Setiap malam suamiku selalu membuatkan segelas susu hangat agar aku bisa tidur nyenyak. Suatu malam, diam-diam aku membuang susu itu. Lalu aku melihatnya berdiri di samping tempat tidurku selama hampir dua jam.

Setiap malam suamiku membuatkan segelas susu hangat agar aku tidur nyenyak. Selama hampir tiga tahun menikah, aku menganggapnya sebagai bentuk kasih sayang. Sampai suatu malam aku membuang susu itu diam-diam dan berpura-pura tidur.

Apa yang kulihat setelahnya membuatku sadar bahwa selama ini aku tidak pernah benar-benar mengenal laki-laki yang tidur di sampingku.

Namaku Alya.

Malam itu tepat pukul sepuluh, Reza masuk membawa gelas seperti biasa.

“Minum dulu.”

Aku menerimanya sambil tersenyum.

“Taruh saja. Aku mau ke kamar mandi sebentar.”

“Tidak. Minum sekarang, nanti keburu dingin.”

Nada suaranya tetap lembut, tetapi entah mengapa terdengar seperti perintah.

Aku meneguk sedikit.

Reza berdiri di dekat pintu sambil memperhatikanku.

“Habiskan.”

Jantungku berdegup lebih cepat.

Aku tersenyum, lalu menghabiskan susu itu di depan matanya. Setidaknya begitulah yang ia lihat.

Sebelumnya aku sudah menyiapkan botol kosong di balik selimut. Saat Reza membalikkan badan untuk mengambil ponselnya, aku memindahkan sebagian besar susu ke botol itu. Sisanya kutahan di mulut, lalu kubuang ke wastafel ketika masuk kamar mandi.

Aku kembali dan menyerahkan gelas kosong.

Reza mencium keningku.

“Selamat tidur.”

Lampu dimatikan.

Aku berbaring dengan mata terpejam.

Lima belas menit berlalu.

Reza belum tidur.

Tiga puluh menit.

Kasur di sebelahku bergerak.

Aku mengatur napas perlahan, berpura-pura sudah terlelap.

Reza memanggil pelan.

“Alya?”

Aku tidak menjawab.

“Alya?”

Tetap diam.

Lalu kurasakan jarinya menyentuh pipiku.

Ia mengangkat kelopak mataku sebentar.

Tubuhku hampir refleks bergerak, tetapi aku menahannya sekuat tenaga.

Setelah itu Reza bangkit.

Aku mengira ia akan keluar kamar.

Ternyata tidak.

Ia berdiri di samping tempat tidur.

Menatapku.

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Empat puluh menit.

Aku bisa merasakan keberadaannya meski mataku tertutup. Sesekali ia memeriksa denyut nadiku. Pernah pula ia mengangkat lenganku lalu menjatuhkannya perlahan ke kasur.

Seperti memastikan aku benar-benar tidak sadar.

Hampir satu jam kemudian, terdengar suara ritsleting tas dibuka.

Kemudian suara plastik.

Aku membuka mata sedikit sekali.

Di bawah cahaya redup dari kamar mandi, kulihat Reza mengenakan sarung tangan medis.

Tangannya memegang sesuatu.

Sebuah jarum suntik.

Darahku seperti berhenti mengalir.

Ia duduk di sisi tempat tidur dan mengikatkan tali elastis di lengan kiriku.

Saat itulah aku memahami titik-titik kecil yang dilihat Nisa.

Bekas suntikan itu bukan gigitan serangga.

Aku hampir berteriak.

Namun sebelum jarum menyentuh kulitku, ponsel Reza bergetar.

Ia berdiri dan keluar kamar.

Aku mendengar suaranya dari lorong.

“Ya?”

Hening beberapa detik.

“Belum. Tunggu sampai dia benar-benar tidak sadar.”

Tanganku gemetar di balik selimut.

“Besok aku kirim lagi.”

Lalu sebuah kalimat membuat seluruh tubuhku dingin.

“Tenang saja. Dia tidak tahu apa-apa.”

Aku tidak menunggu lebih lama.

Begitu mendengar langkahnya menuju balkon belakang, aku mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Nisa.

Tolong telepon aku besok pagi. Kalau aku tidak menjawab sampai jam delapan, datang ke rumah bersama polisi.

Aku menghapus pesan itu dari layar percakapan, kemudian kembali berbaring.

Reza masuk beberapa menit kemudian.

Aku memejamkan mata.

Ia berdiri lagi di sampingku.

Aku menunggu tusukan jarum.

Namun tidak pernah terjadi.

Mungkin ada sesuatu dalam gerak tubuhku yang membuatnya curiga.

Reza akhirnya menyimpan peralatannya dan berbaring.

Aku tidak tidur sedikit pun malam itu.

Pukul enam pagi, aku bangun seperti biasa.

Reza sedang membuat omelet.

“Kamu tidur nyenyak?”

Pertanyaan sederhana itu terasa mengerikan.

“Lumayan.”

Ia menatapku.

Lama.

“Kok bangun cepat?”

“Ada pekerjaan.”

Aku mengambil tas dan berpamitan.

Reza tiba-tiba menggenggam pergelangan tanganku.

“Kamu mau ke mana?”

“Kantor.”

“Hari ini Sabtu.”

Aku membeku.

Kesalahan bodoh.

Aku tertawa kecil.

“Maksudku ke kafe. Ada revisi.”

Tatapan Reza belum berubah.

Namun akhirnya tangannya melepaskanku.

“Jangan lama-lama.”

Begitu mobilku keluar dari kompleks perumahan di Bekasi, aku langsung menelepon Nisa.

Satu jam kemudian kami berada di sebuah klinik swasta.

Dokter mengambil sampel darah dan memeriksa bekas luka di lenganku.

Aku juga menyerahkan botol berisi susu semalam.

Hasil pemeriksaan awal keluar sore itu.

Dokter memandangku dengan ekspresi serius.

“Di tubuh Mbak Alya ada residu obat sedatif.”

Aku menggenggam tangan Nisa.

“Obat tidur?”

“Lebih kuat dari obat tidur biasa. Kalau diberikan dalam dosis tertentu, orang bisa sulit dibangunkan selama beberapa jam.”

“Kalau suntikan?”

Dokter menatap bekas-bekas di lenganku.

“Kami perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apa yang pernah disuntikkan.”

Aku langsung merasa mual.

Nisa membawaku ke apartemennya malam itu.

Aku tidak pulang.

Reza menelepon belasan kali.

Aku menjawab setelah panggilan ketujuh.

“Kamu di mana?”

“Rumah Nisa. Dia sakit.”

“Kirim lokasi.”

“Untuk apa?”

Hening.

Kemudian suara Reza berubah dingin.

“Alya, pulang.”

Itulah pertama kalinya selama pernikahan kami aku mendengar suara aslinya.

Bukan suara suami penuh perhatian.

Melainkan seseorang yang terbiasa memastikan semuanya berjalan sesuai rencananya.

Aku mematikan telepon.

Keesokan harinya, ditemani Nisa dan kakaknya, Arman, aku kembali ke rumah ketika Reza sedang pergi.

Kami mencari tas medis yang kulihat malam sebelumnya.

Tidak ada.

Laci sudah kosong.

Lemari terkunci.

Kemudian Nisa menemukan sesuatu di ruang kerja.

Sebuah kamera kecil tersembunyi di rak buku.

“Kamu pasang CCTV?”

Aku menggeleng.

Arman memeriksa kartu memorinya.

Video-video di dalamnya sebagian besar memperlihatkan ruang kerja Reza. Sepertinya kamera itu dipasang Reza sendiri untuk memantau pembantu yang datang dua kali seminggu.

Namun ada satu rekaman yang membuat kami terdiam.

Tiga minggu sebelumnya.

Reza masuk bersama seorang perempuan berjas dokter.

Aku mengenalnya.

Namanya dr. Karin.

Dokter kandungan yang memeriksaku selama setahun terakhir karena aku dan Reza belum juga memiliki anak.

Dalam video itu mereka berbicara pelan.

Namun audionya cukup jelas.

“Hasil terakhir masih sama,” kata Karin.

“Berapa lama lagi?”

“Tidak bisa dipaksa. Tubuhnya mulai menunjukkan reaksi.”

“Lakukan apa pun. Aku cuma butuh sampai prosedurnya selesai.”

Aku menutup mulut.

Prosedur apa?

Arman memperbesar gambar ketika Karin mengeluarkan sebuah map.

Di sudutnya tertulis nama sebuah klinik fertilitas.

Aku merasa dunia berputar.

Aku memang pernah menjalani program kehamilan atas permintaan Reza, tetapi berhenti enam bulan sebelumnya karena tubuhku terus melemah.

Mengapa dokter kandunganku datang diam-diam ke rumah?

Kami membawa rekaman itu ke polisi.

Penyelidikan dimulai.

Dan kebenarannya jauh lebih buruk daripada yang kubayangkan.

Reza ternyata memiliki kakak perempuan bernama Maya yang tinggal di Surabaya.

Aku tidak pernah bertemu dengannya.

Selama pernikahan, Reza hanya mengatakan mereka tidak akur.

Maya menderita gagal ginjal kronis.

Beberapa tahun sebelumnya, keluarga Reza mengetahui bahwa aku memiliki kecocokan jaringan yang sangat tinggi dengan Maya.

Aku mengetahuinya dari dokumen pemeriksaan kesehatan pranikah yang ternyata pernah diakses tanpa persetujuanku.

Awalnya aku mengira Reza menikahiku karena itu.

Ternyata bukan.

Kami memang bertemu secara kebetulan dan ia memang mencintaiku pada awalnya.

Namun setelah ibunya mengetahui hasil pemeriksaan tersebut, semuanya berubah.

Keluarganya mulai melihat tubuhku sebagai jalan keluar untuk menyelamatkan Maya.

Obat dalam susu membuatku tertidur.

Suntikan yang diberikan bukan untuk mengambil organ secara diam-diam seperti bayangan mengerikan yang sempat muncul di kepalaku.

Mereka mengambil sampel darah berulang kali dan memberikan obat tertentu untuk mempersiapkan serangkaian pemeriksaan kompatibilitas tanpa sepengetahuanku.

Tujuan akhirnya adalah membuatku seolah-olah setuju menjadi donor.

Tanda tanganku bahkan sudah dipalsukan pada beberapa dokumen.

Tetapi ada satu hal yang tidak masuk akal.

“Kenapa harus sejauh ini?” tanyaku kepada penyidik. “Kalau Reza meminta baik-baik, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk membantu kakaknya.”

Penyidik menggeser sebuah dokumen ke arahku.

“Karena ternyata bukan hanya ginjal.”

Tanganku gemetar.

Dokumen itu berisi rencana tindakan medis yang tidak pernah kulihat.

Program fertilitas yang kujalani dulu juga telah dimanipulasi.

Beberapa sel telurku ternyata disimpan tanpa persetujuanku.

Aku hampir jatuh dari kursi.

“Untuk apa?”

Penyidik tidak langsung menjawab.

Jawabannya datang dari orang yang sama sekali tidak kuduga.

Maya.

Ia datang dari Surabaya menggunakan kursi roda.

Wajahnya kurus dan pucat.

Begitu melihatku, ia menangis.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

Maya mengeluarkan sebuah ponsel lama.

“Aku baru tahu tiga bulan lalu.”

Ia menunjukkan percakapannya dengan ibu Reza.

Keluarga mereka bukan hanya ingin mendapatkan donor.

Maya sudah tidak mungkin hamil karena kondisi kesehatannya. Ibunya kemudian merancang gagasan gila untuk menggunakan sel telurku dan sperma suami Maya, lalu mencari ibu pengganti secara ilegal melalui jaringan sebuah klinik.

Aku menatap Reza yang saat itu berada di ruang pemeriksaan terpisah di balik kaca.

“Apa dia tahu?”

Maya menangis semakin keras.

“Dia yang mengurus semuanya.”

Dadaku terasa hancur.

Tiga tahun pernikahan.

Sarapan setiap pagi.

Vitamin.

Susu hangat.

Ciuman di kening.

Aku tidak tahu mana yang pernah tulus dan mana yang hanya bagian dari rencana.

Beberapa minggu kemudian Reza akhirnya meminta bertemu denganku setelah ditahan.

Aku datang bukan karena ingin memaafkannya.

Aku hanya ingin satu jawaban.

“Sejak kapan kamu berhenti melihatku sebagai istrimu?”

Reza menunduk.

Untuk pertama kalinya, laki-laki yang selalu terlihat tenang itu tampak benar-benar hancur.

“Aku mencintaimu.”

Aku tertawa getir.

“Jangan.”

“Itu benar.”

“Orang yang mencintai seseorang tidak membiusnya setiap malam.”

Air matanya jatuh.

“Ibu bilang Maya akan mati kalau kita tidak melakukan sesuatu.”

“Jadi kamu memilih menghancurkan tubuhku?”

“Aku pikir semuanya bisa dilakukan tanpa menyakitimu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Setiap malam kamu berdiri di samping tempat tidurku untuk memastikan aku tidak sadar. Lalu kamu menusukkan jarum ke tubuhku. Bagian mana yang menurutmu tidak menyakitiku?”

Reza tidak mampu menjawab.

Aku berdiri.

Sebelum pergi, ia memanggilku.

“Alya.”

Aku berhenti.

“Maaf.”

Aku tidak menoleh.

“Maaf tidak bisa mengembalikan tiga tahun hidupku.”

Enam bulan kemudian perceraian kami selesai.

Ibu Reza, dr. Karin, dan beberapa orang yang terlibat dalam pemalsuan dokumen serta tindakan medis ilegal ikut menjalani proses hukum. Maya menolak seluruh prosedur yang direncanakan keluarganya dan memilih melanjutkan pengobatan melalui jalur resmi.

Anehnya, justru Maya yang kemudian menjadi orang terakhir dari keluarga itu yang masih berhubungan denganku.

Suatu sore ia mengirim pesan.

Aku mendapatkan donor resmi. Operasinya bulan depan. Aku cuma ingin kamu tahu bahwa kali ini tidak ada seorang pun yang dipaksa.

Aku menatap pesan itu lama sebelum membalas.

Semoga berhasil.

Setahun setelah malam ketika aku membuang susu itu, aku pindah ke apartemen kecil di Jakarta Selatan.

Tidak mewah.

Tidak ada suami yang membuatkan sarapan.

Tidak ada seseorang yang mengingatkanku minum vitamin.

Dan tentu saja tidak ada segelas susu hangat di meja samping tempat tidur.

Suatu malam Nisa datang membawa dua gelas cokelat panas.

Ia menyerahkan satu kepadaku.

Aku menatap gelas itu cukup lama.

Nisa langsung mengerti.

“Mau aku minum dulu?”

Aku tertawa.

Untuk pertama kalinya, ingatan tentang malam-malam bersama Reza tidak membuatku gemetar.

“Tidak perlu.”

Aku meminumnya sendiri.

Sebelum pulang, Nisa tiba-tiba berkata bahwa polisi mengirimkan satu barang terakhir dari rumah lamaku yang baru selesai diperiksa.

Sebuah amplop.

Di dalamnya ada surat tulisan tangan Reza.

Aku hampir merobeknya tanpa membaca.

Namun satu kalimat di bagian akhir membuatku berhenti.

Malam ketika kamu pura-pura tidur, sebenarnya aku tahu kamu sadar.

Aku membaca kalimat berikutnya dengan napas tertahan.

Karena malam itu aku tidak jadi menyuntikmu. Aku sudah memutuskan akan menghentikan semuanya dan membawamu pergi keesokan paginya. Tapi aku terlambat memilih menjadi suamimu, setelah terlalu lama menjadi anak yang takut kepada keluargaku sendiri.

Aku melipat surat itu.

Tidak menangis.

Tidak marah.

Aku hanya membuangnya ke tempat sampah.

Mungkin Reza berkata jujur.

Mungkin juga itu kebohongan terakhirnya.

Aku tidak perlu mengetahuinya lagi.

Karena akhirnya aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.

Cinta bukan tentang siapa yang membuatkan sarapan, mengingatkan vitamin, atau mencium kening kita sebelum tidur.

Cinta adalah tentang rasa aman ketika kita menutup mata di samping seseorang.

Dan jika kita harus berpura-pura tidur untuk mengetahui apakah orang yang kita cintai akan melindungi atau menyakiti kita, mungkin hubungan itu sebenarnya sudah berakhir bahkan sebelum mata kita terbuka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang