Pintu lift menutup di belakangku, memisahkan aku dari lantai direksi Pratama Industri dan dari laki-laki yang selama sepuluh tahun kupanggil suami.
Baru ketika angka di layar lift berubah dari 18 menjadi 17, aku menyadari pergelangan tanganku masih terasa sakit akibat cengkeraman Dimas.
Namun anehnya, aku tidak menangis.
Ponselku justru berdering.

Rina.
“Maya, kamu sudah menyerahkan kontraknya?”
Aku menatap bayanganku di dinding lift.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Kontraknya sudah tidak ada.”
Rina terdiam.
“Apa maksudmu?”
“Aku menghancurkannya.”
“Apa?”
Aku menutup mata sebentar.
“Aku menemukan Nadia bersembunyi di bawah meja kerja Dimas.”
Keheningan di ujung telepon berlangsung cukup lama.
Kemudian Rina berkata pelan, “Jangan pulang ke rumah dulu.”
Aku membuka mata.
“Kenapa?”
“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Empat puluh menit kemudian, kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil di kawasan Kuningan.
Rina sudah menungguku dengan laptop terbuka.
Begitu aku duduk, dia tidak bertanya apakah aku baik-baik saja. Mungkin karena dia tahu pertanyaan itu tidak ada gunanya.
Dia hanya memutar layar laptop ke arahku.
“Aku sebenarnya ingin menunggu sampai proyek Pelabuhan Nusantara selesai.”
Di layar terlihat laporan transaksi perusahaan selama delapan bulan terakhir.
Beberapa angka ditandai merah.
“Apa ini?”
“Pembayaran ke tiga perusahaan vendor yang baru terdaftar tahun ini.”
Aku membaca nama-namanya.
PT Nusa Karya Konsultan.
PT Arunika Solusi Mandiri.
PT Karya Sentosa Investama.
Total transaksi hampir Rp87 miliar.
“Untuk apa?”
“Itu masalahnya. Tidak ada pekerjaan yang sebanding dengan nilai pembayarannya.”
Aku menatap Rina.
“Kamu sudah cek?”
“Tiga kali.”
Rina membuka dokumen berikutnya.
“Alamat kantor Arunika adalah virtual office. Nusa Karya terdaftar atas nama sepupu Nadia. Dan Karya Sentosa…”
Dia berhenti.
“Punya siapa?”
“Pemegang saham mayoritasnya Dimas.”
Darahku seperti berhenti mengalir.
“Tidak mungkin.”
“Namanya tidak muncul langsung. Sahamnya dipegang melalui perusahaan lain.”
Rina menatapku serius.
“Aku menemukan ini dua minggu lalu.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Karena aku belum punya bukti lengkap. Dan karena aku takut kamu akan tetap membelanya.”
Kalimat terakhir itu menyakitkan karena benar.
Selama sepuluh tahun, aku terlalu sering mencari alasan untuk Dimas.
Ketika dia tidak pulang, aku mengatakan dia bekerja.
Ketika dia mulai menyembunyikan ponsel, aku menganggapnya urusan perusahaan.
Ketika namaku perlahan dihapus dari sejarah Pratama Industri, aku berkata kepada diriku sendiri bahwa suami istri tidak perlu menghitung jasa.
Ternyata orang yang tidak pernah menghitung justru paling mudah kehilangan semuanya.
Ponselku kembali berdering.
Dimas.
Aku membiarkannya.
Lima detik kemudian dia menelepon lagi.
Lalu lagi.
Pesan mulai masuk.
Maya, kita bicara baik-baik.
Jangan lakukan apa pun sebelum kita bertemu.
Pikirkan karyawan.
Telepon aku.
Pesan terakhir membuatku tersenyum pahit.
Dia tidak menulis pikirkan pernikahan kita.
Dia menulis pikirkan karyawan.
Bahkan setelah tertangkap berselingkuh, yang paling dia takutkan tetap perusahaan.
Aku mengangkat kepala.
“Rina, cari semua transaksi yang berkaitan dengan tiga perusahaan itu.”
“Aku sudah mulai.”
“Jangan gunakan komputer kantor.”
Rina mengangguk.
Malam itu aku tidak pulang.
Aku menginap di apartemen lama milik ibuku yang selama bertahun-tahun dibiarkan kosong.
Sekitar pukul sebelas malam, Dimas datang.
Dia mengetuk pintu selama hampir sepuluh menit.
“Maya, buka.”
Aku berdiri di balik pintu tanpa menjawab.
“Aku tahu kamu di dalam.”
Suara ketukannya berubah menjadi pukulan.
“Aku sudah memecat Nadia.”
Aku akhirnya membuka pintu.
Dimas berdiri dengan wajah lelah.
“Kamu memecatnya?”
“Iya.”
“Cepat sekali.”
“Aku ingin menunjukkan bahwa aku memilih kamu.”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu cincin Rp2,2 miliar itu minta kembali.”
Wajahnya berubah.
“Nanti aku urus.”
“Kenapa nanti?”
“Maya, kita sedang bicara tentang pernikahan kita.”
“Tidak.”
Aku menyilangkan tangan.
“Kita sedang bicara tentang ketakutanmu kehilangan orang yang selama ini membereskan semua masalahmu.”
Dia mengembuskan napas kasar.
“Aku sudah mengaku salah. Apa lagi yang kamu mau?”
“PT Nusa Karya Konsultan.”
Wajah Dimas langsung membeku.
Hanya sepersekian detik.
Namun aku melihatnya.
Aku menyebut nama kedua.
“Arunika Solusi Mandiri.”
Dia tidak bergerak.
“Karya Sentosa Investama.”
“Maya, dari mana kamu mendapatkan nama-nama itu?”
Bukan Apa itu?
Bukan Aku tidak tahu.
Pertanyaan pertamanya justru dari mana aku tahu.
Aku tersenyum.
“Jadi memang ada sesuatu.”
Dimas berjalan masuk tanpa kuizinkan dan menutup pintu.
“Dengarkan aku. Beberapa transaksi perusahaan memang harus dilakukan melalui pihak ketiga. Kamu sudah lama tidak berada dalam operasional harian, jadi kamu tidak mengerti.”
“Jelaskan.”
“Itu rumit.”
“Aku punya waktu.”
Dia terdiam.
Aku menatap laki-laki yang dulu kukenal bahkan ketika dia sedang berbohong kecil tentang harga hadiah ulang tahunku.
Sekarang aku hampir tidak mengenal wajah di depanku.
“Apakah uang perusahaan dialihkan ke perusahaanmu sendiri?”
“Bukan begitu.”
“Berapa banyak?”
“Maya.”
“Rp87 miliar?”
Dia mengusap wajah.
“Itu bukan uang yang hilang.”
“Lalu?”
“Investasi.”
“Tanpa persetujuan dewan?”
Dia tidak menjawab.
Aku merasa sesuatu di dalam diriku akhirnya patah.
Bukan karena perselingkuhan.
Bukan karena Nadia.
Melainkan karena aku menyadari Dimas bukan hanya mengkhianati pernikahan kami.
Dia juga sedang menggali lubang di bawah perusahaan yang kubangun bersamanya.
Dan proyek Rp24 triliun yang baru saja kudapatkan akan menjadi uang baru untuk menutup lubang itu.
Itulah sebabnya dia begitu panik ketika kontrak kuhancurkan.
“Aku akan meminta audit independen.”
Dimas langsung mengangkat kepala.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Kalau kabar seperti ini keluar, bank bisa menahan fasilitas kredit kita.”
“Kalau tidak ada masalah, audit tidak akan menemukan apa-apa.”
“Maya!”
Aku menunjuk pintu.
“Keluar.”
“Maya, pikirkan baik-baik.”
“Aku sudah terlalu lama berpikir untuk kepentinganmu.”
Dia berdiri diam.
Kemudian suaranya berubah dingin.
“Kalau kamu memulai audit, jangan salahkan aku kalau semuanya ikut hancur.”
Itu bukan permintaan.
Itu ancaman.
Untuk pertama kalinya malam itu aku benar-benar memahami siapa orang di depanku.
Aku membuka pintu.
“Keluar.”
Dimas pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.
Pukul tujuh pagi berikutnya, aku menerima telepon dari komisaris utama Pratama Industri.
Rapat darurat digelar pukul sepuluh.
Ketika memasuki ruang rapat, aku melihat Dimas sudah duduk di ujung meja.
Di depannya terdapat beberapa dokumen.
Nadia tidak terlihat.
Lima komisaris hadir.
Direktur keuangan juga ada.
Dimas berdiri.
“Karena semuanya sudah hadir, saya ingin langsung membahas persoalan serius.”
Dia menekan remote.
Layar besar menampilkan foto serpihan kontrak.
“Bu Maya menghancurkan kontrak proyek Pelabuhan Nusantara senilai Rp24 triliun karena masalah pribadi.”
Semua mata beralih kepadaku.
Dimas melanjutkan.
“Tindakan emosional tersebut membahayakan kelangsungan perusahaan dan ribuan karyawan.”
Aku hampir kagum.
Dalam waktu kurang dari delapan belas jam, dia berhasil mengubah dirinya dari suami yang tertangkap berselingkuh menjadi direktur utama yang sedang melindungi perusahaan dari istrinya yang tidak stabil.
Salah satu komisaris bertanya, “Bu Maya, benar Anda menghancurkan kontrak?”
“Benar.”
Ruangan langsung gaduh.
Aku menunggu sampai semuanya tenang.
“Tapi kontrak itu belum memiliki stempel final Pratama Industri. Secara hukum proses internal belum selesai.”
Direktur legal mengangguk pelan.
Aku melanjutkan.
“Pihak Pelabuhan Nusantara juga sudah saya hubungi pagi tadi. Mereka bersedia mengirimkan salinan baru setelah persoalan tata kelola internal selesai.”
Dimas mengerutkan kening.
“Kamu menghubungi mereka tanpa persetujuanku?”
“Aku ketua tim negosiasi.”
“Bukan direktur utama.”
“Benar.”
Aku mengeluarkan sebuah map.
“Itulah sebabnya saya datang bukan untuk mengambil alih jabatan Pak Dimas.”
Aku meletakkan map itu di meja.
“Saya datang untuk meminta audit forensik terhadap transaksi senilai Rp87 miliar.”
Wajah direktur keuangan langsung berubah.
Ruangan kembali sunyi.
Aku menyebutkan tiga nama perusahaan.
Ketika nama Karya Sentosa Investama terdengar, salah satu komisaris menoleh kepada Dimas.
“Apa hubungan perusahaan itu dengan Anda?”
Dimas menyandarkan punggung.
“Tidak ada.”
Aku mengeluarkan dokumen berikutnya.
“Kalau begitu mungkin Pak Dimas bisa menjelaskan struktur kepemilikan ini.”
Kertas itu berpindah tangan.
Dimas tidak lagi berbicara.
Dua jam berikutnya menjadi awal kehancuran citra yang dibangunnya selama bertahun-tahun.
Audit sementara menemukan pembayaran tidak wajar.
Beberapa invoice diduga dibuat untuk pekerjaan yang nilainya jauh lebih kecil.
Lebih buruk lagi, sebagian uang jaminan yang kukirim untuk proyek Pelabuhan Nusantara ternyata sudah dipindahkan dari rekening perusahaan.
Dimas diskors dari jabatan direktur utama sampai audit selesai.
Saat keputusan dibacakan, dia menatapku.
Tatapan itu tidak berisi penyesalan.
Hanya kemarahan.
Namun kejutan terbesar datang sore harinya.
Nadia meneleponku.
“Bu Maya, saya ingin bertemu.”
“Aku tidak punya urusan denganmu.”
“Saya punya sesuatu tentang Pak Dimas.”
Aku hampir menutup telepon.
Kemudian Nadia berkata, “Dia tidak cuma membohongi Ibu. Dia juga membohongi saya.”
Kami bertemu di lobi hotel.
Nadia datang tanpa riasan.
Cincin berlian itu sudah tidak ada.
Dia meletakkan flashdisk di meja.
“Ini salinan percakapan dan dokumen yang dia minta saya simpan.”
“Kenapa diberikan kepadaku?”
Matanya merah.
“Karena tadi malam dia bilang semua transaksi bermasalah akan dibuat seolah-olah saya yang mengaturnya.”
Aku terdiam.
“Dia bilang kalau audit menemukan sesuatu, saya harus mengaku menggunakan aksesnya tanpa izin.”
Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat Nadia sebagai perempuan yang bersembunyi di bawah meja suamiku.
Aku melihat seorang perempuan muda yang baru menyadari bahwa laki-laki yang berjanji meninggalkan istrinya ternyata juga sedang menyiapkannya sebagai kambing hitam.
“Apa yang dia janjikan kepadamu?”
Nadia tertawa pahit.
“Katanya setelah proyek Pelabuhan Nusantara cair, dia akan menceraikan Ibu.”
Aku menatapnya.
“Lalu?”
“Kami akan pindah ke Singapura. Dia bilang sudah menyiapkan perusahaan baru.”
“Perusahaan apa?”
Nadia membuka ponselnya.
Ketika nama perusahaan muncul, jantungku berdegup lebih keras.
Karya Sentosa Investama.
Jadi uang perusahaan bukan sekadar dialihkan.
Dimas sedang menyiapkan jalan keluar.
Proyek terbesar dalam sejarah Pratama Industri seharusnya menjadi sumber dana terakhir sebelum dia pergi.
Tiga minggu kemudian, audit selesai.
Total transaksi mencurigakan ternyata bukan Rp87 miliar.
Nilainya lebih dari Rp160 miliar.
Dimas diberhentikan dari jabatan direktur utama.
Kasus transaksi perusahaan diserahkan kepada penasihat hukum dan pihak berwenang untuk diproses sesuai hasil pemeriksaan.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Pelabuhan Nusantara tetap melanjutkan kontrak setelah Pratama Industri melakukan restrukturisasi manajemen.
Namun ada satu hal yang tidak pernah diduga Dimas.
Dewan komisaris memintaku kembali.
Bukan sebagai penasihat strategis.
Mereka menawarkan posisi direktur utama.
Aku menolak pada awalnya.
Sampai seorang pegawai lama mendatangiku setelah rapat.
Namanya Pak Joko.
Dia sudah bekerja sejak kantor kami masih memiliki enam meja.
“Bu Maya,” katanya, “dulu kami semua tahu siapa yang bekerja sampai pagi.”
Aku terdiam.
“Cuma Ibu sendiri yang lama-lama lupa.”
Kalimat itu membuatku berubah pikiran.
Enam bulan kemudian, pembayaran tahap pertama proyek Pelabuhan Nusantara masuk.
Hari itu kantor dipenuhi tepuk tangan.
Anehnya, aku teringat sore ketika aku berdiri di depan mesin penghancur kertas.
Kontrak yang kuhancurkan ternyata tidak menghancurkan perusahaan.
Justru menyelamatkannya.
Malamnya aku pulang ke apartemen.
Saat mencari dokumen di dalam lemari, aku menemukan kotak jam tangan yang dulu ingin kuberikan kepada Dimas pada ulang tahun pernikahan kami.
Aku membukanya.
Jam itu masih berhenti pada pukul 16.20, waktu ketika kontrak pertama ditandatangani.
Aku hampir membuangnya.
Namun akhirnya aku membawanya ke toko.
“Bisa ganti ukiran di belakangnya?” tanyaku.
Petugas mengangguk.
Ukiran lama berbunyi:
Untuk sepuluh tahun kita, dan semua tahun setelahnya.
Aku meminta kalimat itu dihapus.
Sebagai gantinya, kutulis satu kalimat pendek.
Jangan pernah berdiri di belakang seseorang sampai kau lupa bahwa kau juga punya tempat di depan.
Aku tidak pernah memakai jam itu.
Aku menyimpannya di meja kerja direktur utama Pratama Industri.
Bukan sebagai kenangan tentang Dimas.
Melainkan sebagai pengingat tentang diriku sendiri.
Aku pernah berpikir hari ketika menemukan perempuan lain di bawah meja suamiku adalah hari ketika pernikahanku berakhir.
Ternyata aku salah.
Hari itu bukan akhir.
Hari itu adalah pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku berhenti bersembunyi di balik keberhasilan orang lain dan kembali mengambil tempat dalam hidupku sendiri.
