SELURUH KOMPLEKS PERUMAHAN MEWAH ITU GEMPAR KETIKA PENGUSAHA PALING DISEGANI DI KOTA MEMBAWA SEORANG MANTAN PEMBANTU DENGAN TIGA ANAK KE PELAMINAN. KELUARGANYA MENUDUH PEREMPUAN ITU HANYA MENGINCAR HARTA, PARA TETANGGA MENUNGGU PERNIKAHAN MEREKA HANCUR, DAN BAHKAN ANAK-ANAKNYA MULAI MENDAPAT BISIKAN KEJAM DI SEKOLAH. NAMUN BEBERAPA JAM SETELAH PESTA BERAKHIR, SANG SUAMI MELIHAT SESUATU YANG SELAMA BERTAHUN-TAHUN SELALU DISEMBUNYIKAN ISTRINYA. DAN MALAM ITU, UNTUK PERTAMA KALINYA, PRIA YANG TERKENAL TAK PERNAH TAKUT PADA SIAPA PUN JUSTRU TERDIAM SEPERTI MELIHAT MASA LALUNYA SENDIRI BERDIRI DI DEPAN MATA.

Seluruh kompleks perumahan mewah di kawasan Semarang atas itu masih membicarakan pernikahan Bram Wijaya ketika malam telah benar-benar larut.

Sebagian lampu rumah tetangga bahkan belum padam. Di grup percakapan warga, foto-foto resepsi kecil kami masih beredar bersama komentar yang sengaja dibuat seolah bercanda.

Pengusaha sebesar Bram menikahi mantan pembantu.

Janda tiga anak pula.

Pasti ada maunya.

Aku sudah mendengar kalimat yang lebih kejam daripada itu sepanjang hidupku, jadi kupikir aku cukup kuat untuk mengabaikannya.

Ternyata aku salah.

Sebab malam itu, yang mengguncangku bukan omongan orang lain.

Melainkan sebuah foto tua di tangan suamiku sendiri.

Tanganku bergetar ketika membaca tulisan di belakangnya.

12 September 1999.

Terima kasih, Tih Kecil.

Aku menatap Bram tanpa mampu berkata-kata.

Tidak ada seorang pun yang memanggilku Tih Kecil sejak aku berumur sebelas tahun.

Tidak seorang pun kecuali seorang anak laki-laki yang kutemui hanya beberapa jam dalam sebuah malam yang selama bertahun-tahun berusaha kuhapus dari ingatan.

“Dari mana kamu dapat foto ini?” tanyaku akhirnya.

Suara sendiri terdengar asing di telingaku.

Bram tidak langsung menjawab. Ia duduk di ujung tempat tidur seperti kakinya tiba-tiba kehilangan tenaga.

“Jadi benar kamu.”

“Apa yang benar?”

Ia mengangkat gelang kain kusam dari kotak kayu.

“Anak perempuan di terminal lama Ungaran.”

Dunia seolah berhenti.

Aku menatap gelang itu lebih dekat.

Kainnya biru tua, hampir berubah menjadi abu-abu. Di ujungnya ada simpul ganda kecil yang tidak rapi.

Aku mengenal simpul itu.

Aku yang membuatnya.

Tiba-tiba kamar luas itu menghilang dari pandanganku.

Aku kembali menjadi Ratih berumur sebelas tahun, kurus, berkaki telanjang, tinggal bersama ibuku di belakang deretan warung dekat terminal lama.

Malam itu hujan deras.

Ibuku sedang demam, sementara aku pergi membeli obat dengan uang receh yang kusimpan dalam kantong plastik.

Kemudian terdengar suara keras.

Bukan petir.

Ledakan.

Salah satu kios penyimpanan bahan bakar eceran di dekat terminal terbakar. Api merambat cepat karena angin. Orang-orang berteriak dan berlarian.

Di tengah kekacauan, aku melihat seorang anak laki-laki terjebak di lorong belakang sebuah bangunan.

Umurnya mungkin enam belas atau tujuh belas tahun.

Kakinya tertimpa kayu.

Aku masih ingat wajahnya yang penuh jelaga.

“Aku nggak bisa keluar,” katanya waktu itu.

Aku seharusnya lari.

Semua orang berteriak menyuruh menjauh.

Tetapi aku kembali.

Aku menarik tangannya.

Kayu terbakar jatuh di belakangku.

Sesuatu yang panas menyambar punggungku.

Rasa sakitnya membuatku hampir pingsan, tetapi aku tetap menarik anak itu sampai seorang lelaki dewasa datang membantu kami.

Setelah itu ingatanku kabur.

Aku terbangun di klinik kecil dua hari kemudian.

Ibuku menangis di samping tempat tidur.

Kami pergi dari Ungaran tidak lama sesudahnya karena pemilik kontrakan meminta tempat itu dikosongkan setelah kebakaran.

Aku tidak pernah bertemu anak laki-laki itu lagi.

“Namamu waktu itu bukan Bram,” bisikku.

“Bramanto,” jawabnya. “Orang-orang memanggilku Anto.”

Dadaku seperti dipukul.

Anto.

Aku menutup mulut.

Tiba-tiba aku ingat.

Anak laki-laki yang gemetar itu.

Anak yang terus bertanya namaku ketika petugas medis membawa kami ke arah berbeda.

Aku memang mengatakan namaku.

Ratih.

Namun karena aku kecil dan kurus, ia tertawa lemah lalu memanggilku Tih Kecil.

“Ya Allah…” gumamku.

Bram mengusap wajahnya.

“Aku mencarimu.”

Aku menatapnya.

“Bertahun-tahun.”

Ia lalu mengeluarkan potongan koran dari kotak.

Berita kebakaran terminal.

Foto bangunan yang hangus.

Satu paragraf pendek menyebut seorang remaja laki-laki selamat setelah ditolong seorang anak perempuan yang identitasnya tidak diketahui.

“Ayahku membawa aku ke rumah sakit di Semarang malam itu,” kata Bram. “Ketika aku kembali beberapa hari kemudian, tempat tinggalmu sudah kosong. Tidak ada yang tahu kalian pindah ke mana.”

Aku tidak tahu harus merasa apa.

Selama ini luka di punggungku hanyalah bagian buruk dari masa lalu.

Sesuatu yang kusembunyikan karena mantan suamiku dulu pernah mengejeknya.

Katanya perempuan dengan punggung seperti itu tidak pantas memakai baju bagus.

Sejak saat itu aku terbiasa menutupinya.

Bram menatap bekas luka tersebut lagi.

“Ini karena malam itu?”

Aku mengangguk.

Matanya memerah.

Aku belum pernah melihatnya menangis.

Pria yang di depan ratusan karyawan bisa memecat direktur tanpa mengubah ekspresi itu kini menunduk seperti anak kecil.

“Aku hidup karena kamu.”

Aku segera menggeleng.

“Jangan bicara begitu.”

“Ratih, kalau malam itu kamu lari seperti orang lain, aku mungkin sudah mati.”

“Kita sama-sama anak kecil.”

“Tapi kamu kembali.”

Aku mendekatinya.

“Dan kamu sekarang menikah denganku karena merasa berutang?”

Pertanyaan itu keluar sebelum sempat kutahan.

Bram mengangkat kepala.

Aku merasakan ketakutan yang selama ini kusembunyikan akhirnya muncul.

Bagaimana jika seluruh pernikahan ini hanya balas budi?

Bagaimana jika cinta yang kukira tumbuh di antara kami sebenarnya rasa bersalah seorang lelaki kaya kepada seorang anak miskin dari masa lalunya?

“Jawab aku,” kataku.

Bram berdiri.

“Aku bahkan tidak tahu kamu adalah anak itu sampai lima menit lalu.”

Aku menatap matanya mencari kebohongan.

Tidak ada.

“Aku menikahimu karena Ratih yang kukenal sekarang,” lanjutnya. “Perempuan yang mengembalikan uangku. Ibu yang rela tidak makan ayam supaya anak-anaknya bisa makan. Orang yang ketika Naya dirawat masih sempat meminjamkan uang kepada pembantu lain karena anaknya butuh obat.”

Aku terdiam.

“Aku jatuh cinta sebelum mengetahui semua ini.”

Ia mengangkat gelang tua itu.

“Yang ini hanya menjelaskan kenapa sejak pertama melihatmu aku selalu merasa pernah mengenal tatapanmu.”

Air mataku akhirnya jatuh.

Tetapi kebahagiaan malam itu tidak bertahan lama.

Keesokan paginya, ibu Bram datang.

Bu Helena tidak pernah benar-benar menyukai pernikahan kami.

Ia perempuan berusia hampir tujuh puluh tahun yang sangat menjaga nama keluarga. Sejak awal ia menganggapku tidak sepadan.

“Ada yang mau Ibu bicarakan,” katanya tanpa salam panjang.

Bram sedang mengantar Bimo membeli perlengkapan sekolah.

Aku mempersilahkannya duduk.

Bu Helena mengeluarkan map dari tas.

“Aku tahu semalam Bram menemukan sesuatu.”

Aku membeku.

“Bagaimana Ibu tahu?”

“Karena kotak itu milikku sebelum kuberikan kepadanya.”

Ia menatapku tajam.

“Aku tahu anak perempuan yang menyelamatkan Bram bernama Ratih.”

Jantungku berdegup cepat.

“Kalau begitu… Ibu sudah tahu sejak awal?”

“Tidak.”

Ia membuka map.

Di dalamnya ada fotokopi dokumen lama.

“Aku baru curiga beberapa bulan lalu ketika Bram mulai bertanya soal kamu.”

Aku menelan ludah.

“Kenapa Ibu tidak bilang?”

Bu Helena tersenyum tipis.

“Karena aku berharap kamu bukan anak itu.”

Kalimat itu menyakitkan lebih dari hinaan para tetangga.

“Kenapa?”

Ia menarik napas panjang.

“Karena kebakaran malam itu bukan kecelakaan.”

Aku merasa udara dalam ruangan berubah.

Bu Helena mendorong satu lembar dokumen ke arahku.

Itu laporan polisi lama.

Ada nama perusahaan.

Wijaya Transport.

Perusahaan milik ayah Bram.

“Gudang kecil dekat terminal itu dipakai menyimpan bahan bakar secara ilegal,” kata Bu Helena. “Ayah Bram terlibat.”

Aku terpaku.

“Api muncul karena kelalaian pekerja mereka.”

Tanganku mulai dingin.

“Jadi…”

“Luka di punggungmu terjadi karena bisnis keluarga kami.”

Aku tidak mampu menjawab.

Bu Helena menunduk untuk pertama kalinya.

“Ayah Bram membayar beberapa orang supaya masalah itu tidak membesar. Banyak keluarga menerima kompensasi. Tapi ibumu menolak.”

Aku langsung teringat ibu.

Perempuan keras kepala yang selalu mengatakan kami boleh miskin tetapi tidak boleh hidup dari uang yang membuat hati kotor.

“Ibu saya tahu?”

“Dia tahu.”

Bu Helena mengeluarkan surat lama.

Tulisan tangan.

Aku mengenali tulisan ibuku bahkan sebelum membaca nama di bawahnya.

Bu Ratih tidak tahu bahwa keluarga kami pernah menerima surat itu.

Isinya singkat.

Saya tidak membutuhkan uang kalian. Kalau ingin membalas anak saya, pastikan anak kalian tumbuh menjadi orang yang tidak mencari keuntungan dengan membahayakan orang miskin.

Tanganku gemetar.

Ibuku meninggal tujuh tahun lalu.

Ia tidak pernah menceritakan semua ini.

Mungkin karena ingin aku menjalani hidup tanpa kebencian.

Ketika Bram pulang dan membaca dokumen itu, wajahnya mengeras.

“Ibu tahu selama ini?”

Bu Helena diam.

“Ibu tahu Ayah menyebabkan kebakaran itu?”

“Ayahmu sudah memperbaiki banyak hal setelahnya.”

“Dengan uang?”

“Bram…”

“Dengan uang?” bentaknya.

Anak-anak keluar dari kamar.

Dimas berdiri di depan Naya dan Bimo, seolah bersiap melindungi mereka.

Aku segera mendekati Bram.

“Jangan di depan anak-anak.”

Bram menutup mata.

Kemarahannya bukan hanya kepada ibunya.

Ia marah kepada ayahnya yang sudah meninggal.

Kepada kekayaan yang selama ini ia banggakan.

Mungkin juga kepada dirinya sendiri.

Malam itu ia tidak tidur.

Pagi berikutnya, ia membuat keputusan yang membuat seluruh keluarga Wijaya geger.

Ia memanggil pengacara perusahaan.

Sebagian tanah bekas terminal yang masih tercatat sebagai aset perusahaan keluarga akan dilepas.

Hasil penjualannya digunakan untuk membentuk yayasan keselamatan pekerja dan bantuan pendidikan anak keluarga buruh logistik.

Namanya Yayasan Sulastri.

Nama ibuku.

Bu Helena menentangnya.

Adik Bram menuduhku memengaruhinya.

“Belum seminggu menikah, aset keluarga sudah mulai pindah,” sindirnya ketika datang ke rumah.

Dimas mendengar itu.

Untuk pertama kalinya putraku yang biasanya pendiam maju menghadapi orang dewasa.

“Ibu saya nggak pernah minta uang Om Bram.”

Semua orang terdiam.

Dimas melanjutkan dengan suara bergetar.

“Sebelum tinggal di sini, Ibu saya kerja dari pagi sampai malam buat kami. Jadi jangan ngomong seolah-olah kami datang ke rumah ini buat mengambil sesuatu.”

Aku hampir menangis.

Bram berdiri di samping Dimas.

“Mulai hari ini,” katanya kepada keluarganya, “siapa pun yang menghina Ratih atau anak-anak berarti menghina aku.”

Setelah kejadian itu, sesuatu berubah.

Bukan pada para tetangga.

Mereka tetap bergosip.

Bukan pada keluarga Bram.

Sebagian masih mencurigai kami.

Yang berubah adalah anak-anakku.

Dimas mulai berhenti menunduk ketika teman-temannya menyindir.

Naya berani menjawab seorang teman yang menyebut ibunya mantan pembantu.

“Iya, ibuku pernah jadi pembantu. Terus kenapa? Dia membesarkan tiga anak sendirian.”

Bimo bahkan lebih sederhana.

Ketika seorang temannya bertanya apakah Bram ayah barunya karena kami miskin, ia menjawab, “Bukan. Kata Om Bram, dia yang beruntung bisa masuk keluarga kami.”

Beberapa bulan berlalu.

Yayasan Sulastri resmi berdiri.

Pada hari pembukaan, Bram meminta aku berbicara di depan pekerja, wartawan, dan keluarga.

Aku menolak.

“Aku bukan orang penting.”

Bram tersenyum.

“Justru itu masalah kita sejak dulu. Orang hanya menganggap seseorang penting kalau punya jabatan.”

Aku akhirnya berdiri di panggung kecil.

Tidak memakai gaun mahal.

Hanya blus putih dan celana hitam.

Aku menceritakan tentang ibuku.

Tentang menjadi pekerja rumah tangga.

Tentang rasa malu yang sering dipaksakan masyarakat kepada orang miskin seolah bekerja dengan tangan sendiri adalah kehinaan.

Di barisan depan, kulihat Bu Helena.

Ia datang diam-diam.

Setelah acara selesai, ia menghampiriku.

Untuk pertama kalinya sejak kami mengenal satu sama lain, ia memanggil namaku tanpa nada dingin.

“Ratih.”

Aku menoleh.

Ia menyerahkan sesuatu.

Gelang kain biru yang dulu disimpan Bram.

“Aku rasa ini seharusnya kembali kepadamu.”

Aku memegang gelang itu.

Lalu menggeleng.

“Tidak.”

Bu Helena tampak bingung.

Aku berjalan menuju Bimo.

Kupasang gelang tua itu di tangannya meski ukurannya sudah hampir rapuh.

“Kenapa buat Bimo?” tanya Bram.

Aku tersenyum.

“Karena benda ini bukan tentang utang.”

Aku memandang anak-anakku.

“Ini tentang pilihan.”

“Pilihan apa?” tanya Naya.

“Pilihan untuk tetap menjadi manusia baik bahkan ketika tidak ada yang melihat.”

Bram menggenggam tanganku.

Namun kejutan terakhir datang beberapa minggu kemudian.

Seorang staf yayasan menemukan arsip penerima kompensasi kebakaran tahun 1999.

Di antara daftar itu terdapat satu nama yang membuatku terpaku.

Sutrisno.

Nama ayah kandungku.

Lelaki yang selama hidupku dikatakan Ibu telah meninggalkan kami ketika aku masih bayi.

Catatan menunjukkan ia menerima uang sangat besar dari perusahaan Wijaya setelah kebakaran.

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Ibu bilang Ayah pergi sebelum kejadian itu.”

Bram menatap dokumen tersebut.

Berarti ayahku masih berada di sekitar kami saat kebakaran.

Penyelidikan kecil dilakukan.

Dari seorang mantan pegawai perusahaan yang kini sudah tua, kami akhirnya mengetahui kebenaran.

Ayahku bukan korban.

Ia pekerja yang bertugas menjaga penyimpanan bahan bakar malam itu.

Dan dialah yang meninggalkan tempat kerja dalam keadaan peralatan tidak aman.

Setelah kebakaran, keluarga Wijaya memberinya uang untuk diam.

Ia mengambil uang tersebut lalu kabur.

Ibuku mengetahui semuanya.

Itulah alasan ia tidak pernah membicarakan ayahku.

Aku menangis berjam-jam malam itu.

Selama bertahun-tahun aku mengira keluargaku hanya korban keluarga Bram.

Ternyata sejarah manusia tidak pernah sesederhana itu.

Ada kesalahan dari kedua sisi.

Ada orang kaya yang memakai kuasa untuk menutupi dosa.

Ada orang miskin yang memilih uang lalu meninggalkan keluarganya.

Dan di antara semuanya, ada seorang ibu yang memilih tidak mewariskan kebencian kepada anaknya.

“Apa kamu menyesal menikah denganku?” tanyaku pada Bram.

Ia terlihat benar-benar bingung.

“Kenapa aku harus menyesal?”

“Ayahku ikut menyebabkan kejadian yang hampir membunuhmu.”

Bram mendekat.

“Dan ayahku menciptakan sistem yang membuat kejadian itu mungkin terjadi.”

Ia memegang wajahku.

“Kita bukan dosa orang tua kita, Ratih.”

Aku menangis lagi.

Bram tersenyum kecil.

“Kita hanya bertanggung jawab pada pilihan kita sendiri.”

Malam itu aku akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan kemiskinan, luka, maupun penghinaan kepadaku.

Bram tidak datang untuk menyelamatkanku.

Aku juga tidak pernah ditakdirkan menyelamatkan Bram.

Kami hanya dua anak dari masa lalu yang pernah berada di tengah api yang sama, tumbuh dengan luka berbeda, lalu bertemu kembali tanpa menyadarinya.

Dan mungkin cinta memang bukan tentang seseorang datang membawa kehidupan yang lebih mudah.

Kadang cinta hanyalah dua orang yang berani melihat seluruh luka, kesalahan, dan masa lalu satu sama lain, lalu tetap berkata,

Aku tahu semuanya sekarang.

Dan aku masih memilihmu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang