“Kalau kamu benar-benar menang,” tanyaku pelan, “kenapa kamu masih perlu memastikan aku mati?”
Di seberang HT, Wulan terdiam.
Hanya satu detik.
Namun satu detik itu cukup untuk membuatku tahu bahwa pertanyaanku tepat mengenai sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
“Apa maksudmu?” suaranya terdengar lebih dingin.

Aku menatap kamera di sudut ruangan. Lampu merahnya masih berkedip teratur meski asap hitam semakin memenuhi langit-langit.
“Kamu sudah dapat selimut tahan api. Dimas menggendongmu turun. Kamu sudah duduk aman di ambulans. Bahkan dia meninggalkan HT supaya kamu tidak merasa sendirian.”
Aku berhenti untuk menarik napas, tetapi paru-paruku terasa seperti diisi serpihan kaca.
“Kalau tujuanmu cuma merebut Dimas, seharusnya sekarang kamu sedang bahagia.”
“Kenapa malah menghubungiku?”
Wulan tertawa kecil.
Kali ini tawanya tidak lagi terdengar manis.
“Mungkin aku cuma mau mendengar suaramu untuk terakhir kali.”
“Begitu?”
“Begitu.”
Aku memejamkan mata.
“Sistem.”
“Saya di sini.”
“Pastikan percakapan HT ini ikut terekam.”
“Seluruh komunikasi frekuensi darurat telah disalin.”
Bagus.
Wulan tentu tidak mendengar percakapanku dengan sistem.
Ia masih terus bicara.
“Mbak Maya, sebenarnya aku sudah lama kasihan sama kamu.”
“Kasihan?”
“Iya. Kamu selalu merasa Dimas mencintaimu hanya karena kalian pacaran lima tahun.”
Ia mendengus pelan.
“Padahal kalau bukan karena kamu menyelamatkan dia waktu kecelakaan dulu, mungkin dia bahkan nggak akan memilihmu.”
Tanganku mengepal lemah.
Lima tahun lalu, Dimas belum menjadi komandan tim penyelamat.
Ia masih anggota junior yang keras kepala dan terlalu berani.
Saat sebuah gudang bahan kimia runtuh dalam operasi penyelamatan, Dimas terjebak di balik beton. Aku yang saat itu bekerja sebagai konsultan keselamatan gedung nekat kembali masuk bersama Arif.
Aku mengalami luka bakar di punggung.
Arif patah tulang rusuk.
Tapi Dimas selamat.
Setelah keluar dari rumah sakit, ia menungguku setiap hari.
Membawakan sarapan.
Mengantar obat.
Bahkan menangis saat mengatakan bahwa ia tidak tahu bagaimana membalas nyawanya kepadaku.
Beberapa bulan kemudian, kami mulai berpacaran.
Dulu aku berpikir cinta kami lahir dari bencana.
Sekarang aku baru sadar mungkin aku terlalu naif.
“Kalau dia nggak mencintaiku,” kataku, “kenapa dia bersamaku selama lima tahun?”
Wulan tertawa.
“Karena rasa bersalah.”
Aku diam.
“Dia pernah bilang sendiri.”
Dadaku terasa jauh lebih sesak daripada ketika asap masuk ke paru-paruku.
“Dia bilang?”
“Katanya kamu kehilangan kesempatan kerja di Singapura karena cedera setelah menyelamatkan dia. Jadi dia merasa bertanggung jawab.”
Wulan berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan suara santai.
“Tapi cinta berbeda dengan tanggung jawab, Mbak.”
“Dan orang yang dicintai Dimas dari dulu itu aku.”
Kalau rasa sakitku masih aktif, mungkin kalimat itu akan terasa seperti pisau.
Anehnya, sekarang aku hanya merasa kosong.
Hitung mundur sistem menunjukkan 13:42.
Kurang dari empat belas menit.
Di luar ruangan terdengar suara benda besar runtuh.
Lantai berguncang.
Beberapa rak arsip roboh dan menimbulkan percikan api.
Aku menahan tubuh agar tidak jatuh.
“Wulan,” panggilku.
“Hm?”
“Kamu tadi bilang kamu sengaja batuk.”
“Iya.”
“Berarti asmamu sebenarnya nggak kambuh?”
Wulan terkekeh.
“Sudah kubilang, kan? Aku hampir nggak menghirup asap.”
“Dimas terlalu gampang panik kalau menyangkut aku.”
“Jadi selama ini?”
Aku membuat suaraku terdengar semakin lemah.
“Selama ini setiap kali asmamu kambuh saat aku bersama Dimas…”
“Sebagian besar pura-pura.”
Ia menjawab tanpa ragu.
Mungkin karena ia benar-benar yakin aku tidak akan hidup cukup lama untuk menceritakannya kepada siapa pun.
“Tapi jangan salah. Aku memang punya asma.”
“Cuma saja aku tahu bagaimana membuat Dimas langsung meninggalkan apa pun.”
Aku tertawa kecil.
Wulan terdengar kesal.
“Kamu tertawa apa?”
“Tidak apa-apa.”
“Cuma baru sadar…”
Aku melihat kamera.
“…ternyata orang bodoh bukan cuma aku.”
“Apa maksudmu?”
Aku tidak menjawab.
Tiba-tiba dari HT terdengar suara gaduh.
Seseorang membuka pintu ambulans.
“Wulan?”
Suara itu milik Arif.
Wulan langsung berubah nada.
“Mas Arif? Kenapa?”
“HT Komandan ada di sini?”
“Iya. Dimas titip.”
“Aku perlu menghubungi Maya.”
Wulan buru-buru menjawab, “Jangan!”
Sunyi.
Aku bahkan bisa membayangkan ekspresi Arif berubah.
“Kenapa?”
“Maksudku…”
Wulan terbata untuk pertama kalinya.
“Mbak Maya mungkin sedang berusaha keluar. Jangan ganggu konsentrasinya.”
Arif tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian, suara Wulan terdengar menjauh.
Sepertinya Arif merebut HT dari tangannya.
“Maya!”
Aku menekan tombol dengan sisa tenaga.
“Arif.”
Napasnya langsung berubah.
“Kamu masih hidup?”
“Untuk sementara.”
“Pintunya bagaimana?”
“Terkunci.”
“Asap?”
“Sudah memenuhi ruangan.”
Di saluran terdengar sumpah pelan.
“Aku naik sekarang.”
“Jangan.”
Arif terdiam.
“Maya, jangan bercanda.”
“Struktur lantai lima hampir runtuh. Kalau kamu naik sendirian, kamu bisa ikut mati.”
“Kalau aku nggak naik, kamu yang mati!”
Aku menatap hitung mundur.
09:51.
Sembilan menit.
“Arif.”
“Dengar.”
“Aku menyimpan rekaman.”
“Apa?”
“Semua ada di cloud.”
“Apa yang dilakukan Dimas. Apa yang dikatakan Wulan. Semuanya.”
Arif terdiam.
Lalu suaranya bergetar.
“Kenapa kamu bicara seperti orang yang mau pamit?”
Aku tersenyum tipis.
Karena itulah kenyataannya.
Tapi sebelum aku sempat menjawab, saluran komunikasi mendadak dipenuhi suara Dimas.
“Arif! Kamu di mana?”
“Di dekat ambulans.”
“Kembali ke zona komando!”
“Aku mau naik ke lantai lima!”
Suara Dimas langsung meninggi.
“Aku sudah bilang jangan!”
“Maya terjebak!”
“Maya selalu bilang dia terjebak!”
Kali ini sesuatu dalam diri Arif akhirnya meledak.
“Dia benar-benar terjebak, Komandan!”
Semua saluran mendadak sunyi.
Arif berteriak, “Pintu ruang arsip macet! Ventilasinya rusak! Asap masuk! Saya baru dengar langsung napasnya!”
Dimas tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian suaranya terdengar lebih pelan.
“Mustahil.”
“Aku sudah cek spesifikasi ruangan itu.”
“Data yang Anda cek tiga tahun lalu!” bentak Arif.
“Gedung ini sudah dua kali gagal audit keselamatan!”
“Laporan terakhir menyebut sistem pintu lantai lima perlu diganti!”
Aku membuka mata.
Apa?
Aku tidak tahu tentang laporan itu.
Arif masih bicara.
“Dan laporan itu sudah masuk ke pusat komando enam bulan lalu!”
“Siapa yang tanda tangan penerimaan?”
Sunyi.
Lalu salah satu anggota tim menjawab pelan.
“Komandan Dimas.”
Untuk pertama kalinya sejak kebakaran dimulai, aku mendengar ketakutan dalam suara Dimas.
“Tidak…”
“Tidak mungkin.”
Suara lain masuk.
“Komandan, saya temukan datanya di sistem.”
“Laporan inspeksi nomor 217-B.”
“Pintu tahan ledakan ruang arsip lantai lima gagal uji mekanisme otomatis.”
“Rekomendasi: dilarang digunakan sebagai ruang perlindungan darurat.”
Arif berkata dengan suara dingin, “Anda tahu.”
Dimas tidak menjawab.
“Enam bulan lalu Anda tahu pintu itu rusak.”
“Aku…”
Dimas terdengar menarik napas.
“Aku lupa.”
Dua kata itu membuatku akhirnya tertawa.
Aku lupa.
Lima tahun.
Ratusan janji.
Puluhan latihan keselamatan.
Dan nyawaku berakhir karena dua kata sederhana.
Aku lupa.
“Maya!”
Kini suara Dimas terdengar panik.
“Maya, jawab aku!”
Aku menatap HT.
Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menjawab.
“Maya!”
“Aku naik sekarang.”
Suara Arif langsung menyela.
“Terlambat!”
“Koridor utara runtuh. Tangga utama sudah tertutup api!”
“Ada akses dari sisi timur!”
“Strukturnya nggak stabil!”
“Diam!”
Dimas berteriak.
“Semua anggota tim tiga ikut aku!”
Aku menekan tombol HT.
“Tidak usah.”
Suara di saluran langsung sunyi.
“Maya…”
Nada Dimas berubah begitu lembut.
Nada yang dulu membuatku percaya ia adalah rumah.
“Maya, dengar aku.”
“Aku akan jemput kamu.”
Aku tersenyum.
“Seperti tadi?”
Dimas tercekat.
“Aku salah.”
“Aku pikir kamu aman.”
“Aku benar-benar nggak tahu ventilasinya rusak.”
“Kamu tahu pintunya rusak.”
“Aku lupa laporan itu!”
“Benar.”
Aku mengangguk meski ia tidak bisa melihat.
“Kamu lupa.”
“Tapi kamu tidak lupa Wulan punya asma.”
Dimas tidak menjawab.
“Kamu tidak lupa membungkus dia dengan satu-satunya selimut tahan api.”
“Kamu tidak lupa menutup pintu supaya percikan api tidak mengenai dia.”
“Kamu juga tidak lupa melarang Arif naik karena takut membuang sumber daya.”
“Maya…”
“Jadi bukan ingatanmu yang bermasalah, Dimas.”
Aku menatap api yang kini tinggal beberapa meter dari tubuhku.
“Hanya saja aku tidak cukup penting untuk diingat.”
Di ujung saluran terdengar suara seperti seseorang jatuh berlutut.
“Maya, maaf.”
Itu pertama kalinya Dimas menangis.
Ironis.
Dulu aku mungkin rela mati hanya agar laki-laki itu tidak menangis.
Sekarang air matanya tidak berarti apa-apa.
Hitung mundur menunjukkan 03:17.
“Sistem.”
“Saya di sini.”
“Apakah program meninggalkan dunia siap?”
“Siap.”
“Maya?” Dimas memanggil lagi.
“Aku mohon.”
“Katakan posisi persis kamu.”
“Aku akan masuk.”
Aku melihat langit-langit yang mulai retak.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau mati sambil menyelamatkanmu untuk kedua kalinya.”
Dimas terdiam.
Kalimat itu mungkin akhirnya menghancurkan sesuatu dalam dirinya.
Aku meletakkan HT di sampingku.
Api menjilat ujung sepatuku.
Tidak ada rasa sakit.
Hanya cahaya.
Sistem mulai menghitung.
“Sepuluh.”
Aku memejamkan mata.
“Sembilan.”
Suara Dimas terus memanggil namaku melalui HT.
“Delapan.”
Aku teringat ibuku yang sudah meninggal ketika aku masih kuliah.
“Tujuh.”
Aku teringat Arif yang selalu memanggilku kakak meskipun kami tidak punya hubungan darah.
“Enam.”
Aku teringat diriku sendiri sebelum mengenal Dimas.
Perempuan yang berani.
Perempuan yang punya mimpi.
Perempuan yang dulu tidak pernah meminta siapa pun memilihnya.
“Lima.”
Ternyata lima tahun terakhir membuatku lupa siapa diriku.
“Empat.”
Aku tersenyum.
“Tiga.”
“Maya!”
“Dua.”
“Program perpindahan dimulai.”
“Satu.”
Dunia menjadi putih.
Tiga hari kemudian, kebakaran gedung pusat dokumentasi Jakarta menjadi berita nasional.
Korban tewas berjumlah enam orang.
Namaku berada di daftar terakhir.
Maya Pramesti, 29 tahun, konsultan keselamatan bangunan.
Dalam laporan resmi awal, tim penyelamat menyebut kematianku sebagai akibat kondisi struktur ekstrem yang membuat evakuasi tidak memungkinkan.
Dimas bahkan memberikan pernyataan kepada media.
Dengan wajah pucat dan mata bengkak, ia mengatakan bahwa aku memilih tetap berada di ruang tahan api karena memahami prosedur keselamatan.
Ia menyebut kematianku sebagai kecelakaan tragis.
Lalu tepat pukul sembilan pagi, rekaman cloud terkirim.
Bukan hanya ke satu media.
Sistem mengirimkannya ke dua belas redaksi nasional, kepolisian, dinas pemadam kebakaran, inspektorat, dan akun surel keluarga para korban.
Dalam waktu satu jam, rekaman itu tersebar.
Video memperlihatkan aku terjebak.
Audio memperdengarkan permintaan tolongku.
Lalu suara Dimas.
“Kamu nggak akan mati cuma karena begini.”
“Kamu bikin drama cemburu.”
“Jangan ada yang naik ke lantai lima.”
Kemudian muncul percakapan Wulan.
“Aku sengaja batuk.”
“Pintu tahan ledakannya benar-benar nggak bisa dibuka, ya?”
Publik meledak.
Dimas langsung dinonaktifkan dari jabatan.
Penyelidikan internal menemukan bahwa laporan kerusakan pintu memang pernah diterimanya.
Lebih buruk lagi, ia bukan hanya lupa.
Enam bulan sebelumnya, ia menunda penggantian sistem karena anggaran tim dialihkan untuk membeli kendaraan operasional baru yang ingin dipamerkan saat ulang tahun instansi.
Ia tahu risikonya.
Ia hanya yakin tidak akan pernah ada keadaan darurat sebesar itu.
Wulan mencoba menyangkal rekaman.
Katanya suara itu hasil manipulasi.
Namun rekaman ambulans, log komunikasi, dan kamera ruang arsip saling cocok.
Tidak ada ruang untuk berbohong.
Seminggu kemudian, Wulan menghilang dari media sosial.
Dimas diperiksa atas dugaan kelalaian berat.
Arif mengundurkan diri dari tim penyelamat.
Tapi cerita itu tidak berakhir di sana.
Karena pada hari yang sama ketika seluruh Indonesia menyaksikan video kematianku, aku membuka mata.
Bukan di rumah sakit.
Bukan di kamar mayat.
Aku berdiri di sebuah apartemen kecil yang menghadap kota.
Tubuhku utuh.
Tidak ada luka bakar.
Tidak ada patah tulang.
Di cermin, wajahku tampak sama.
Namun kalender elektronik di dinding menunjukkan sesuatu yang mustahil.
Tiga tahun sebelum aku bertemu Dimas.
Suara sistem muncul.
“Perpindahan selesai.”
Aku menatap pantulan diriku sendiri.
“Kenapa aku kembali ke masa lalu?”
“Host memilih meninggalkan dunia lama.”
“Sistem tidak pernah mengatakan Host harus meninggalkan kehidupan.”
Aku tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tawaku terasa ringan.
Ponsel di meja bergetar.
Sebuah surel masuk.
Tawaran kerja dari perusahaan keselamatan internasional di Singapura.
Tawaran yang dulu kutolak karena beberapa tahun kemudian aku terluka saat menyelamatkan Dimas.
Di kehidupan sebelumnya, aku kehilangan kesempatan itu.
Di kehidupan ini, aku menekan tombol balas.
“Saya menerima.”
Tiga tahun kemudian, aku kembali ke Jakarta sebagai direktur regional perusahaan keselamatan bangunan terbesar di Asia Tenggara.
Hari pertama konferensi nasional keselamatan kebakaran, seorang anggota tim penyelamat muda menghampiriku.
Seragamnya masih baru.
Wajahnya belum memiliki bekas luka di alis.
Dimas.
Ia belum mengenalku.
“Tolong lewat sebelah kanan, Bu. Area kiri sedang disterilkan.”
Aku berhenti sebentar.
Ia menatapku sopan.
Tidak ada cinta.
Tidak ada kebencian.
Tidak ada sejarah.
Hanya dua orang asing.
Aku tersenyum tipis.
“Terima kasih.”
Lalu aku berjalan melewatinya.
Tanpa menoleh lagi.
Di pintu konferensi, Arif berdiri membawa dokumen inspeksi.
Begitu melihatku, ia mengangkat tangan.
“Bu Maya, rapat audit sebentar lagi mulai.”
Aku mengangguk dan berjalan ke arahnya.
Di belakangku, Dimas kembali menjalankan tugasnya.
Di dunia ini, mungkin suatu hari ia akan bertemu Wulan lagi.
Mungkin mereka akan jatuh cinta.
Mungkin mereka akan bahagia.
Aku tidak peduli.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang bahkan api tidak mampu mengajariku sebelumnya.
Kesempatan kedua bukan diberikan agar kita bisa membalas orang yang menyakiti kita.
Kesempatan kedua diberikan agar kita tidak lagi menyerahkan hidup kepada orang yang pernah memilih kita sebagai pilihan kedua.
