Dua Anak Pengemis Kecil Mendekati Meja Saya dan Dengan Polos Bertanya

Madam Olivia menggigil hebat. Kedua bocah kecil itu menatapnya dengan mata kebingungan. Mereka belum mengerti mengapa wanita elegan yang baru mereka temui tiba-tiba menangis sambil memeluk mereka seolah tak ingin melepaskannya lagi.

“Ini Mama, Nak… Aku Mama kalian… Mama akhirnya menemukan kalian…”

Lucas dan Leo saling berpandangan.

“Mama?” bisik Lucas pelan.

Leo segera mundur setengah langkah.

“Tidak mungkin…” katanya dengan suara takut. “Mama kami sudah meninggal. Om Rudi bilang Mama meninggalkan kami karena kami anak pembawa sial…”

Kalimat itu seperti pisau yang menusuk jantung Olivia.

“Siapa yang mengatakan itu?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Om Rudi…” jawab Lucas. “Dia bilang kami tidak punya siapa-siapa lagi.”

Olivia memejamkan mata sambil menggenggam tangan kedua anaknya. Air matanya terus mengalir.

Rudi.

Nama itu tidak asing baginya.

Rudi adalah mantan sopir keluarga yang menghilang tepat setelah kecelakaan lima tahun lalu. Polisi saat itu mengira ia juga tewas karena mobil yang terbakar, tetapi jasadnya tak pernah ditemukan.

“Di mana Om Rudi sekarang?” tanya Olivia lembut.

Lucas menggeleng.

“Kami tidak tahu. Sudah hampir setahun dia meninggalkan kami. Dia bilang mencari pekerjaan, tapi tidak pernah kembali.”

“Sejak itu kami tidur di kolong jembatan bersama anak-anak lain,” tambah Leo sambil menunduk. “Kalau lapar, kami mencari makanan sisa dari restoran.”

Olivia tak sanggup mendengarnya.

Selama lima tahun, dua pewaris Imperial Group hidup sebagai pengemis.

Sementara dirinya setiap malam menangis di rumah mewah yang kosong.


“Direktur Olivia?”

Suara panik terdengar dari belakang.

Kevin, kepala pengawal pribadinya, bersama beberapa staf restoran berlari mendekat.

Mereka membeku melihat CEO paling berpengaruh di negeri itu berlutut di tanah sambil memeluk dua anak jalanan.

“Panggil dokter sekarang!” teriak Olivia.

“Dan siapkan mobil!”

“Cepat!”

Sepuluh menit kemudian, iring-iringan mobil mewah Imperial Group berhenti di depan rumah sakit swasta terbaik.

Seluruh direktur rumah sakit terkejut ketika Madam Olivia sendiri menggendong dua anak kurus dan kotor memasuki ruang VIP.

“Periksa semuanya!”

“Tidak peduli berapa biayanya!”

“Pastikan kedua putraku sehat!”

Ruangan mendadak sunyi.

Putraku?

Semua orang saling berpandangan.

Tak seorang pun berani bertanya.


Hasil pemeriksaan membuat Olivia kembali menangis.

Kedua anak itu menderita kekurangan gizi parah.

Tubuh mereka penuh bekas luka lama.

Beberapa tulang rusuk Lucas pernah retak dan tidak ditangani dengan baik.

Leo memiliki bekas luka cambuk di punggungnya.

“Siapa yang melakukan ini?” tanya Olivia dengan suara dingin.

Dokter hanya menggeleng.

“Mungkin akibat kekerasan yang berlangsung lama.”

Saat itu juga, sesuatu dalam diri Olivia berubah.

Tangisan seorang ibu perlahan berubah menjadi amarah.

Dan amarah seorang ibu yang kehilangan anak selama lima tahun…

Adalah sesuatu yang mengerikan.


Malam itu juga, seluruh jaringan Imperial Group bergerak.

Lebih dari tiga ratus investigator swasta dikerahkan.

Puluhan mantan polisi dan ahli keamanan menerima perintah langsung.

“Temukan Rudi.”

“Hidup atau mati.”

“Dan gali semua orang yang terlibat dalam hilangnya Lucas dan Leo.”

Dalam waktu dua belas jam, laporan pertama datang.

Rudi ternyata masih hidup.

Dan yang lebih mengejutkan…

Selama lima tahun ini ia bukan bertindak sendirian.

Di belakangnya ada seseorang yang sangat dikenal Olivia.

Seseorang yang setiap hari menangis bersamanya.

Seseorang yang selama lima tahun berpura-pura membantu mencari kedua anak itu.

Seseorang yang selama ini dianggap keluarga.

Saat Kevin menyerahkan foto-foto hasil penyelidikan, wajah Olivia langsung memucat.

Tangannya gemetar.

“Tidak…”

“Tidak mungkin…”

Wanita dalam foto itu adalah adik iparnya sendiri.

Vanessa Imperial.

Bibi kandung Lucas dan Leo.

Dan di foto berikutnya…

Vanessa sedang menyerahkan sebuah koper penuh uang kepada Rudi.

Tanggal foto itu diambil…

Tepat sehari sebelum mobil para pengasuh disergap lima tahun lalu.

Air mata Olivia berhenti mengalir.

Tatapannya berubah dingin.

Sangat dingin.

Vanessa belum tahu bahwa kedua bocah yang ia buang untuk mati…

Sudah kembali ke pelukan ibu mereka.

Dan ia juga belum tahu…

Bahwa mimpi buruk terbesar dalam hidupnya baru saja dimulai.

(Bersambung…)

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang