Mobil hitam itu berhenti tepat di depan rumah Ibu Siti ketika matahari baru naik di balik pepohonan Desa Sukamaju.
Suara mesinnya membuat beberapa tetangga keluar dari rumah. Kendaraan semewah itu hampir tidak pernah memasuki jalan desa yang sempit dan berlubang.
Ibu Siti yang sedang duduk di kursi bambu dekat jendela perlahan berdiri. Surat Budi masih tersimpan di saku kebayanya. Semalaman ia hampir tidak tidur. Berkali-kali ia membaca tulisan tangan anaknya, lalu menangis, tersenyum, dan menangis lagi.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun mengenakan kemeja putih. Di belakangnya menyusul seorang perempuan muda membawa map tebal.
“Apakah benar ini rumah Ibu Siti?”
Ibu Siti mengangguk ragu.
“Saya Siti. Bapak siapa?”
Pria itu tersenyum sopan.
“Saya Dokter Hendra dari rumah sakit di Semarang. Pak Budi meminta kami menjemput Ibu pagi ini.”
Ibu Siti terpaku.
“Menjemput saya?”
“Semua persiapan operasi sudah dilakukan. Pak Budi sudah membayar uang muka dan meminta pemeriksaan lanjutan dilakukan hari ini.”
Beberapa tetangga mulai berbisik. Ibu Ratna yang tinggal di seberang jalan bahkan menutup mulut karena terkejut.
Ibu Siti meraba saku kebayanya.
“Tapi uang yang diberikan Budi masih ada di rumah.”
Dokter Hendra tersenyum.
“Uang itu bukan untuk membayar rumah sakit, Bu.”
“Lalu untuk apa?”
“Saya tidak tahu. Pak Budi hanya mengatakan uang itu harus tetap menjadi milik Ibu.”
Air mata kembali memenuhi mata perempuan tua itu.
Ternyata anak yang semalam ia coba bela dalam hati memang tidak pernah benar-benar melupakannya.
Namun ketika Ibu Siti hendak masuk ke mobil, sebuah kendaraan lain berhenti beberapa meter di belakang mereka.
Budi turun tergesa-gesa.
“Ibu!”
Ibu Siti menoleh.
Budi berlari mendekat tanpa memedulikan sepatu mahalnya yang menginjak tanah berlumpur. Begitu sampai di hadapan ibunya, ia langsung memeluk perempuan tua itu erat-erat.
“Ibu sudah menemukan uangnya?”
Ibu Siti tidak menjawab. Tangannya hanya mengusap punggung putranya seperti ketika Budi masih kecil.
“Kamu ini…” suaranya bergetar. “Kenapa harus membuat Ibu menangis semalaman?”
Budi tertawa kecil, tetapi matanya merah.
“Maaf.”
Ibu Siti melepaskan pelukan.
“Kenapa kamu tidak memberikan uang itu langsung?”
Wajah Budi berubah.
Ia menoleh sebentar ke arah mobilnya.
“Ibu, nanti saja kita bicara. Sekarang kesehatan Ibu lebih penting.”
Tetapi Ibu Siti mengenal anaknya.
Sejak kecil, setiap kali Budi menyembunyikan sesuatu, ia selalu menghindari tatapan ibunya.
“Ini tentang Rina?”
Budi diam.
Jawaban itu sudah cukup.
Ibu Siti menggenggam tangan anaknya.
“Jangan menyalahkan istrimu karena Ibu.”
Budi menggeleng.
“Masalahnya jauh lebih rumit.”
Di rumah sakit, hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan kondisi Ibu Siti lebih buruk daripada perkiraan awal. Operasi tidak bisa ditunda terlalu lama.
Selama dua hari berikutnya, Budi hampir tidak pernah meninggalkan rumah sakit.
Ia membatalkan rapat, menyerahkan urusan perusahaan kepada manajernya, bahkan tidur di sofa ruang tunggu.
Anehnya, Rina tidak pernah datang.
Ibu Siti memperhatikan hal itu, tetapi tidak bertanya.
Pada malam sebelum operasi, ia melihat Budi duduk sendirian di lorong sambil memandangi layar ponsel.
Ibu Siti memanggilnya.
“Budi.”
Putranya masuk.
“Ibu belum tidur?”
“Duduk sini.”
Budi duduk di samping ranjang.
“Sekarang ceritakan.”
Budi menghela napas.
“Rina tidak suka kalau Budi memberikan uang kepada keluarga tanpa sepengetahuannya.”
“Ibu bukan keluarga?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Budi terdiam.
Ibu Siti langsung menyesal.
“Maaf. Ibu tidak bermaksud begitu.”
“Tidak, Bu. Ibu benar.”
Budi menunduk.
Beberapa tahun terakhir, bisnis material bangunannya berkembang pesat. Ia membuka cabang, membeli gudang, dan mulai mengerjakan proyek besar. Dari luar hidupnya terlihat sempurna.
Tetapi rumah tangganya perlahan berubah.
Rina mulai mengatur seluruh pengeluaran keluarga. Awalnya Budi tidak mempermasalahkannya. Ia merasa istrinya hanya ingin menjaga keuangan.
Lama-kelamaan, setiap bantuan kepada orang tua dianggap pemborosan.
Ketika Budi ingin memperbaiki rumah Ibu Siti dua tahun sebelumnya, Rina menolak.
“Rumah itu masih bisa ditempati. Buat apa menghabiskan ratusan juta?”
Ketika Budi hendak membelikan ibunya mobil kecil agar mudah berobat, Rina kembali menolak.
“Ibumu tinggal di desa. Mobil untuk apa?”
Budi mengalah.
Bukan karena tidak mencintai ibunya, melainkan karena ia selalu percaya masih ada waktu.
Sampai surat pemeriksaan jantung itu berada di tangannya.
“Waktu Ibu datang kemarin, sebenarnya uang perusahaan sedang tidak bermasalah,” kata Budi pelan. “Budi berbohong.”
Ibu Siti menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena beberapa menit sebelum Ibu datang, Budi dan Rina baru bertengkar.”
Rina mengetahui Budi telah mencairkan deposito pribadinya sebesar seratus lima puluh juta rupiah.
Uang itulah yang disembunyikan di dalam bungkus mie.
“Rina mengancam pergi membawa Daffa kalau Budi memberikan uang itu kepada Ibu.”
Daffa adalah cucu Ibu Siti yang baru berusia lima tahun.
Ibu Siti menutup mata sejenak.

“Lalu kenapa kamu tetap memberikannya?”
Budi tersenyum pahit.
“Karena tiba-tiba Budi ingat sesuatu.”
“Apa?”
“Waktu kuliah dulu, Ibu pernah bilang tidak punya uang untuk membeli obat. Beberapa tahun kemudian baru Budi tahu ternyata hari itu Ibu menjual sawah untuk membayar uang kuliah Budi.”
Budi menatap ibunya.
“Kalau waktu itu Ibu memilih harta daripada anak, mungkin hari ini Budi bukan siapa-siapa.”
Air mata mengalir di pipi Ibu Siti.
“Jangan menghitung pengorbanan seorang ibu.”
“Karena itu Budi juga tidak mau menghitung berapa biaya untuk menyelamatkan Ibu.”
Keesokan paginya, operasi berlangsung hampir enam jam.
Budi menunggu di depan ruang operasi tanpa makan.
Ketika lampu di atas pintu akhirnya padam dan dokter keluar, ia langsung berdiri.
“Bagaimana, Dok?”
Dokter Hendra membuka masker.
“Operasinya berhasil.”
Lutut Budi hampir kehilangan tenaga.
Ia duduk sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis seperti anak kecil.
Namun masalah belum selesai.
Tiga hari kemudian, Rina datang.
Ia tidak membawa bunga atau buah.
Ia membawa map.
“Aku ingin bicara.”
Budi membawanya ke kantin rumah sakit.
Rina meletakkan beberapa dokumen di meja.
“Aku sudah menghubungi pengacara.”
Budi membaca halaman pertama.
Gugatan cerai.
“Aku tidak mau hidup dengan laki-laki yang mengambil keputusan besar tanpa bicara dengan istrinya.”
Budi menutup map.
“Itu uang pribadiku.”
“Kita menikah. Tidak ada istilah uang pribadi.”
“Ibuku bisa meninggal.”
“Semua orang akan meninggal, Bud!”
Kalimat itu membuat Budi membeku.
Rina menyadari ucapannya keterlaluan, tetapi terlambat.
Budi berdiri.
“Kalau itu keputusanmu, aku tidak akan menahan.”
Rina ikut berdiri.
“Kamu memilih ibumu daripada keluarga kita?”
Budi menatapnya lama.
“Jangan paksa aku memilih antara menjadi suami dan menjadi anak. Karena orang yang mencintaiku seharusnya tidak pernah meminta pilihan seperti itu.”
Rina pergi dengan wajah pucat.
Dari balik dinding dekat pintu kantin, Ibu Siti ternyata mendengar semuanya.
Ia baru belajar berjalan ditemani perawat ketika mendengar suara mereka.
Malam itu, ia meminta Budi pulang.
“Kamu harus menemui Rina.”
“Tidak perlu, Bu.”
“Perlu.”
“Setelah apa yang dia katakan?”
Ibu Siti tersenyum lemah.
“Orang bisa mengatakan sesuatu yang kejam ketika takut kehilangan sesuatu.”
Budi menggeleng.
“Ibu selalu terlalu baik.”
“Bukan soal baik. Daffa membutuhkan ayah dan ibunya. Kalau rumah tanggamu memang harus berakhir, jangan sampai berakhir karena Ibu.”
Atas permintaan ibunya, Budi menemui Rina.
Namun apa yang ia temukan di rumah justru jauh lebih mengejutkan.
Lemari kamar mereka terbuka.
Beberapa pakaian Rina hilang.
Brankas kecil di ruang kerja kosong.
Dan Daffa tidak ada.
Budi menelepon berkali-kali.
Tidak dijawab.
Barulah malam itu sebuah pesan masuk.
Rina membawa Daffa ke rumah orang tuanya di Jakarta.
Ia juga memindahkan hampir seluruh dana dari rekening bersama mereka.
Jumlahnya lebih dari dua miliar rupiah.
Budi tidak langsung melapor polisi. Ia menghubungi pengacara dan mencoba menyelesaikan semuanya secara hukum serta menjaga Daffa agar tidak terseret konflik orang dewasa.
Selama hampir sebulan, hidupnya berubah total.
Pagi mengurus perusahaan.
Siang menemani ibunya menjalani rehabilitasi.
Malam berbicara dengan pengacara.
Ibu Siti melihat putranya semakin kurus.
Suatu sore, ia berkata, “Bawa Ibu pulang ke desa.”
“Rumah Ibu belum layak.”
“Sudah tujuh puluh tahun Ibu tinggal di sana. Rumah itu tidak pernah mengeluh.”
Budi tertawa.
Akhirnya mereka pulang.
Namun ketika mobil memasuki Desa Sukamaju, Ibu Siti terkejut.
Rumah kayu tuanya sudah tidak ada.
Di tempat itu berdiri rumah sederhana yang baru dicat putih, memiliki teras luas dan lantai yang rata agar aman untuk orang lanjut usia.
Ibu Siti menatap Budi.
“Kamu apakan rumah Ibu?”
“Diperbaiki sedikit.”
“Sedikit dari mana?”
Para tetangga tertawa.
Ibu Ratna datang membawa nampan berisi teh.
“Sudah hampir tiga minggu tukang bekerja, Bu.”
Ibu Siti memukul pelan lengan anaknya.
“Boros.”
Budi tersenyum.
“Dulu Ibu menjual rumah masa depan Ibu supaya Budi punya masa depan. Sekarang giliran Budi.”
Hari-hari berikutnya terasa lebih tenang.
Kesehatan Ibu Siti membaik.
Ia mulai bisa berjalan mengelilingi halaman setiap pagi.
Budi datang hampir setiap akhir pekan.
Suatu Sabtu sore, sebuah mobil berhenti di depan rumah.
Seorang anak kecil turun dan berlari.
“Nenek!”
Ibu Siti membeku.
“Daffa?”
Daffa memeluk pinggangnya.
Beberapa langkah di belakang anak itu berdiri Rina.
Tubuhnya terlihat lebih kurus. Tidak ada tas mahal. Tidak ada perhiasan mencolok.
Budi yang sedang menyiram tanaman langsung berhenti.
“Kenapa kamu datang?”
Rina menunduk.
“Aku ingin mengembalikan Daffa.”
“Dia bukan barang untuk dikembalikan.”
“Aku tahu.”
Suara Rina pecah.
Ia kemudian menyerahkan sebuah map.
Di dalamnya terdapat bukti transfer seluruh uang yang sebelumnya ia pindahkan.
Tidak kurang satu rupiah pun.
“Aku tidak mengambilnya untuk diriku sendiri.”
Budi mengernyit.
“Lalu?”
Rina mengeluarkan dokumen lain.
Ternyata selama beberapa tahun terakhir, perusahaan keluarga Rina mengalami kerugian besar. Ayahnya terlilit utang setelah tertipu investasi properti. Rina diam-diam menggunakan sebagian uang rumah tangga untuk membantu keluarganya.
Ketika mengetahui Budi mencairkan deposito untuk Ibu Siti, ia panik.
Bukan karena membenci ibu mertuanya.
Ia takut Budi menemukan lubang besar dalam keuangan mereka.
“Aku malu,” katanya sambil menangis. “Aku menuduhmu tidak memikirkan keluarga, padahal aku sendiri menyembunyikan masalah keluargaku.”
Budi terdiam.
“Kenapa tidak bilang?”
“Karena aku takut kamu memandang keluargaku sebagai beban.”
Ibu Siti yang sejak tadi diam akhirnya berkata, “Nak Rina.”
Rina menatapnya.
“Kemarilah.”
Perempuan itu berjalan mendekat.
Ibu Siti menggenggam tangannya.
“Waktu Ibu datang ke rumah kalian, Ibu memang sedih. Sangat sedih.”
Rina mulai menangis.
“Maafkan saya, Bu.”
“Tapi ada satu hal yang lebih menyedihkan daripada tidak punya uang.”
Rina menatapnya.
“Tidak punya keberanian untuk jujur kepada keluarga sendiri.”
Rina menunduk.
Ibu Siti melanjutkan, “Uang yang hilang bisa dicari. Rumah yang rusak bisa diperbaiki. Tapi kalau kepercayaan sudah rusak, memperbaikinya perlu waktu.”
Ia kemudian menatap Budi.
“Dan keputusan ada pada kalian. Bukan pada Ibu.”
Budi tidak langsung memaafkan.
Rina juga tidak langsung kembali ke rumah.
Mereka sepakat menjalani konseling pernikahan. Rina tinggal sementara bersama orang tuanya, sedangkan Daffa bergantian tinggal bersama ayah dan ibunya.
Perlahan, mereka belajar berbicara tanpa ancaman.
Belajar membicarakan uang.
Belajar membuat batas antara membantu orang tua dan menjaga rumah tangga sendiri.
Enam bulan kemudian, Ibu Siti menjalani pemeriksaan rutin.
Dokter mengatakan pemulihannya sangat baik.
Ketika pulang, Budi mengajaknya mampir ke toko material pertama yang dulu ia bangun setelah lulus kuliah.
Toko itu kini sudah jauh lebih besar.
Di dinding ruang kerjanya tergantung sebuah foto lama.
Foto wisuda.
Foto yang sama seperti yang ditemukan Ibu Siti di dalam bungkus mie.
Di bawah foto tersebut terdapat sebuah bingkai baru.
Isinya bukan penghargaan bisnis.
Bukan sertifikat.
Melainkan kalung emas tua.
Ibu Siti mendekat.
Tangannya gemetar.
“Ini…”
Budi tersenyum.
“Kalung Ibu.”
Ibu Siti menatapnya tidak percaya.
Kalung itu adalah peninggalan mendiang suaminya yang dijual puluhan tahun lalu untuk membayar sekolah Budi.
“Bagaimana kamu mendapatkannya?”
“Budi mencarinya hampir dua tahun.”
Ternyata kalung tersebut berpindah tangan beberapa kali sebelum akhirnya ditemukan di sebuah toko emas tua di Salatiga. Budi membelinya kembali setelah mengenali ukiran kecil berupa huruf S di bagian pengaitnya.
Ibu Siti menangis.
“Kenapa tidak kamu berikan dari dulu?”
Budi mengambil bingkai itu lalu menyerahkannya kepada ibunya.
“Karena Budi menunggu hari ketika Ibu benar-benar sehat.”
Ibu Siti membuka bingkai dan menggenggam kalung tersebut.
Puluhan tahun lalu, ia melepaskan benda itu karena memilih masa depan anaknya.
Kini benda yang sama kembali kepadanya melalui tangan anak yang telah ia perjuangkan.
Namun kejutan terakhir justru datang dari Daffa.
Anak kecil itu berlari masuk membawa sesuatu.
“Nenek, Ayah bilang ini punya Nenek!”
Di tangannya terdapat sebungkus mie instan.
Semua orang terdiam sebelum akhirnya tertawa.
Daffa menyerahkannya kepada Ibu Siti.
“Nenek harus buka.”
Ibu Siti pura-pura curiga.
“Jangan-jangan ada uang lagi.”
Ia merobek bungkusnya.
Tidak ada uang.
Tidak ada foto.
Hanya sebungkus mie biasa dan selembar kertas kecil.
Tulisan di atasnya dibuat dengan pensil warna oleh Daffa.
“Nenek jangan sakit lagi. Kalau Nenek lapar, Daffa akan masak mie.”
Ibu Siti tertawa sambil menangis.
Ia memeluk cucunya.
Budi berdiri di samping Rina. Hubungan mereka belum sempurna, tetapi mereka sedang mencoba membangunnya kembali dengan cara yang jauh lebih jujur.
Ibu Siti memandang mereka semua.
Barulah ia memahami bahwa hidup tidak selalu mengembalikan kebaikan dalam bentuk yang kita harapkan.
Kadang cinta datang dalam bentuk rumah besar.
Kadang dalam biaya operasi.
Kadang dalam kalung yang hilang puluhan tahun.
Dan kadang, cinta justru disembunyikan di tempat yang paling sederhana, di dalam sebungkus mie instan yang sempat membuat hati seorang ibu hancur sebelum akhirnya menunjukkan bahwa pengorbanannya selama ini tidak pernah benar-benar dilupakan.
