Pria yang dipanggil orang gila oleh seluruh warga lingkungan itu selalu berlutut setiap kali melihat putriku, lalu memanggilnya, “Anakku…”
Malam itu hujan turun tipis. Lampu neon minimarket di ujung gang memantul di aspal basah, menciptakan garis-garis cahaya pucat di antara bayangan tiang listrik.
Aku menggenggam tangan Senja erat-erat.
Bruk.

Tarjo jatuh berlutut tepat dua meter di depan kami.
Rambutnya gimbal, bajunya lusuh dan basah. Bau asap, tanah, dan keringat terbawa angin. Namun aku hampir tidak memedulikan semua itu.
Aku hanya melihat matanya.
Mata cekung yang basah oleh air mata.
“Anakku…”
Tangannya terulur ke arah Senja.
Senja berhenti.
“Bunda, kakek itu nangis lagi.”
Aku langsung menarik tangannya.
“Jangan dilihat. Ayo pulang.”
“Tapi Bun…”
“Bunda bilang jalan.”
Begitu tiba di rumah, aku mengunci pagar, pintu depan, bahkan pintu dapur. Semua gorden kututup.
Senja berdiri di belakangku sambil memeluk boneka kelincinya.
“Bunda kok pucat?”
“Nggak apa-apa.”
“Kakek tadi siapa?”
Aku terdiam.
“Orang sakit.”
“Sakit apa?”
Aku menatapnya.
“Sakit pikirannya.”
Senja mengangguk meski jelas tidak mengerti.
Malam itu aku menelepon Rama berkali-kali. Tidak diangkat.
Pesanku hanya dibaca.
Aku semakin gelisah.
Selama hampir dua bulan Tarjo berkeliaran di sekitar kompleks kami. Anehnya, dia tidak pernah mengganggu siapa pun. Dia tidur di gardu kosong, memungut botol plastik, kadang membantu tukang sayur mengangkat barang dengan imbalan nasi.
Tapi setiap melihat Senja, perilakunya berubah.
Dia akan diam.
Menatap.
Lalu berlutut.
“Anakku…”
Awalnya warga menertawakannya.
“Lihat tuh, Tarjo kumat!”
Anak-anak mengejek dan melemparinya kerikil.
Namun suatu sore, sesuatu terjadi.
Senja sedang bermain sepeda di depan rumah ketika sebuah motor melaju terlalu cepat dari tikungan.
Aku masih berada di teras.
“Senja!”
Aku bahkan belum sempat berlari ketika Tarjo melompat dari pinggir jalan.
Dia menarik sepeda Senja hingga jatuh ke rumput.
Motor itu melintas beberapa sentimeter dari tubuhnya.
Tarjo terjatuh keras.
Lengannya berdarah.
Senja menangis.
Aku berlari dan memeluk putriku.
“Kamu nggak apa-apa?”
Senja menggeleng.
Lalu menunjuk Tarjo.
“Kakek berdarah, Bun.”
Tarjo duduk sambil memegangi sikunya. Anehnya, dia tersenyum melihat Senja selamat.
Aku ingin berterima kasih.
Namun saat mata kami bertemu, bibirnya bergerak.
“Kamu…”
Tubuhku membeku.
Tarjo menunjukku.
“Kamu masih hidup.”
Aku langsung membawa Senja masuk.
Malamnya Rama pulang.
Aku menceritakan semuanya.
Bukannya terkejut, wajahnya justru mengeras.
“Mulai besok Senja jangan main di luar.”
Aku menatapnya.
“Kamu kenal Tarjo?”
“Nggak.”
“Dia bilang aku masih hidup.”
“Orang gila ngomong apa saja.”
“Tapi kenapa setiap lihat Senja dia manggil anakku?”
Rama meletakkan tasnya lebih keras dari biasanya.
“Karena dia gila, Mira.”
Untuk pertama kalinya aku merasa suamiku tidak sedang menjawab pertanyaanku.
Dia sedang menutupinya.
Tiga hari kemudian Tarjo menghilang.
Warga bilang petugas membawanya ke rumah singgah.
Aku seharusnya lega.
Tapi justru malam itu aku menemukan sesuatu.
Saat mencuci celana Rama, aku menemukan selembar kartu nama di sakunya.
Yayasan Pemulihan Jiwa Harapan Baru.
Di belakang kartu itu tertulis tangan.
Tarjo sudah dipindahkan. Jangan biarkan dia kembali ke kompleks.
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
Aku menunggu Rama pulang.
“Kamu yang memindahkan Tarjo?”
Wajahnya berubah.
“Dari mana kamu dapat itu?”
“Jawab.”
Rama mengembuskan napas.
“Aku cuma mau melindungi kalian.”
“Dari apa?”
“Dia berbahaya.”
“Dia menyelamatkan Senja.”
“Kamu nggak tahu siapa dia.”
Aku menatapnya tajam.
“Berarti kamu tahu.”
Rama terdiam.
Saat itulah ketakutanku berubah menjadi kecurigaan.
Keesokan paginya, setelah mengantar Senja ke sekolah, aku pergi ke alamat yayasan itu.
Bangunannya sederhana di pinggiran Bekasi.
Seorang petugas bernama Pak Anton mengatakan Tarjo sudah pergi.
“Pergi?”
“Dia kabur tadi malam.”
Aku menelan ludah.
“Bapak tahu identitas aslinya?”
Pak Anton membuka map.
“Nama lengkapnya Sutardjo Wibowo. Usia enam puluh satu.”
Nama itu membuat kepalaku berdenyut.
Entah kenapa terasa familiar.
“Dia punya keluarga?”
“Kami belum menemukan.”
Pak Anton lalu mengeluarkan kantong plastik kecil.
“Ini barang yang dibawa beliau.”
Di dalamnya hanya ada dompet rusak, gelang rumah sakit, dan sebuah foto lama.
Tanganku gemetar saat mengambil foto itu.
Seorang perempuan muda berdiri di depan rumah kecil sambil menggendong bayi.
Perempuan itu adalah aku.
Aku mengenali tahi lalat kecil di bawah mata kiriku.
Namun aku tidak mengenali bayi yang kugendong.
Di belakang foto tertulis:
Mira dan Senja, 2001.
Aku hampir menjatuhkannya.
“Itu mustahil.”
Senja lahir lima tahun lalu.
Tahun 2001 aku baru berusia delapan tahun.
Pak Anton menatapku bingung.
“Bu?”
Aku membalik foto itu lagi.
Mungkin perempuan tersebut hanya mirip denganku.
Tapi namanya Mira.
Dan bayi itu bernama Senja.
Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.
Malam itu aku membuka lemari tua peninggalan ibuku.
Ibu meninggal dua tahun sebelum aku menikah. Ayah sudah meninggal saat aku masih kecil.
Setidaknya, itulah yang selalu dikatakan Ibu.
Di bagian bawah lemari ada kotak dokumen.
Akta lahir.
Ijazah.
Kartu keluarga lama.
Aku membaca nama ayahku.
Sutardjo Wibowo.
Tanganku langsung dingin.
Tarjo.
Pria yang disebut orang gila itu adalah ayahku.
Aku terduduk di lantai.
Tapi kenapa Ibu mengatakan ayah sudah meninggal?
Aku membongkar dokumen satu per satu sampai menemukan amplop kecokelatan.
Di dalamnya ada berita koran lama tentang kebakaran rumah pada tahun 2001.
Satu perempuan tewas.
Seorang bayi hilang.
Seorang laki-laki bernama Sutardjo Wibowo mengalami gangguan kejiwaan setelah kejadian tersebut.
Aku membaca nama perempuan yang meninggal.
Mira Wibowo.
Aku berhenti bernapas.
Namaku bukan Mira sejak lahir.
Nama asliku tercetak di kartu keluarga lama.
Senja Wibowo.
Dunia seperti terbalik.
Perempuan dalam foto itu bukan aku.
Dia ibuku.
Dan bayi yang digendongnya adalah aku.
Perempuan yang selama ini kupanggil Ibu ternyata adalah bibiku, Ratih, adik kandung ibu biologisku.
Aku menangis sampai tubuhku gemetar.
Tapi masih ada satu pertanyaan.
Kenapa Rama tahu Tarjo?
Aku menunggu sampai suamiku pulang.
Kulempar foto lama itu ke meja.
Wajah Rama langsung pucat.
“Jelaskan.”
Dia tidak bicara.
“Tarjo ayahku, kan?”
Rama menutup mata.
“Iya.”
Tamparanku mendarat di pipinya.
“Kamu tahu sejak kapan?”
“Sejak sebelum kita menikah.”
Aku mundur.
Delapan tahun pernikahan.
Delapan tahun kebohongan.
“Kenapa?”
Rama duduk.
“Ibumu yang minta.”
“Dia bukan ibuku!”
“Ratih yang membesarkanmu. Dia takut kalau kamu tahu masa lalu, semuanya akan hancur.”
“Semuanya apa?”
Rama menunduk.
“Warisan.”
Aku tercekat.
Rama akhirnya menceritakan rahasia yang disimpan bertahun-tahun.
Kakek biologisku memiliki beberapa bidang tanah di Jakarta Timur. Setelah ibu kandungku meninggal, hak waris seharusnya jatuh kepadaku.
Tapi karena aku masih bayi dan ayahku mengalami gangguan mental, Ratih menjadi waliku.
Sebagian tanah kemudian dijual.
Uangnya dipakai untuk membesarkanku, tetapi sebagian besar digunakan untuk membangun usaha keluarga.
“Aku baru tahu setelah kita bertunangan,” kata Rama.
“Kenapa kamu diam?”
“Ratih bilang kalau kamu tahu, kamu bakal meninggalkan keluarga yang membesarkanmu.”
Aku tertawa getir.
“Jadi kamu ikut menentukan hidupku berdasarkan kebohongan?”
“Aku takut kehilangan kamu.”
“Dan sekarang?”
Rama tidak mampu menjawab.
Aku mengambil Senja dan pergi malam itu juga.
Kami menginap di rumah sahabatku.
Tapi pukul dua dini hari, teleponku berbunyi.
Ketua RT.
“Mbak Mira, cepat ke kompleks.”
“Kenapa?”
“Tarjo balik.”
Aku langsung berdiri.
“Terus?”
Suara Pak RT gemetar.
“Rumah Mbak kebakaran.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
Saat tiba, api sudah berhasil dipadamkan.
Rama duduk di ambulans dengan luka bakar ringan.
Dan di dekat pagar, Tarjo terbaring dengan wajah penuh jelaga.
Dia yang masuk ke rumah ketika mengira aku dan Senja masih berada di dalam.
Dia menerobos api untuk mencari kami.
Aku berlari menghampirinya.
“Ayah…”
Untuk pertama kalinya kata itu keluar dari mulutku.
Mata Tarjo terbuka perlahan.
Air mata mengalir dari sudut matanya.
“Senja…”
Aku menggenggam tangannya.
“Aku di sini.”
Dia menggeleng.
“Senja kecil…”
Aku menangis.
“Aku Senja.”
Tatapannya tiba-tiba jernih.
Seolah kabut puluhan tahun menghilang hanya beberapa detik.
Tangannya menyentuh pipiku.
“Kamu sudah besar.”
Aku menempelkan wajah ke telapak tangannya yang kasar.
“Kenapa Ayah manggil anakku ‘anakku’?”
Dia tersenyum tipis.
“Karena… wajahnya sama.”
Aku terisak.
Tarjo kemudian merogoh saku celananya.
Dia mengeluarkan sebuah kunci kecil.
“Rumah lama.”
Hanya itu yang dikatakannya sebelum kehilangan kesadaran.
Tarjo dirawat hampir dua minggu.
Sementara itu, aku mencari rumah lama yang dimaksud.
Bangunan tersebut masih berdiri, meski hampir roboh, di sebuah gang tua di Jatinegara.
Kunci itu membuka lemari besi kecil yang tersembunyi di bawah lantai kamar.
Di dalamnya terdapat sertifikat tanah, surat-surat lama, foto keluarga, dan sebuah kaset mini.
Aku memutar rekamannya dengan alat lama yang kubeli dari kolektor.
Suara perempuan terdengar.
Suara ibu kandungku.
“Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan salahkan Mas Tarjo.”
Aku menahan napas.
“Aku sudah tahu Ratih memalsukan tanda tanganku untuk menjual tanah Papa. Aku akan melaporkannya besok.”
Tanganku gemetar.
Kebakaran tahun 2001 ternyata bukan kecelakaan biasa.
Penyelidikan lama dibuka kembali.
Ratih akhirnya mengakui bahwa malam itu dia datang untuk mengambil dokumen. Dia bertengkar dengan kakaknya. Dalam kepanikan, lilin jatuh mengenai tumpukan kain.
Api membesar.
Ratih menyelamatkanku, tetapi membiarkan semua orang percaya bahwa Tarjo penyebab kebakaran karena kondisinya yang sudah terguncang.
Setelah kehilangan istrinya dan anaknya dianggap hilang, mental ayahku runtuh sepenuhnya.
Selama dua puluh lima tahun dia hidup berpindah-pindah.
Mencari bayi bernama Senja.
Mencariku.
Beberapa bulan kemudian aku mengubah kembali nama resmiku menjadi Senja Mira Wibowo.
Putriku tetap kupanggil Senja kecil di rumah.
Rama dan aku tidak langsung bercerai.
Dia menjalani terapi bersama denganku dan menerima bahwa kepercayaan tidak bisa diperbaiki dengan permintaan maaf semalam.
Aku tidak tahu bagaimana akhir pernikahan kami nanti.
Tapi untuk pertama kalinya, keputusan itu benar-benar menjadi milikku.
Ayah tinggal bersamaku sekarang.
Kondisinya tidak selalu stabil.
Kadang dia masih duduk berjam-jam di teras tanpa bicara.
Kadang dia lupa bahwa aku sudah dewasa.
Suatu sore, Senja kecil pulang dari sekolah membawa dua es krim.
Satu diberikan kepadaku.
Satu lagi kepada Ayah.
Ayah menatapnya lama.
Aku sempat takut dia akan berlutut lagi.
Namun kali ini dia hanya tersenyum.
“Terima kasih.”
Senja kecil duduk di sebelahnya.
“Kakek, dulu kenapa Kakek selalu panggil aku anakku?”
Ayah menoleh kepadaku.
Matanya berkaca-kaca.
“Karena Kakek pernah kehilangan seseorang yang wajahnya mirip sekali dengan kamu.”
“Siapa?”
Ayah menunjukku.
“Bunda kamu.”
Senja kecil terdiam beberapa detik, lalu menggenggam tangan kakeknya.
“Nggak apa-apa. Sekarang Bunda sudah ketemu.”
Ayah menangis.
Aku juga.
Selama bertahun-tahun semua orang memanggilnya orang gila.
Anak-anak melemparinya batu.
Orang dewasa mengusirnya dari teras.
Aku sendiri pernah menarik putriku menjauh darinya karena takut.
Padahal di antara semua orang yang mengaku mencintaiku, lelaki yang dianggap tidak waras itulah yang paling lama mengingat siapa diriku sebenarnya.
Dia mungkin lupa jalan pulang.
Lupa tanggal.
Lupa makan.
Bahkan kadang lupa namanya sendiri.
Tapi selama dua puluh lima tahun, ada satu hal yang tidak pernah berhasil direnggut dari ingatannya.
Anaknya.
Aku.
