IBU BERUSIA 87 TAHUN DITINGGALKAN PUTRANYA DI PEGUNUNGAN. TUJUH TAHUN KEMUDIAN, PASANGAN ITU KEMBALI DAN SUARA YANG SANGAT MEREKA KENAL TIBA TIBA TERDENGAR HINGGA MEMBUAT KEDUANYA GEMETAR KETAKUTAN

Dedi merasa kedua kakinya kehilangan tenaga.

Suara itu terdengar lagi dari balik pintu gubuk.

“Siapa di luar sana?”

Pelan, serak, dan jauh lebih tua daripada yang tersimpan dalam ingatannya. Namun Dedi mengenali setiap lekuk suara itu. Suara yang dulu membangunkannya sebelum subuh agar tidak terlambat sekolah. Suara yang memanggilnya pulang ketika hujan turun. Suara yang tujuh tahun terakhir berkali-kali datang dalam mimpinya.

Suara ibunya.

Ratih mencengkeram lengan suaminya sampai kukunya menekan kulit.

“Mas… itu…”

“Diam.”

Dedi ingin mundur, tetapi tubuhnya seolah membatu.

Pintu kayu gubuk berderit.

Seorang perempuan tua muncul perlahan sambil bertumpu pada tongkat bambu. Rambutnya seluruhnya putih, tubuhnya jauh lebih kurus, dan punggungnya membungkuk. Wajahnya dipenuhi keriput.

Namun matanya masih sama.

Mata yang dahulu menatap Dedi dengan penuh kasih ketika ia demam semalaman.

Dedi menahan napas.

“I… Ibu?”

Perempuan itu memicingkan mata.

Beberapa detik terasa seperti bertahun-tahun.

Lalu tongkat bambu di tangannya jatuh.

“Dedi?”

Ratih mundur satu langkah.

Bu Marni masih hidup.

Perempuan yang mereka tinggalkan sendirian di pegunungan tujuh tahun lalu kini berdiri di hadapan mereka pada usia 87 tahun.

Dedi membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar.

Bu Marni justru tersenyum tipis.

“Kamu akhirnya kembali.”

Kalimat sederhana itu terasa lebih menakutkan daripada makian.

Dedi jatuh berlutut.

“Ibu…”

Ratih segera menarik bahunya.

“Mas, berdiri.”

Namun Dedi tidak bergerak.

Air matanya mulai jatuh.

“Maafkan aku, Bu.”

Bu Marni menatap putranya cukup lama, lalu mengambil kembali tongkatnya.

“Masuklah. Udara sebentar lagi dingin.”

Tidak ada kemarahan dalam suaranya.

Itulah yang membuat Ratih semakin gelisah.

Bagian dalam gubuk jauh berbeda dari dugaan mereka. Tempat itu memang sederhana, tetapi bersih. Ada kasur tipis, rak kayu berisi beras dan bahan makanan, termos, beberapa botol obat, radio kecil, serta lampu tenaga surya.

Di dinding tergantung beberapa foto.

Salah satunya membuat Dedi terpaku.

Foto Bu Marni bersama seorang lelaki sekitar lima puluh tahun dan dua anak muda. Mereka berdiri di depan sebuah rumah sederhana sambil tersenyum.

“Siapa mereka?” tanya Dedi.

Bu Marni menuangkan air hangat ke tiga gelas.

“Orang-orang yang tidak punya hubungan darah denganku.”

Ia meletakkan gelas di meja.

“Tapi mereka memperlakukanku seperti keluarga.”

Tujuh tahun sebelumnya, setelah Dedi pergi, Bu Marni menunggu sampai malam.

Hujan turun deras. Tubuhnya menggigil dan persediaan singkong yang dibawanya hanya cukup untuk satu hari.

Hari berikutnya, ia mencoba berjalan turun, tetapi terpeleset di lereng dan pergelangan kakinya terluka.

Bu Marni sempat berpikir bahwa hidupnya akan berakhir di sana.

Pada hari ketiga, seorang pencari madu bernama Pak Seno menemukannya dalam keadaan hampir tidak sadarkan diri.

Pak Seno membawa Bu Marni ke rumahnya di desa kecil di sisi lain lereng. Istrinya merawat luka Bu Marni, sementara kedua anaknya bergantian mengantar makanan.

Ketika kondisinya membaik, Pak Seno menawarkan untuk menghubungi keluarganya.

“Aku masih ingat nomor teleponmu waktu itu,” kata Bu Marni sambil menatap Dedi.

Jantung Dedi berdegup keras.

“Lalu kenapa Ibu tidak menelepon?”

Bu Marni tersenyum getir.

“Aku menelepon.”

Ruangan itu langsung sunyi.

Dedi mengangkat wajah.

“Apa?”

“Tiga kali.”

Bu Marni menoleh kepada Ratih.

“Yang menjawab perempuan.”

Wajah Ratih berubah pucat.

Dedi perlahan menoleh kepada istrinya.

“Ratih?”

Ratih buru-buru menggeleng.

“Aku tidak ingat.”

Bu Marni melanjutkan dengan tenang.

“Pertama kali aku bilang, ‘Ini Ibu. Ibu masih hidup.’ Perempuan itu diam lama, lalu telepon ditutup.”

Ratih menggigit bibir.

“Kedua kali,” lanjut Bu Marni, “aku menelepon lagi. Perempuan itu bilang Dedi sudah pindah dan tidak ingin diganggu.”

Dedi berdiri.

“Ratih, kamu yang jawab?”

“Aku bilang aku tidak ingat!”

“Lalu panggilan ketiga?”

Bu Marni menunduk.

“Nomorku sudah diblokir.”

Dedi menatap Ratih seakan baru pertama kali melihat perempuan yang telah hidup bersamanya selama bertahun-tahun.

“Kamu tahu Ibu masih hidup?”

Ratih berdiri cepat.

“Aku panik!”

Jawaban itu menjadi pengakuan.

Dedi membeku.

Ratih mulai menangis.

“Aku takut, Mas. Kalau Ibu kembali, semuanya akan terbongkar. Kita bisa dipenjara. Kamu sendiri yang meninggalkan Ibu di sana!”

“Karena kamu terus mendesakku!”

“Aku memang bicara, tapi kamu yang menyetir mobil! Kamu yang bilang kita tidak mungkin terus membayar obat Ibu!”

“Cukup.”

Suara Bu Marni tidak keras, tetapi keduanya langsung diam.

Bu Marni memandang mereka bergantian.

“Kalian datang bukan untuk mencariku, kan?”

Dedi terdiam.

Ratih juga.

Bu Marni tersenyum kecil.

“Tujuh tahun tidak mencari. Lalu tiba-tiba datang ke tempat ini. Pasti ada alasannya.”

Dedi menundukkan kepala.

Urusan tanah.

Itulah alasan mereka kembali.

Setelah kakak tertua Dedi meninggal, sebidang tanah warisan keluarga di desa akan dijual kepada pengembang. Nilainya mencapai miliaran rupiah.

Namun ada masalah.

Tanah itu masih tercatat atas nama Bu Marni.

Selama bertahun-tahun keluarga menganggap Bu Marni sudah meninggal, tetapi tidak pernah ada jenazah ataupun surat kematian yang sah. Proses penjualan pun tertahan.

Ratih kemudian mengusulkan mereka kembali ke lokasi tempat Bu Marni ditinggalkan.

Bukan karena rindu.

Mereka berharap menemukan sesuatu yang bisa memastikan kematian perempuan tua itu.

Bu Marni mengangguk pelan setelah mendengar pengakuan Dedi.

“Jadi kalian datang mencari tulangku.”

Ratih langsung menangis.

“Bukan begitu, Bu.”

“Kalau aku sudah mati, urusan tanah jadi lebih mudah, bukan?”

Tak ada yang menjawab.

Tiba-tiba terdengar suara mesin kendaraan dari luar.

Ratih menoleh panik ke jendela.

Sebuah mobil berhenti di depan gubuk.

Pak Seno turun bersama seorang lelaki berkemeja rapi dan seorang perempuan membawa tas dokumen.

“Siapa mereka?” tanya Dedi.

Bu Marni berdiri perlahan.

“Aku yang meminta mereka datang.”

Dedi menegang.

“Ibu tahu kami akan datang?”

Bu Marni tidak langsung menjawab.

Ternyata beberapa hari sebelumnya, seorang kerabat di desa telah memberi tahu bahwa Dedi kembali untuk mengurus tanah. Bu Marni sebenarnya sudah lama mengetahui perkembangan keluarganya.

Ia hanya memilih tidak pulang.

Lelaki berkemeja itu memperkenalkan diri sebagai notaris yang membantu Bu Marni mengurus dokumen kepemilikannya. Sementara perempuan yang datang bersamanya adalah pendamping lansia dari sebuah yayasan di Semarang.

Ratih mulai terlihat semakin gugup.

“Untuk apa notaris datang ke sini?”

Bu Marni mengambil sebuah amplop cokelat dari lemari.

“Karena sebelum kalian datang, Ibu sudah mengambil keputusan.”

Ia mengeluarkan beberapa dokumen.

Tanah yang diperebutkan itu tidak akan diberikan kepada Dedi.

Sebagian telah dialihkan untuk sebuah yayasan yang merawat lansia terlantar. Sisanya akan diberikan kepada keluarga Pak Seno, orang-orang yang menyelamatkan hidupnya ketika anak kandungnya sendiri meninggalkannya.

Ratih berdiri.

“Bu, itu tanah keluarga!”

Bu Marni menatapnya.

“Tanah itu milikku.”

“Tapi Dedi anak Ibu!”

“Benar.”

Bu Marni mengangguk.

“Itulah sebabnya aku pernah berniat memberikannya kepada dia.”

Dedi menutup wajah.

Ratih belum menyerah.

“Bu, pikirkan lagi. Nilainya besar. Mas Dedi punya hak.”

Bu Marni tidak menjawab Ratih. Ia justru memandang Dedi.

“Menurutmu juga begitu?”

Lama sekali Dedi diam.

Akhirnya ia menggeleng.

“Tidak.”

Ratih menatap suaminya tak percaya.

“Mas!”

Dedi berdiri dengan mata merah.

“Aku tidak punya hak apa-apa.”

Ia menatap ibunya.

“Bahkan kalau Ibu memberikan semuanya kepadaku, aku tidak pantas menerimanya.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, ekspresi Bu Marni berubah.

Ada kesedihan di matanya.

Dedi kembali berlutut di depan ibunya.

“Aku tidak akan minta tanah itu. Aku cuma ingin Ibu tahu satu hal. Setiap hari selama tujuh tahun aku ingat pagi itu.”

Suaranya bergetar.

“Aku sering membayangkan Ibu duduk sendirian menungguku. Tapi aku pengecut. Semakin lama aku tidak mencari Ibu, semakin takut aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

Ia menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.

“Aku tidak minta Ibu memaafkanku.”

Bu Marni menatap anaknya lama sekali.

Kemudian ia berkata pelan, “Waktu kamu kecil, kamu pernah memecahkan kendi kesayanganku.”

Dedi mengangkat kepala, bingung.

“Kamu sembunyi di bawah tempat tidur karena takut dimarahi.”

Bu Marni tersenyum samar.

“Aku mencarimu ke mana-mana. Begitu ketemu, kamu menangis dan bilang, ‘Bu, kalau Dedi nakal, Ibu masih sayang?’”

Air mata Bu Marni akhirnya jatuh.

“Aku bilang, ibu bisa marah kepada anaknya, kecewa kepada anaknya, tapi hati seorang ibu tidak mudah berhenti mengenali anaknya.”

Dedi menangis semakin keras.

“Tapi apa yang kamu lakukan tujuh tahun lalu bukan kendi pecah, Dedi.”

Kalimat itu menusuk tepat ke dadanya.

“Kamu meninggalkan seorang manusia untuk mati.”

Dedi mengangguk sambil terisak.

“Aku tahu.”

“Aku memaafkanmu agar aku sendiri bisa hidup tanpa membawa kebencian.”

Bu Marni mengusap air matanya.

“Tapi memaafkan bukan berarti menghapus akibat dari perbuatanmu.”

Ratih mendadak berjalan menuju pintu.

“Aku mau pulang.”

Namun sebelum mencapai pintu, perempuan dari yayasan itu berkata, “Sebaiknya Ibu Ratih tetap di sini.”

Ratih berhenti.

“Kenapa?”

Dari luar terdengar kendaraan lain.

Kali ini dua mobil.

Beberapa orang turun.

Dedi mengenali salah satunya sebagai petugas kepolisian dari kecamatan.

Ratih langsung panik.

“Bu, Ibu lapor polisi?”

Bu Marni menggeleng.

“Bukan aku.”

Semua mata tertuju kepada Pak Seno.

Lelaki itu menghela napas.

“Tujuh tahun lalu saya menemukan Bu Marni dalam kondisi terluka dan hampir meninggal. Waktu itu beliau melarang saya membuat laporan karena masih ingin melindungi anaknya.”

Ia memandang Dedi.

“Tapi beberapa bulan lalu, ketika ada orang yang mulai mengurus surat kematian Bu Marni untuk kepentingan tanah, pihak desa menemukan banyak kejanggalan.”

Dedi memucat.

Ratih justru lebih pucat lagi.

Sebab Dedi tidak mengetahui satu hal.

Ratih diam-diam pernah membayar seseorang untuk membantu mengurus surat keterangan seolah Bu Marni telah meninggal.

Dokumen itu kemudian terdeteksi bermasalah.

“Ratih…” suara Dedi nyaris berbisik. “Apa lagi yang kamu lakukan?”

Ratih tidak menjawab.

Petugas meminta keduanya turun ke desa untuk memberikan keterangan.

Sebelum dibawa pergi, Dedi berhenti di depan ibunya.

“Ibu…”

Bu Marni menatapnya.

“Kalau semuanya selesai, boleh aku datang lagi?”

Bu Marni tidak langsung menjawab.

Kabut mulai turun di antara pohon-pohon pinus.

“Datanglah kalau kamu ingin bertemu ibumu.”

Dedi menahan napas.

“Bukan kalau kamu ingin mencari tanah.”

Dedi mengangguk sambil menangis.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum terhadap Ratih terkait dokumen palsu berjalan. Dedi juga harus memberikan keterangan panjang mengenai kejadian tujuh tahun sebelumnya.

Ia tidak mencoba melarikan diri dari tanggung jawab.

Setelah persoalan hukum selesai, Dedi kembali ke lereng Ungaran sendirian.

Kali ini ia tidak membawa dokumen.

Tidak membawa pertanyaan tentang tanah.

Ia hanya membawa satu kantong singkong rebus.

Bu Marni sedang duduk di depan gubuk ketika melihatnya datang.

Dedi meletakkan singkong itu di meja kayu.

“Ibu masih suka?”

Bu Marni memandang kantong tersebut.

Matanya berkaca-kaca.

Tujuh tahun lalu, singkong rebus juga menjadi bekal terakhir yang ia bawa ketika anaknya meninggalkannya.

Bu Marni mengambil satu potong.

“Masih.”

Mereka duduk tanpa banyak bicara.

Beberapa menit kemudian, Dedi menangis diam-diam.

Bu Marni melihatnya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya membelah singkong itu menjadi dua dan memberikan separuh kepada anaknya.

Dedi menerimanya dengan tangan gemetar.

Saat itulah ia memahami sesuatu yang tidak pernah ia pahami selama puluhan tahun menjadi seorang anak.

Warisan terbesar ibunya ternyata bukan tanah.

Bukan rumah.

Bukan uang.

Melainkan kesempatan untuk pulang setelah melakukan kesalahan yang nyaris tidak termaafkan.

Dan kesempatan seperti itu tidak selalu datang dua kali.

Setahun kemudian, Bu Marni meninggal dengan tenang pada usia 88 tahun.

Ketika keluarganya membersihkan gubuk, Dedi menemukan sebuah kotak kecil di bawah tempat tidur. Di dalamnya tersimpan foto dirinya saat masih SD, sebuah kancing seragam sekolahnya, dan secarik kertas dengan tulisan tangan Bu Marni yang sudah gemetar.

Dedi membacanya berulang kali.

“Kalau suatu hari Dedi kembali, jangan katakan bahwa Ibu menunggunya. Bilang saja pintu ini memang tidak pernah Ibu kunci.”

Dedi terduduk di lantai sambil memeluk kertas itu.

Barulah ia sadar mengapa pada hari mereka kembali setelah tujuh tahun, pintu gubuk tersebut terbuka begitu mudah.

Ibunya memang tidak pernah menguncinya.

Bukan karena Bu Marni yakin anaknya pantas dimaafkan.

Melainkan karena sampai hari terakhir hidupnya, seorang ibu tua di lereng Gunung Ungaran masih menyisakan satu jalan pulang bagi anak yang pernah meninggalkannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang