ENAM TAHUN LALU, AKU DIPAKSA MENERIMA KENYATAAN BAHWA BAYIKU MENINGGAL TANPA PERNAH DIIZINKAN MELIHAT JASADNYA. MALAM INI, SEORANG ANAK LAKI-LAKI DATANG KE TOKO ROTIKU MEMBAWA GELANG KELAHIRAN DENGAN NAMAKU TERCETAK DI ATASNYA.

“Gelang itu seharusnya sudah kubakar enam tahun lalu.”

Kalimat Ratih menggantung di udara seperti petir yang jatuh tepat di tengah ruangan.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Bintang juga.

Wajah anak itu perlahan berubah. Kebingungan di matanya berganti ketakutan.

“Mama bohong?” suaranya nyaris berbisik.

Ratih langsung meraih tangannya.

“Kita pulang.”

Bintang mundur.

Untuk pertama kalinya, dia menolak disentuh perempuan yang selama ini dipanggilnya Mama.

“Aku tanya, Mama bohong?”

“Bintang, jangan dengarkan omongan orang yang baru kamu kenal.”

Aku merasa darahku mendidih.

“Orang yang baru dia kenal?”

Ratih menoleh tajam.

Aku mengangkat gelang kelahiran itu.

“Namaku tercetak di sini. Tanggal lahirnya sama. Nama yang kami pilih juga sama. Sekarang kamu sendiri mengaku gelang ini seharusnya kamu bakar. Kalau aku memang orang asing, jelaskan semuanya.”

Ratih diam.

“Jelaskan!”

Suara teriakanku membuat dua pelanggan yang baru hendak masuk memilih berhenti di depan pintu.

Hujan masih turun deras.

Ratih menekan bibirnya kuat-kuat.

“Aku tidak akan membicarakan ini di depan anak kecil.”

“Aku bukan anak kecil!” Bintang membentak.

Aku dan Ratih sama-sama terkejut.

Bintang menangis, tetapi suaranya tegas.

“Kalau ini tentang aku, aku mau dengar.”

Ratih memejamkan mata sejenak.

Kemudian dia berkata, “Dia anakku.”

“Anak kandung?”

Ratih tidak menjawab.

Bintang menatapnya.

“Mama?”

Ratih mengusap wajah.

“Aku membesarkanmu.”

“Itu bukan jawabannya.”

Aku hampir tidak percaya kalimat itu keluar dari mulut anak enam tahun.

Tapi mungkin selama beberapa hari terakhir, pikirannya telah bekerja lebih keras daripada yang kami bayangkan.

Ratih mendadak menarik Bintang menuju pintu.

Aku menghalangi.

“Kalau kamu bawa dia pergi sekarang, aku akan lapor polisi.”

Ratih tertawa pendek.

“Dengan bukti apa?”

Aku menunjukkan gelang itu.

Wajahnya menegang.

“Dan besok pagi aku akan minta tes DNA.”

Ratih menatapku lama.

Lalu dia berkata pelan, “Kamu pikir setelah enam tahun semuanya bisa kembali begitu saja?”

Dadaku seperti ditusuk.

“Jadi benar?”

Dia tidak menjawab.

Tapi diamnya sudah cukup.

Bintang mulai terisak.

“Aku anak Tante Tari?”

Aku menutup mulut.

Aku ingin memeluknya.

Sangat ingin.

Tapi aku takut membuatnya semakin bingung.

Aku berlutut agar wajah kami sejajar.

“Aku belum tahu pasti.”

“Gelangnya bilang begitu.”

“Kita harus periksa dulu.”

“Kalau benar?”

Pertanyaan itu menghancurkanku lebih daripada apa pun malam itu.

Kalau benar, apa yang harus kukatakan?

Bahwa aku ibunya?

Bahwa aku kehilangan enam tahun pertama hidupnya?

Bahwa aku tidak pernah memilih meninggalkannya?

Aku hanya mampu berkata, “Kalau benar, Tante akan jelaskan semuanya. Pelan-pelan.”

Ratih menutup wajah dengan kedua tangan.

“Aku tidak sanggup.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Aku tidak sanggup kehilangan dia.”

Kali ini suaranya berbeda.

Tidak dingin.

Tidak angkuh.

Melainkan pecah.

Ratih terduduk di kursi dekat jendela.

Bintang tetap berdiri, memeluk tasnya.

Aku menunggu.

Beberapa detik kemudian Ratih mulai bicara.

“Enam tahun lalu, setelah kamu melahirkan, bayimu sehat.”

Kakiku langsung lemas.

Aku mencengkeram meja.

“Ulangi.”

“Dia sehat.”

Ruangan berputar.

Aku benar-benar mendengar tangisannya.

Aku tidak gila.

Aku tidak berhalusinasi.

Anakku hidup.

“Lalu kenapa?” tanyaku.

Ratih menangis.

“Karena ibu.”

Aku membeku.

“Ibu siapa?”

“Ibu kami. Mertuamu.”

Nama perempuan itu tidak perlu disebut.

Bu Salma.

Perempuan yang sejak awal tidak pernah menyukaiku.

Menurutnya aku terlalu miskin untuk Farhan.

Ayahku hanya sopir angkot. Ibuku penjahit rumahan.

Sementara keluarga Farhan memiliki klinik, toko alat kesehatan, dan beberapa rumah kontrakan.

Bu Salma pernah berkata di depan wajahku, “Perempuan bisa naik kelas karena menikah. Jangan sampai lupa diri.”

Aku menatap Ratih.

“Apa hubungannya dengan anakku?”

Ratih menghapus air mata.

“Waktu kamu melahirkan, ada seorang pasien lain di klinik. Namanya Maya. Bayinya meninggal beberapa menit setelah lahir.”

Aku mulai memahami arah ceritanya dan rasa mual naik ke tenggorokan.

“Maya siapa?”

Ratih menunduk.

“Sepupuku.”

Aku mundur satu langkah.

“Ya Allah.”

“Maya sudah tiga kali keguguran. Suaminya mengancam menceraikannya kalau gagal punya anak lagi. Ibu panik. Maya histeris. Semua terjadi cepat.”

“Kalian mengambil anakku.”

Ratih tidak membantah.

“Kalian mengambil anakku!”

“Aku tidak setuju pada awalnya!”

“Jangan bohong!”

“Aku tidak bohong!”

Ratih berdiri.

“Aku bilang itu gila. Aku bilang kita harus beri tahu kamu. Tapi Ibu bilang kondisi kamu lemah, Farhan sedang di luar kota, dan keluarga Maya sudah siap membawa bayi itu ke luar Bandung.”

Tanganku mengepal.

“Lalu kamu membantu.”

Ratih menangis lebih keras.

“Iya.”

Aku menatapnya dengan kebencian yang rasanya hampir membakar tubuhku.

“Kenapa Bintang ada padamu? Mana Maya?”

Ratih terdiam.

Wajahnya berubah.

“Maya meninggal dua tahun kemudian.”

Bintang menunduk.

“Mama Maya?”

Ratih mengangguk pelan.

“Perempuan yang dulu kamu lihat di foto album, itu ibu yang membawamu pulang dari klinik.”

“Terus Mama?”

“Aku mulai mengurusmu sejak kamu berumur satu tahun. Setelah Maya sakit kanker, aku hampir setiap hari bersamanya. Sebelum meninggal dia minta aku menjaga Bintang.”

Aku merasa ada bagian lain yang belum dikatakan.

“Farhan tahu?”

Ratih tidak langsung menjawab.

Aku melangkah mendekat.

“Farhan tahu atau tidak?”

“Tidak.”

Jawaban itu membuatku terpukul dengan cara berbeda.

“Tidak?”

“Waktu dia tiba di klinik, dia juga diberi tahu bayinya meninggal.”

Aku menutup mata.

Enam tahun.

Enam tahun aku membenci Farhan karena tidak cukup mempercayaiku.

Ternyata dia juga kehilangan anaknya tanpa pernah tahu.

“Kenapa kalian tidak pernah takut ketahuan?”

Ratih tertawa pahit.

“Ibu membuat akta kelahiran melalui koneksi lama. Nama Maya dan suaminya tercatat sebagai orang tua. Setelah Maya meninggal, suaminya pindah ke Kalimantan dan menyerahkan hak asuh kepadaku.”

Aku menunjuk gelang kelahiran.

“Tapi ini?”

“Aku menyimpannya.”

“Kenapa?”

Ratih menggeleng.

“Mungkin karena aku pengecut. Mungkin karena setiap kali melihatnya aku ingin mengingat bahwa Bintang bukan milikku.”

Aku tertawa tanpa humor.

“Jangan bicara seolah kamu korban.”

Ratih menunduk.

“Aku tahu.”

“Dan uang klinik?”

Ratih diam.

Aku langsung tahu.

“Ratih.”

Dia tidak menjawab.

“Uang itu juga kamu?”

“Bukan.”

“Siapa?”

“Ibu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Untuk apa?”

“Untuk membayar orang yang mengurus dokumen dan memindahkan Maya bersama bayi ke luar kota sementara.”

Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

Jadi semuanya saling terhubung.

Anakku.

Uang hilang.

Cardigan.

Fitnah.

Perceraian.

Enam tahun hidupku dirampas bukan oleh satu kebohongan, tetapi rangkaian kebohongan yang dirancang untuk saling menutupi.

“CCTV?”

Ratih menutup mata.

“Aku yang memakai cardigan kamu.”

Aku menamparnya.

Suara tamparan terdengar keras.

Bintang tersentak.

Aku sendiri terkejut.

Tapi tanganku tidak terasa sakit.

“Kamu menghancurkan hidupku.”

Ratih memegang pipinya.

“Aku tahu.”

“Kamu membuat suamiku meragukanku.”

“Aku tahu.”

“Kamu membuatku percaya anakku dikuburkan entah di mana.”

“Aku tahu.”

“Dan sekarang kamu membesarkan anakku sambil dipanggil Mama?”

Ratih tiba-tiba berteriak, “Karena aku mencintainya!”

Bintang mulai menangis lagi.

Aku terdiam.

Ratih menatapku dengan mata merah.

“Aku tahu apa yang kulakukan kepadamu tidak bisa dimaafkan. Tapi selama enam tahun aku yang membawanya ke dokter. Aku yang menemaninya demam. Aku yang mengajarinya membaca. Aku yang menunggu di depan kelas saat hari pertama sekolah. Jadi jangan minta aku berpura-pura tidak mencintainya.”

Kalimat itu menusuk karena aku tahu ada kebenaran di dalamnya.

Ratih bersalah.

Sangat bersalah.

Tapi kasih sayangnya kepada Bintang mungkin nyata.

Dan di tengah kekacauan itu, korban paling besar bukan hanya aku.

Bintang berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama merasa kehilangan.

Aku menarik napas panjang.

“Kita tidak akan menyelesaikan ini malam ini.”

Aku mengambil ponsel.

“Aku akan menghubungi Farhan.”

Ratih langsung pucat.

“Jangan.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Ibu sakit jantung.”

Aku hampir tertawa.

“Enam tahun lalu tidak ada yang peduli kalau aku mati karena patah hati.”

Aku mencari nomor lama Farhan.

Nomornya sudah tidak aktif.

Ratih berkata pelan, “Dia ganti nomor.”

“Kasih.”

Ratih diam.

“Sekarang.”

Akhirnya dia menyebutkan nomor.

Tanganku gemetar ketika menelepon.

Nada sambung terdengar tiga kali.

Lalu suara laki-laki menjawab.

“Halo?”

Aku tidak mampu bicara.

Suara itu.

Enam tahun tidak menghapusnya.

“Halo? Siapa?”

“Farhan.”

Sunyi.

“Tari?”

Aku langsung menangis.

Di ujung sana napasnya terdengar berat.

“Ini benar kamu?”

“Aku ketemu Bintang.”

Tidak ada jawaban.

“Farhan?”

“Bintang siapa?”

Aku menatap anak kecil di depanku.

“Anak kita.”

Telepon terdiam begitu lama sampai kupikir sambungan putus.

Lalu terdengar sesuatu jatuh.

Farhan berbisik, “Apa?”

Dua puluh menit kemudian, dia datang.

Masih mengenakan kemeja kerja.

Rambutnya basah.

Begitu masuk toko, pandangannya langsung jatuh kepada Bintang.

Dia berhenti.

Aku melihat wajahnya berubah.

Bukan karena gelang.

Bukan karena cerita.

Hanya karena wajah anak itu.

Farhan mengangkat tangan ke mulut.

Bintang menatapnya penasaran.

“Om siapa?”

Farhan menangis.

Aku belum pernah melihat laki-laki itu menangis seperti itu.

Bahkan ketika kami menerima kabar bayi kami meninggal.

Dia berlutut.

“Aku… Farhan.”

Bintang mengerutkan dahi.

“Ayah?”

Tidak ada yang tahu siapa pertama kali menangis lebih keras.

Aku hanya tahu beberapa menit kemudian kami bertiga duduk bersama di lantai toko roti.

Tidak saling memeluk.

Belum.

Tapi juga tidak sanggup berjauhan.

Malam itu kami pergi ke rumah sakit swasta dan membuat janji pemeriksaan DNA.

Hasilnya keluar empat hari kemudian.

Probabilitas hubungan biologis lebih dari 99,9 persen.

Bintang adalah anak kami.

Farhan menatap kertas itu lama.

Lalu dia keluar dari ruangan dan muntah di tempat sampah.

Aku hanya duduk sambil memeluk Bintang.

Aneh.

Setelah enam tahun, saat akhirnya bisa memeluk anakku, aku tidak merasakan ledakan kebahagiaan seperti yang selalu kubayangkan.

Yang kurasakan justru takut.

Takut dia tidak menyukaiku.

Takut dia merasa aku merebutnya dari Ratih.

Takut enam tahun yang hilang terlalu besar untuk ditebus.

Masalah hukum segera dimulai.

Farhan melaporkan pemalsuan dokumen, penculikan bayi, dan penggelapan dana klinik.

Ratih menyerahkan diri.

Bu Salma menyangkal semuanya sampai polisi menemukan arsip pembayaran lama dan kesaksian mantan bidan klinik.

Klinik Anugerah Ibu ditutup sementara.

Kasusnya menyebar di media lokal.

Namun kejutan terbesar justru datang dari Farhan.

Suatu sore dia datang ke toko membawakan satu kotak lama.

“Aku menyimpan ini.”

Di dalamnya ada puluhan surat.

Semua ditujukan kepadaku.

Aku membuka salah satunya.

Tari, aku tahu aku gagal mempercayaimu malam itu. Aku mencari bukti bahwa kamu tidak mencuri. Ratih selalu bilang jangan ganggu hidupmu lagi karena kamu sudah bahagia di Makassar. Maaf.

Surat berikutnya.

Hari ini seharusnya ulang tahun pertama Bintang. Aku datang ke makam kosong yang Ibu bilang tempat dia dimakamkan. Entah kenapa aku selalu merasa dia tidak ada di sana.

Tanganku gemetar.

“Kamu menulis semua ini?”

Farhan mengangguk.

“Tidak pernah kukirim.”

“Kenapa?”

“Karena aku pengecut.”

Aku menutup kotak.

“Kita berdua kehilangan terlalu banyak karena orang lain memutuskan apa yang boleh kita tahu.”

Farhan menatapku.

“Apa masih mungkin memperbaiki sesuatu?”

Aku tahu maksudnya.

Aku menggeleng pelan.

“Kita tidak perlu kembali menjadi suami istri untuk menjadi orang tua yang baik.”

Matanya berkaca-kaca.

Tapi dia mengangguk.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa keputusan antara kami benar-benar lahir dari kejujuran.

Enam bulan kemudian, hak pengasuhan Bintang ditetapkan bersama kepadaku dan Farhan.

Ratih menerima proses hukum.

Aku datang menjenguknya sekali di rumah tahanan.

Dia tampak jauh lebih kurus.

“Aku tidak minta kamu memaafkan.”

“Aku memang belum bisa.”

Ratih mengangguk.

“Bintang bagaimana?”

“Baik.”

“Dia masih suka roti pisang?”

Aku menahan napas.

“Masih.”

Ratih tersenyum tipis.

“Aku yang mengajarinya suka itu karena Tante Nur sering membawakan.”

Kami diam cukup lama.

Sebelum pulang, Ratih berkata, “Tari.”

Aku menoleh.

“Aku tahu kedengarannya tidak pantas. Tapi jangan hapus aku sepenuhnya dari hidupnya.”

Aku tidak menjawab saat itu.

Namun malamnya, Bintang bertanya kapan dia boleh menjenguk Mama Ratih.

Aku memandang anakku lama.

Lalu aku sadar sesuatu.

Menjadi ibu bukan hanya soal memiliki hak.

Kadang menjadi ibu berarti cukup kuat untuk tidak menambah kehilangan dalam hidup anakmu.

Dua minggu kemudian, aku membawanya menemui Ratih.

Bintang memeluknya sambil menangis.

Aku berdiri beberapa meter dari mereka.

Tidak mudah.

Tapi aku tidak menyesal.

Setahun setelah malam hujan itu, Roti Pagi masih berdiri di Cikutra.

Sekarang ada papan kecil di dekat kasir.

Resep Roti Pisang Nenek Nur.

Setiap Minggu pagi, Farhan datang membantu mengantar pesanan sebelum menjemput Bintang bermain.

Hubungan kami tidak kembali seperti dulu.

Mungkin memang tidak seharusnya.

Tapi kami belajar menjadi keluarga dalam bentuk yang berbeda.

Pada ulang tahun Bintang yang ketujuh, dia meniup lilin lalu berkata ingin meminta satu hadiah.

“Apa?”

“Jangan ada yang bohong lagi.”

Aku dan Farhan saling menatap.

“Kenapa minta itu?”

Bintang mengangkat bahu.

“Karena bohong bikin orang hilang lama.”

Dadaku langsung sesak.

Aku memeluknya.

“Baik.”

Dia menatapku.

“Janji?”

“Janji.”

Bintang tersenyum.

Lesung kecil di pipi kirinya muncul.

Tanda yang selama enam tahun tidak pernah kulihat.

Cahaya yang selama enam tahun kukira sudah padam.

Malam itu aku akhirnya memahami alasan mengapa dulu aku memilih namanya.

Bintang memang tidak selalu terlihat.

Kadang awan terlalu tebal.

Kadang malam terlalu gelap.

Kadang seseorang bahkan membuat kita percaya cahaya itu sudah mati.

Tetapi cahaya yang benar-benar milik kita tidak selalu hilang.

Kadang ia hanya tersesat.

Dan jika kita cukup berani mencari kebenaran, mungkin suatu hari ia akan menemukan jalan pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang