingin menghapusnya tanpa membaca.

Namun akhirnya ia membuka pesan tersebut.

Saya ingin bertemu. Ada sesuatu tentang Dimas yang seharusnya kamu tahu.

Mereka bertemu di sebuah kafe di Senayan.

Ibu Dimas datang sendirian.

Wanita itu meletakkan sebuah kotak kecil di meja.

Di dalamnya terdapat cincin.

“Saya membeli ini untuk Keisha,” katanya.

Maya tersenyum tipis.

“Saya tahu.”

“Tapi bukan karena saya tidak menyukaimu.”

Maya terdiam.

Wanita itu mengeluarkan ponsel.

Lalu menunjukkan sebuah foto lama.

Maya dan Dimas.

Diambil dua tahun sebelumnya saat acara perusahaan di Bali.

“Saya sudah tahu tentang kamu sejak dua tahun lalu.”

Jantung Maya serasa berhenti.

“Apa?”

“Dimas bilang kamu yang meminta hubungan kalian dirahasiakan karena kamu malu dengan keluarganya.”

Maya tidak mampu berkata-kata.

“Dia juga bilang kamu tidak mau menikah. Katanya kamu hanya ingin hubungan tanpa komitmen.”

Air mata yang selama sebulan tidak pernah jatuh akhirnya memenuhi mata Maya.

Ternyata bahkan alasan tentang ibunya pun kebohongan.

Dimas menciptakan tembok di antara orang-orang di sekelilingnya, lalu membuat setiap orang percaya bahwa tembok itu dibangun oleh orang lain.

Enam bulan berlalu.

Maya menerima promosi yang selama ini ditahan.

Ia menjadi kepala proyek regional dan pindah ke kantor baru di Jakarta Pusat.

Keisha memilih pindah perusahaan.

Mereka tidak menjadi sahabat dekat, tetapi sesekali masih bertukar kabar.

Suatu sore, Maya menerima sebuah paket kecil di kantor.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat sepasang sandal hotel tipis, gelas kertas, sikat gigi sekali pakai, dan sendok plastik transparan.

Di bawahnya ada secarik kertas.

Aku masih menyimpan semuanya. Aku masih ingat kita. Beri aku satu kesempatan.

Maya mengenali tulisan tangan Dimas.

Ia menatap benda-benda itu cukup lama.

Dulu benda-benda tersebut membuatnya merasa kecil.

Seolah kehadirannya harus cukup ringan untuk dibuang ke tempat sampah setiap pagi.

Maya kemudian mengambil kotak itu dan berjalan menuju pantry.

Di sana, ia membuang semuanya.

Kecuali secarik kertas tadi.

Kertas itu ia lipat dan masukkan ke dompet.

Bukan karena masih mencintai Dimas.

Melainkan karena di belakang tulisan Dimas terdapat kalimat kecil yang ditulis Maya sendiri.

Ia menulisnya sebelum membuang kotak itu.

Jangan pernah tinggal terlalu lama di tempat yang hanya menyediakan ruang untukmu sebagai tamu.

Malam itu Maya pulang ke apartemennya sendiri.

Di depan pintu terdapat rak kecil berisi dua pasang sandal.

Satu untuk dirinya.

Satu lagi untuk siapa pun yang datang berkunjung.

Tidak ada sandal sekali pakai.

Tidak ada gelas kertas.

Tidak ada seprai tambahan untuk menghapus jejak seseorang.

Maya membuka pintu, menyalakan lampu, lalu tersenyum ketika melihat namanya sendiri tertera di surat kepemilikan unit yang baru saja ia tandatangani minggu sebelumnya.

Selama tiga tahun ia menunggu seorang laki-laki memberinya tempat dalam hidupnya.

Pada akhirnya, Maya menyadari sesuatu yang jauh lebih penting.

Ia tidak membutuhkan izin siapa pun untuk memiliki tempat yang benar-benar menjadi miliknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang