Niat Hati Kabur Dari Cengkeraman Ibu Tiri Kejam Yang Mengincar Nyawaku, Aku Malah Menyerahkan Diri Ke Mobil Mewah Miliarder Asing Namun Saat Kaca Terbuka, Ibu Tiri Berdiri Mencegat Sambil Mengacungkan Kayu Dan Foto Mukaku!

Tangan Aditya berhenti tepat di atas tombol jendela.

Aku menahan napas. Di luar, Ibu Siti masih menghantam kaca sambil berteriak-teriak, sementara tiga lelaki dari kampung berdiri di belakangnya dengan kayu di tangan. Air hujan mengalir deras di wajah mereka, membuat pemandangan itu terlihat seperti mimpi buruk.

“Pak, jangan dibuka,” bisikku panik. “Tolong. Saya mohon.”

Aditya menatapku beberapa detik. Tatapannya tajam, tetapi tidak kejam. Justru ada sesuatu yang sulit kubaca di sana. Seolah ia sedang menilai apakah aku korban atau justru masalah yang baru saja masuk ke mobilnya.

Lalu jendela turun beberapa sentimeter.

“Bapak!” aku spontan menarik lengannya.

“Tenang,” katanya pendek.

Udara dingin bercampur hujan langsung menyusup ke kabin.

Ibu Siti mendekatkan wajahnya ke celah jendela.

“Gadis itu anak saya!” bentaknya. “Dia kabur dari rumah setelah mencuri uang dan perhiasan keluarga. Serahkan dia sekarang!”

Aku membelalak.

“Itu bohong!”

Ibu Siti mengangkat foto wajahku tinggi-tinggi.

“Lihat! Kami sudah mencarinya dari tadi! Anak tidak tahu diri! Dia juga menyerang saya!”

“Saya tidak pernah mencuri!” teriakku. “Dia mau menikahkan saya paksa dengan Pak Junaedi demi melunasi utangnya!”

Wajah Ibu Siti berubah.

“Diam kamu!”

Aditya tidak langsung bereaksi. Ia hanya melihat foto di tangan Ibu Siti, lalu memandang bekas memar di pipiku.

“Kalau dia anak Anda,” katanya tenang, “kenapa Anda mengejarnya tengah malam dengan tiga laki-laki membawa kayu?”

Ibu Siti terdiam sepersekian detik.

“Itu… supaya dia tidak kabur lagi.”

“Dengan memukulnya?”

“Dia keras kepala!”

Aditya mengangguk pelan.

Kemudian ia menaikkan jendela.

“Jalan,” katanya kepada sopir.

Mobil mulai bergerak.

Ibu Siti langsung panik. Ia berlari mengejar sambil memukul bodi mobil.

“Jangan bawa dia! Kalian akan menyesal! Putri! Kamu pikir bisa lari?”

Aku menutup telinga.

Mobil melaju meninggalkan desa. Cahaya obor dan teriakan mereka perlahan menghilang ditelan hujan.

Aku baru sadar tubuhku gemetar tak terkendali.

“Terima kasih,” kataku lirih.

Aditya melepas jas tipis yang terlipat di sampingnya lalu menyerahkannya kepadaku.

“Pakai.”

Aku ragu.

“Tidak apa-apa.”

Aku membungkus tubuhku dengan jas itu. Hangatnya terasa seperti perlindungan pertama yang kurasakan setelah bertahun-tahun.

“Sekarang ceritakan semuanya,” katanya.

Aku menunduk lama.

“Ibu kandung saya meninggal ketika saya berusia sebelas tahun. Ayah menikah lagi dengan Ibu Siti dua tahun setelahnya. Awalnya dia baik. Tapi setelah ayah meninggal karena serangan jantung, semuanya berubah.”

Aku menarik napas.

“Tanah kebun milik ayah dijual sedikit demi sedikit. Saya berhenti sekolah setelah SMA karena katanya kami tidak punya uang. Padahal saya tahu dia sering berjudi online dan berutang ke rentenir.”

Aditya menyimak tanpa memotong.

“Dua minggu lalu,” lanjutku, “dia bilang utangnya hampir empat ratus juta rupiah. Lalu datang seorang pria bernama Junaedi. Usianya lebih dari lima puluh. Dia punya usaha penggilingan padi dan dikenal suka main perempuan.”

Tanganku mengepal.

“Ibu Siti menjanjikan saya kepadanya.”

Aditya mengerutkan kening.

“Menjanjikan?”

“Kalau saya mau menikah dengannya, utang Ibu Siti akan dianggap lunas.”

Untuk pertama kalinya ekspresi Aditya berubah. Rahangnya mengeras.

“Saya menolak. Dia mengunci saya di kamar dua hari. Malam ini saya dengar mereka bicara. Besok pagi saya akan dibawa ke kota untuk menikah secara agama. Saya kabur lewat jendela dapur.”

“Lalu kenapa mereka membawa foto?”

“Saya tidak tahu.”

Aditya diam beberapa saat.

“Apakah ada dokumen yang kamu bawa?”

Aku merogoh saku rok dengan tangan gemetar dan mengeluarkan plastik kecil yang sudah kusimpan sejak kabur. Di dalamnya ada kartu identitas, beberapa lembar uang, dan satu amplop kecokelatan.

Aditya menatap amplop itu.

“Apa itu?”

“Saya tidak tahu pasti. Saya menemukannya di lemari ayah beberapa tahun lalu. Ayah pernah bilang, kalau suatu hari ada sesuatu yang terjadi padanya, saya harus menyimpan ini.”

Aku menyerahkannya.

Aditya membuka amplop dengan hati-hati.

Di dalamnya ada fotokopi sertifikat tanah, surat pernyataan, dan satu foto lama.

Begitu melihat foto itu, wajah Aditya berubah total.

Ia mengambilnya cepat.

Di foto itu, ayahku berdiri bersama seorang pria muda mengenakan kemeja putih di depan bangunan proyek. Di belakang mereka ada papan bertuliskan PT Pratama Konstruksi.

Pria muda itu adalah Aditya.

Aku menatapnya bingung.

“Bapak kenal ayah saya?”

Aditya tidak menjawab segera.

“Nama ayahmu?”

“Rahmat Hidayat.”

Seketika suasana kabin menjadi sunyi.

Aditya menatap keluar jendela lama sekali.

“Ayahmu pernah menyelamatkan hidup saya.”

Aku terdiam.

“Tujuh belas tahun lalu, saya masih merintis bisnis. Ada proyek pembangunan gudang di Semarang. Struktur besi di lokasi roboh karena kelalaian kontraktor. Ayahmu seorang mandor lapangan. Dia mendorong saya keluar dari area sebelum rangka itu jatuh.”

Aditya tersenyum tipis, pahit.

“Dia sendiri terluka parah.”

Dadaku sesak.

“Ayah tidak pernah cerita.”

“Dia juga menolak uang kompensasi besar dari saya. Katanya, dia menolong karena itu kewajiban manusia.”

Aditya membuka surat lain.

“Ini surat kerja sama pembelian tanah.”

Ia membacanya lebih teliti.

“Tanah ayahmu ternyata bukan tanah biasa. Sebagian lahannya masuk dalam kawasan yang sekarang sedang dikembangkan perusahaan saya untuk proyek logistik.”

Aku membeku.

“Apa maksudnya?”

“Kalau dokumen ini asli, ayahmu masih memiliki hak atas sebidang lahan yang nilainya sekarang bisa mencapai miliaran rupiah.”

Aku menutup mulut.

Tiba-tiba semuanya terasa jelas.

Kenapa Ibu Siti memaksaku menikah.

Kenapa dia mengurungku.

Kenapa dia begitu takut aku kabur.

“Dia tahu,” bisikku.

Aditya mengangguk.

“Mungkin.”

Sekitar satu jam kemudian, mobil memasuki kota terdekat. Aditya tidak membawaku ke hotel atau rumahnya. Ia langsung meminta sopir menuju kantor polisi.

Namun baru saja mobil berhenti di halaman, ponselku yang sudah hampir kehabisan baterai bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Aku mengangkatnya.

“Putri?”

Suara pria tua terdengar.

“Siapa?”

“Saya Pak Wiryo, tetangga rumahmu. Jangan pulang. Ibu Siti sedang membuat laporan kalau kamu mencuri tiga ratus juta rupiah.”

Jantungku berdegup kencang.

“Pak, saya tidak mencuri!”

“Saya tahu. Tapi ada yang lebih gawat. Pak Junaedi datang membawa polisi desa dan beberapa orang. Mereka mencari surat tanah milik ayahmu.”

Aku memandang Aditya.

Ia sudah bisa membaca kepanikan di wajahku.

“Pak Wiryo,” kataku, “bagaimana Bapak tahu soal surat itu?”

Suara di seberang terdiam.

“Karena ayahmu pernah menitipkan salinan kepada saya.”

Aku hampir menangis.

“Kenapa tidak pernah bilang?”

“Karena ayahmu menyuruh saya diam sampai kamu dewasa. Dia takut sesuatu terjadi.”

Telepon terputus.

Aditya langsung menghubungi pengacaranya.

Malam itu juga, semuanya bergerak cepat.

Polisi memeriksa laporanku. Seorang petugas perempuan mengambil foto bekas luka di tubuhku. Pengacara Aditya membantu menjelaskan dugaan pemaksaan perkawinan, penganiayaan, dan manipulasi aset.

Aku tidak tidur sama sekali.

Pagi harinya, berita buruk datang.

Rumah kami terbakar.

Aku hampir jatuh ketika mendengar kabar itu.

“Surat-surat ayah…”

“Yang paling penting ada padamu,” kata Aditya.

“Tapi kalau Ibu Siti ada di sana?”

“Dia selamat.”

Anehnya, aku tidak merasa lega.

Beberapa jam kemudian, polisi membawa Ibu Siti ke kantor untuk dimintai keterangan. Saat melihatku duduk bersama Aditya, wajahnya langsung pucat.

“Putri,” katanya dengan suara berbeda. Lembut. Penuh kepura-puraan. “Pulang, Nak. Ibu cuma khawatir.”

Aku memandang perempuan yang selama bertahun-tahun membuatku merasa tidak berharga.

“Kenapa rumah terbakar?”

“Entahlah. Mungkin korsleting.”

Aditya meletakkan salinan dokumen tanah di meja.

“Karena ingin menghilangkan bukti?”

Wajah Ibu Siti menegang.

“Saya tidak tahu apa yang Bapak maksud.”

Pengacara Aditya membuka laptop.

“Kami sudah memeriksa transaksi rekening Anda. Tiga bulan lalu, Pak Junaedi mentransfer seratus lima puluh juta rupiah kepada Anda.”

Ibu Siti mulai gelisah.

“Itu pinjaman.”

“Dengan keterangan uang muka lahan.”

Aku menatapnya.

“Ibu menjual tanah ayah?”

“Tanah itu sekarang milik keluarga!”

“Bukan,” jawab pengacara. “Tanah itu diwariskan seluruhnya kepada Putri berdasarkan surat wasiat yang terdaftar.”

Ibu Siti membeku.

Aku juga terkejut.

“Surat wasiat?”

Aditya menoleh kepadaku.

“Tadi pagi tim saya menemukannya melalui notaris yang menangani dokumen ayahmu.”

Air mataku jatuh.

Ayah ternyata sudah memikirkan semuanya.

Ibu Siti tiba-tiba bangkit.

“Dia anak saya! Saya yang membesarkan dia!”

“Bukan berarti Ibu berhak menjual hidup saya,” kataku.

Untuk pertama kalinya aku tidak takut pada suaraku sendiri.

Ibu Siti menatapku penuh kebencian.

“Kamu pikir orang kaya ini akan terus melindungimu? Kamu bukan siapa-siapa!”

Aditya berdiri.

“Dia benar.”

Aku menoleh, terkejut.

Aditya melanjutkan.

“Dia bukan siapa-siapa bagi saya.”

Ibu Siti tersenyum sinis.

“Tuh kan!”

“Tapi ayahnya adalah orang yang membuat saya masih hidup sampai hari ini.”

Senyum Ibu Siti lenyap.

“Dan sejak tadi malam,” lanjut Aditya, “saya memutuskan utang saya kepada ayahnya belum lunas.”

Penyelidikan berlangsung selama beberapa minggu.

Pak Junaedi akhirnya ditangkap setelah ditemukan bukti bahwa ia bersama Ibu Siti mencoba memalsukan tanda tanganku untuk memindahkan hak tanah. Kebakaran rumah juga terbukti bukan korsleting. Seorang pekerja suruhan Junaedi mengaku dibayar untuk membakar ruang penyimpanan dokumen.

Ibu Siti mencoba menyangkal semuanya sampai akhir.

Namun rekaman percakapan dari ponsel Pak Junaedi menjadi bukti yang menghancurkan mereka.

Aku tidak pernah kembali ke Kampung Lembai untuk tinggal.

Dengan bantuan hukum, tanah peninggalan ayah akhirnya kembali sepenuhnya atas namaku. Perusahaan Aditya menawarkan pembelian sebagian lahan dengan harga pasar yang sangat tinggi. Aku tidak langsung menerimanya.

Sebaliknya, aku meminta satu syarat.

“Kalau perusahaan Bapak benar-benar ingin memakai tanah itu,” kataku, “bangunkan pusat pelatihan kerja untuk perempuan desa di bagian yang tidak digunakan.”

Aditya tersenyum.

“Kenapa?”

“Karena saya tahu rasanya tidak punya uang, tidak punya pendidikan tinggi, dan tidak punya tempat untuk pergi.”

Ia mengangguk.

“Setuju.”

Dua tahun kemudian, di bekas lahan kebun ayah, berdiri sebuah bangunan sederhana namun modern.

Pusat Pelatihan Rahmat Hidayat.

Di sana, perempuan dari desa sekitar belajar administrasi, menjahit modern, pemasaran digital, tata boga, dan keterampilan kerja lainnya.

Aku sendiri kembali kuliah sambil mengelola yayasan kecil yang menaungi tempat itu.

Suatu sore, setelah acara kelulusan peserta pelatihan, Aditya datang membawa sebuah benda yang membuatku terdiam.

Foto lama ayah.

Foto yang dulu berada di dalam amplop.

Ia sudah membingkainya.

“Ini seharusnya ada di tempatmu,” katanya.

Aku menerima foto itu dengan tangan gemetar.

Di balik bingkai, ada tulisan tangan ayah yang sebelumnya tak pernah kulihat.

Jika suatu hari Putri membaca ini, Ayah hanya ingin kamu tahu satu hal. Jangan pernah menganggap dirimu lemah hanya karena orang lain memperlakukanmu seperti orang lemah. Kadang jalan keluar datang ketika kita berani berlari meski tidak tahu ke mana tujuan kita.

Aku menangis.

Bukan karena sedih.

Aku teringat malam badai itu.

Kakiku berdarah.

Tubuhku menggigil.

Aku bahkan tidak tahu siapa yang berada di dalam mobil hitam yang kuhentikan dengan nekat.

Aku hanya tahu satu hal saat itu.

Aku ingin hidup.

Aditya berdiri di sampingku sambil menatap pusat pelatihan yang mulai sepi.

“Kalau malam itu sopir saya terlambat mengerem beberapa detik, mungkin ceritanya berbeda.”

Aku tertawa kecil di antara air mata.

“Kalau malam itu saya tidak berani berdiri di tengah jalan, mungkin cerita saya juga sudah selesai.”

Kami terdiam.

Langit sore di atas kampung terlihat cerah setelah hujan tipis.

Dulu aku mengira keselamatan datang dalam bentuk mobil mewah dan seorang miliarder.

Ternyata aku salah.

Keselamatan pertama datang dari keberanian seorang gadis ketakutan yang akhirnya memilih menyelamatkan dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang