Perempuan tunawisma di depan rumah sakit itu selalu menangis tiap kali melihatku, lalu meracau: “Bayi di perutmu itu tidak pernah jadi milik suamimu.”

Perempuan tunawisma di depan rumah sakit itu selalu menangis setiap kali melihatku, lalu meracau, “Bayi di dalam kandunganmu itu tidak pernah menjadi milik suamimu.”

Tangannya yang kotor berbau pesing dan obat merah. Dia mencengkeram ujung kardiganku erat sekali.

“Bayi di dalam kandunganmu itu tidak pernah menjadi milik suamimu.”

Air mata membasahi pipinya yang kusam. Aku merinding. Ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini. Satpam rumah sakit langsung berlari dari pos penjagaan.

“Lepaskan Ibu Dokter! Kamu gila, ya!”

Satpam menarik tubuh perempuan itu dengan kasar. Terdengar suara kain robek. Ujung kardiganku koyak, tetapi perempuan itu justru tertawa histeris saat diseret menjauh.

Aku mematung sambil memegangi perutku yang sudah memasuki bulan ketujuh.

Namaku Ratih. Aku dokter anestesi di rumah sakit swasta tempat suamiku, Bram, bekerja sebagai dokter spesialis kandungan. Lima tahun pernikahan kami dipenuhi ruang konsultasi, suntikan hormon, hasil laboratorium, dan kegagalan demi kegagalan.

Sampai akhirnya program bayi tabung kami berhasil.

Setidaknya, itulah yang selama ini kupercaya.

Malam itu Bram pulang terlambat. Saat kusebut perempuan tunawisma tadi, tangannya yang sedang mengusap perutku mendadak berhenti.

“Dia bilang bayi ini bukan milikmu.”

Bram tertawa kecil, tetapi wajahnya kehilangan warna.

“Kamu percaya omongan orang yang bahkan nggak tahu dirinya siapa?”

“Aku nggak bilang percaya.”

“Terus?”

“Aku cuma heran kenapa setiap lihat aku dia selalu bilang kalimat yang sama.”

Bram berdiri.

“Besok aku urus.”

Nada suaranya berubah.

Bukan lagi nada seorang suami yang menenangkan istrinya, melainkan suara dokter senior yang sedang memberi perintah.

Pagi berikutnya, perempuan itu menghilang.

Satpam bilang dia dibawa petugas dinas sosial sebelum subuh.

Aneh.

Aku mencoba melupakan semuanya sampai tiga hari kemudian seorang perawat bernama Siska menghampiriku di kantin.

“Dok Ratih, boleh bicara sebentar?”

Siska bekerja di unit fertilitas. Wajahnya tegang.

“Kenapa?”

Dia melihat sekeliling sebelum menyelipkan secarik kertas ke tanganku.

“Jangan buka di sini.”

Aku semakin bingung.

Di toilet, kubuka kertas itu.

Hanya ada satu kalimat.

Cari pasien bernama Lestari Wulandari. Siklus IVF November tahun lalu.

Darahku seperti berhenti mengalir.

November adalah bulan ketika embrio yang sekarang tumbuh di rahimku ditanamkan.

Aku kembali mencari Siska, tetapi dia sudah pulang.

Malamnya, aku masuk ke sistem rekam medis rumah sakit menggunakan akses kerjaku. Nama Lestari Wulandari memang ada.

Usia tiga puluh satu tahun.

Pasien program fertilitas.

Dokter penanggung jawabnya Bram Pradipta.

Tanganku mulai dingin.

Aku membuka detail kunjungannya.

Programnya dimulai hanya empat hari sebelum programku. Pengambilan sel telur dilakukan pada hari yang sama denganku.

Lalu catatannya berhenti.

Transfer embrio dibatalkan.

Alasan medis.

Tidak ada penjelasan lain.

Keesokan harinya aku mencari Siska.

Dia tidak masuk.

Kepala perawat mengatakan Siska mengajukan cuti mendadak.

Aku meneleponnya berkali-kali sampai malam. Tidak dijawab.

Baru pukul dua pagi sebuah pesan masuk.

Dok, jangan percaya siapa pun di unit fertilitas. Termasuk suami Dokter.

Setelah itu nomor Siska tidak aktif.

Aku tidak tidur semalaman.

Paginya, aku sengaja mengatakan kepada Bram bahwa aku ingin memeriksa arsip embrio kami.

Sendok di tangannya jatuh mengenai piring.

“Buat apa?”

“Aku penasaran.”

“Ratih, kamu dokter anestesi. Kamu tahu rekam medis dan data laboratorium bukan mainan.”

“Justru karena aku dokter, aku tahu pasien berhak mengetahui data medisnya sendiri.”

Tatapan kami bertemu.

Untuk pertama kalinya selama sembilan tahun mengenal Bram, aku merasa sedang menatap orang asing.

Malam berikutnya aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku mengikuti suamiku.

Bram bilang ada operasi darurat. Namun mobilnya tidak menuju rumah sakit.

Dia pergi ke sebuah rumah kos tua di daerah Salemba.

Aku memarkir mobil cukup jauh.

Sepuluh menit kemudian Bram keluar bersama seorang pria berkemeja abu-abu yang kukenal.

Dokter Hendro.

Kepala laboratorium embriologi rumah sakit kami.

Mereka berdebat.

Aku menurunkan sedikit kaca mobil.

“Kamu bilang perempuan itu sudah diamankan,” kata Hendro.

“Dia kabur.”

“Kalau dia sampai ketemu Ratih lagi, habis kita.”

Jantungku berdegup keras.

“Lestari nggak punya bukti,” jawab Bram.

Lestari.

Nama itu membuat tubuhku membeku.

Aku langsung teringat wajah perempuan tunawisma di depan rumah sakit.

Pipi kotor. Rambut kusut. Tatapan seperti orang kehilangan kewarasan.

Apakah dia Lestari?

Aku menunggu sampai Bram pergi, lalu mendatangi rumah kos itu.

Pemilik kos mengenal nama Lestari.

“Yang rambutnya panjang? Kasihan dia, Mbak. Dulu cantik banget.”

“Dia tinggal di sini?”

“Dulu. Setelah bayinya meninggal, dia kayak kehilangan arah.”

“Bayinya?”

Ibu kos itu mengangguk.

“Katanya hamil lewat bayi tabung. Tapi keguguran. Setelah itu suaminya meninggal kecelakaan. Hidupnya berantakan.”

Aku menunjukkan foto perempuan tunawisma yang pernah diam-diam kuambil dari kejauhan.

Wajah ibu kos berubah.

“Iya. Itu Lestari.”

Lututku hampir lemas.

Aku akhirnya menemukan Lestari dua hari kemudian di belakang sebuah minimarket, sekitar tiga kilometer dari rumah sakit.

Dia sedang mengorek tempat sampah.

“Lestari.”

Tubuhnya langsung kaku.

Saat melihatku, dia mundur ketakutan.

“Aku nggak gila.”

“Aku tahu.”

“Kamu bohong.”

“Aku datang sendirian.”

Matanya turun ke perutku.

Lalu dia menangis.

“Bayi saya.”

Dua kata itu menghantam lebih keras daripada apa pun.

Aku memegang perutku refleks.

“Jelaskan.”

Lestari mengeluarkan kalung kecil dari balik bajunya. Di dalam liontin plastik transparan terdapat secarik label yang sudah kusam.

Nama Lestari Wulandari.

Nomor pasien.

Kode embrio.

“Aku mencuri ini dari laboratorium,” katanya.

Dia lalu bercerita.

Setahun lalu Lestari dan suaminya, Arman, mengikuti program IVF. Mereka hanya menghasilkan dua embrio yang layak.

Pada hari transfer, dokter mengatakan embrio mereka mengalami kelainan perkembangan sehingga prosedur dibatalkan.

Tiga minggu kemudian Arman menerima telepon anonim dari seseorang di laboratorium.

Embrio mereka sebenarnya sehat.

Salah satunya telah dipindahkan ke pasien lain.

Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Siapa pasien lain itu?”

Lestari menunjuk perutku.

“Anda.”

Aku mundur.

“Nggak mungkin.”

“Suami Anda yang minta.”

Aku menamparnya.

Refleks.

Lestari tidak membalas.

Dia hanya menangis.

“Kenapa Bram melakukan itu?”

“Karena embrio kalian nggak ada yang bertahan.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku.

Lestari mengatakan Bram mengetahui seluruh embrio kami gagal berkembang. Namun dia tidak sanggup memberitahuku.

Bram kemudian mengetahui bahwa Lestari dan Arman memiliki dua embrio berkualitas sangat baik.

Dengan bantuan Hendro, identitas salah satu embrio ditukar.

Aku membawa Lestari menemui Siska secara diam-diam.

Ternyata Siska adalah orang yang menelepon Arman setahun lalu.

Dia menyimpan salinan log laboratorium sebelum datanya diubah.

Ada kode embrio.

Waktu pemindahan.

Identitas pasien.

Dan tanda tangan digital Hendro.

“Tapi kenapa Lestari sampai seperti ini?” tanyaku.

Siska menunduk.

“Pak Arman mencoba melapor.”

Tiga hari sebelum jadwal pertemuannya dengan direktur rumah sakit, Arman meninggal karena kecelakaan motor.

Polisi menyebutnya kecelakaan biasa.

Lestari yakin bukan.

Aku tidak tahu apakah kecurigaannya benar. Namun satu hal sudah cukup jelas.

Bayi di rahimku bukan berasal dari sel telurku maupun sperma Bram.

Malam itu aku menunggu Bram di rumah.

Aku meletakkan salinan dokumen laboratorium di meja.

Saat melihatnya, wajah Bram langsung pucat.

“Ratih…”

“Jangan bohong lagi.”

Dia terduduk.

Untuk beberapa menit, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar.

Lalu Bram menangis.

“Aku cuma mau kamu bahagia.”

Aku tertawa getir.

“Bahagia?”

“Kamu hampir bunuh diri setelah kegagalan ketiga.”

Aku terdiam.

Itu memang masa tergelap dalam hidupku.

“Aku takut kehilangan kamu.”

“Jadi kamu mencuri anak orang?”

“Aku pikir Lestari masih punya satu embrio lagi. Aku pikir mereka bisa mencoba lagi.”

“Mereka kehilangan semuanya, Bram!”

“Aku salah.”

“Bukan salah. Ini kejahatan.”

Bram berlutut di depanku.

Tangannya hendak menyentuh perutku, tetapi aku mundur.

“Ratih, aku ayahnya. Aku yang menunggu dia. Aku yang bicara sama dia setiap malam.”

Aku menatap pria yang selama bertahun-tahun kucintai.

“Dan Lestari adalah ibunya.”

Tiga minggu kemudian, kasus itu meledak.

Manajemen rumah sakit melakukan audit internal setelah aku menyerahkan bukti. Polisi mulai menyelidiki manipulasi rekam medis dan dugaan pelanggaran prosedur reproduksi berbantu.

Bram dan Hendro dinonaktifkan.

Namun persoalan terbesar justru ada di dalam diriku.

Setiap malam aku merasakan bayi itu bergerak.

Aku mencintainya.

Tetapi setiap tendangannya juga mengingatkanku pada perempuan yang kehilangan hak menjadi ibu karena keputusan suamiku.

Saat kandunganku memasuki minggu ketiga puluh lima, tekanan darahku melonjak.

Dokter memutuskan operasi sesar darurat.

Ketika tangisan bayi memenuhi ruang operasi, aku ikut menangis.

Bayi perempuan.

Kecil.

Sehat.

Cantik.

Aku menamainya Kirana.

Dua hari kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar rawat.

Lestari berdiri di sana.

Sudah mandi. Rambutnya dipotong rapi. Siska membelikannya pakaian bersih.

Dia berhenti beberapa langkah dari tempat tidurku.

Matanya tertuju pada Kirana.

Tangannya gemetar.

Aku menyerahkan bayi itu kepadanya.

Lestari langsung menangis begitu Kirana masuk ke pelukannya.

“Anakku…”

Aku menutup mulut agar isakanku tidak pecah.

Beberapa menit kemudian Lestari mengembalikan Kirana.

“Rawat dia.”

Aku terpaku.

“Lestari…”

“Dia tumbuh mendengar suara kamu. Detak jantung kamu. Dia lahir dari tubuh kamu.”

“Tapi secara biologis…”

“Saya tahu.”

Dia tersenyum di tengah air mata.

“Saya ingin menjadi bagian hidupnya. Tapi saya nggak mau mengambil satu-satunya ibu yang dia kenal.”

Aku menggenggam tangannya.

Untuk pertama kalinya, tangan itu tidak bau pesing ataupun obat merah.

Setahun kemudian, Bram divonis bersalah atas manipulasi data medis dan pelanggaran prosedur bersama Hendro. Penyelidikan atas kematian Arman tidak menemukan bukti cukup untuk menghubungkannya dengan mereka.

Aku menceraikan Bram.

Lestari menjalani rehabilitasi psikologis dan perlahan membangun hidupnya kembali. Dia tidak tinggal bersama kami, tetapi setiap akhir pekan datang menemui Kirana.

Kami tidak pernah memaksa Kirana memilih siapa ibunya.

Aku adalah perempuan yang mengandung dan membesarkannya.

Lestari adalah perempuan yang memberinya kehidupan secara biologis.

Ketika Kirana berusia tiga tahun, suatu sore dia menggambar tiga perempuan dengan krayon di ruang tamu.

Aku menunjuk gambar pertama.

“Ini siapa?”

“Mama Ratih.”

Aku menunjuk gambar kedua.

“Mama Tari.”

Lalu aku menunjuk sosok kecil di tengah.

“Kirana.”

Aku tersenyum.

Namun ada satu gambar laki-laki di sudut kertas.

“Kalau ini?”

Kirana menjawab polos.

“Ayah Arman.”

Aku terdiam.

Aku tidak pernah memperlihatkan foto Arman kepadanya.

Lestari yang sedang duduk di belakangku langsung pucat.

“Kirana tahu Ayah Arman dari mana?”

Kirana menunjuk jendela.

“Dia suka berdiri di sana.”

Aku dan Lestari menoleh bersamaan.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya tirai yang bergerak pelan diterpa angin sore.

Lestari menangis, tetapi kali ini dia tersenyum.

Aku memeluk Kirana erat.

Dulu aku mengira menjadi ibu berarti memiliki seorang anak.

Lestari mengajariku sesuatu yang jauh lebih sulit.

Anak bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki.

Bram kehilangan segalanya karena menganggap cinta memberinya hak untuk mengambil kehidupan orang lain.

Sementara aku dan Lestari akhirnya menjadi keluarga justru ketika kami berhenti bertanya Kirana milik siapa.

Karena pada akhirnya, tidak ada seorang pun di antara kami yang memiliki Kirana.

Kamilah yang diberi kesempatan untuk menjadi miliknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang