Siang hari, aku adalah pengacara yang mengabdikan hidup untuk membela para korban. Namun setiap malam, aku selalu mengemudi menuju rumah pria yang telah menghancurkan seluruh keluargaku.
Namaku Keira Mahesa.
Di ruang sidang, orang mengenalku sebagai perempuan yang tidak pernah kalah ketika membela korban kekerasan. Wartawan menyebutku pengacara berhati baja. Para hakim mengenalku sebagai orang yang selalu datang membawa bukti yang tidak pernah terpikirkan oleh polisi.
Mereka mengira aku membenci semua pelaku kejahatan.

Kalau saja mereka tahu.
Setiap pukul sebelas malam, aku justru mengetuk pintu rumah seorang pria yang namanya pernah menjadi mimpi buruk seluruh kota.
Raka Pranoto.
Lima belas tahun lalu, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena dituduh membakar sebuah gedung apartemen di Jakarta Selatan.
Tiga puluh dua orang tewas.
Di antara mereka ada ayahku, ibuku, dan adik laki-lakiku yang baru berusia sembilan tahun.
Aku satu-satunya yang selamat karena malam itu sedang mengikuti lomba pidato di Bandung.
Seluruh televisi menyiarkan wajah Raka.
Monster.
Pembunuh massal.
Iblis yang pantas mati.
Saat vonis dibacakan, aku berdiri di luar pengadilan sambil berteriak.
Aku harap kau mati perlahan.
Raka hanya menatapku.
Tidak marah.
Tidak membela diri.
Ia hanya berkata pelan.
Maaf.
Aku meludah ke wajahnya.
Hari itu aku bersumpah akan membencinya seumur hidup.
Lima belas tahun berlalu.
Raka dibebaskan lebih cepat karena alasan kesehatan.
Kanker hati stadium akhir.
Dokter memberinya waktu hidup paling lama enam bulan.
Malam pertama setelah ia keluar dari penjara, aku datang ke rumah kecilnya di pinggir Depok.
Ia tampak sangat kurus.
Rambutnya memutih.
Tubuhnya gemetar saat membuka pintu.
Kau.
Aku datang bukan untuk memaafkanmu.
Aku tahu.
Aku hanya ingin melihat wajah pembunuh keluargaku sebelum kau mati.
Ia mengangguk pelan.
Silakan.
Aku masuk.
Rumah itu nyaris kosong.
Tidak ada foto.
Tidak ada televisi.
Hanya meja kayu tua dan setumpuk map lusuh.
Aku menunggumu, katanya.
Kau pikir aku akan menangis?
Bukan.
Lalu?
Aku pikir kau akan bertanya.
Aku mendengus.
Tidak ada yang ingin kutanyakan.
Padahal aku bohong.
Ada satu pertanyaan yang menghantuiku bertahun-tahun.
Kenapa?
Kenapa keluargaku?
Aku akhirnya mengucapkannya pada malam ketiga.
Raka sedang duduk di kursi plastik dekat jendela. Napasnya pendek. Di tangannya ada secangkir teh yang tak pernah ia minum.
Kenapa kau membakar gedung itu?
Tangannya berhenti gemetar.
Ia menatapku lama.
Aku tidak membakarnya.
Aku tertawa kecil.
Lelucon yang buruk.
Aku serius.
Semua bukti mengarah padamu.
Semua bukti dibuat agar mengarah padaku.
Aku berdiri.
Kalau kau mau mati sebagai pengecut, setidaknya jangan hina keluargaku dengan kebohongan.
Raka tidak membalas.
Ia hanya mengambil satu map cokelat dari meja dan mendorongnya ke arahku.
Aku tidak menyentuhnya.
Apa itu?
Alasan aku menunggumu lima belas tahun.
Aku membuka map itu.
Di dalamnya ada salinan laporan pemadam kebakaran, rekaman transfer bank, foto-foto gedung sebelum kebakaran, serta beberapa lembar tulisan tangan.
Hal pertama yang membuatku berhenti bernapas adalah laporan mengenai titik awal api.
Versi pengadilan menyebut kebakaran bermula dari gudang bawah tanah tempat Raka bekerja sebagai teknisi.
Namun laporan yang ada di tanganku menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Api pertama terdeteksi di lantai delapan.
Lantai tempat keluargaku tinggal.
Aku menatap Raka.
Dari mana kau dapat ini?
Dari orang yang seharusnya bersaksi untukku.
Siapa?
Seorang petugas pemadam bernama Arman Wiratama.
Nama itu terdengar asing.
Kenapa dia tidak muncul di pengadilan?
Karena dua hari sebelum persidangan, dia meninggal dalam kecelakaan.
Dadaku terasa dingin.
Aku membaca lembar berikutnya.
Ada bukti bahwa beberapa pintu darurat gedung sengaja dikunci dari luar pada malam kebakaran.
Ada pula foto kabel alarm kebakaran yang dipotong.
Ini bukan kebakaran spontan.
Ini pembunuhan terencana.
Aku menutup map itu keras.
Kalau semua ini benar, kenapa kau mengaku bersalah saat diperiksa?
Raka memalingkan wajah ke jendela.
Karena mereka membawa putriku.
Aku membeku.
Kau punya anak?
Punya.
Namanya Laras.
Saat itu usianya enam tahun.
Aku tak pernah mendengar apa pun tentang anak Raka selama persidangan.
Media menggambarkannya sebagai lelaki lajang yang hidup sendiri.
Raka melanjutkan dengan suara serak.
Malam aku ditangkap, dua orang datang ke kantor polisi. Mereka memperlihatkan foto Laras sedang pulang sekolah. Mereka bilang kalau aku tidak mengikuti cerita mereka, anakku akan menyusul tiga puluh dua korban lainnya.
Siapa mereka?
Raka menggeleng.
Saat itu aku hanya tahu mereka bekerja untuk pemilik gedung.
Nama pemilik gedung itu langsung muncul di kepalaku.
Surya Adinata.
Pengusaha properti besar yang kini dikenal sebagai filantropis.
Lebih buruk lagi, Surya adalah salah satu donatur terbesar yayasan bantuan hukum tempatku bekerja.
Aku merasa mual.
Kenapa seseorang ingin membakar gedungnya sendiri?
Asuransi.
Terlalu sederhana.
Bukan hanya itu.
Raka menunjuk salah satu dokumen.
Gedung itu bermasalah secara struktur. Ada temuan retakan besar dan instalasi listrik yang tidak memenuhi standar. Kalau pemerintah mengetahuinya, gedung harus dikosongkan dan Surya bisa kehilangan ratusan miliar.
Jadi dia membakar gedung?
Bukan untuk membunuh tiga puluh dua orang. Rencananya kebakaran dilakukan saat sebagian besar penghuni menghadiri acara lingkungan di lantai dasar. Tapi seseorang mengubah waktu eksekusi.
Siapa?
Raka menatapku.
Ayahmu.
Aku merasa dunia berhenti.
Jangan sebut ayahku.
Ayahmu tidak membakar gedung itu. Dia justru mengetahui rencana tersebut.
Aku menatap Raka tajam.
Ayahmu bekerja sebagai auditor proyek pemerintah, bukan?
Aku mengangguk perlahan.
Dia menemukan pemalsuan laporan konstruksi gedung. Dia berencana menyerahkan bukti ke kejaksaan keesokan paginya.
Aku teringat sesuatu.
Malam sebelum kebakaran, ayah meneleponku di Bandung.
Ia terdengar gugup.
Keira, kalau besok Ayah terlambat menelepon, jangan langsung pulang.
Saat itu aku mengira ia hanya khawatir karena Jakarta sedang sering hujan.
Ternyata bukan.
Tanganku mulai dingin.
Kau bilang seseorang mengubah waktu kebakaran.
Raka mengangguk.
Supaya ayahmu ikut mati bersama bukti yang dia simpan.
Aku tidak tidur malam itu.
Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, kebencianku memiliki celah.
Namun menjadi pengacara membuatku paham satu hal.
Cerita emosional bukan bukti.
Selama tiga minggu berikutnya, aku diam-diam menyelidiki semua yang diberikan Raka.
Aku menemukan bahwa perusahaan pengelola gedung memang menerima pembayaran asuransi sangat besar setelah kebakaran.
Aku menemukan nama teknisi keamanan yang mengundurkan diri sehari sebelum kejadian.
Aku juga menemukan sesuatu yang lebih mengerikan.
Jaksa utama yang menangani kasus Raka lima belas tahun lalu kini menjabat sebagai anggota dewan komisaris salah satu perusahaan milik Surya Adinata.
Namanya Bagus Setiawan.
Aku pernah bertemu dengannya berkali-kali dalam seminar hukum.
Ia bahkan pernah memujiku di depan publik.
Keira adalah contoh bagaimana tragedi dapat melahirkan pejuang keadilan.
Sekarang kalimat itu terasa seperti ejekan.
Suatu malam aku membawa laptop ke rumah Raka.
Aku menemukan transfer sebesar lima miliar rupiah ke rekening perusahaan milik kakak Bagus, tiga minggu setelah vonismu.
Raka tersenyum tipis.
Akhirnya kau percaya?
Belum.
Kau tetap keras kepala.
Aku pengacara.
Bagus.
Orang keras kepala biasanya hidup lebih lama.
Aku menatap wajahnya.
Berbeda dari pria yang kulihat di televisi lima belas tahun lalu, Raka sekarang terlihat seperti seseorang yang kelelahan membawa rahasia terlalu lama.
Di mana Laras sekarang?
Senyumnya hilang.
Aku tidak tahu.
Setelah aku divonis, dia ditempatkan di panti sosial. Setahun kemudian aku mendapat kabar dia diadopsi. Semua aksesku ditutup.
Kau tidak pernah mencarinya?
Setiap hari.
Ia menatap tangannya.
Di penjara, setiap ulang tahunnya aku menulis surat. Lima belas surat. Tidak pernah kukirim karena aku bahkan tidak tahu alamatnya.
Untuk pertama kalinya aku merasa kasihan kepadanya.
Dan aku membenci diriku sendiri karena perasaan itu.
Dua hari kemudian, seseorang membobol apartemenku.
Tidak ada uang yang hilang.
Tidak ada laptop yang diambil.
Hanya satu benda yang raib.
Map dari rumah Raka.
Aku langsung meneleponnya.
Tidak aktif.
Aku mengemudi menuju rumahnya hampir tengah malam.
Pintu depan terbuka.
Raka tergeletak di lantai.
Ada darah di sudut bibirnya.
Aku berlutut di sampingnya.
Raka.
Matanya terbuka sedikit.
Keira.
Siapa yang melakukan ini?
Ia mencengkeram pergelangan tanganku.
Mereka tahu.
Siapa?
Cari Laras.
Aku memanggil ambulans.
Sebelum petugas datang, ia kehilangan kesadaran.
Dokter mengatakan kondisinya kritis, tetapi luka akibat serangan bukan penyebab utama.
Kankernya sudah menyebar.
Mungkin tinggal beberapa hari.
Aku duduk di lorong rumah sakit sampai pagi.
Lalu teleponku berbunyi.
Nomor tak dikenal.
Berhenti menggali masa lalu kalau kau tidak ingin menjadi satu-satunya anggota keluarga Mahesa yang benar-benar musnah.
Aku membaca pesan itu tiga kali.
Ketakutan muncul.
Namun ketakutan ternyata tidak selalu membuat seseorang mundur.
Kadang ia justru menghapus keraguan.
Aku mulai mencari Laras.
Catatan adopsi tertutup, tetapi melalui seorang kenalan di dinas sosial, aku menemukan nama keluarga yang mengadopsinya.
Keluarga Santoso.
Alamat terakhir mereka berada di Bekasi.
Namun Laras tidak lagi menggunakan nama Raka.
Nama barunya membuatku tercekat.
Laras Santoso sekarang dikenal sebagai Livia Santoso.
Nama itu sangat kukenal.
Livia adalah junior associate di kantorku.
Ia sudah bekerja bersamaku selama hampir dua tahun.
Perempuan berusia dua puluh satu tahun yang selalu datang paling pagi.
Perempuan yang sering membawakan kopi ketika aku lembur.
Perempuan yang pernah berkata kepadaku bahwa ia ingin menjadi pengacara karena mengagumi keberanianku.
Aku hampir menjatuhkan telepon.
Malam itu aku memanggil Livia ke ruang kerjaku.
Ia datang dengan wajah bingung.
Ada apa, Kak Keira?
Aku meletakkan foto Raka muda di meja.
Wajahnya langsung pucat.
Kau mengenalnya?
Tidak.
Livia.
Aku hanya perlu kejujuran.
Bibirnya bergetar.
Lalu air matanya jatuh.
Dia ayah kandungku.
Aku terdiam.
Sejak kapan kau tahu?
Sejak umur tujuh belas tahun.
Kenapa tidak pernah menemuinya?
Karena aku membencinya.
Jawabannya menghantamku seperti pantulan dari masa lalu.
Aku tumbuh dengan diberi tahu bahwa ayahku membunuh tiga puluh dua orang. Bagaimana aku bisa menemuinya?
Aku menelan ludah.
Dia tidak melakukannya.
Livia menatapku.
Apa?
Aku menceritakan semuanya.
Tentang bukti, ancaman, ayahku, Surya, Bagus.
Ketika aku selesai, Livia menangis tanpa suara.
Lalu ia mengucapkan sesuatu yang membuatku kembali terkejut.
Aku punya surat.
Surat apa?
Ibuku meninggalkan satu surat sebelum meninggal.
Ibu kandungmu?
Livia mengangguk.
Namanya Maya. Dia meninggal saat aku berusia empat tahun. Dalam surat itu, dia bilang kalau suatu hari aku ingin tahu kebenaran tentang Ayah, aku harus mencari seorang pria bernama Surya Adinata.
Kenapa kau tidak pernah melakukannya?
Aku takut.
Livia menarik napas panjang.
Dan karena Surya Adinata adalah ayah biologis ibuku.
Ruangan terasa senyap.
Jadi Raka adalah menantu Surya?
Bukan. Kakek tidak pernah menerima hubungan mereka. Ibu kabur dan menikah dengan Ayah.
Semua kepingan mulai menyatu.
Surya bukan hanya melindungi bisnis.
Ia juga menghancurkan pria yang dianggap mempermalukan keluarganya.
Namun kami masih membutuhkan bukti yang bisa bertahan di pengadilan.
Bukti itu datang dari tempat paling tidak terduga.
Raka sadar dua hari kemudian.
Aku membawa Livia ke rumah sakit.
Ketika perempuan itu masuk ke ruang rawat, Raka menatapnya seperti melihat seseorang kembali dari kematian.
Laras?
Livia menggigit bibir.
Ayah.
Raka menangis.
Bukan tangisan keras.
Hanya air mata yang terus mengalir di pipinya sementara tangannya meraba wajah putrinya dengan gemetar.
Maaf.
Jangan bilang maaf dulu, kata Livia sambil menangis. Kita belum selesai.
Raka lalu meminta aku mengambil sebuah kunci kecil dari dalam jahitan tas lamanya.
Kunci itu membuka loker penyimpanan di Stasiun Gambir.
Di dalam loker ada sebuah perekam suara tua, kartu memori, dan amplop atas nama Keira Mahesa.
Rekaman itu dibuat oleh ayahku beberapa jam sebelum kebakaran.
Suara ayah terdengar jelas.
Jika sesuatu terjadi padaku malam ini, Surya Adinata dan Bagus Setiawan harus diperiksa. Mereka mengetahui temuan pelanggaran struktur gedung dan berusaha menghentikan laporan audit. Saya sudah menyerahkan salinan dokumen kepada Raka Pranoto karena saya tidak lagi mempercayai jalur resmi.
Aku menangis sebelum rekaman selesai.
Selama lima belas tahun aku membenci orang yang justru dipercaya ayahku.
Tiga minggu kemudian, aku berdiri di ruang sidang.
Bukan sebagai kuasa hukum korban biasa.
Aku mengajukan permohonan peninjauan kembali untuk Raka Pranoto sekaligus menyerahkan bukti dugaan persekongkolan kriminal kepada kejaksaan.
Media meledak.
Surya Adinata ditangkap.
Bagus Setiawan diperiksa atas manipulasi alat bukti, suap, dan obstruction of justice.
Beberapa mantan pegawai akhirnya berani bersaksi.
Kebenaran yang dikubur lima belas tahun mulai muncul satu demi satu.
Namun Raka tidak sempat mendengar putusan akhir.
Tiga hari sebelum namanya secara resmi dibersihkan, ia meninggal.
Aku dan Livia berdiri di samping ranjangnya.
Napasnya sangat lemah.
Ia memandangku.
Keira.
Ya.
Kau masih berharap aku mati perlahan?
Air mataku jatuh.
Tidak.
Ia tersenyum.
Bagus.
Berarti satu kesalahan sudah selesai.
Aku menggenggam tangannya.
Maaf.
Raka menggeleng.
Jangan minta maaf karena percaya pada bukti yang diberikan kepadamu.
Ia berhenti sebentar untuk bernapas.
Minta maaflah kalau setelah tahu kebenaran, kau memilih diam.
Itulah kalimat terakhirnya.
Enam bulan kemudian, pengadilan menyatakan Raka Pranoto tidak bersalah.
Nama baiknya dipulihkan.
Di luar gedung pengadilan, wartawan mengerubungiku.
Salah satu dari mereka bertanya.
Bu Keira, bagaimana rasanya mengetahui bahwa pria yang Anda benci selama lima belas tahun ternyata tidak bersalah?
Aku melihat Livia berdiri beberapa meter dariku sambil memegang foto ayahnya.
Aku menjawab pelan.
Lebih menyakitkan daripada membencinya.
Wartawan tampak bingung.
Aku melanjutkan.
Karena kebencian membuat kita yakin dunia sederhana. Ada korban, ada penjahat, ada hukuman. Tetapi kebenaran tidak selalu sesederhana itu.
Aku menatap kamera.
Kadang orang yang terlihat paling bersalah hanyalah orang yang paling mudah dikorbankan.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, pukul sebelas datang tanpa aku harus mengemudi ke rumah Raka.
Namun aku tetap mengambil mobil.
Aku pergi ke pemakaman.
Livia sudah menungguku.
Kami berdiri di depan makam sederhana dengan nama Raka Pranoto terukir di batu hitam.
Livia meletakkan bunga.
Aku berdiri lama tanpa bicara.
Lalu aku mengeluarkan sebuah amplop dari tas.
Surat kelima belas Raka untuk Laras.
Aku menemukannya di antara barang-barangnya.
Livia membacanya dengan tangan gemetar.
Di bagian akhir hanya ada satu kalimat.
Kalau suatu hari kau bertemu Keira Mahesa, jangan membencinya karena dia membenci Ayah. Dia kehilangan keluarganya, sama seperti kau kehilangan Ayah.
Livia menutup mulut sambil menangis.
Aku menatap makam Raka.
Selama lima belas tahun aku mengira akulah korban terbesar dari malam kebakaran itu.
Ternyata tidak.
Api itu tidak hanya membunuh tiga puluh dua orang.
Ia juga mencuri masa kecil seorang anak, menghancurkan nama seorang lelaki tak bersalah, mengubahku menjadi perempuan yang hidup dari kebencian, dan membiarkan orang-orang yang sebenarnya bersalah menikmati hidup dengan tenang.
Aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan fakultas hukum kepadaku.
Keadilan bukan sekadar memastikan seseorang dihukum.
Keadilan adalah memastikan orang yang dihukum adalah orang yang benar.
Sejak hari itu, di setiap perkara yang kutangani, aku tidak pernah lagi bertanya hanya tentang siapa yang tampak bersalah.
Aku selalu bertanya satu hal lagi.
Siapa yang diuntungkan kalau semua orang percaya bahwa dia bersalah?
