Demi Tuhan, Aditya Suamiku Tega Menyiram Air Mendidih Ke Perutku Sambil Berteriak Agar Aku Melahirkan Anak Laki-Laki, Namun Kebenaran Di Balik X-Ray Rumah Sakit Di Kota Jakarta Ini Justru Membongkar Semua Skenario Keji Pembunuhan Beruntun

Suara sambungan telepon terdengar dua kali sebelum seseorang di seberang sana mengangkatnya.

“Halo?”

Aku langsung mengenali suara itu.

Suara yang selama hampir enam tahun hanya bisa kudengar di dalam ingatan.

“Kak Putri…”

Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibirku sebelum tenggorokanku terasa tercekat.

Di seberang sana mendadak sunyi.

“Indah?”

Suara Kak Putri berubah.

“Indah, ini kamu? Ya Allah, Indah, kamu di mana?”

Air mataku mengalir begitu saja.

“Aku di rumah sakit, Kak.”

Aku belum sempat menjelaskan lebih jauh ketika Aditya kembali berusaha menerjang perawat. Dua petugas keamanan yang baru tiba segera menahannya.

“Matikan telepon itu!” teriaknya. “Dia sedang tidak sadar! Jangan dengarkan dia!”

Kak Putri pasti mendengar semuanya.

“Siapa yang teriak itu?”

Aku menutup mata.

“Aditya.”

Suara Kak Putri langsung berubah dingin.

“Apa yang dia lakukan padamu?”

Aku menatap perban yang membungkus perut dan lenganku.

“Dia menyiramku dengan air mendidih.”

Untuk beberapa detik, Kak Putri tidak mengatakan apa-apa.

Lalu aku mendengar suara benda jatuh dari seberang telepon.

“Aku berangkat ke Jakarta sekarang.”

Aditya tertawa kasar.

“Bandung ke Jakarta bukan lima menit! Sebelum dia sampai, semuanya sudah selesai!”

Kalimat itu membuat dokter senior di sampingku menoleh tajam.

Bukan hanya aku yang mendengarnya.

Semua orang di ruangan itu juga mendengar.

Petugas keamanan langsung membawa Aditya keluar. Ia masih meronta-ronta sambil meneriakkan namaku.

Namun kali ini, suaranya tidak lagi membuat tubuhku gemetar seperti dulu.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, pintu tertutup di antara kami, dan aku berada di sisi yang aman.

Dokter bernama dr. Rendra kemudian duduk di samping ranjangku.

“Bu Indah, saya perlu menjelaskan sesuatu. Mengenai kehamilan Anda sebelumnya, kami menemukan beberapa hal yang sangat tidak wajar dari riwayat medis Anda.”

Aku menatapnya bingung.

“Bukankah semua dokter bilang tubuh saya lemah?”

“Itulah masalahnya.”

Ia membuka berkas digital di tablet.

“Catatan dari klinik tempat Anda beberapa kali dirawat menunjukkan penggunaan obat tertentu yang tidak pernah tercatat sebagai bagian dari terapi resmi.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

Aku teringat empat kehamilanku.

Empat kali aku melihat dua garis merah.

Empat kali pula Aditya berubah menjadi suami paling perhatian di dunia.

Ia membuatkan susu.

Menyediakan vitamin.

Memaksaku berhenti bekerja.

Bahkan setiap malam ia sendiri yang menyiapkan obat.

“Dok…”

Suara gemetar keluar dari mulutku.

“Apakah obat itu bisa menyebabkan keguguran?”

Dr. Rendra tidak langsung menjawab.

“Kami masih harus melakukan pemeriksaan lanjutan. Tapi ada indikasi bahwa Anda menerima zat yang bisa memicu kontraksi dan perdarahan.”

Dunia di sekelilingku seolah berhenti bergerak.

Aku teringat malam saat kehilangan kehamilan pertamaku.

Aditya memelukku sambil menangis.

“Tidak apa-apa, kita coba lagi.”

Saat kehamilan kedua gagal, ia memukul dinding dan menyalahkanku.

“Kamu perempuan macam apa sampai tidak bisa menjaga kandungan?”

Pada kehamilan ketiga, ia mulai menyebutku pembawa sial.

Pada kehamilan keempat, ia mengatakan dokter telah memastikan aku tidak akan pernah bisa memberikan keturunan laki-laki.

Aku mempercayainya.

Aku bahkan meminta maaf kepadanya.

Ternyata selama ini mungkin aku meminta maaf kepada orang yang membunuh anak-anak kami sendiri.

“Kenapa?”

Aku menangis.

“Kalau bayi-bayi itu laki-laki, kenapa dia membunuh mereka?”

Dr. Rendra menggeleng.

“Itu yang harus diketahui penyidik.”

Malam itu polisi datang.

Seorang penyidik perempuan bernama AKP Maya duduk di sampingku dan merekam keteranganku.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang pukulan pertama setelah satu tahun menikah.

Tentang gajiku yang diambil.

Tentang ponsel yang diperiksa.

Tentang larangan menemui Kak Putri.

Tentang obat-obatan yang selalu diberikan Aditya saat aku hamil.

Tentang air mendidih pagi tadi.

Ketika aku selesai berbicara, Maya bertanya sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehku.

“Apakah suami Ibu pernah menikah sebelumnya?”

Aku menggeleng.

“Katanya tidak.”

Maya menatap rekannya.

Tatapan mereka membuat tengkukku terasa dingin.

“Kami sudah melakukan pemeriksaan awal terhadap identitasnya.”

Ia menggeser sebuah foto di layar ponselnya ke arahku.

Di sana terlihat Aditya sekitar sepuluh tahun lebih muda.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan berambut panjang.

Aku tidak mengenalnya.

“Namanya Ratih,” kata Maya. “Istri pertama Aditya.”

Aku merasa sulit bernapas.

“Tidak mungkin.”

“Mereka menikah secara resmi dua belas tahun lalu.”

“Lalu… bercerai?”

Maya diam sejenak.

“Ratih meninggal.”

Dadaku terasa semakin berat.

“Bagaimana?”

“Menurut laporan lama, kecelakaan rumah tangga. Luka bakar parah akibat ledakan kompor.”

Tanganku langsung dingin.

Air mendidih.

Luka bakar.

Kecelakaan rumah tangga.

Cerita yang hampir sama.

Maya memperlihatkan foto perempuan lain.

“Setelah Ratih meninggal, Aditya menikah dengan perempuan bernama Siska.”

Aku menatap foto itu.

Wajahnya muda.

Senyumnya lebar.

“Meninggal juga?”

Maya mengangguk perlahan.

“Keracunan makanan ketika sedang hamil lima bulan.”

Aku hampir muntah.

“Anaknya?”

“Laki-laki.”

Aku menatap Maya dengan mata melebar.

“Kenapa tidak pernah ada yang curiga?”

“Karena kematian mereka terjadi di kota berbeda. Aditya juga memakai variasi nama dalam beberapa dokumen.”

Maya menarik napas.

“Kami belum bisa menyimpulkan apa pun. Tapi pola ini harus diselidiki.”

Aku akhirnya memahami arti kalimat dokter tentang skenario pembunuhan beruntun.

Bukan hanya anak-anakku.

Mungkin aku bukan perempuan pertama.

Mungkin aku hanya perempuan berikutnya.

Kak Putri tiba menjelang subuh.

Begitu masuk ke kamar, ia berhenti di depan pintu dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Rambutnya sudah lebih pendek.

Ada garis lelah di wajahnya.

Tapi saat ia memeluk kepalaku dengan sangat hati-hati, aku kembali menjadi adik kecil yang dulu tidur bersamanya ketika hujan deras membuatku takut.

“Kenapa kamu tidak menghubungiku?”

Aku menangis di dadanya.

“Dia bilang Kakak membenciku.”

Putri menggeleng keras.

“Aku mencarimu bertahun-tahun.”

Ternyata setelah menikah, Aditya mengirim pesan dari ponselku kepada Kak Putri.

Pesannya kasar.

Isinya mengatakan aku tidak ingin lagi memiliki hubungan dengan keluarga.

Ketika Putri datang ke Jakarta mencariku, Aditya mengatakan kami sudah pindah ke Kalimantan.

Semua dirancang agar aku benar-benar sendirian.

Siang harinya polisi menggeledah rumah kami.

Mereka menemukan sesuatu yang membuat penyelidikan berubah total.

Di sebuah kotak besi tersembunyi di bawah lantai gudang, terdapat puluhan dokumen medis.

Bukan hanya milikku.

Ada hasil USG milik Ratih.

Ada resep obat milik Siska.

Ada foto pemeriksaan kandungan perempuan lain bernama Melani yang selama ini tidak tercatat pernah menikah dengan Aditya.

Di setiap berkas terdapat catatan kecil tulisan tangan.

Tanggal kehamilan.

Usia janin.

Jenis kelamin.

Dan beberapa kata yang berulang.

Belum waktunya.

Terlalu berisiko.

Ulangi.

Polisi juga menemukan beberapa polis asuransi.

Setiap istri Aditya pernah terdaftar sebagai tertanggung.

Penerima manfaatnya selalu sama.

Aditya.

Namun ada satu hal yang membuat semuanya semakin aneh.

Dalam dokumen milikku, tidak terdapat polis asuransi jiwa dengan nilai besar.

Artinya, jika Aditya memang berencana membunuhku, alasannya mungkin bukan uang.

Tiga hari kemudian, Maya datang kembali.

“Kami menemukan hubungan antara semua korban.”

Aku menatapnya.

“Mereka semua pernah hamil anak laki-laki?”

“Bukan hanya itu.”

Ia meletakkan foto seorang perempuan tua di meja.

Aku mengenalnya.

Ibu mertua yang selama ini disebut Aditya telah meninggal sebelum kami menikah.

“Ini ibunya?”

“Ya.”

“Dia masih hidup?”

Maya mengangguk.

“Dan kami sudah berbicara dengannya.”

Ternyata perempuan itu tinggal di sebuah panti perawatan di Bogor.

Menurut keterangannya, Aditya memiliki adik laki-laki bernama Arya.

Ketika masih remaja, Aditya dan Arya dibesarkan oleh ayah yang sangat keras.

Ayah mereka selalu mengatakan seluruh bisnis keluarga akan diwariskan kepada Arya karena hanya Arya yang dianggap pantas membawa nama keluarga.

Aditya tumbuh dengan kebencian luar biasa terhadap adiknya.

Pada usia dua puluh tahun, Arya meninggal dalam kecelakaan motor.

Namun kematian itu membuat ayah mereka semakin obsesif terhadap penerus laki-laki.

Dalam surat wasiatnya, sebagian besar aset keluarga hanya bisa diwariskan kepada keturunan laki-laki pertama dari garis Aditya.

Aku mengerutkan dahi.

“Kalau begitu seharusnya Aditya justru senang punya anak laki-laki.”

“Itu yang awalnya kami pikirkan.”

Maya membuka dokumen lain.

“Tapi ada syarat.”

Aset tersebut baru akan berpindah kepada anak itu ketika berusia dua puluh satu tahun.

Selama anak itu masih hidup, Aditya hanya menjadi pengelola.

Namun jika tidak pernah ada keturunan laki-laki yang hidup sampai lahir, aset tetap berada dalam penguasaan Aditya sampai ia meninggal.

Aku akhirnya mengerti.

Anak laki-laki bukan hadiah baginya.

Anak laki-laki adalah ancaman.

Semua tuntutannya agar aku melahirkan anak laki-laki ternyata hanya kedok.

Ia ingin keluarganya mengira dirinya berusaha memiliki pewaris.

Sementara diam-diam ia memastikan tidak ada satu pun pewaris itu yang pernah lahir.

“Ratih dan Siska?”

“Mereka menemukan sesuatu.”

Maya berkata pelan.

“Ratih diketahui sempat berkonsultasi dengan pengacara dua minggu sebelum meninggal. Siska mengirim pesan kepada saudaranya bahwa ia mencurigai obat yang diberikan Aditya.”

Tubuhku menggigil.

“Jadi mereka dibunuh karena tahu?”

“Kami sedang membangun perkara berdasarkan bukti.”

Aku menatap keluar jendela.

Jakarta sore itu tetap ramai.

Mobil bergerak.

Orang-orang pulang kerja.

Pedagang kaki lima menyalakan lampu.

Dunia terus berjalan seolah tidak ada yang berubah.

Padahal hidupku telah terbelah menjadi dua bagian.

Sebelum aku tahu kebenaran.

Dan setelahnya.

Beberapa minggu kemudian, kondisiku membaik.

Hari pertama aku bisa berdiri sendiri, Kak Putri menungguku di ujung lorong rehabilitasi.

“Pelan-pelan.”

Aku melangkah.

Sakit.

Tapi aku terus berjalan.

Sementara itu, pemeriksaan polisi menghasilkan bukti tambahan.

Rekaman kamera dari minimarket dekat rumah menunjukkan Aditya membeli bahan kimia tertentu sehari sebelum keguguranku yang terakhir.

Riwayat transaksi membuktikan ia membeli obat-obatan dari akun berbeda.

Dan dari sebuah ponsel lama, penyidik menemukan foto-foto hasil USG semua kehamilanku yang sebenarnya mencantumkan jenis kelamin janin.

Laki-laki.

Empat kali.

Aku menangis berjam-jam ketika mengetahuinya.

Bukan karena mereka laki-laki.

Melainkan karena selama bertahun-tahun aku dibuat percaya bahwa tubuhku telah mengkhianatiku.

Padahal tubuhku sudah berusaha menjaga mereka.

Orang yang mengkhianati kami justru orang yang tidur di sampingku setiap malam.

Kasus Aditya akhirnya masuk pengadilan.

Aku datang bukan sebagai istri yang meminta belas kasihan.

Aku datang sebagai saksi.

Saat pertama kali melihatku, Aditya tersenyum tipis.

Senyum lama itu.

Senyum yang dulu selalu berhasil membuatku takut.

“Kamu pikir mereka benar-benar peduli padamu?” bisiknya ketika kami berpapasan.

Aku berhenti.

Dulu aku mungkin akan menunduk.

Kali ini aku menatap langsung matanya.

“Aku tidak butuh semua orang peduli kepadaku.”

Ia mengerutkan dahi.

“Aku hanya perlu berhenti percaya kepada kebohonganmu.”

Untuk pertama kalinya, Aditya tidak memiliki jawaban.

Persidangan berlangsung berbulan-bulan.

Keterangan ahli, rekam medis, transaksi obat, dokumen para korban, hingga kesaksian ibu kandung Aditya akhirnya membentuk gambaran yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.

Ia bukan suami yang kehilangan kendali satu kali.

Semua yang dilakukannya adalah pola.

Perencanaan.

Manipulasi.

Penghilangan jejak.

Ketika hakim membacakan putusan, aku tidak merasa bahagia.

Tidak ada kemenangan yang mampu mengembalikan bayi-bayiku.

Tidak ada hukuman yang bisa menghapus bekas luka di tubuhku.

Namun ketika Aditya dibawa keluar ruang sidang, ia menoleh kepadaku untuk terakhir kalinya.

Tatapannya masih penuh kebencian.

Aku tidak membalasnya dengan kebencian.

Aku hanya berdiri di samping Kak Putri.

Diam.

Bebas.

Beberapa bulan setelah persidangan selesai, aku kembali ke Bandung.

Aku tidak kembali sebagai perempuan yang sama.

Bekas luka di perutku masih terlihat.

Kadang-kadang rasa panas itu datang lagi ketika malam terlalu sunyi.

Namun aku mulai bekerja di sebuah usaha konveksi kecil bersama Kak Putri.

Suatu sore, ketika sedang membereskan lemari lama milik keluarga, Kak Putri menemukan kotak kecil berisi barang-barang masa kecil kami.

Di dalamnya ada foto Ibu.

Aku duduk lama sambil memegang foto itu.

“Kalau Ibu masih hidup, dia pasti marah sekali,” kata Kak Putri.

Aku tersenyum.

“Mungkin bukan marah.”

“Lalu?”

“Mungkin dia akan bilang aku terlalu lama pulang.”

Putri menggenggam tanganku.

Aku menatap bekas luka di pergelangan tanganku.

Dulu Aditya selalu mengatakan aku tidak punya tempat untuk pergi.

Ternyata ia salah.

Rumah bukan selalu tempat yang memiliki alamat.

Kadang rumah adalah seseorang yang tetap mengingat nomor teleponmu setelah bertahun-tahun.

Kadang rumah adalah dokter yang berani bertanya satu pertanyaan sederhana.

Apakah ini benar-benar kecelakaan?

Dan terkadang, jalan keluar dari sebuah penjara tidak dimulai dengan teriakan besar.

Ia dimulai dari satu kata pelan yang akhirnya berani diucapkan seorang perempuan.

Bukan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang