MEREKA MENGANGGAP AKU PEREMPUAN BIASA YANG BISA DIBUANG BEGITU SAJA, TANPA TAHU AYAHKU MENINGGALKAN SATU KOTAK BESI YANG BISA MENGHANCURKAN HIDUP MEREKA. KETIKA TIGA ANAK YANG DIANGGAP “BERMASALAH” DITITIPKAN KEPADAKU, BARULAH AKU SADAR—PERTUNANGANKU, KEBAKARAN ITU, DAN PENGUSIRAN WARGA TERNYATA TERHUBUNG OLEH SATU RAHASIA.

Suara Arga di balik pagar membuat seluruh tubuhku menegang.

“Mira! Aku tahu kamu di dalam. Buka pintunya!”

Lala berdiri di sampingku dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram ujung bajuku begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

Aku menutup kotak besi merah itu, lalu memasukkannya ke dalam tas kerja.

“Masuk kamar,” bisikku.

Lala menggeleng.

“Kak, jangan buka. Mereka orang yang sama.”

Aku menatapnya.

“Orang yang sama dengan siapa?”

“Yang datang malam kebakaran.”

Jantungku serasa berhenti sesaat.

Belum sempat aku bertanya lagi, pagar kembali digedor.

“Mira!”

Kali ini aku berjalan ke ruang depan, tetapi tidak langsung membuka pintu. Dari balik jendela, kulihat Arga berdiri bersama dua lelaki yang kemarin datang mencari Lala.

Jadi benar.

Mereka saling mengenal.

“Apa maumu?” teriakku dari dalam.

“Aku cuma mau bicara.”

“Kalau cuma bicara, kenapa bawa dua orang?”

Arga terdiam beberapa detik.

Lalu suaranya melunak.

“Kita pernah hampir jadi suami istri. Aku tidak mau ada salah paham.”

Aku hampir tertawa.

Dua tahun mengenalnya membuatku tahu satu hal. Arga hanya berbicara lembut ketika sedang membutuhkan sesuatu.

“Ayahmu menyimpan dokumen yang bukan miliknya,” lanjutnya. “Serahkan saja. Setelah itu semua selesai.”

“Dokumen apa?”

Hening.

Pertanyaan sederhana itu ternyata membuatnya kehilangan kesabaran.

“Mira, jangan pura-pura bodoh.”

Aku langsung memahami kesalahannya.

Arga yakin aku sudah menemukan sesuatu.

Padahal sampai beberapa menit sebelumnya, aku bahkan tidak tahu kotak itu ada.

“Pulang,” kataku.

“Mira.”

“Besok kalau mau bicara, datang bersama polisi.”

Salah satu lelaki di belakangnya melangkah mendekati pagar.

Aku segera mengangkat ponsel.

“Saya sedang merekam.”

Dia berhenti.

Beberapa lampu rumah tetangga mulai menyala. Di kampung seperti ini, suara pagar ditendang pukul sebelas malam lebih efektif daripada alarm keamanan.

Pak Hadi muncul dari ujung gang mengenakan sarung dan kaus.

“Siapa itu malam-malam?”

Arga menoleh.

Beberapa warga lain ikut keluar.

Mungkin menyadari situasinya tidak menguntungkan, Arga akhirnya mundur.

Namun sebelum masuk mobil, dia menatapku dari balik pagar.

“Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.”

Aku menjawab pelan.

“Sekarang aku mulai tahu.”

Mobilnya pergi.

Malam itu aku tidak tidur.

Aku, Lala, dan kotak merah duduk di lantai kamar kerja sampai hampir subuh.

Buku catatan Ayah ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang kubayangkan.

Empat tahun lalu, sebelum sakitnya memburuk, Ayah membantu warga Kampung Pucang mengurus dokumen tanah.

Sebagian besar warga tinggal di sana selama puluhan tahun. Ada yang memiliki sertifikat, ada yang hanya memegang surat waris, girik, bukti pembayaran pajak, atau perjanjian lama.

Kemudian sebuah perusahaan pengembang datang menawarkan pembebasan lahan.

Nama perusahaan induknya berbeda.

Tetapi di beberapa halaman terakhir, aku menemukan nama PT Taman Arunika sebagai perusahaan yang kemudian mengambil alih proyek.

Ayah mencatat nilai kompensasi yang seharusnya diterima warga.

Jumlahnya besar.

Namun di samping angka-angka itu terdapat angka lain yang jauh lebih kecil.

“Ini apa?” tanyaku.

Lala mendekat.

Aku membandingkan beberapa dokumen.

Tiba-tiba pekerjaan pembukuan yang selama ini dianggap membosankan menjadi senjata.

Aku mengenali polanya.

Pembayaran tercatat seolah telah diberikan penuh kepada warga, tetapi bukti penerimaan menunjukkan jumlah berbeda.

Ada tanda tangan yang bentuknya tidak sama.

Nomor rekening yang berulang.

Nama warga yang sudah meninggal tetapi tercatat menerima uang.

Dan yang paling aneh, beberapa lembar persetujuan penjualan dibuat setelah tanggal pemilik tanah meninggal.

Aku memasukkan flashdisk Ayah ke laptop.

Isinya rekaman suara, foto dokumen, serta video pendek.

Salah satu rekaman membuat darahku berdesir.

Suara pertama adalah Ayah.

“Kalau warga menolak?”

Seorang lelaki menjawab.

“Kalau terus menolak, proyek tetap jalan. Kita punya cara.”

Aku memutar ulang.

Aku mengenal suara kedua.

Bukan Arga.

Tapi aku pernah mendengarnya berkali-kali saat acara keluarga.

Pak Surya.

Ayah Arga.

Selama dua tahun pertunangan, Arga selalu memperkenalkan ayahnya sebagai konsultan properti yang sudah pensiun.

Ternyata Pak Surya pernah menjadi orang yang mengurus pembebasan tanah Kampung Pucang.

Aku merasa mual.

Tiba-tiba semuanya terlihat berbeda.

Pertemuanku dengan Arga dua tahun lalu.

Pendekatannya yang sangat cepat.

Keinginannya mengenal keluargaku.

Pertanyaan-pertanyaan tentang pekerjaan Ayah.

Bahkan keinginannya menikahiku.

Mungkin semua itu bukan kebetulan.

“Lala,” kataku, “bagaimana ibumu mengenal Ayahku?”

Gadis itu terdiam lama.

“Ibu sering bilang Pak Farid orang terakhir yang masih mau membantu warga.”

“Di mana ibumu sekarang?”

Matanya mulai merah.

“Aku tidak tahu.”

Pada malam kebakaran, katanya, beberapa orang datang ke pos warga.

Ibunya, Ratih, termasuk warga yang paling keras menolak pengosongan kampung sebelum masalah ganti rugi diselesaikan.

Lala mengikuti ibunya diam-diam.

Dari balik warung kosong, dia melihat tiga lelaki menurunkan jeriken.

Salah satu dari mereka menyiram cairan di sekitar pos.

Lala mencoba mendekat.

Api menyambar terlalu cepat.

Ledakannya mengenai sisi wajahnya.

Ibunya berhasil menariknya menjauh, tetapi beberapa jam kemudian Ratih menghilang.

Sejak saat itu, orang-orang justru menyebarkan kabar bahwa Lala bermain api dan menyebabkan kebakaran.

Aku memandang bekas luka di wajah gadis itu.

Untuk pertama kalinya aku mengerti kenapa dia selalu gemetar ketika mencium bau terbakar.

Keesokan paginya aku menghubungi seorang pengacara bernama Nadia, teman lama semasa kuliah.

Aku mengirim beberapa salinan dokumen.

Dua jam kemudian dia menelepon.

“Jangan serahkan dokumen asli kepada siapa pun.”

“Separah itu?”

“Mira, kalau ini asli, masalahnya bukan sekadar sengketa tanah. Ada indikasi pemalsuan dokumen dan penggelapan dana. Soal kebakaran harus diperiksa terpisah.”

Aku menelan ludah.

“Ada nama keluarga mantan tunanganku.”

“Kalau begitu jangan temui mereka sendirian.”

Sore harinya Citra datang dari Bekasi.

Begitu masuk rumah, dia langsung memelukku.

“Aku harus cerita sesuatu.”

Kami duduk di ruang tengah.

Ternyata beberapa bulan sebelum pernikahan, Arga berkali-kali menghubunginya secara pribadi.

Awalnya tentang pekerjaan.

Lalu pertanyaannya berubah.

Apakah Ayah pernah meninggalkan brankas?

Apakah ada dokumen lama?

Apakah Rumah Angsana akan dijual setelah aku menikah?

“Aku kira dia cuma cari alasan mendekatiku,” kata Citra sambil menangis. “Makanya aku takut waktu dia minta aku bekerja dengannya.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kenapa tidak bilang?”

“Aku takut Kakak mengira aku mau merusak hubungan kalian.”

Kalimat itu menghantamku.

Selama ini orang-orang selalu membandingkan kami sampai Citra sendiri merasa kecantikannya adalah kesalahan yang harus dia sembunyikan.

Ternyata kami berdua sama-sama menjadi korban dengan cara berbeda.

Malam berikutnya, kejutan lain datang.

Ibuku muncul di Rumah Angsana.

Beliau tidak banyak bicara.

Hanya menyerahkan sebuah amplop cokelat.

“Ayahmu menitipkan ini sebelum meninggal.”

Aku menatap beliau tidak percaya.

“Kenapa baru sekarang?”

Air mata Ibu jatuh.

“Karena Ibu pengecut.”

Di dalam amplop ada surat Ayah.

Tulisan tangannya sudah gemetar.

Ayah menulis bahwa beberapa orang pernah menawarkan uang agar beliau menyerahkan dokumen Kampung Pucang. Setelah menolak, beliau mulai menerima ancaman.

Karena takut keluarganya ikut menjadi sasaran, Ayah menyembunyikan semuanya.

Ada satu kalimat yang membuatku menangis.

Mira mungkin dianggap anak paling biasa di keluarga kita. Tapi justru dia yang paling sulit dibeli.

Aku menutup surat itu sambil menahan sesak.

Ibu menangis di depanku.

“Ibu memaksamu menikah dengan Arga karena Ibu pikir keluarga mereka akan membuat hidupmu aman. Ibu tidak tahu mereka ada hubungannya dengan semua ini.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat ibuku bukan sebagai perempuan yang selalu membandingkanku dengan Citra.

Aku melihat seorang istri yang kehilangan suami dan menghabiskan empat tahun berikutnya dalam ketakutan.

Tiga hari kemudian, Nadia membantu kami menyerahkan salinan bukti kepada pihak berwenang dan mendampingi beberapa warga membuat laporan.

Namun masalah belum selesai.

Satu sore, ketika aku pulang membeli makanan, kulihat asap hitam keluar dari belakang Rumah Angsana.

“Lala!”

Aku berlari.

Warga sudah berhamburan membawa ember dan alat pemadam.

Api muncul dari gudang belakang.

Pak Hadi dan Mas Heru berhasil memadamkannya sebelum menjalar ke bangunan utama.

Lala dan Citra selamat.

Tapi di dekat pagar belakang ditemukan botol plastik berbau bahan bakar.

Tanganku gemetar.

Mereka benar-benar mencoba membakar rumah ini.

Malam itu Lala akhirnya mengatakan sesuatu yang selama ini disembunyikannya.

“Aku ingat wajah salah satu orang waktu kebakaran Kampung Pucang.”

“Siapa?”

Dia mengambil ponselku dan membuka foto lama pertunanganku.

Jarinyya menunjuk seorang lelaki yang berdiri di belakang Arga.

Aku mengenalnya.

Deni.

Sopir sekaligus orang kepercayaan Pak Surya.

Keterangan Lala kemudian menjadi bagian penting dalam pemeriksaan.

Seminggu setelahnya, kabar kasus Kampung Pucang mulai menyebar.

Sejumlah warga yang sebelumnya takut akhirnya berani bicara.

Mereka membawa bukti transfer, surat tanah, rekaman pesan, dan dokumen lain.

Satu demi satu potongan puzzle menyatu.

Pak Surya diperiksa.

Deni ikut diperiksa terkait dua kebakaran.

Manajemen PT Taman Arunika mulai menjaga jarak dan menyatakan akan bekerja sama dalam proses hukum.

Arga menghilang beberapa hari.

Lalu suatu malam dia datang sendirian.

Kali ini tidak menendang pagar.

Dia berdiri di luar Rumah Angsana seperti lelaki yang kehilangan seluruh kesombongannya.

“Aku mau bicara lima menit.”

Aku berdiri di balik pagar.

“Bicara.”

“Aku memang mendekatimu karena Ayah menyuruhku.”

Meski sudah menduganya, mendengar pengakuan itu tetap terasa seperti ditampar.

“Dia tahu Pak Farid punya salinan dokumen. Kami pikir setelah menikah, Rumah Angsana akan lebih mudah diperiksa.”

“Jadi dua tahun itu semuanya bohong?”

Arga menunduk.

“Awalnya iya.”

Aku tertawa kecil.

Jawaban paling kejam justru datang setelahnya.

“Tapi lama-lama aku benar-benar nyaman sama kamu.”

“Nyaman?”

“Aku pikir kita tetap bisa menikah.”

“Dan Citra?”

Wajahnya berubah.

“Itu kesalahan.”

Aku menatap lelaki yang dulu hampir membuatku menyerahkan seluruh hidupku.

Anehnya, aku tidak membencinya lagi.

Aku hanya merasa kasihan.

Arga dibesarkan dengan keyakinan bahwa manusia bisa dipakai seperti alat.

Aku untuk mendapatkan rumah.

Citra untuk wajah bisnis.

Warga Kampung Pucang untuk keuntungan proyek.

“Kenapa kamu datang?”

“Aku punya bukti.”

Dia mengeluarkan flashdisk.

“Ayah menyimpan salinan transaksi asli. Aku juga punya percakapan dengan Deni setelah kebakaran.”

Aku tidak mengambilnya.

“Serahkan kepada pengacara dan penyidik.”

“Aku bisa masuk penjara juga.”

“Kalau kamu terlibat, itu konsekuensimu.”

Arga menatapku lama.

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku menggeleng.

“Tidak. Kamu baru pertama kali diminta bertanggung jawab.”

Itu percakapan terakhir kami.

Beberapa bulan berikutnya melelahkan.

Kasusnya tidak selesai seperti sinetron dalam satu malam. Ada pemeriksaan, verifikasi dokumen, kesaksian warga, perdebatan hukum, dan proses panjang yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Tetapi sesuatu telah berubah.

Warga Kampung Pucang tidak lagi diam.

Ratih, ibu Lala, akhirnya ditemukan.

Dia ternyata bersembunyi di rumah kerabat di Demak setelah menerima ancaman. Selama berminggu-minggu dia tidak berani kembali karena diberi tahu bahwa Lala sudah dibawa keluar kota.

Pertemuan mereka terjadi di ruang tengah Rumah Angsana.

Lala berlari begitu melihat ibunya.

Mereka berpelukan sambil menangis sampai semua orang di ruangan ikut mengusap mata.

Aku berdiri di dekat pintu.

Tiba-tiba Lala menarik tanganku.

“Ibu, ini Kak Mira.”

Ratih memelukku.

“Pak Farid pernah bilang kalau terjadi apa-apa, cari anaknya.”

Aku terdiam.

“Kenapa saya?”

Ratih tersenyum sambil menangis.

“Katanya anaknya keras kepala.”

Aku tertawa untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu.

Setahun kemudian Rumah Angsana tidak lagi menjadi kos biasa.

Dengan bantuan Nadia dan beberapa relawan, dua kamar belakang dijadikan tempat tinggal sementara bagi perempuan dan anak-anak dari keluarga yang sedang menghadapi masalah penggusuran atau kehilangan tempat tinggal.

Aku tetap bekerja sebagai pembukuan.

Tetap minum kopi pagi.

Tetap tidak pandai berdandan.

Tetap punya wajah yang mungkin dilupakan orang lima menit setelah berpapasan di minimarket.

Tapi sekarang aku tidak lagi menganggap biasa sebagai penghinaan.

Suatu sore aku duduk di teras bersama Ibu dan Citra.

Lala sedang belajar di ruang tengah sementara Ratih membantu Bu Marni menyiapkan pesanan nasi kuning.

Pak Hadi lewat dan berteriak dari jalan.

“Mbak Mira, mangganya dicuri anak-anak lagi!”

Aku menjawab santai.

“Biarin, Pak!”

Citra tertawa.

Ibu memandangku cukup lama.

“Ayahmu benar.”

“Benar soal apa?”

Ibu tersenyum.

“Orang-orang selalu mengira sesuatu yang berharga harus terlihat mencolok.”

Aku menatap Rumah Angsana.

Catnya masih belum sempurna.

Pintunya tua.

Atap belakang baru saja diganti.

Tidak ada yang istimewa dari luar.

Sama sepertiku.

Namun sebuah rumah tidak berharga karena orang-orang berhenti untuk memandangnya.

Rumah menjadi berharga karena siapa yang dilindunginya ketika dunia di luar sedang tidak aman.

Aku dulu mengira kotak besi merah adalah warisan terbesar Ayah.

Ternyata bukan.

Warisan terbesar Ayah adalah keberanian untuk menyimpan kebenaran ketika semua orang memilih diam.

Dan tanpa kusadari, keberanian itu telah diwariskannya kepadaku.

Perempuan biasa yang mereka pikir bisa dibuang begitu saja.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang