Pintu rumah Bu Ratna tertutup di belakang Livia dengan suara pelan, tetapi bagi Arman, bunyi itu terasa lebih keras daripada bentakan apa pun yang terjadi pagi itu.
Livia tidak menoleh lagi.
Tangannya menggenggam tangan kecil Tania, sementara tangan satunya menarik koper berisi beberapa pakaian, dokumen penting, dan obat-obatan putrinya. Ia bahkan tidak tahu akan tinggal berapa lama di apartemen kecil milik sahabatnya yang sedang kosong. Yang ia tahu hanya satu, malam itu Tania tidak boleh tidur di rumah tempat haknya dianggap bisa diambil hanya karena ia masih terlalu kecil untuk membela diri.

Di dalam mobil, Tania duduk diam sambil memeluk tas berbentuk kelinci.
“Ma, Nenek marah karena uang Tania?”
Pertanyaan itu membuat dada Livia sesak.
Ia mematikan mesin yang baru saja dinyalakan, lalu menoleh ke belakang.
“Bukan karena kamu, Sayang.”
“Tapi uangnya punya Tania, kan?”
Livia terdiam sesaat.
Anak berusia enam tahun itu ternyata memahami lebih banyak daripada yang dipikirkan orang dewasa di rumah tersebut.
“Iya.”
“Kalau punya Tania, kenapa semua orang bertengkar?”
Livia turun dari kursi pengemudi, membuka pintu belakang, lalu memeluk putrinya.
“Karena kadang orang dewasa lupa bahwa sesuatu yang bukan miliknya tetap bukan miliknya, meskipun dia merasa punya alasan yang baik.”
Tania mengangguk meski mungkin belum sepenuhnya mengerti.
Malam pertama di apartemen terasa asing. Tidak ada suara televisi Bu Ratna, tidak ada langkah Arman yang pulang larut, tidak ada komentar tentang cara Livia membesarkan anaknya. Hanya suara AC dan kendaraan dari jalan raya.
Namun, sekitar pukul sebelas malam, ponsel Livia terus bergetar.
Arman menelepon tujuh kali.
Livia baru menjawab panggilan kedelapan.
“Kamu di mana?”
“Tempat yang aman.”
“Liv, jangan seperti ini. Pulang dulu. Kita bicara baik-baik.”
“Kita sudah bicara selama setahun.”
Di seberang terdengar helaan napas panjang.
“Ibu sudah tua. Kamu tahu sifatnya. Kalau kamu pergi begini, semua keluarga bakal menyalahkan kamu.”
“Jadi yang kamu takutkan bukan Tania kehilangan uangnya, tapi aku membuat keluargamu malu?”
Arman tidak menjawab.
Keheningan itu menjadi jawaban yang lebih jelas daripada kata-kata.
Tiga hari kemudian, Arman datang ke apartemen. Wajahnya kusut dan matanya merah seperti kurang tidur. Ia membawa makanan kesukaan Tania dan sebuah boneka baru.
Tania berlari memeluk ayahnya.
Livia tidak melarang.
Apa pun masalah mereka, Arman tetap ayah Tania.
Setelah putrinya tertidur, Arman mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
“Aku bisa transfer dua puluh juta sekarang.”
Livia menatapnya.
“Sisanya?”
“Aku cicil.”
“Uang itu diambil sekaligus.”
“Aku tahu.”
“Lebih dari setahun kamu punya kesempatan mengembalikannya.”
Arman mengusap wajah.
“Aku sedang berusaha.”
Livia menggeleng.
“Masalahnya bukan kamu punya uang atau tidak.”
“Terus apa?”
“Kamu tidak pernah merasa itu utang.”
Arman terdiam.
Kalimat itu mengenai tepat pada sesuatu yang selama ini tidak ingin ia akui.
Jika sejak awal ia benar-benar menganggap Rp65 juta lebih tersebut sebagai uang Tania, ia pasti akan memperlakukannya seperti utang. Ia akan membuat rencana pembayaran, memotong pengeluaran, atau setidaknya meminta ibunya dan Kak Rina ikut bertanggung jawab.
Tetapi selama ini, Arman hanya berjanji agar Livia berhenti marah.
“Aku akan selesaikan,” katanya akhirnya.
“Kapan?”
“Tiga bulan.”
Livia mengangguk.
“Tulis.”
Arman menatapnya tidak percaya.
“Apa?”
“Tulis pernyataan bahwa uang itu milik Tania, jumlahnya Rp65,8 juta, sudah diambil tanpa izin, dan akan dikembalikan paling lambat tiga bulan.”
“Liv, aku suami kamu.”
“Justru karena kamu suamiku, seharusnya aku tidak perlu meminta ini.”
Arman akhirnya menulis.
Dua minggu kemudian, sesuatu yang tidak diduga terjadi.
Dinda datang menemui Livia sendirian.
Gadis itu terlihat jauh berbeda dari ketika berkumpul bersama keluarga. Tidak ada Kak Rina di sisinya, tidak ada Bu Ratna yang menjawab setiap pertanyaan untuknya.
“Aku mau ngomong soal uang les,” katanya gugup.
Livia mempersilahkannya masuk.
Dinda mengeluarkan sebuah map transparan.
“Aku tanya Mama berapa sebenarnya biaya lesku.”
Livia membuka map itu.
Di dalamnya terdapat kuitansi pembayaran tempat bimbingan belajar.
Jumlah totalnya hanya Rp31,5 juta.
Livia membaca angka itu dua kali.
“Ini semuanya?”
Dinda mengangguk.
“Katanya semua pembayaran sudah aku minta salinannya.”
Darah Livia terasa turun ke kakinya.
Jika biaya les Dinda hanya Rp31,5 juta, ke mana sisa lebih dari Rp34 juta?
Dinda menunduk.
“Aku dengar Mama sama Nenek bertengkar dua hari lalu. Mama bilang seharusnya Nenek tidak memakai sisanya untuk menutup utang kartu kredit.”
Livia tidak langsung bereaksi.
“Utang siapa?”
“Nenek.”
Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.
Selama setahun, Bu Ratna selalu menggunakan nama Dinda sebagai alasan. Masa depan Dinda. Pendidikan Dinda. Keluarga harus saling membantu.
Ternyata bahkan alasan itu hanya separuh kebenaran.
“Kenapa kamu kasih ini ke Tante?”
Mata Dinda mulai berkaca-kaca.
“Karena itu uang Tania.”
Ia menelan ludah.
“Aku sudah delapan belas tahun. Kalau seseorang mengambil uangku tanpa izin, aku pasti marah. Jadi aku nggak bisa pura-pura uang Tania boleh diambil cuma karena dia enam tahun.”
Livia memegang tangan gadis itu.
“Kamu tidak salah.”
“Tapi aku menikmati les dari uang itu.”
“Kamu tidak tahu.”
Dinda mengusap air matanya.
“Aku dapat kerja paruh waktu mulai bulan depan. Aku mau ganti bagian biaya lesku pelan-pelan.”
“Tidak.”
Dinda mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Karena orang yang harus bertanggung jawab adalah orang yang mengambil keputusan. Bukan kamu.”
Untuk pertama kalinya sejak masalah itu bermula, Livia merasa ada seseorang dari keluarga Arman yang benar-benar memahami persoalannya.
Malam itu ia mengirim foto kuitansi kepada Arman.
Tidak ada pesan panjang.
Hanya satu pertanyaan.
“Ke mana sisa uang Tania?”
Arman menelepon kurang dari satu menit kemudian.
“Aku nggak tahu soal ini.”
“Cari tahu.”
Keesokan harinya, rumah Bu Ratna kembali menjadi tempat pertengkaran. Kali ini Livia tidak hadir, tetapi Arman datang membawa seluruh kuitansi.
Bu Ratna awalnya menyangkal.
Kemudian ia mengatakan sisanya digunakan untuk kebutuhan rumah.
Setelah Arman terus mendesak, barulah kebenaran keluar.
Beberapa tahun sebelumnya, Bu Ratna memiliki utang kartu kredit dan pinjaman daring akibat terlalu sering membeli barang dengan sistem cicilan. Jumlahnya membengkak karena bunga dan keterlambatan pembayaran.
Ketika melihat uang angpao Tania tersimpan di laci, ia merasa menemukan jalan keluar.
Ia menggunakan Rp31,5 juta untuk les Dinda.
Sisanya untuk membayar utangnya sendiri.
“Daripada bunga terus jalan!” Bu Ratna membela diri. “Nanti juga Ibu ganti.”
Arman menatap ibunya lama.
Kalimat itu terdengar sangat familiar.
Nanti juga diganti.
Kalimat yang sama yang selama setahun ia ucapkan kepada istrinya.
Saat itulah Arman akhirnya memahami mengapa Livia berhenti percaya.
Tiga hari setelah percakapan itu, Bu Ratna menjual sebagian perhiasan emasnya. Arman mencairkan deposito pribadinya dan membatalkan rencana mengganti mobil. Kak Rina, setelah mengetahui kebenaran, bersikeras ikut mengembalikan Rp31,5 juta biaya les Dinda meskipun Livia mengatakan tanggung jawab utama ada pada Bu Ratna.
Dalam waktu kurang dari sebulan, Rp65,8 juta kembali utuh.
Namun, Livia tidak langsung pulang.
Arman datang menemuinya sambil membawa bukti transfer.
“Sudah masuk ke rekening Tania.”
Livia memeriksanya.
Benar.
“Terima kasih.”
Hanya itu.
Arman terlihat kecewa.
“Kamu masih belum mau pulang?”
Livia meletakkan ponselnya.
“Aku pergi bukan cuma karena enam puluh lima juta.”
“Aku tahu.”
“Dulu kamu nggak tahu.”
Arman mengangguk pelan.
“Aku pikir membela Ibu berarti menjadi anak yang baik.”
“Lalu?”
“Ternyata aku cuma membiarkan kamu sendirian menghadapi sesuatu yang seharusnya kita hadapi bersama.”
Untuk pertama kalinya, tidak ada pembelaan dalam suara Arman.
Tidak ada kalimat “Ibu sudah tua”.
Tidak ada “namanya juga keluarga”.
Tidak ada “jangan hitung-hitungan”.
Hanya pengakuan.
Livia akhirnya setuju kembali, tetapi dengan syarat mereka pindah dari rumah Bu Ratna.
Mereka menyewa rumah kecil tidak jauh dari sekolah Tania. Tidak semewah rumah keluarga Arman, tetapi Livia merasa bisa bernapas di sana.
Keuangan rumah tangga dipisahkan dengan jelas. Rekening pendidikan Tania tidak boleh disentuh untuk kebutuhan keluarga. Pengeluaran besar harus dibicarakan berdua.
Bu Ratna tidak datang selama hampir dua bulan.
Ketika akhirnya muncul, ia membawa sekotak jeruk dan berdiri canggung di depan pintu.
Tania yang membukakan.
“Nenek!”
Anak itu langsung memeluknya.
Bu Ratna membeku.
Kemudian tangannya perlahan memeluk tubuh kecil cucunya.
Matanya memerah.
Saat Tania berlari mengambil gambar yang ingin diperlihatkannya, Bu Ratna duduk di ruang tamu tanpa berani menatap Livia.
“Ibu salah,” katanya pelan.
Livia tidak menjawab.
“Waktu melihat uang sebanyak itu, Ibu berpikir Tania belum membutuhkannya. Dinda membutuhkan. Ibu juga punya utang. Ibu pikir nanti bisa dikembalikan sebelum siapa pun sadar.”
Ia tersenyum pahit.
“Ternyata yang paling buruk bukan uangnya.”
Livia menatapnya.
“Tapi karena Ibu merasa berhak.”
Livia tidak mengatakan bahwa semuanya sudah dimaafkan. Kepercayaan tidak kembali hanya karena seseorang meminta maaf.
Namun ia menuangkan teh untuk Bu Ratna.
Itu cukup untuk hari itu.
Setahun kemudian, Imlek kembali datang.
Tania sudah berusia tujuh tahun.
Setelah acara keluarga selesai, ia duduk di lantai kamar bersama Livia dan Arman sambil membuka amplop satu per satu.
“Yang ini dari Nenek!”
Tania membuka amplop merah milik Bu Ratna.
Tidak ada uang di dalamnya.
Hanya selembar kertas kecil.
Livia membacanya.
Nenek sudah mentransfer hadiah Imlekmu langsung ke rekening pendidikanmu. Uang yang diberikan kepadamu adalah milikmu. Nenek tidak akan mengambilnya lagi. Belajar yang rajin, tetapi jangan terlalu cepat besar.
Di bagian bawah ada gambar hati yang dibuat dengan pena merah.
Tania tertawa.
“Nenek sekarang kasih angpao pakai transfer!”
Arman tersenyum, tetapi Livia tidak mengatakan apa-apa.
Ia melipat kertas itu dan memasukkannya kembali ke amplop.
Beberapa hari kemudian, Dinda datang membawa kabar bahwa ia diterima di universitas negeri yang sejak dulu diimpikannya. Ia juga membawa sebuah amplop kecil untuk Tania.
“Ini angpao dari Kak Dinda.”
Tania menerimanya dengan gembira.
Ketika Dinda hendak pulang, Livia menemukan secarik kertas terselip di bawah gelas.
Ada tulisan tangan Dinda.
Tante Livia, dulu aku berpikir keluarga berarti kita harus berbagi apa pun tanpa menghitung. Sekarang aku mengerti, berbagi hanya punya arti kalau orang yang memiliki sesuatu diberi hak untuk berkata iya atau tidak.
Livia membaca kalimat itu dua kali.
Di ruang sebelah, Tania sedang tertawa bersama ayahnya sambil memasukkan uang angpaonya ke celengan kecil. Tidak ada yang merebutnya. Tidak ada yang bertanya uang itu bisa dipakai untuk siapa.
Untuk pertama kalinya, Livia sadar bahwa perjuangannya sejak awal sebenarnya tidak pernah hanya tentang Rp65,8 juta.
Uang itu bisa dicari kembali.
Yang jauh lebih mahal adalah mengajarkan kepada sebuah keluarga bahwa cinta tidak memberi seseorang hak untuk mengambil milik orang lain, dan bahwa seorang anak tetap memiliki hak meskipun suaranya belum cukup keras untuk mempertahankannya sendiri.
Livia menghampiri Tania dan melihat putrinya memasukkan lembar terakhir ke celengan.
“Ma, kalau uang ini punya Tania, Tania boleh kasih sebagian ke orang lain?”
Livia tersenyum.
“Tentu.”
“Kalau Tania nggak mau?”
“Juga boleh.”
Tania berpikir beberapa detik, lalu tersenyum lebar.
“Kalau begitu Tania mau kasih sedikit buat beli hadiah ulang tahun Nenek.”
Arman tertawa.
Livia mencium kepala putrinya.
Dan saat itu ia memahami sesuatu yang selama ini gagal dipahami orang-orang dewasa di keluarga mereka.
Mengajarkan seorang anak bahwa sesuatu adalah miliknya tidak membuat anak itu egois.
Justru ketika haknya dihormati, ia belajar bahwa memberi adalah pilihan yang lahir dari kasih sayang, bukan kewajiban yang dipaksakan oleh orang yang merasa lebih berhak.
