Setiap pagi, aku selalu terbangun dengan satu bekas tusukan kecil di lenganku. Arga, suamiku, selalu mengatakan bahwa itu hanya bekas gigitan nyamuk.

Celine

Setiap pagi, aku selalu terbangun dengan satu bekas tusukan kecil di lenganku. Arga, suamiku, selalu mengatakan bahwa itu hanya bekas gigitan nyamuk.

Aku mempercayainya.

Sampai suatu malam, aku diam-diam memasang kamera di kamar tidur kami.

Namaku Celine.

Aku bukan perempuan yang mudah curiga. Selama delapan tahun menikah dengan Arga, aku bahkan tidak pernah sekali pun membuka ponselnya tanpa izin. Bagiku, kepercayaan adalah fondasi rumah tangga.

Setidaknya, begitulah yang selalu kuyakini.

Sampai bekas tusukan itu mulai muncul.

Hari pertama, aku benar-benar mengira itu gigitan nyamuk.

Hari kedua, muncul lagi sebuah titik kecil di lengan kiriku.

Hari ketiga, bekas yang sama berada sedikit lebih tinggi.

Hari keempat, muncul memar tipis di sekelilingnya.

Aku menunjukkan lenganku kepada Arga saat ia sedang mengenakan kemeja sebelum berangkat kerja.

“Lihat ini.”

Ia hanya melirik sekilas.

“Nyamuk.”

“Nyamuk apa yang menggigit di tempat berbeda setiap hari?”

Arga tertawa sambil merapikan kerah.

“Kamu terlalu banyak baca cerita misteri.”

Aku ikut tertawa.

Namun entah kenapa, hatiku sama sekali tidak merasa lucu.

Apalagi karena beberapa minggu terakhir tubuhku mulai berubah.

Aku sering kehilangan ingatan dalam waktu singkat.

Kadang lupa apakah aku sudah makan atau belum.

Pernah suatu sore aku mencium bau hangus dari dapur. Ketika berlari ke sana, aku menemukan sebuah panci di atas kompor yang sudah menghitam.

Tanganku gemetar saat mematikan api.

Aku sama sekali tidak ingat pernah menyalakan kompor.

Kejadian yang lebih aneh terjadi beberapa hari kemudian.

Saat sedang menyapu halaman depan, Bu Rina, tetangga kami, tersenyum dari balik pagar.

“Semalam jalan-jalan, ya?”

Aku berhenti menyapu.

“Semalam?”

“Iya. Saya lihat Mbak Celine keluar sekitar jam dua pagi.”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Aku keluar rumah?”

Senyum Bu Rina perlahan menghilang.

“Iya. Saya kira ada keperluan mendadak. Mas Arga juga ikut beberapa menit kemudian.”

Aku menelan ludah.

“Arga?”

Bu Rina mengangguk.

“Kalian naik mobil. Balik hampir subuh.”

Aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi.

Karena malam itu, yang kuingat hanyalah tidur di samping suamiku.

Dan ketika membuka mata keesokan paginya, ada satu bekas tusukan baru di lenganku.

Malam berikutnya aku sengaja tidak mengatakan apa pun kepada Arga.

Aku memasak seperti biasa. Kami makan malam bersama sambil menonton televisi. Sekitar pukul sepuluh, Arga masuk ke dapur dan kembali membawa dua gelas susu hangat.

“Kamu kelihatan capek,” katanya. “Minum dulu.”

Biasanya aku langsung meminumnya.

Malam itu aku hanya menempelkan gelas ke bibir.

Saat Arga pergi ke kamar mandi, aku menuangkan seluruh isinya ke dalam pot tanaman di dekat jendela.

Lalu aku berpura-pura mengantuk.

Aku berbaring di ranjang dan menunggu.

Jantungku berdetak sangat keras.

Sekitar pukul sebelas, Arga memanggil namaku.

“Celine?”

Aku tidak menjawab.

Ia menyentuh bahuku.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian terdengar suara pintu lemari dibuka.

Dari sela bulu mataku, aku melihatnya mengambil sesuatu dari kotak kecil berwarna hitam.

Sebuah jarum suntik.

Tubuhku langsung terasa dingin.

Arga mendekat.

Aku hampir berteriak, tetapi kutahan napasku.

Jarum itu semakin dekat dengan lenganku.

Tepat ketika ujungnya menyentuh kulit, aku bergerak mendadak.

“Apa yang kamu lakukan?”

Arga tersentak hebat.

Jarum suntik jatuh ke lantai.

Wajahnya berubah pucat.

“Celine?”

Aku bangkit dan mundur hingga punggungku menempel ke dinding.

“Apa itu?”

“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Delapan tahun aku hidup sama kamu, Arga. Jangan bohong sekarang.”

Ia menatap jarum di lantai.

Lalu menatapku lagi.

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan kenapa setiap pagi ada bekas tusukan di lenganku.”

Arga menarik napas panjang.

Namun bukannya menjawab, ia melangkah mendekat.

“Celine, kamu harus tenang.”

Kalimat itu justru membuatku semakin takut.

Aku berlari keluar kamar.

Arga mengejarku.

Aku berhasil mengunci diri di kamar mandi.

Ia mengetuk pintu berkali-kali.

“Celine, buka.”

“Tidak.”

“Kita bicara baik-baik.”

“Kalau kamu mendekat, aku telepon polisi.”

Lama sekali ia diam.

Kemudian langkah kakinya menjauh.

Aku menunggu hampir satu jam sebelum keluar.

Arga sudah tidak ada.

Mobilnya juga hilang.

Malam itu aku tidur dengan pintu terkunci dan kursi disandarkan di gagangnya.

Pagi-pagi sekali aku mengambil kamera kecil yang sudah kupasang dua hari sebelumnya di rak buku.

Tanganku gemetar saat membuka rekamannya.

Yang kulihat membuat seluruh tubuhku mati rasa.

Pada rekaman malam sebelumnya, Arga memang mencoba menyuntikku.

Namun itu belum semuanya.

Aku memundurkan video ke malam sebelumnya.

Pukul 01.47.

Arga bangun dari tempat tidur.

Ia mengambil kotak hitam.

Menyuntik lenganku.

Sekitar lima menit kemudian ia mengenakan jaket kepadaku saat aku masih tidak sadar.

Kemudian ia menggendongku keluar kamar.

Aku merasa mual.

Aku terus menonton.

Tiga jam kemudian, Arga kembali membawaku masuk.

Namun kali ini tidak sendirian.

Seorang perempuan ikut masuk ke kamar.

Rambutnya pendek. Mengenakan masker dan jaket abu-abu.

Aku tidak mengenalnya.

Perempuan itu memeriksa lenganku, lalu berkata sesuatu kepada Arga.

Audio kamera tidak terlalu jelas.

Aku menaikkan volume.

“Belum banyak waktu.”

Arga menjawab pelan.

“Aku tahu.”

“Kalau terus begini, dia akan mulai ingat.”

“Aku sedang cari cara.”

“Jangan tunggu sampai terlambat.”

Perempuan itu pergi.

Aku menatap layar sampai pandanganku kabur.

Apa yang harus kuingat?

Apa yang mereka sembunyikan?

Aku memasukkan pakaian, kartu identitas, buku tabungan, dan laptop ke dalam tas. Kemudian aku pergi ke rumah kakakku, Mira, di Depok.

Begitu melihat wajahku, Mira langsung tahu ada sesuatu yang salah.

Aku menunjukkan rekaman itu.

Setelah selesai menonton, wajahnya berubah.

Anehnya, bukan hanya terkejut.

Ia terlihat takut.

“Kamu kenal perempuan ini?” tanyaku.

Mira tidak menjawab.

“Mira.”

Matanya mulai berair.

“Kamu harus pergi ke dokter.”

“Kenapa?”

“Karena ada sesuatu yang belum pernah kami ceritakan.”

“Kami?”

Mira menutup wajahnya beberapa detik.

“Tiga tahun lalu kamu pernah kecelakaan.”

Aku tertawa kecil karena terdengar absurd.

“Aku tidak pernah kecelakaan.”

“Kamu pernah.”

“Jangan ikut-ikutan Arga.”

“Celine, dengar dulu.”

Mira mengambil ponselnya dan membuka sebuah foto lama.

Di layar terlihat aku berbaring di ranjang rumah sakit dengan kepala dibalut perban.

Tanggal foto itu tiga tahun lalu.

Aku memandangi wajahku sendiri.

Dunia seolah bergeser.

“Itu bukan…”

“Itu kamu.”

Aku mulai sulit bernapas.

Mira menggenggam tanganku.

“Kamu mengalami cedera kepala cukup berat. Setelah sadar, ada beberapa bagian ingatanmu yang hilang.”

“Kenapa aku tidak ingat pernah kehilangan ingatan?”

“Karena dokter bilang jangan memaksakan traumanya.”

“Lalu Arga menyuntikku setiap malam untuk apa?”

Mira menunduk.

“Aku tidak tahu.”

Siang itu kami pergi ke rumah sakit tempat aku pernah dirawat.

Dokter yang menanganiku bernama dr. Hana.

Begitu melihat namaku, ekspresinya langsung berubah.

Ia memeriksa bekas suntikan di lenganku lalu menyarankan tes darah.

Hasil awal menunjukkan adanya residu obat penenang.

“Dosisnya kecil,” katanya. “Tapi kalau diberikan terus-menerus, bisa menyebabkan kebingungan, gangguan memori, bahkan perilaku saat setengah sadar.”

Aku merasa ingin muntah.

“Jadi saya tidak gila?”

Dokter Hana menatapku serius.

“Tidak. Tapi seseorang sengaja membuat kondisi Anda terlihat seperti itu.”

Aku langsung memikirkan panci gosong.

Lupa makan.

Keluar rumah tengah malam.

Semua seperti potongan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya.

Aku melapor ke polisi.

Namun sebelum petugas bergerak, ponselku menerima pesan dari Arga.

Jangan pulang ke rumah.

Aku membalas.

Kenapa?

Beberapa detik kemudian muncul balasan.

Karena mereka sudah tahu kamu ingat.

Aku menatap layar.

Mereka siapa?

Tidak ada jawaban.

Sore menjelang malam, teleponku berdering.

Arga.

Aku mengaktifkan pengeras suara.

Mira duduk di sampingku.

“Celine,” suara Arga terdengar berat. “Kamu sama Mira?”

“Jawab aku. Kenapa kamu menyuntikku?”

Hening beberapa detik.

“Karena aku bodoh.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku pikir itu satu-satunya cara supaya kamu tetap hidup.”

Aku menahan napas.

Arga akhirnya menceritakan sesuatu yang membuat semuanya berubah lagi.

Tiga tahun lalu, kecelakaan yang kualami bukan kecelakaan biasa.

Aku bekerja sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan logistik besar di Jakarta. Aku menemukan transaksi fiktif bernilai puluhan miliar rupiah yang melibatkan beberapa pejabat perusahaan.

Sebelum sempat melaporkannya, mobilku ditabrak truk di jalan tol.

Polisi menganggapnya kecelakaan.

Namun Arga menemukan pesan ancaman di laptopku.

Setelah sadar dari koma, aku tidak mengingat kasus itu.

Arga memilih diam.

“Aku pikir kalau kamu lupa, mereka akan berhenti,” katanya.

“Tapi mereka tidak berhenti?”

“Dua bulan lalu seseorang menghubungiku. Mereka bilang ingatanmu mulai kembali.”

Aku terdiam.

Beberapa minggu sebelumnya aku memang sering bermimpi tentang ruangan kantor, angka-angka, dan sebuah flashdisk merah.

“Tapi kenapa obat?”

“Mereka punya orang di dekat kita. Perempuan yang kamu lihat di kamera namanya Siska. Dia mantan perawat rumah sakitmu.”

“Dia membantu kamu?”

“Awalnya.”

“Awalnya?”

Suara Arga pecah.

“Kemudian aku tahu dia bekerja untuk mereka.”

Aku dan Mira saling menatap.

Arga melanjutkan.

“Obat penenang itu awalnya diresepkan dokter setelah kecelakaanmu. Siska bilang kalau ingatan traumatis mulai muncul, dosis kecil bisa mencegah serangan panik. Aku percaya. Kemudian dia mulai memaksaku memberikannya setiap malam.”

“Kenapa kamu nurut?”

“Karena dia punya foto kamu, jadwalmu, foto rumah Mira. Dia bilang kalau kamu ingat tentang flashdisk itu, mereka akan menyelesaikan pekerjaan yang gagal tiga tahun lalu.”

Air mataku jatuh.

“Bukannya melindungiku, kamu malah membuatku kehilangan diriku sendiri.”

“Aku tahu.”

Suara Arga nyaris berbisik.

“Aku takut kehilangan kamu sampai lupa bahwa yang kulakukan justru sedang menghancurkan kamu.”

Tiba-tiba sambungan terputus.

Malam itu polisi menemukan mobil Arga di sebuah area parkir kosong di Jakarta Selatan.

Arga tidak ada.

Hanya ponselnya yang tertinggal.

Dua hari pencarian tidak membuahkan hasil.

Sampai aku terbangun dari mimpi.

Aku melihat sebuah meja kantor.

Laci kedua.

Flashdisk merah.

Aku langsung duduk.

Tiba-tiba sebuah kenangan menghantam kepalaku.

Sebelum kecelakaan, aku tidak menyimpan bukti itu di kantor.

Aku menyimpannya di tempat yang menurutku tidak akan pernah diperiksa siapa pun.

Di rumah ibuku yang sudah lama kosong di Bogor.

Aku dan Mira pergi bersama polisi.

Di kamar lamaku, aku membuka sebuah boneka beruang tua yang masih tersimpan di lemari.

Di dalam jahitan punggungnya terdapat flashdisk merah kecil.

Tanganku bergetar hebat.

Isinya bukan hanya laporan keuangan.

Ada rekaman suara, daftar rekening, dokumen transfer, dan nama-nama orang yang terlibat.

Salah satu nama membuat Mira menutup mulutnya.

Siska.

Tetapi nama berikutnya membuat lututku nyaris tidak kuat menopang tubuh.

Arga Pradana.

Suamiku.

Namanya tercatat sebagai staf internal yang pernah memindahkan dana.

Aku merasa seluruh dunia runtuh untuk kedua kalinya.

Polisi mulai menyelidiki Arga bukan lagi sebagai korban yang hilang, melainkan sebagai salah satu orang yang terlibat.

Tiga hari kemudian ia ditemukan di sebuah rumah kontrakan di Tangerang.

Hidup.

Dan ia menyerahkan diri.

Saat aku menemuinya di ruang pemeriksaan, wajahnya tampak jauh lebih tua.

“Apa semua cerita kamu bohong?” tanyaku.

Arga menggeleng.

“Sebagian.”

“Bagian mana yang benar?”

“Aku memang terlibat dulu. Aku yang memindahkan uang karena disuruh atasan. Awalnya aku pikir itu cuma manipulasi pajak. Ketika kamu menemukan semuanya, aku baru tahu skalanya.”

“Dan kamu tahu mereka akan mencelakaiku.”

“Iya.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Karena kalau kamu melapor, aku juga masuk penjara.”

Aku tertawa pahit.

Akhirnya semuanya begitu sederhana.

Bukan cinta.

Bukan perlindungan.

Ketakutan.

“Jadi selama tiga tahun kamu membiarkan aku percaya kecelakaan itu tidak pernah terjadi?”

Arga menangis.

“Aku takut.”

“Dan dua bulan terakhir?”

“Siska muncul lagi. Dia bilang kamu mulai mengingat. Aku memberimu obat karena ingin menunda semuanya. Aku sedang mengumpulkan bukti untuk menyerahkan diri.”

“Kenapa aku harus percaya?”

“Kamu tidak perlu.”

Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang kemudian diletakkan petugas di meja.

Sebuah kunci kecil.

“Kotak deposit bank. Semua bukti tambahan ada di sana. Termasuk rekaman bahwa kecelakaanmu memang direncanakan.”

Aku menatapnya lama.

“Kenapa sekarang?”

Arga tersenyum getir.

“Karena malam ketika kamu menangkapku membawa jarum, aku sadar satu hal.”

“Apa?”

“Aku sudah terlalu lama takut kehilangan istri, sampai aku tidak sadar bahwa sebenarnya aku sudah kehilangan kepercayaanmu sejak pertama kali memilih kebohongan.”

Beberapa bulan kemudian kasus itu meledak di media.

Beberapa orang ditangkap.

Siska ikut ditahan.

Arga mendapat hukuman karena keterlibatannya dalam transaksi ilegal dan tindakannya memberiku obat tanpa persetujuan medis.

Aku tidak pernah meminta hukumannya diringankan.

Aku juga tidak pernah datang lagi setelah persidangan terakhir.

Orang-orang bertanya apakah aku masih mencintainya.

Jawabannya tidak pernah sederhana.

Mungkin sebagian diriku masih mencintai lelaki yang pernah menemaniku delapan tahun.

Tetapi cinta tidak selalu berarti kita harus tetap tinggal.

Ada cinta yang harus dilepaskan karena kalau dipertahankan, kita akan kehilangan diri sendiri.

Setahun kemudian aku pindah ke Bandung dan mulai bekerja di perusahaan baru.

Bekas tusukan di lenganku perlahan menghilang.

Ingatan yang sempat kabur juga kembali sedikit demi sedikit.

Suatu pagi aku berdiri di depan cermin.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak memeriksa lenganku.

Aku hanya menatap wajahku sendiri.

Lalu tersenyum.

Dulu aku selalu percaya bahwa kepercayaan adalah fondasi pernikahan.

Sekarang aku memahami sesuatu yang jauh lebih penting.

Sebelum mempercayakan hidup kepada orang lain, kita harus berani mempercayai suara kecil dalam diri sendiri.

Karena kadang-kadang, tubuh kita sudah mengetahui kebenaran jauh sebelum hati siap menerimanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang