Mateo yang tadi tersenyum penuh kesombongan, langsung membeku.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengilap berhenti tepat di depan pintu ballroom. Para tamu saling berbisik. Beberapa wartawan yang diundang untuk meliput pernikahan keluarga kaya itu bahkan ikut menoleh penasaran.
Seorang sopir berseragam putih membuka pintu dengan hormat.
Dan dari dalam mobil itu, keluarlah seorang wanita yang membuat seluruh ruangan seolah berhenti bernapas.
Maya.

Namun Maya yang sekarang bukan lagi wanita sederhana yang dulu diusir di tengah hujan.
Ia mengenakan gaun putih elegan dengan kalung berlian yang sederhana tetapi sangat berkelas. Wajahnya memancarkan ketenangan dan kepercayaan diri yang membuat semua wanita di ruangan itu menoleh kagum.
Di sampingnya berdiri dua anak kecil berusia lima tahun.
Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.
Keduanya memiliki wajah yang sangat mirip dengan Mateo.
“Ya Tuhan…” bisik beberapa tamu.
“Itu… wajah mereka sama persis dengan Mateo!”
Mateo sendiri sampai menjatuhkan gelas sampanyenya.
“Mustahil…” gumamnya.
Cindy langsung memegang lengannya.
“Sayang, siapa anak-anak itu?”
Namun Mateo tak mampu menjawab.
Maya berjalan dengan tenang menuju altar.
Sepatu hak tingginya bergema di seluruh ballroom yang kini sunyi.
Mateo berusaha tersenyum sinis.
“Wah, ternyata kamu masih mampu membeli pakaian bagus. Apa mobil itu mobil sewaan?” ejeknya sambil tertawa.
Beberapa tamu ikut tersenyum kecil.
Tetapi Maya hanya memandangnya dengan tenang.
“Selamat atas pernikahanmu, Mateo.”
Lalu ia menoleh kepada kedua anak itu.
“Nathan, Naira… ucapkan salam kepada ayah kalian.”
Seluruh ballroom langsung gempar.
“Ayah?!”
“Anak-anak itu anak Mateo?!”
Cindy yang sedang memegang perutnya mendadak pucat.
“Apa maksudnya ini?!” teriaknya.
Mateo sendiri seperti tersambar petir.
“Ti-tidak mungkin…”
Maya tersenyum tipis.
“Ketika kau mengusirku lima tahun lalu, aku sebenarnya sedang hamil dua bulan.”
“Aku ingin memberitahumu malam itu. Tapi kau bahkan tidak memberiku kesempatan.”
Mateo terhuyung mundur.
Air matanya hampir keluar.
“Anak-anakku…”
Nathan dan Naira justru bersembunyi di belakang Maya.
Bagi mereka, pria itu hanyalah orang asing.
Cindy mulai panik.
“Kamu bohong! Dia pasti berbohong!”
Namun saat itu seorang pria tua berjas hitam tiba-tiba berdiri dari meja tamu VIP.
Semua orang terkejut.
Pria itu adalah Don Ricardo Lim, salah satu konglomerat paling berpengaruh di Filipina.
Dan yang lebih mengejutkan lagi…
Pria itu berjalan langsung menuju Maya.
Dengan penuh hormat, ia membungkukkan badan.
“Presiden Maya, para direktur sudah tiba. Rapat dengan investor dari Singapura dijadwalkan satu jam lagi.”
BOOM!
Seluruh ruangan seakan meledak.
Presiden Maya?
Investor Singapura?
Para pengusaha yang hadir mulai saling memandang.
“Tunggu…”
“Presiden Maya?”
“Jangan bilang dia adalah…”
Salah satu tamu berdiri dengan mata membelalak.
“Dia CEO Aurora Tech Global!”
“Perusahaan kecerdasan buatan yang baru saja mencapai valuasi 18 miliar dolar!”
“Majalah bisnis Asia bahkan menobatkannya sebagai wanita terkaya termuda tahun ini!”
Suasana langsung berubah.
Para selebritas, pengusaha, bahkan para pejabat yang sebelumnya mengabaikan Maya kini berebut mendekatinya.
Sementara Mateo hanya berdiri membatu.
Dia baru menyadari bahwa wanita yang dulu ia sebut “wanita kampung” ternyata telah menjadi sosok yang jauh melampaui dirinya.
Bahkan kekayaan keluarga Cindy tidak ada apa-apanya dibandingkan kerajaan bisnis Maya.
Wajah Cindy berubah pucat.
“Mateo… kau bilang dia hanya mantan istri miskin!”
Mateo gemetar.
“Aku… aku tidak tahu…”
Namun pada saat itulah, seorang pria muda tampan dengan setelan abu-abu masuk ke dalam ballroom.
Dan ketika pria itu muncul, seluruh direksi perusahaan besar yang hadir langsung berdiri menghormatinya.
“Presiden Adrian!”
Mateo semakin bingung.
Siapa pria ini?
Tetapi yang membuat jantungnya hampir berhenti adalah…
Nathan dan Naira berlari sambil tertawa.
“Papa Adrian!”
Pria itu menggendong kedua anak itu dengan penuh kasih.
Lalu ia berjalan mendekati Maya dan dengan lembut merangkul bahunya.
“Maaf aku terlambat, sayang.”
Mateo merasa tubuhnya lemas.
“Suami… baru?” gumamnya.
Namun Maya tersenyum.
Dan kalimat berikutnya membuat seluruh acara pernikahan itu benar-benar terguncang.
“Tidak, Mateo.”
“Adrian belum menjadi suamiku.”
“Karena selama lima tahun ini…”
“Aku belum pernah berhasil menceraikanmu.”
Seluruh ballroom langsung sunyi.
Dan wajah Cindy seketika berubah menjadi putih seperti kertas…
(Bersambung)
