Aku sudah tahu suamiku berselingkuh sejak beberapa bulan lalu. Namun, alih-alih melabraknya, aku memilih diam. Menunggu dengan sabar hingga hari anak ini dilahirkan.
Bau rumah sakit selalu bikin mual. Campuran pemutih lantai, alkohol, dan obat bius.
Tapi siang itu, bau tersebut kalah telak oleh wangi Dior Sauvage yang menyengat dari kemeja Raka, suamiku.

Dia menangis. Air matanya menetes pelan ketika memandangi bayi merah yang sedang tidur di dekapanku. Tangisan yang nyaris membuatku tertawa keras kalau saja jahitan operasi di perutku tidak terasa seperti sedang ditarik paksa.
“Dia mirip banget sama aku, Ra.”
Raka membungkuk dan mengecup keningku lama.
“Makasih. Makasih udah kasih aku jagoan.”
Aku menatap matanya. Basah, penuh haru.
Akting yang luar biasa untuk seorang pria yang tadi malam, saat aku mulai kontraksi hebat dan mengalami pendarahan, masih sibuk check-in di sebuah hotel di Jakarta bersama perempuan bernama Anya.
“Iya. Anak kita.”
Suaraku serak.
Ponsel Raka bergetar di atas nakas. Layarnya menyala.
Pak Direktur.
Tapi aku tahu itu bukan Pak Direktur.
Tiga bulan lalu, aku menemukan akun iCloud Raka masih terhubung ke iPad lama yang dia berikan kepadaku. Dari situlah semuanya terbuka. Foto, reservasi hotel, percakapan, transfer uang, sampai kenyataan bahwa Pak Direktur ternyata seorang perempuan berusia dua puluh tujuh tahun yang suka mengirim pesan rindu tengah malam.
“Angkat aja,” kataku.
“Nggak usah. Kerjaan bisa nunggu. Aku mau nemenin kamu.”
“Angkat, Raka. Kasihan. Nanti dia nekat ke sini bikin keributan.”
Tangannya yang sedang mengelus rambut tipis bayi kami langsung berhenti.
Dia menatapku.
“Maksud kamu apa, Ra?”
Aku tersenyum kecil.
“Anya.”
Wajahnya kehilangan warna.
Aku tidak pernah membayangkan satu nama bisa membuat seorang lelaki dewasa tampak seperti baru saja dijatuhi hukuman mati.
“Siapa Anya?”
Aku tertawa pendek.
Perutku langsung nyeri.
“Jangan bikin aku ketawa. Jahitanku masih sakit.”
“Ra, aku serius.”
“Aku juga.”
Pintu kamar terbuka. Seorang perawat masuk untuk memeriksa infusku. Raka langsung diam. Selama beberapa menit, hanya terdengar bunyi monitor dan napas bayi kami.
Begitu perawat keluar, Raka menarik kursi mendekat.
“Sejak kapan kamu tahu?”
Akhirnya.
Tidak ada lagi sandiwara.
“Tiga bulan.”
“Tiga bulan?”
Aku mengangguk.
“Termasuk hotel tadi malam.”
Raka menunduk.
“Aku bisa jelasin.”
“Semua laki-laki selingkuh ternyata sekolah di tempat yang sama, ya? Kalimat pertama selalu itu.”
“Hubunganku sama Anya nggak seperti yang kamu pikir.”
“Kalau begitu aku salah memahami foto kalian berpelukan di kamar hotel?”
Dia terdiam.
Aku menatap bayi di lenganku.
Namanya Arsen.
Kami memilih nama itu lima bulan lalu. Lucunya, Raka yang paling bersemangat mencari nama. Dia membeli ranjang bayi, mengecat kamar, bahkan menempel stiker bintang di langit-langit.
Itulah yang membuat pengkhianatannya terasa begitu kejam.
Raka bukan suami yang berhenti mencintaiku.
Setidaknya begitulah kelihatannya.
Setiap pagi dia masih mencium keningku. Dia mengantar kontrol kandungan. Dia memijat kakiku ketika bengkak. Lalu malamnya, dia bisa mengirim pesan kepada perempuan lain bahwa dia merindukan tubuh dan pelukannya.
Seolah manusia bisa memiliki dua kehidupan tanpa merasa bersalah.
“Kenapa kamu diam?” tanyanya.
“Karena aku sedang hamil tujuh bulan ketika tahu.”
Mataku mulai panas.
“Aku nggak mau anakku lahir karena ibunya stres mengejar laki-laki yang bahkan nggak tahu caranya setia.”
Raka meraih tanganku.
Aku menariknya.
“Jangan sentuh aku.”
“Ra, aku salah.”
“Bukan salah. Salah itu salah kirim pesan. Salah belok. Salah pesan makanan. Kamu menyewa apartemen buat dia selama enam bulan. Itu keputusan.”
Raka memejamkan mata.
“Aku mau mengakhirinya.”
“Kapan?”
“Setelah kamu melahirkan.”
Aku menatapnya lama.
“Kebetulan sekali.”
Ponselnya kembali bergetar.
Pak Direktur.
Kali ini aku mengambilnya lebih dulu.
Raka panik.
“Rara.”
Aku mengangkat panggilan itu dan menyalakan pengeras suara.
“Halo?”
Tidak ada suara selama beberapa detik.
Lalu suara perempuan terdengar.
“Mas?”
Aku menatap Raka.
Dia pucat.
“Ini Rara.”
Sambungan hening.
Aku melanjutkan.
“Istrinya Raka.”
“Maaf, Mbak. Saya salah nomor.”
“Jangan ditutup, Anya.”
Tanganku gemetar, bukan karena takut, tetapi karena akhirnya aku sampai pada titik yang sudah kubayangkan selama berbulan-bulan.
“Aku cuma mau bilang anak kami sudah lahir. Laki-laki. Sehat.”
Anya tidak menjawab.
Lalu terdengar isakan.
Bukan reaksi yang kuduga.
“Maaf, Mbak.”
Aku mengernyit.
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya.”
Sambungan terputus.
Raka langsung mengambil ponselnya.
“Kenapa dia nangis?” tanyaku.
“Nggak tahu.”
“Jangan bohong lagi.”
“Aku benar-benar nggak tahu.”
Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, aku merasa Raka tidak berbohong.
Sebelum aku sempat bertanya lagi, sebuah pesan masuk.
Dari Anya.
Ada foto terlampir.
Aku membukanya.
Darahku seperti berhenti mengalir.
Itu foto hasil USG.
Di bawahnya tertulis usia kandungan dua belas minggu.
Aku menyerahkan ponsel kepada Raka.
Tangannya mulai gemetar.
“Nggak mungkin.”
Kalimat itu keluar begitu pelan.
Aku justru tertawa.
“Nggak mungkin?”
“Dia bilang…”
Raka tidak melanjutkan.
“Dia bilang apa?”
“Dia nggak bisa hamil.”
Aku memalingkan wajah ke jendela.
Jakarta terlihat kelabu setelah hujan. Mobil bergerak seperti titik-titik kecil jauh di bawah.
Aneh sekali.
Aku sudah mempersiapkan diri menghadapi perselingkuhan.
Aku bahkan sudah berkonsultasi dengan pengacara.
Tapi aku tidak pernah mempersiapkan diri menghadapi seorang anak lain.
Raka berdiri.
“Aku harus telepon dia.”
“Silakan.”
“Ra…”
“Keluar.”
“Aku nggak akan ninggalin kamu.”
Aku menatapnya.
“Kamu sudah meninggalkan aku sejak pertama kali masuk ke kamar hotel bersama dia.”
Raka keluar tanpa menjawab.
Begitu pintu tertutup, air mataku akhirnya jatuh.
Aku memeluk Arsen lebih erat.
“Maafin Mama.”
Bayi itu menggeliat kecil.
Aku mencium kepalanya.
“Mama sebenarnya pengin kamu lahir di keluarga yang utuh.”
Malam itu Raka tidak kembali.
Aku tidak mencarinya.
Keesokan paginya, Mama datang membawa bubur ayam dan langsung tahu sesuatu terjadi.
“Kalian berantem?”
Aku menyerahkan ponselku.
Di dalamnya sudah tersimpan seluruh bukti yang kukumpulkan.
Mama membaca beberapa percakapan, lalu duduk diam.
“Kenapa kamu nggak cerita?”
“Karena Mama pasti nyuruh aku pulang.”
“Memangnya salah?”
Aku tersenyum pahit.
“Nggak.”
Mama menggenggam tanganku.
“Pulang bukan berarti kalah.”
Kalimat sederhana itu membuat pertahananku runtuh.
Aku menangis di bahunya seperti anak kecil.
Siang harinya, Raka kembali.
Matanya merah. Bajunya kusut.
“Aku ketemu Anya.”
Aku diam.
“Anaknya bukan anakku.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Dia mengaku.”
Raka duduk.
“Anya punya pacar sebelum sama aku. Mereka nggak pernah benar-benar putus.”
Aku hampir tidak percaya dengan absurditas situasinya.
Jadi suamiku berselingkuh dengan perempuan yang juga berselingkuh darinya.
“Karma bekerja cepat,” gumamku.
“Ra, dengar dulu.”
“Apa lagi?”
“Dia mendekati aku karena uang.”
Aku menghela napas.
“Itu bukan informasi mengejutkan.”
“Bukan cuma uangku.”
Raka mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
“Ada transfer dari rekening perusahaan.”
Aku membeku.
Perusahaan yang dimaksud adalah Arunika Interior, usaha yang kami bangun bersama setelah menikah.
Secara hukum, empat puluh persen saham perusahaan masih atas namaku.
“Berapa?”
Raka tidak menjawab.
“Berapa, Raka?”
“Hampir satu koma delapan miliar.”
Dadaku terasa sesak.
“Kamu ngasih dia satu koma delapan miliar?”
“Nggak semuanya.”
Dia menjelaskan bahwa beberapa bulan terakhir Anya membujuknya berinvestasi dalam proyek vila di Bali. Raka menggunakan rekening operasional perusahaan tanpa persetujuanku.
Investasi itu palsu.
Uangnya berpindah ke beberapa rekening.
“Jadi selama aku hamil, kamu bukan cuma selingkuh.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Kamu juga mengambil uang perusahaan kita?”
“Aku bakal balikin.”
“Dengan apa?”
Raka diam.
Saat itulah aku sadar sesuatu.
Perselingkuhan ternyata hanya lapisan pertama.
Selama tiga bulan terakhir aku terlalu fokus pada pesan-pesan mesra sampai tidak memperhatikan laporan keuangan perusahaan.
Aku membuka laptop.
Dan yang kutemukan jauh lebih buruk.
Ada pinjaman atas nama perusahaan.
Ada faktur proyek fiktif.
Ada tanda tanganku pada dua dokumen yang tidak pernah kutandatangani.
Aku menatap Raka.
“Kamu memalsukan tanda tanganku?”
“Nggak.”
“Jangan bohong.”
“Ra, sumpah. Aku memang ambil uang operasional tanpa bilang kamu. Tapi dokumen itu bukan aku.”
Aku ingin tidak mempercayainya.
Namun wajah Raka berubah.
Ketakutan yang kulihat kali ini berbeda.
Kami menghubungi Dimas, kepala keuangan perusahaan.
Teleponnya tidak aktif.
Aku meminta staf memeriksa kantor.
Dimas tidak datang sejak kemarin.
Malamnya, aku mendapat pesan dari nomor tidak dikenal.
Jangan percaya suamimu. Kalau mau tahu siapa yang sebenarnya mencuri uang perusahaan, cek CCTV gudang tanggal 14 Mei pukul 23.40.
Aku langsung mengirim pesan itu kepada kepala keamanan.
Rekaman dikirim satu jam kemudian.
Aku, Raka, dan Mama menontonnya bersama di kamar rumah sakit.
Pukul 23.43, sebuah mobil berhenti.
Dimas turun.
Lalu pintu penumpang terbuka.
Anya.
Mereka masuk ke gudang bersama.
Dua puluh menit kemudian mereka keluar membawa beberapa map.
Raka berdiri sampai kursinya jatuh.
“Mereka kenal?”
Aku memperbesar rekaman.
Sebelum masuk mobil, Dimas mencium Anya.
Bukan ciuman pertama dua orang yang baru dekat.
Aku menatap hasil USG yang masih tersimpan di ponsel Raka.
Semua potongan akhirnya menyatu.
Anya bukan sekadar selingkuhan Raka.
Dia pasangan Dimas.
Kehamilannya kemungkinan besar anak Dimas.
Mereka menggunakan hubungan Anya dengan Raka untuk memperoleh akses ke informasi perusahaan. Raka yang merasa sedang jatuh cinta dengan mudah memberikan kata sandi, jadwal, bahkan persetujuan transaksi.
Dan ketika uang mulai hilang, dokumen dibuat seolah-olah aku ikut menyetujuinya.
Aku menatap suamiku.
Untuk sesaat aku hampir kasihan.
Hampir.
“Ra…”
“Jangan.”
“Aku dibohongi.”
Aku menatapnya tajam.
“Dan aku diapakan?”
Dia terdiam.
“Kamu boleh jadi korban penipuan mereka, Raka. Tapi itu tidak menghapus fakta bahwa untuk bisa menipu kamu, Anya harus masuk dulu ke kehidupan kita.”
Air matanya jatuh.
“Dan kamu sendiri yang bukain pintunya.”
Dua minggu setelah aku keluar dari rumah sakit, pengacaraku menyerahkan seluruh bukti kepada polisi.
Dimas ditangkap di Surabaya saat hendak berangkat ke luar negeri. Anya diperiksa beberapa hari kemudian. Dari penyelidikan terungkap bahwa sebagian uang perusahaan sudah dipindahkan ke rekening lain dan digunakan untuk membayar beberapa aset.
Sebagian akhirnya berhasil dibekukan.
Raka ikut diperiksa karena transaksi tanpa otorisasi.
Aku tidak melindunginya.
Aku juga tidak menghancurkannya.
Aku hanya mengatakan apa adanya.
Tiga bulan kemudian, aku duduk di ruang mediasi pengadilan.
Raka tampak jauh lebih kurus.
“Aku masih sayang kamu,” katanya.
Aku memandangnya tanpa marah.
Anehnya, justru itu yang paling mengejutkanku.
Aku sudah tidak marah.
“Rasa sayang ternyata nggak selalu cukup buat mempertahankan rumah tangga.”
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
Aku tersenyum tipis.
“Tapi kamu berubah untuk dirimu sendiri. Bukan supaya aku kembali.”
Dia menunduk.
“Aku boleh tetap jadi ayahnya Arsen?”
Pertanyaan itu membuat dadaku sakit.
Aku mengangguk.
“Kesalahanmu sebagai suami nggak otomatis menghapus hak dan tanggung jawabmu sebagai ayah. Selama kamu benar-benar hadir buat dia.”
Raka menangis.
Kali ini aku tahu tangisannya sungguhan.
Setahun kemudian, aku kembali ke rumah sakit yang sama untuk mengantar Mama kontrol.
Saat melewati ruang bersalin, aku mendadak teringat hari kelahiran Arsen.
Parfum Dior Sauvage.
Telepon bernama Pak Direktur.
Hasil USG.
Dan seorang perempuan yang kukira telah menghancurkan hidupku.
Aku sempat membenci Anya setengah mati.
Kemudian aku sadar, Anya memang bersalah. Raka juga bersalah. Dimas pun bersalah.
Namun keputusan terbesar tetap berada di tanganku.
Aku bisa menghabiskan hidup membenci mereka.
Atau aku bisa mengambil kembali hidup yang sempat mereka kacaukan.
Ponselku berbunyi.
Sebuah foto masuk dari Raka.
Arsen sedang duduk di kursi makan dengan wajah belepotan bubur.
Di bawahnya ada pesan.
Mama, Papa bikin buburnya terlalu encer.
Aku tertawa.
Raka memang masih menyimpan namaku sebagai Mama di ponselnya karena katanya itu memudahkan ketika mengirim sesuatu tentang Arsen.
Aku membalas singkat.
Tambahin kentang. Jangan kasih garam banyak.
Kemudian aku memasukkan ponsel ke tas.
Mama yang berdiri di sampingku tersenyum.
“Kamu bahagia sekarang?”
Aku melihat pantulan diriku di kaca lorong rumah sakit.
Perempuan yang kulihat bukan perempuan yang setahun lalu terbaring lemah sambil bertanya-tanya apa yang kurang dari dirinya sampai suaminya memilih perempuan lain.
Aku akhirnya mengerti jawabannya.
Tidak ada yang kurang.
Pengkhianatan seseorang tidak selalu merupakan ukuran nilai orang yang dikhianati.
Aku menggandeng tangan Mama.
“Bahagia.”
Kami berjalan menuju lift.
Pintunya hampir tertutup ketika seorang perempuan berlari dari ujung lorong.
“Tunggu!”
Aku refleks menahan pintu.
Perempuan itu masuk sambil terengah.
Aku mengenal wajahnya.
Anya.
Perutnya sudah rata. Di lengannya ada seorang bayi laki-laki berusia beberapa bulan.
Kami saling menatap.
Wajahnya pucat.
“Rara…”
Mama menggenggam tanganku.
Aku tetap diam.
Anya menunduk.
“Maaf.”
Satu kata yang dulu sangat ingin kudengar.
Anehnya, sekarang tidak berarti banyak.
Aku melihat bayi di pelukannya.
Anak itu tidak tahu apa pun tentang dosa orang tuanya.
Tidak tahu ibunya pernah menjadi selingkuhan.
Tidak tahu ayahnya sedang menghadapi proses hukum.
Dia hanya seorang bayi.
Sama seperti Arsen.
“Aku harap kamu membesarkan dia dengan lebih baik daripada cara kita orang dewasa memperlakukan satu sama lain,” kataku.
Anya mulai menangis.
Lift terbuka.
Aku melangkah keluar bersama Mama.
“Rara.”
Aku menoleh.
Anya berdiri di dalam lift.
“Kenapa kamu nggak benci aku?”
Aku terdiam sebentar.
Lalu tersenyum.
“Aku pernah benci kamu.”
Pintu lift mulai menutup.
“Tapi ternyata membenci kamu terlalu mahal. Aku harus membayarnya pakai ketenanganku sendiri.”
Pintu tertutup sempurna.
Aku berjalan menuju lobi.
Di luar, Jakarta baru saja diguyur hujan. Udara sore terasa dingin dan bersih.
Setahun lalu aku mengira hari kelahiran anakku adalah hari ketika keluargaku hancur.
Ternyata aku salah.
Hari itu bukan hari aku kehilangan keluarga.
Hari itu adalah hari dua kehidupan lahir sekaligus.
Arsen lahir sebagai anakku.
Dan aku lahir kembali sebagai perempuan yang akhirnya tahu bahwa mempertahankan harga diri terkadang berarti berani melepaskan seseorang yang masih kita cintai.
