Aris berdiri di tengah taman dengan segelas sampanye di tangan, memamerkan dirinya seolah-olah dialah yang membangun semuanya.
“Selamat datang di rumah kami!” katanya dengan bangga. “Ini hadiah untuk keluarga kecil kami.”
Mia yang mengenakan gaun putih ketat mengusap perutnya sambil tersenyum manis.
“Sebentar lagi bayi kami lahir,” katanya sambil tertawa kecil. “Dan kami akan membesarkannya di rumah terindah di kota.”
Para tamu bertepuk tangan.

Mereka tidak tahu bahwa saya berdiri di seberang jalan, duduk di dalam mobil, sambil melihat semuanya melalui layar tablet yang terhubung ke kamera keamanan rumah.
Saya melihat jam tangan.
Tepat pukul tujuh malam.
Saatnya dimulai.
Aris baru saja mengangkat gelasnya untuk memberikan pidato ketika tiba-tiba semua lampu di rumah mati.
Para tamu terkejut.
“Kenapa listriknya padam?”
“Bukankah ini kawasan elit?”
Aris langsung panik.
Namun beberapa detik kemudian, layar raksasa di ruang keluarga menyala sendiri.
Semua orang menoleh.
Wajah Aris langsung pucat.
Karena yang muncul bukan foto bayi mereka.
Melainkan rekaman kamera apartemen lama kami.
Video yang memperlihatkan Mia duduk di pangkuan Aris sambil menunjukkan foto USG.
“Sudah dua bulan, Mas. Kamu harus segera menceraikan Mbak Lara. Aku ingin kita tinggal di rumah baru yang dia bangun itu.”
Suara Mia terdengar sangat jelas.
Lalu suara Aris.
“Kita akan depak kakakmu dari sana.”
Suasana pesta langsung membeku.
Semua tamu saling berpandangan.
Ibuku yang berdiri di dekat meja makanan hampir menjatuhkan piring dari tangannya.
Ayah saya memandang Mia dengan mata yang tidak percaya.
“Mia…” suara beliau bergetar. “Apa ini?”
Mia langsung berteriak.
“Itu palsu! Itu editan!”
Tetapi video berikutnya muncul.
Kali ini rekaman percakapan mereka di apartemen, yang berhasil saya dapatkan dari kamera keamanan lama.
Aris tertawa.
“Lara terlalu bodoh. Dia yang membangun rumah ini, dan aku akan menikmati semuanya.”
Mia tertawa keras.
“Sejak kecil, aku memang selalu lebih beruntung daripada dia.”
Suara tamu mulai ramai.
“Astaga…”
“Dia selingkuh dengan adik istrinya sendiri?”
“Dan mereka mau merebut rumah kakaknya?”
“Menjijikkan!”
Aris panik.
“Matikan layar itu!”
Tetapi sebelum dia sempat bergerak, pintu depan terbuka.
Tiga orang masuk.
Pengacara saya.
Dua petugas pengadilan.
Dan seorang notaris.
Seluruh taman mendadak sunyi.
Saya melangkah masuk.
Untuk pertama kalinya dalam satu bulan, saya muncul di hadapan mereka.
Mata Mia membelalak.
“Mbak?!”
Aris langsung menghampiri saya.
“Lara! Apa-apaan ini?!”
Saya tersenyum tenang.
“Tidak ada. Aku hanya datang untuk mengambil rumahku.”
Semua orang terdiam.
Aris tertawa mengejek.
“Rumahmu? Ini rumah kita!”
Pengacara saya membuka map.
“Maaf, Pak Aris. Berdasarkan seluruh dokumen kepemilikan dan bukti transfer dana, properti ini secara hukum dimiliki 100% oleh Ibu Lara.”
Senyuman Aris menghilang.
“Apa?”
Notaris melanjutkan.
“Nama Bapak tidak tercantum sebagai pemilik. Tidak pernah.”
Wajah Mia berubah putih.
“Tidak mungkin!”
Saya memandang mereka dengan tenang.
“Kalian benar-benar berpikir aku akan menaruh aset senilai 60 miliar atas nama bersama?”
Aris mulai berkeringat.
“Tapi… aku suamimu!”
“Sampai minggu lalu.”
Saya mengeluarkan satu map lagi.
“Surat gugatan cerai sudah dikabulkan. Dan karena perselingkuhanmu telah terbukti, tidak ada pembagian atas rumah ini.”
Aris seperti kehilangan napas.
“Tidak…”
Namun itu baru permulaan.
Pengacara saya kembali berbicara.
“Selain itu, penghuni rumah ini diwajibkan keluar dalam waktu dua puluh empat jam.”
“APA?!”
Mia berteriak histeris.
“Kami tinggal di sini!”
“Perabotan bayi kami!”
“Kamar kami!”
Saya tersenyum tipis.
“Semua furnitur yang ada di rumah ini dibeli menggunakan rekening perusahaan saya. Secara hukum, semuanya milik saya.”
Mia hampir pingsan.
Aris berlutut.
“Lara… tolong…”
“Jangan lakukan ini.”
“Bagaimanapun, aku suamimu.”
Saya memandang pria yang pernah saya cintai selama lima tahun.
Pria yang berencana mengusir saya dari rumah yang saya bangun sendiri.
Pria yang menghamili adik kandung saya.
Dan saya hanya berkata pelan.
“Justru karena kamu pernah menjadi suamiku, aku memberimu satu bulan untuk menikmati hidup impianmu.”
“Sekarang, waktunya bangun.”
Keesokan paginya, dua truk pindahan berhenti di depan rumah.
Petugas pengadilan mengawasi langsung.
Aris dan Mia menangis sambil memasukkan barang-barang mereka ke dalam kardus.
Tetangga-tetangga kawasan elit yang sebelumnya menyambut mereka dengan ramah kini hanya menonton dari kejauhan.
Video pesta itu telah viral semalam.
Seluruh kantor Aris mengetahuinya.
Keluarga besar kami mengetahuinya.
Semua teman mereka mengetahuinya.
Ayah saya menampar Mia di depan rumah.
“Mulai hari ini, aku tidak punya anak seperti kamu!”
Ibuku menangis sambil memalingkan wajah.
Mia jatuh terduduk.
“Papa…”
Tetapi tak seorang pun membelanya.
Aris sendiri menerima telepon dari kantornya.
Sepuluh menit kemudian, wajahnya semakin pucat.
“Aku dipecat…”
Dia kehilangan pekerjaannya.
Dalam satu malam, mereka kehilangan rumah, reputasi, keluarga, dan masa depan.
Namun mereka masih belum tahu bahwa mimpi buruk mereka baru saja dimulai.
Karena seminggu sebelumnya, seorang wanita asing telah datang menemui saya.
Dan wanita itu membawa seorang anak laki-laki berusia empat tahun.
Dengan hasil tes DNA di tangannya.
Sambil menangis, wanita itu berkata:
“Ibu Lara… saya rasa Bapak Aris juga ayah dari anak saya.”
Dan saat mendengar nama wanita itu…
Saya tersenyum.
Karena saya akhirnya mengerti.
Mia bukanlah satu-satunya wanita yang telah dibohongi Aris.
Dan kali ini…
Saya tidak perlu menghancurkan hidup Aris.
Semua wanita yang pernah dia khianati akan melakukannya untuk saya.
