Kakakku Pernah Hilang Tujuh Jam Setelah Dipanggil Kurir Tengah Malam—Kali Kedua, Aku Menelepon Polisi Sebelum Pintu Dibuka

Empat tahun setelah kakakku melompat dari lantai enam pusat rehabilitasi, aku masih sering terbangun karena merasa mendengar suaranya memanggil namaku.

Setelah Kakak meninggal, Ibu jatuh sakit. Ayah yang tidak pernah berhenti mencari orang yang menghancurkan hidup putrinya mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju kantor polisi. Beberapa bulan kemudian, aku berdiri sendirian di tepi sungai sambil memeluk hadiah ulang tahun yang belum sempat diberikan Kakak kepadaku.

Aku berpikir, kalau semua orang yang kucintai sudah pergi, mungkin aku juga tidak perlu tinggal.

Lalu aku membuka mata.

Aku kembali menjadi Anisa yang berusia delapan tahun.

Dan di depan mataku, Kakak sedang membungkuk memakai sepatu.

Ponselnya terus bergetar.

Kurir makanan memintanya turun.

Dalam kehidupan sebelumnya, itulah terakhir kalinya Kakak keluar rumah sebagai dirinya sendiri.

Aku langsung menelepon polisi.

Sekarang, beberapa menit kemudian, kami berdiri di ruang tamu yang gelap sementara seseorang di luar sedang membongkar kunci pintu.

Sebuah sekrup terlepas dan menggelinding di lantai.

Kali ini, Kakak tidak membujukku lagi.

Dia menyeretku ke dapur, menjatuhkan tubuhnya di balik tembok, lalu berbisik, “Kalau pintunya terbuka, kamu lari ke kamar mandi.”

Aku menggeleng.

“Kita lari bareng.”

“Nisa.”

“Kita lari bareng.”

Suara krek terdengar lagi.

Bagian gagang pintu bergoyang.

Kakak menatapku beberapa detik. Wajahnya pucat, tetapi matanya jauh lebih tenang daripada sebelumnya.

“Oke,” katanya akhirnya. “Bareng.”

Lalu terdengar langkah kaki dari lorong.

Bukan satu orang.

Banyak.

Laki-laki di luar pintu langsung berhenti mengutak-atik kunci.

Seseorang berteriak, “Keamanan gedung!”

Tidak ada jawaban.

“Pak, menjauh dari pintu!”

Detik berikutnya terdengar suara benda jatuh, langkah kaki berlari, lalu teriakan.

“Berhenti!”

Suara sepatu menghantam lantai lorong dengan cepat.

Kakak memeluk kepalaku dan menunduk.

Dari speaker ponsel, petugas operator berkata, “Tetap di dalam. Jangan buka pintu sampai petugas memastikan identitas.”

Aku bahkan tidak berani bernapas lega.

Aku ingat kehidupan sebelumnya.

Kurir palsu itu tidak bekerja sendirian.

Tujuh jam Kakak menghilang.

Ketika ditemukan, dia berada di sebuah bangunan kosong di kawasan industri. Polisi waktu itu menduga pelaku lebih dari satu orang, tetapi tidak pernah mendapatkan bukti cukup.

Aku mencengkeram lengan Kakak.

“Jangan buka.”

“Aku tahu.”

Dua menit kemudian terdengar suara Dimas.

“Rani!”

Kakak langsung berdiri.

Namun aku menarik tangannya.

“Jangan.”

“Nisa, itu Dimas.”

“Suruh dia sebut nama lengkap Kakak.”

Kakak menatapku.

Aku tidak peduli kalau terdengar gila.

Dia mendekati pintu tanpa membukanya.

“Mas, nama lengkapku?”

Dari luar terdengar napas berat.

“Rani Maharani Putri. Lahir dua puluh tiga November. Kalau masih kurang, kamu paling benci daun bawang tapi selalu bilang ke penjual bakso jangan banyak-banyak, padahal maunya nggak pakai sama sekali.”

Untuk pertama kalinya malam itu Kakak hampir tertawa.

“Itu dia.”

Dimas masih belum menyuruh kami membuka pintu.

“Rani, dengarkan. Satu orang diamankan. Ada satu lagi yang kabur lewat tangga darurat. Polisi sedang menyisir gedung. Tunggu.”

Dadaku langsung terasa dingin.

Satu lagi.

Benar.

Aku tidak salah mengingat.

Beberapa menit kemudian listrik kembali menyala.

Dimas masuk bersama dua polisi dan kepala keamanan gedung. Begitu melihat Kakak, dia tidak mengatakan apa pun. Dia langsung menarik Kakak ke dalam pelukannya.

Kakak masih memegang APAR.

“Mas, sesak.”

Dimas melepaskannya sedikit.

“Kamu nggak apa-apa?”

“Masih utuh.”

Baru setelah itu Dimas melihatku.

“Nisa.”

Aku berdiri diam.

Dia berjongkok.

“Kamu yang telepon polisi pertama kali?”

Aku mengangguk.

“Kenapa kamu bilang Kakakmu sebentar lagi akan hilang?”

Semua orang menoleh kepadaku.

Pertanyaan yang kutakuti akhirnya datang.

Aku sudah menyiapkan banyak jawaban di kepala.

Mimpi.

Perasaan buruk.

Aku pernah melihat berita.

Namun ketika melihat wajah Kakak, semua kebohongan terasa terlalu kecil dibandingkan apa yang sudah terjadi.

“Aku pernah mimpi.”

Dimas menunggu.

“Mimpi apa?”

“Kakak turun. Kakak nggak pulang sampai pagi.”

Aku menunduk.

“Terus Kakak jadi takut lift. Takut pintu. Takut orang asing.”

Ruangan mendadak sunyi.

Kakak perlahan berjongkok di depanku.

“Nisa.”

Aku langsung memeluknya.

“Jangan turun malam ini.”

“Kakak nggak turun.”

“Besok juga jangan.”

“Oke.”

“Jangan pernah pergi sendirian.”

Kakak mengusap rambutku.

“Oke.”

Aku mulai menangis.

“Jangan lompat dari gedung.”

Tangannya berhenti.

Semua orang diam.

Aku sadar lagi bahwa aku sudah mengatakan terlalu banyak.

Tetapi Kakak hanya memelukku lebih erat.

“Nggak akan.”

Malam itu polisi membawa laki-laki yang mengaku sebagai kurir ke kantor.

Namanya bukan Dedi.

Namanya Arman.

Akun kurir yang digunakannya ternyata milik seorang pengemudi yang dilaporkan hilang enam hari sebelumnya.

Polisi menemukan motor pengemudi tersebut di sebuah gudang sewaan. Ponsel korban tidak ada.

Yang membuat keadaan menjadi lebih buruk, di dalam mobil yang dipakai Arman ditemukan tali plastik, obat penenang, sarung tangan, beberapa ponsel, dan kartu identitas milik perempuan lain.

Kasus yang awalnya dikira sebagai percobaan pembobolan berubah menjadi penyelidikan besar.

Namun satu pelaku masih belum tertangkap.

Namanya baru kami ketahui tiga hari kemudian.

Fajar.

Dia ternyata pernah bekerja sebagai teknisi kontrak di apartemen kami.

Itulah sebabnya dia tahu lokasi panel listrik.

Dia tahu bentuk kunci pintu.

Dia tahu posisi kamera.

Dan yang paling menakutkan, dia tahu jadwal penghuni.

Selama penyelidikan, polisi memeriksa rekaman CCTV lama.

Mereka menemukan sesuatu yang membuat Dimas datang ke rumah dengan wajah seputih kertas.

Dalam dua minggu terakhir, Fajar sudah beberapa kali muncul di sekitar gedung.

Kadang memakai jaket teknisi.

Kadang helm pengemudi.

Kadang hanya berdiri di minimarket seberang jalan.

Selalu pada jam Kakak pulang kuliah.

Ayah langsung berdiri ketika mendengarnya.

“Dia mengincar anak saya?”

Dimas tidak menjawab cepat.

“Indikasinya begitu.”

Ibu menangis.

Ayah memukul meja.

Aku justru merasa semakin yakin bahwa semua yang terjadi di kehidupan sebelumnya bukan peristiwa acak.

Kakak memang sudah dipilih.

Malam itu bukan pertama kalinya mereka melihatnya.

Hanya pertama kalinya mereka bergerak.

Selama beberapa minggu berikutnya, Ayah tidak mengizinkan kami pergi sendirian.

Dimas hampir setiap hari datang.

Kakak sempat mengeluh rumah terasa seperti kantor polisi.

Namun aku tahu dia juga takut.

Kalau bel pintu berbunyi mendadak, bahunya masih tersentak.

Kalau ada motor berhenti terlalu lama di depan gedung, dia otomatis melihat ke jendela.

Perbedaannya hanya satu.

Kali ini dia tidak menghadapi ketakutan itu sendirian.

Satu bulan kemudian, polisi menangkap Fajar di sebuah rumah kos di Bekasi setelah seorang perempuan mengenali wajahnya dari berita.

Aku mengira setelah itu semuanya selesai.

Ternyata tidak.

Dimas datang lagi membawa satu berkas foto.

“Ada sesuatu yang aneh.”

Ayah menyuruh kami duduk.

Dimas meletakkan foto sebuah mobil di meja.

Mobil hitam.

Aku langsung merasa mual.

Itu mobil yang kuingat.

Dalam kehidupan sebelumnya, kamera gedung merekam Kakak naik ke mobil hitam setelah turun mengambil makanan.

“Mobil ini terdaftar atas nama siapa?” tanya Ayah.

“Bukan Arman. Bukan Fajar.”

Dimas membalik foto berikutnya.

Seorang pria berkemeja putih keluar dari sebuah restoran.

Aku mengenalnya.

Bukan karena pernah bertemu.

Aku mengenalnya dari pemakaman Kakak.

Pria itu pernah datang membawa bunga.

Dia memperkenalkan diri sebagai dokter dari pusat rehabilitasi tempat Kakak dirawat.

Namanya dr. Reza.

Aku berdiri terlalu cepat sampai kursi terjatuh.

“Itu dia.”

Semua orang menoleh.

Dimas menyipitkan mata.

“Kamu kenal?”

Aku gemetar.

“Dia nanti ketemu Kakak.”

“Nanti?”

Aku langsung terdiam.

Kakak memegang tanganku.

“Nisa.”

Air mataku jatuh sebelum aku bisa menghentikannya.

“Dia dokter di tempat Kakak nanti dirawat.”

Wajah Kakak berubah.

Tidak ada seorang pun berbicara.

Akhirnya aku menceritakan semuanya.

Aku menceritakan tujuh jam Kakak menghilang.

Aku menceritakan bagaimana dia pulang tanpa bisa menjelaskan apa yang terjadi.

Aku menceritakan terapi, serangan panik, pusat rehabilitasi, lantai enam.

Aku menceritakan Ibu.

Ayah.

Sungai.

Ketika selesai, aku hampir tidak punya suara lagi.

Aku mengira mereka akan mengatakan aku berbohong.

Ayah malah menangis.

Ibu memelukku.

Kakak duduk membeku.

Dimas adalah orang pertama yang kembali berpikir jernih.

“Kalau yang kamu ingat benar, berarti Reza bukan orang yang muncul setelah kejadian.”

Dia menunjuk foto.

“Dia mungkin sudah terlibat sejak awal.”

Penyelidikan berikutnya berlangsung berbulan-bulan.

Polisi menemukan hubungan antara Reza dan beberapa korban perempuan yang pernah menjalani perawatan di klinik tempatnya bekerja.

Dia menggunakan kondisi psikologis korban untuk membuat kesaksian mereka dianggap tidak konsisten.

Sebagian korban bahkan tidak pernah melapor karena percaya tidak akan ada yang mempercayai mereka.

Arman dan Fajar mencari target.

Reza menyediakan tempat, obat, dan cara untuk menutupi jejak.

Ketika kasus itu akhirnya terungkap, ada tujuh perempuan lain yang datang memberikan kesaksian.

Tujuh.

Angka yang selama bertahun-tahun menghantuiku akhirnya berubah arti.

Bukan lagi tujuh jam Kakak hilang.

Melainkan tujuh perempuan yang akhirnya berani mengatakan mereka pernah menjadi korban.

Reza ditangkap.

Kasusnya memenuhi berita selama berminggu-minggu.

Aku tidak pernah membaca semuanya.

Aku hanya ingin melihat Kakak bangun setiap pagi.

Melihatnya marah karena aku memakai parfumnya.

Melihatnya bertengkar dengan Dimas karena Dimas terlalu protektif.

Melihat Ayah masih mengomel soal listrik apartemen.

Melihat Ibu sehat.

Bertahun-tahun berlalu.

Pada ulang tahunku yang kedelapan belas, Kakak datang membawa sebuah kotak kecil.

“Aku sebenarnya pernah beli ini sepuluh tahun lalu.”

Aku membuka kotaknya.

Di dalamnya ada gelang perak dengan liontin berbentuk bintang kecil.

Tanganku langsung gemetar.

Itu hadiah yang kupeluk ketika masuk ke sungai dalam kehidupan sebelumnya.

“Kok nangis?” tanya Kakak.

Aku memandangnya.

Sekarang dia tiga puluh tahun.

Dia menikah dengan Dimas dua tahun sebelumnya.

Kadang masih takut kalau mendengar bunyi kunci diputar terlalu keras, tetapi dia bisa naik lift sendirian.

Dia bahkan menjadi relawan pendamping korban kekerasan.

Aku memasang gelang itu.

“Kak.”

“Hmm?”

“Dulu Kakak pernah janji harus hidup sampai umur delapan puluh.”

Dia tertawa.

“Kamu masih ingat?”

“Aku serius.”

Kakak memeluk bahuku.

“Iya. Kakak usahakan.”

Malam itu, sebelum pulang, aku berdiri sebentar di depan jendela apartemen.

Di bawah sana, Jakarta penuh cahaya.

Dulu aku mengira aku kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan Kakak.

Bertahun-tahun kemudian aku baru mengerti bahwa malam itu bukan hanya hidup Kakak yang berubah.

Karena satu telepon yang kulakukan sebelum pintu dibuka, tujuh perempuan mendapatkan keadilan.

Ayah tidak pernah mengalami kecelakaan.

Ibu tidak kehilangan semangat hidup.

Dimas tidak kehilangan perempuan yang dicintainya.

Dan aku tidak pernah berjalan masuk ke sungai.

Kakak muncul di belakangku.

“Ngapain melamun?”

Aku menoleh.

“Nggak apa-apa.”

Bel pintu tiba-tiba berbunyi.

Tubuh Kakak refleks menegang sepersekian detik.

Lalu dia menarik napas.

Dimas dari ruang makan berteriak, “Jangan buka dulu. Aku cek kamera.”

Kakak memutar mata.

“Suamiku lebay.”

Namun dia tetap menunggu.

Di layar kamera terlihat seorang kurir perempuan mengangkat kantong makanan.

Kakak baru membuka pintu setelah memastikan semuanya aman.

Sebelum keluar, dia menoleh kepadaku.

“Nisa.”

“Kenapa?”

Dia tersenyum.

“Kali ini Kakak pulang lagi.”

Aku tidak tahu apakah dia benar-benar memahami arti kalimat itu bagiku.

Mungkin tidak.

Tapi aku tersenyum dan menjawab sesuatu yang dulu tidak pernah sempat kukatakan.

“Aku tahu.”

Karena akhirnya, untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, aku benar-benar percaya bahwa Kakakku akan pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang