Bu Teresa tetap berdiri di tempatnya. Jemarinya yang mulai keriput menggenggam erat buku catatan kecil dan kunci lemari tua yang selama bertahun-tahun selalu tergantung di pinggangnya. Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam setelah perpustakaan tutup, wanita itu sering memeriksa rak-rak paling belakang seorang diri, memastikan tidak ada buku yang dimakan rayap atau hilang tanpa jejak.
Namun hari itu, semua pengabdiannya seakan lenyap dalam sekejap.
Para siswa yang biasanya menyapanya dengan hormat kini saling berbisik.
“Apa benar Bu Teresa mencurinya?”
“Katanya hanya beliau yang punya kunci ruang arsip.”
“Kalau bukan dia, siapa lagi?”
Bu Teresa mendengar semuanya.

Tetapi ia tidak membela diri dengan marah.
Ia hanya mengangkat wajahnya perlahan.
“Pak Wali Kota,” katanya pelan, “selama tiga puluh tahun saya menjaga buku-buku ini seperti menjaga anak-anak saya sendiri. Saya tidak pernah mengambil apa pun yang bukan milik saya.”
Renato Villanueva tertawa kecil.
“Kalimat yang bagus. Tapi kata-kata tidak bisa menggantikan bukti.”
Ia lalu memberi isyarat kepada dua orang petugas.
“Periksa semua ruangan. Termasuk meja kerja Teresa.”
Seisi perpustakaan mulai gaduh.
Bu Maria, seorang guru sejarah, tampak tidak nyaman.
“Pak Wali Kota, mungkin kita tidak perlu mempermalukan beliau di depan anak-anak…”
“Tentu perlu!” potong Renato dengan keras. “Mereka harus belajar bahwa hukum berlaku untuk siapa saja.”
Laci meja Bu Teresa dibuka.
Kotak-kotak tua diperiksa.
Rak-rak kecil di belakang mejanya dibongkar.
Tetapi tidak ada apa-apa.
Namun Renato tidak berhenti.
“Masih ada satu tempat lagi.”
Pandangannya tertuju ke sudut paling ujung perpustakaan.
Di sana berdiri sebuah lemari kayu tua yang dipenuhi debu. Lemari itu sudah ada bahkan sebelum Renato menjabat sebagai wali kota. Warnanya kusam, pegangan pintunya berkarat, dan hampir tidak pernah ada orang yang mendekatinya.
“Buka lemari itu,” perintah Renato.
Semua mata langsung mengarah kepada Bu Teresa.
Wanita tua itu terlihat gemetar.
Untuk pertama kalinya sejak tuduhan itu dimulai, matanya dipenuhi air mata.
“Jangan…” bisiknya lirih.
Senyum kemenangan muncul di wajah Renato.
“Aha! Jadi memang ada sesuatu di dalam sana!”
Para anggota dewan mulai saling berpandangan.
Para siswa membelalakkan mata.
Dan beberapa pegawai perpustakaan yang tadi diam mulai mengangguk-angguk, seolah mereka akhirnya mendapatkan bukti.
“Kenapa tidak boleh dibuka?” tanya Renato tajam.
Bu Teresa memejamkan mata sejenak.
“Karena… isi lemari itu bukan milik saya.”
“Kalau begitu lebih baik lagi. Buka sekarang!”
“Tolong…” suara Bu Teresa bergetar. “Ada janji yang harus saya jaga.”
“Janji?” Renato mencibir. “Jangan bicara omong kosong!”
Ia merampas kunci tua dari tangan Bu Teresa.
Wanita itu berusaha menahan.
“Pak Renato, jangan!”
Namun dorongan salah satu anak buah wali kota membuat tubuh Bu Teresa terhuyung hingga hampir jatuh.
Untunglah salah seorang siswa bernama Daniel segera memegang lengannya.
“Bu Teresa!”
“Tidak apa-apa, Nak,” ucap wanita itu sambil memaksakan senyum.
Tetapi seluruh ruangan sudah terfokus pada lemari tua tersebut.
Kunci berkarat diputar.
Suara “krek…”
Lalu pintu kayu itu terbuka perlahan.
Aroma debu dan kertas tua langsung menyebar.
Semua orang menahan napas.
Di dalamnya terdapat beberapa kotak kayu, map-map tua yang mulai menguning, dan di bagian paling atas…
sebuah buku kulit berwarna cokelat tua.
Bu Maria langsung terkejut.
“Itu…!”
Salah seorang anggota dewan membelalak.
“Naskah asli sejarah San Bartolome!”
Ruangan mendadak gempar.
“Jadi benar dia yang menyembunyikannya!”
“Bu Teresa berbohong!”
“Tidak kusangka…”
Renato Villanueva tersenyum puas.
Ia mengambil buku itu dengan kedua tangannya.
“Teresa, sekarang semua orang melihat siapa dirimu sebenarnya.”
Air mata Bu Teresa akhirnya jatuh.
Namun bukan karena takut.
Melainkan karena ia tahu bahwa saat buku itu dibuka…
rahasia yang selama ini ia lindungi tidak akan pernah bisa disembunyikan lagi.
Dengan bangga, Renato membuka halaman pertama buku tersebut di depan semua orang.
Tetapi senyum di wajahnya perlahan menghilang.
Tangannya mulai gemetar.
Karena tepat di halaman pembuka, tertempel sebuah surat tua dengan cap resmi kota yang sudah memudar.
Dan di bawah surat itu…
tertulis sebuah nama yang membuat seluruh darah di wajah Renato seakan menghilang.
Nama itu bukan nama Bu Teresa.
Bukan pula nama salah satu pendiri kota.
Melainkan nama ayah kandung Renato sendiri.
Don Emilio Villanueva.
Di bawah nama tersebut terdapat sebuah tulisan tangan yang sudah berusia puluhan tahun:
“Jika surat ini akhirnya dibaca, berarti aku sudah tidak ada. Dan siapa pun yang menjadi Wali Kota San Bartolome harus mengetahui kebenaran tentang pengkhianatan yang dilakukan keluarga Villanueva kepada pendiri kota ini…”
Begitu membaca kalimat pertama itu, wajah Renato mendadak pucat pasi.
Dan Bu Teresa yang selama ini hanya diam…
akhirnya mengangkat kepalanya.
Lalu untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, wanita pendiam itu berkata dengan suara yang membuat seluruh ruangan terdiam.
“Maafkan saya, Pak Wali Kota…”
“Rahasia yang ayah Anda kubur selama empat puluh tahun… akhirnya memilih untuk keluar sendiri.”
BERSAMBUNG — EPISODE 2: SURAT RAHASIA DARI ORANG MATI DAN DOSA KELUARGA VILLANUEVA
