Rumah yang Tidak Lagi Menunggu
Pukul 06.18 pagi, Arga masih berdiri di depan layar CCTV ketika satu kenyataan mulai menghantamnya lebih keras daripada surat Nadira.
Kirana tidak hanya mengetahui ia berada di hotel semalam.
Kirana juga memiliki akses ke rumahnya.
Dan seseorang telah mematikan kamera tepat ketika Nadira meninggalkan gerbang.
“Putar ulang dari pukul dua lewat sepuluh,” kata Arga.
Dimas menggeser rekaman.
Hujan turun tipis. Jalan di depan rumah hampir kosong. Pada pukul 02.19, sebuah mobil hitam berhenti sekitar tiga puluh meter dari gerbang.
Lampunya dimatikan.

Delapan menit kemudian Nadira keluar sambil menarik koper.
Ia berjalan perlahan karena perutnya sudah besar.
Tak ada sopir.
Tak ada keluarga.
Tak ada siapa pun yang menemaninya.
Namun tepat saat Nadira menyeberang menuju sebuah taksi daring yang berhenti di ujung jalan, sosok berjaket gelap keluar dari mobil hitam dan mengangkat ponsel.
Klik.
Foto yang dikirim kepada Arga diambil saat itu.
“Besarkan.”
Dimas memperbesar gambar sampai pecah.
Wajah orang itu tidak terlihat.
Namun pada pergelangan tangannya ada sesuatu yang membuat Arga menahan napas.
Jam tangan dengan tali merah marun.
Ia pernah melihatnya.
Bukan sekali.
“Kirana,” gumamnya.
Dimas menatapnya.
“Bapak yakin?”
Arga tidak menjawab.
Kirana memakai jam itu saat ulang tahun Nadira tiga minggu lalu.
Hadiah dari ibu mereka.
Arga langsung menelepon nomor Kirana.
Tidak aktif.
Ia menelepon lagi.
Tetap tidak aktif.
Lalu pesan dari Nadira kembali terlintas di kepalanya.
Jangan percaya apa pun yang Kirana katakan. Dia sudah membohongi kita berdua jauh sebelum tadi malam.
Untuk pertama kalinya, Arga memaksa dirinya berhenti bertindak seperti bos yang terbiasa mendapatkan jawaban dengan satu perintah.
Ia menghubungi Intan Prameswari.
Pengacara yang disebut dalam surat.
Perempuan itu menjawab pada dering kedua.
“Pak Arga.”
“Anda tahu Nadira di mana?”
“Saya tahu dia aman.”
“Saya tidak akan memaksanya pulang.”
“Bagus.”
“Apa dia sudah bilang semuanya kepada Anda?”
Intan diam sebentar.
“Saya rasa pertanyaan yang lebih tepat adalah, seberapa banyak Anda siap mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan tentang diri Anda sendiri?”
Arga menutup mata.
“Saya selingkuh dengan adiknya.”
“Ya.”
“Saya tidak akan menyangkal.”
“Bagus. Setidaknya kita tidak membuang waktu.”
“Ada seseorang yang mengawasi rumah saya. Kirana mungkin terlibat. Nadira mengirim pesan bahwa Kirana sudah membohongi kami sejak lama.”
Suara Intan berubah.
“Pak Arga, dengarkan saya baik-baik. Jangan kejar Kirana sendirian.”
“Kenapa?”
“Karena Nadira menemukan sesuatu dua minggu lalu.”
“Apa?”
“Dokumen perusahaan.”
Arga membeku.
Intan melanjutkan.
“Nadira menemukan transfer rutin dari salah satu vendor logistik Anda ke sebuah perusahaan konsultan milik Kirana.”
Dada Arga mengencang.
“Tidak mungkin.”
“Jumlah totalnya hampir empat miliar rupiah dalam tiga tahun.”
Arga menjauh dari laptop.
Vendor yang dimaksud langsung muncul di pikirannya.
PT Sagara Transindo.
Salah satu pemasok armada terbesar perusahaannya.
Perusahaan itu sedang berada di bawah audit internal karena biaya operasional melonjak tanpa penjelasan.
“Kenapa Nadira punya dokumennya?”
“Karena seseorang mengirim salinan transaksi itu ke email pribadinya.”
“Siapa?”
“Itulah yang sedang dia cari.”
Arga mengepalkan tangan.
Selama ini ia mengira Nadira hanya ibu rumah tangga yang semakin sensitif karena kehamilan.
Ia lupa bahwa sebelum menikah, Nadira bekerja sebagai auditor.
Ia berhenti bukan karena tidak mampu.
Ia berhenti setelah keguguran kedua karena Arga memintanya mengurangi stres.
Tiba-tiba semua percakapan mereka selama beberapa minggu terakhir memiliki arti baru.
Pertanyaan Nadira tentang vendor.
Tentang Kirana.
Tentang siapa saja yang punya akses ke rumah.
Tentang alasan Arga terus mempercayai direktur keuangan bernama Reza Mahendra.
Arga pernah menertawakannya.
“Sayang, kamu terlalu banyak berpikir.”
Sekarang kalimat itu terasa seperti tamparan.
“Intan,” kata Arga pelan, “apakah Nadira pergi karena takut pada saya atau karena takut pada orang lain?”
“Dua-duanya.”
Jawaban itu menusuk lebih dalam daripada tuduhan apa pun.
“Dia takut Anda akan memilih reputasi perusahaan daripada mempercayainya. Dan setelah semalam, dia merasa ketakutannya terbukti.”
Arga tidak punya pembelaan.
Beberapa menit kemudian sebuah email masuk.
Dari Nadira.
Tanpa pesan.
Hanya satu lampiran rekaman suara.
Arga menekan tombol putar.
Suara Kirana terdengar.
“Kak, aku cuma butuh Mas Arga terus percaya sama Reza sampai proyek pelabuhan itu ditandatangani.”
Lalu suara laki-laki menjawab.
“Dan kalau Nadira terus ikut campur?”
“Biar aku urus.”
Arga mengenali suara itu.
Reza.
Direktur keuangan yang sudah bekerja bersamanya selama sebelas tahun.
Sahabat sejak mereka merintis usaha dengan dua truk sewaan.
Orang yang bahkan menjadi saksi pernikahannya.
Rekaman berlanjut.
“Arga tidak akan curiga padaku,” kata Kirana.
“Kenapa kamu yakin?”
“Karena dia selalu merasa bersalah padaku.”
Tawa kecil terdengar.
“Dan laki-laki yang merasa bersalah gampang dikendalikan.”
Arga menghentikan rekaman.
Rasa mual naik ke tenggorokan.
Ia teringat dua tahun lalu.
Kirana kehilangan modal usaha.
Arga diam-diam menutup utangnya sebesar tujuh ratus juta rupiah agar Nadira tidak khawatir.
Kirana berjanji membayar.
Tidak pernah.
Setelah itu ia semakin sering muncul.
Minta pendapat.
Minta bantuan.
Minta jaringan.
Dan Arga, yang menikmati perasaan dibutuhkan, selalu membantu.
Pukul delapan pagi, Arga tiba di kantor pusat perusahaannya di Kuningan.
Ia tidak menghubungi Reza.
Tidak memberitahu siapa pun.
Namun ketika lift terbuka di lantai dua puluh tiga, ruangan direktur keuangan sudah kosong.
Laptop Reza hilang.
Laci terbuka.
Telepon kantor tergeletak tanpa kartu SIM.
Sekretarisnya berdiri pucat.
“Pak Reza datang jam enam, Pak. Katanya ada perjalanan mendadak ke Surabaya.”
“Siapa yang mengantar?”
“Bu Kirana.”
Arga tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Karena akhirnya ia memahami betapa bodohnya dirinya.
Selama bertahun-tahun ia selalu menganggap ancaman datang dari kompetitor.
Dari tender.
Dari bank.
Dari pihak luar.
Ternyata dua orang yang merancang kehancurannya makan di meja rumahnya sendiri.
Namun ada sesuatu yang masih tidak masuk akal.
Kalau Kirana dan Reza sudah merencanakan penipuan bertahun-tahun, mengapa Kirana sengaja tidur dengannya?
Apa gunanya menghancurkan pernikahan Arga?
Jawabannya datang lewat panggilan dari Intan.
“Nadira akhirnya mengizinkan saya memberitahu satu hal.”
“Apa?”
“Tiga hari lalu dia mengatakan kepada Kirana bahwa dia akan menyerahkan bukti transfer kepada Anda.”
Arga terdiam.
“Kirana panik.”
“Jadi semalam…”
“Mungkin bukan sekadar perselingkuhan.”
Arga menelan ludah.
“Itu cara membuat Nadira pergi sebelum dia sempat bicara dengan saya.”
“Dan membuat Anda terlalu sibuk menyelamatkan pernikahan untuk memperhatikan perusahaan.”
Arga merasakan dingin menjalar di punggungnya.
Ia langsung meminta tim audit mengunci seluruh akses finansial Reza.
Terlambat.
Satu transfer senilai dua puluh tujuh miliar rupiah sudah dijadwalkan ke rekening luar negeri sebagai pembayaran uang muka pembelian armada.
Persetujuan digitalnya menggunakan tanda tangan elektronik Arga.
“Batalkan!”
“Tidak bisa langsung, Pak. Dokumennya memakai otorisasi Bapak.”
“Saya tidak pernah menyetujui.”
Tim IT menemukan sesuatu yang lebih buruk.
Akun Arga diakses pukul 01.14 dini hari.
Dari jaringan hotel tempat ia bersama Kirana.
Arga menatap layar.
Kirana tidak hanya datang untuk tidur dengannya.
Ketika Arga mandi, perempuan itu pasti mengambil ponselnya.
Ia tahu kata sandi.
Karena Arga pernah memberitahukannya saat meminta Kirana memesan makanan dari ponselnya beberapa bulan lalu.
Semua kesalahan kecil yang dianggapnya tidak penting kini membentuk jebakan sempurna.
Pukul sepuluh, polisi dan tim hukum perusahaan mulai bergerak.
Rekening penerima dibekukan sebelum dana seluruhnya berpindah.
Reza ditahan sore itu di Bandara Soekarno Hatta sebelum penerbangan ke Singapura.
Namun Kirana menghilang.
Arga tidak merasa lega.
Ia hanya ingin menemukan Nadira.
Bukan untuk membujuknya.
Bukan untuk menjelaskan.
Ia hanya ingin mengatakan satu hal.
Aku percaya padamu sekarang.
Masalahnya, ia terlambat bertahun-tahun.
Tiga hari berlalu tanpa kabar.
Arga tidur di sofa.
Ia tidak sanggup masuk kamar mereka.
Setiap malam, ia menyalakan lampu kecil di dapur.
Kebiasaan yang dulu ia anggap sepele kini menjadi satu-satunya hal yang membuat rumah itu terasa tidak sepenuhnya mati.
Pada malam keempat, bel berbunyi.
Arga berlari ke pintu.
Bukan Nadira.
Ibu mertuanya berdiri di sana.
Wajah perempuan tua itu keras.
“Kamu kelihatan hancur.”
Arga menunduk.
“Saya memang menghancurkan semuanya, Bu.”
Ibu Nadira masuk tanpa menjawab.
Ia duduk di ruang tamu.
“Aku datang bukan untuk memaafkanmu.”
“Saya tahu.”
“Dan bukan untuk membela Kirana.”
Arga menatapnya.
Perempuan itu mengeluarkan sebuah map.
“Ini dari Nadira.”
Di dalamnya ada surat lain.
Namun bukan surat perpisahan.
Isinya salinan laporan polisi, bukti transaksi, dan satu dokumen yang membuat tangan Arga berhenti.
Surat pemeriksaan DNA.
Nama yang tercantum bukan nama bayi mereka.
Melainkan Kirana.
Arga mengerutkan kening.
“Apa ini?”
Ibu Nadira menarik napas panjang.
“Kirana bukan adik kandung Nadira.”
Arga menatapnya tak percaya.
Dua puluh delapan tahun lalu, ayah Nadira memiliki hubungan dengan seorang perempuan lain.
Kirana lahir dari hubungan itu.
Ketika ibunya meninggal, keluarga membawa Kirana pulang dan membesarkannya sebagai anak sendiri.
Nadira baru mengetahui kebenaran setelah dewasa.
Kirana mengetahuinya saat berusia tujuh belas tahun.
Sejak saat itu, ia menyimpan kemarahan pada keluarga yang menurutnya selalu menempatkan Nadira sebagai anak utama.
Sekolah terbaik.
Pernikahan mewah.
Suami sukses.
Rumah besar.
Sementara ia merasa hidup dari sisa.
“Dia membenci Nadira?” tanya Arga.
Ibu Nadira menggeleng.
“Lebih rumit dari itu. Dia mencintainya sekaligus iri kepadanya.”
Arga tertunduk.
“Lalu saya memberi dia senjata.”
Ibu Nadira tidak membantah.
Malam berikutnya, Arga akhirnya menerima lokasi dari Intan.
Sebuah apartemen servis di Jakarta Selatan.
Ia datang sendirian.
Nadira membuka pintu.
Perutnya terlihat lebih besar.
Wajahnya pucat, tapi matanya tenang.
Arga langsung ingin memeluknya.
Ia tidak bergerak.
“Nadira.”
“Masuk.”
Mereka duduk saling berhadapan.
Tidak ada air mata pada awalnya.
Justru itu yang paling menyakitkan.
“Aku tidak datang untuk minta kamu pulang,” kata Arga.
Nadira mengangguk.
“Aku datang untuk bilang bahwa semua yang kamu tulis benar.”
Mata Nadira mulai berkaca.
“Aku mengkhianati kamu. Tidak ada alasan.”
Arga menarik napas.
“Aku juga meremehkan kamu bertahun-tahun. Aku pikir kalau aku membayar semua tagihan, menyediakan rumah, mobil, dokter terbaik, berarti aku sudah menjadi suami yang baik.”
Nadira menatapnya.
“Aku tidak pernah butuh rumah sebesar itu.”
“Aku tahu sekarang.”
“Aku cuma butuh suamiku datang ketika aku takut anak kita tidak bergerak selama dua jam.”
Arga menunduk.
Air matanya jatuh.
“Aku tahu.”
Nadira menangis untuk pertama kalinya.
“Dan yang paling menyakitkan bukan Kirana.”
Arga mengangkat wajah.
“Yang paling menyakitkan adalah aku sudah curiga dia melakukan sesuatu. Tapi aku tidak berani cerita semuanya kepadamu karena aku tahu kamu akan bilang aku terlalu emosional.”
Arga tidak mampu menjawab.
Karena itulah yang pasti akan ia lakukan.
Mereka duduk dalam diam cukup lama.
Kemudian bayi dalam perut Nadira bergerak.
Nadira spontan memegang perutnya.
Arga melihat gerakan itu.
Dulu ia akan mendekat.
Sekarang ia menunggu.
Nadira memperhatikannya.
Beberapa detik kemudian, ia mengambil tangan Arga dan menempelkannya ke perutnya.
Tendangan kecil terasa.
Arga terisak.
“Dia masih kuat.”
Nadira tersenyum tipis.
“Dia memang kuat.”
Arga menatap istrinya.
“Apakah masih ada kemungkinan untuk kita?”
Nadira tidak langsung menjawab.
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu menyakitkan.
Namun Arga mengangguk.
Untuk pertama kalinya ia tidak memaksa dunia memberinya kepastian.
“Aku akan menerima kalau jawabannya nanti tidak.”
Nadira menatapnya lama.
“Aku belum mau pulang.”
“Aku mengerti.”
“Aku juga belum bisa memakai cincin itu lagi.”
“Aku mengerti.”
“Tapi kamu boleh ikut kontrol hari Senin.”
Arga menutup mulutnya, menahan tangis.
“Terima kasih.”
Dua bulan kemudian, Kirana menyerahkan diri setelah beberapa minggu bersembunyi di Bandung.
Dalam pemeriksaan, terungkap bahwa ia dan Reza memang merancang penggelapan perusahaan.
Namun satu pengakuan Kirana mengejutkan semuanya.
Foto Nadira di gerbang bukan dikirim oleh Kirana.
Kirana memang berada di mobil malam itu, tetapi ia tidak memotret Nadira.
Ada orang ketiga.
Seseorang yang sejak awal mengetahui rencana Reza dan Kirana.
Orang itu sengaja mengirim foto kepada Arga agar ia mulai menyelidiki.
Arga baru mengetahui identitasnya pada hari putrinya lahir.
Setelah operasi caesar, Nadira tertidur di ruang pemulihan.
Intan mendatangi Arga di lorong rumah sakit.
“Orang yang mengirim foto itu sudah bersedia bicara.”
“Siapa?”
Intan menyerahkan ponsel.
Sebuah video terbuka.
Wajah Dimas, kepala keamanan rumahnya, muncul.
Arga terdiam.
Dimas menjelaskan bahwa tiga minggu sebelum kejadian, Nadira meminta bantuannya memeriksa akses CCTV.
Mereka menemukan beberapa aktivitas mencurigakan dari akun Kirana.
Nadira meminta Dimas tidak langsung memberi tahu Arga.
Ia ingin bukti lengkap.
Malam itu Dimas melihat Kirana mengikuti Nadira dari dalam mobil.
Ia memotret Nadira, lalu mengirimkannya kepada Arga.
Pesan ancaman setelahnya juga buatan Dimas.
Bukan untuk mengancam.
Untuk memaksa Arga segera sadar bahwa ada orang yang sedang menghancurkan hidupnya.
“Kenapa dia tidak bilang langsung?” tanya Arga.
Intan tersenyum hambar.
“Karena Bu Nadira bilang satu kalimat kepadanya.”
“Apa?”
“Kalau Arga hanya diberi tahu, dia akan menyangkal. Kalau Arga merasa kehilangan, mungkin akhirnya dia akan melihat.”
Arga menatap melalui kaca ruang bayi.
Putrinya terbaring kecil di dalam inkubator observasi.
Sehat.
Selamat.
Di sampingnya, lampu rumah sakit memantulkan wajah seorang pria yang selama bertahun-tahun mengira dirinya membangun kerajaan untuk keluarganya.
Padahal ia hampir kehilangan keluarga karena tidak pernah benar-benar hadir di dalam kerajaan itu.
Nadira tidak langsung kembali ke rumah Pondok Indah.
Mereka menjalani konseling.
Arga mundur sementara dari jabatan direktur utama.
Ia menghadiri setiap pemeriksaan bayi.
Setiap sesi terapi.
Setiap malam ketika putri mereka menangis.
Enam bulan kemudian, Nadira akhirnya kembali.
Bukan karena melupakan.
Bukan pula karena semuanya sudah sembuh.
Ia kembali karena Arga berhenti meminta pengampunan sebagai hadiah atas penyesalannya.
Ia mulai membuktikan perubahan tanpa menuntut hasil.
Pada malam pertama mereka kembali tinggal di bawah atap yang sama, Arga bangun pukul dua dini hari untuk membuat susu.
Ketika melewati dapur, ia melihat lampu kecil di atas kompor menyala.
Ia berhenti.
Nadira berdiri di belakangnya sambil menggendong putri mereka.
Arga menatap lampu itu.
“Aku kira kamu sudah tidak akan menyalakannya lagi.”
Nadira tersenyum tipis.
“Dulu aku menyalakannya supaya kamu tahu ada rumah yang menunggumu.”
Arga menatapnya.
“Sekarang?”
Nadira melihat putri mereka, lalu kembali menatap Arga.
“Sekarang aku menyalakannya supaya kita sama-sama ingat.”
“Ingat apa?”
“Rumah bukan tempat yang otomatis menunggu kita selamanya.”
Ia menyerahkan bayi mereka ke pelukan Arga.
“Rumah juga harus dijaga.”
Arga memeluk putrinya.
Dan untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun pernikahan, ia mengerti bahwa kehilangan hampir semua yang ia cintai bukanlah hukuman terbesar dalam hidupnya.
Hukuman terbesar adalah mengetahui bahwa selama bertahun-tahun, cinta sudah berdiri tepat di depannya, menyalakan sebuah lampu kecil setiap malam, sementara ia terlalu sibuk mengejar dunia untuk menyadari betapa mudahnya cahaya itu padam.
