Aku berhenti hanya beberapa langkah dari altar.
Senyum tipis masih terukir di wajahku, tetapi di dalam dada, jantungku berdetak keras seperti genderang perang.
Dimas menatapku seolah dunia baru saja runtuh tepat di depan matanya.
“Amanda…” suaranya nyaris tidak terdengar. “Ini… ini tidak mungkin.”
Aku mengangkat alis.
“Bukankah tadi kau bilang rela memberikan apa saja hanya untuk melihat senyumku sekali lagi?”
Beberapa tamu mulai saling berbisik.
Dimas mundur satu langkah.
Rania yang berdiri tak jauh darinya tampak seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas. Wajahnya memucat, sementara jemarinya mencengkeram tas kecil di tangannya begitu erat.
Aku menoleh ke arah peti mati kosong di tengah altar.
“Acara yang indah,” kataku tenang. “Bunganya mahal. Peti matinya juga bagus.”
Tidak seorang pun berani menyela.
Aku melanjutkan, “Sayang sekali orang yang kalian makamkan ternyata masih hidup.”
Ibuku tiba-tiba bangkit dari kursinya.
“Amanda!”
Kali ini aku tidak mampu menahan diri.
Aku berbalik dan berjalan cepat ke arahnya.
Ibuku berlari menghampiriku.
Begitu tubuhnya memelukku, seluruh keteguhan yang kujaga sejak masuk ke katedral hampir runtuh.
Tangannya gemetar saat menyentuh wajahku.
“Kamu hidup… Ya Tuhan… kamu benar-benar hidup…”
“Aku hidup, Bu.”
Air matanya langsung mengalir.
Adik-adikku menyusul memelukku. Untuk beberapa detik, aku melupakan semua yang sedang terjadi.
Aku hanya seorang anak yang akhirnya kembali kepada keluarganya.
Namun, ketika aku mengangkat kepala, kulihat Dimas bergerak perlahan menuju pintu samping.
Aku melepaskan pelukan ibuku.
“Jangan pergi dulu, Dimas.”
Langkahnya berhenti.
Semua mata kembali tertuju kepadanya.
“Amanda, aku bisa menjelaskan.”
“Tentu.”
Aku berjalan kembali ke depan altar.
“Karena itulah aku datang.”
Dimas menelan ludah.
Aku mengangkat tablet di tanganku.
“Enam minggu lalu aku dinyatakan hilang dalam tugas. Setelah itu, kau mulai mengurus klaim asuransi jiwaku.”
Dimas buru-buru menjawab, “Itu prosedur biasa. Semua orang mengira kamu sudah meninggal.”
“Benar.”
Aku menatapnya lurus.
“Tapi membeli tiket ke Paris untuk dua orang tiga hari setelah perusahaan asuransi mengirim konfirmasi awal klaim bukan prosedur biasa.”
Suasana katedral langsung berubah.
Beberapa orang terdengar menarik napas.
Rania menjatuhkan pandangan.
Dimas memaksakan senyum.
“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan.”
Aku mengetuk layar tablet.
Sebuah layar besar yang sebelumnya digunakan untuk menampilkan foto-fotoku tiba-tiba berubah.
Salah satu petugas militer di bagian belakang katedral telah menghubungkan tabletku ke sistem proyektor.
Muncul salinan transaksi kartu kredit.
Hotel.
Katering.
Dekorasi.
Peti mati.
Gaun hitam Rania.
Dan dua tiket kelas bisnis Jakarta Paris.
Nama pemesan tertera jelas.
Dimas Pratama.
Seketika terdengar kegaduhan.
Dimas memandang layar, lalu menoleh kepadaku.
“Ini bisa dijelaskan.”
“Silakan.”
Dia membuka mulut.
Tidak ada kata yang keluar.
Aku mengganti tampilan.

Sekarang muncul daftar transaksi lain.
Kartu kredit atas namaku.
Empat kartu berbeda.
Total pengeluaran hampir setara dengan biaya acara peringatan tersebut.
Aku menatap keluargaku.
“Semua ini dibayar menggunakan fasilitas kredit atas namaku.”
Ayah Dimas yang duduk di barisan tengah berdiri.
“Dimas, apa ini?”
Dimas terlihat panik.
“Ayah, jangan percaya begitu saja. Amanda baru kembali dari kecelakaan. Kondisinya mungkin belum stabil.”
Aku menatapnya dingin.
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang kuduga.
Enam minggu aku bertahan hidup dengan luka terbuka, demam, kelaparan, dan ketakutan bahwa aku tidak akan pernah melihat keluargaku lagi.
Dan sekarang dia mencoba menggambarkanku sebagai perempuan yang kehilangan kewarasan.
Aku tersenyum kecil.
“Bagus.”
Dimas mengernyit.
“Apa?”
“Teruslah bicara. Setiap kali kau berbohong, pekerjaanku semakin mudah.”
Aku membuka file berikutnya.
Suara memenuhi seluruh katedral.
Suara Rania.
“Besok aktingmu harus benar-benar meyakinkan di gereja, Sayang.”
Disusul tawa Dimas.
Lalu kalimat yang kukenal terlalu baik.
“Begitu acara peringatan selesai, proses pencairan asuransi Amanda sebesar lima ratus ribu dolar akan jauh lebih mudah.”
Keheningan berubah menjadi keterkejutan.
Beberapa tamu langsung memandang Dimas dengan jijik.
Rania menutup mulut.
Dimas berteriak, “Matikan itu!”
Rekaman terus berjalan.
“Untung saja wanita sok pahlawan itu tidak pernah kembali.”
Aku mematikan audio.
Tidak perlu mendengarnya lagi.
Ibuku menatap Dimas dengan wajah pucat.
“Kamu bilang kamu mencintai anak saya.”
“Bu, saya…”
“Jangan panggil saya Ibu!”
Suara ibuku menggema lebih keras daripada suara mikrofon mana pun hari itu.
Dimas terdiam.
Aku menoleh kepada Rania.
“Sekarang giliranmu.”
Rania segera menggeleng.
“Aku tidak tahu apa-apa.”
“Kau yakin?”
“Aku hanya pegawai Dimas.”
Aku menggeser layar lagi.
Muncul salinan percakapan.
Pesan mereka.
Foto-foto.
Reservasi hotel.
Transfer uang.
Rencana perjalanan.
Bahkan sebuah pesan dari Rania yang dikirim dua minggu sebelumnya.
Kalau klaim Amanda cair, kita tidak perlu berpura-pura lagi.
Wajah Rania langsung berubah.
“Amanda, dengar…”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya, suaraku meninggi.
“Kalian punya enam minggu untuk bicara. Enam minggu untuk menunjukkan sedikit rasa hormat kepada seseorang yang kalian kira sudah mati.”
Aku menunjuk peti mati.
“Kalian bahkan mengubah kematianku menjadi investasi.”
Dimas tiba-tiba maju.
“Karena aku terpaksa!”
Semua orang membeku.
Aku memandangnya.
“Akhirnya.”
Dimas bernapas berat.
“Bisnisku hampir bangkrut. Aku punya utang. Banyak orang menekanku.”
“Jadi kau memakai identitasku.”
“Aku suamimu!”
“Bukan pemilik hidupku.”
Kalimat itu membuatnya diam.
Dimas mengusap wajah.
“Aku hanya meminjam uang dari kartu-kartumu. Aku berencana menggantinya setelah asuransi cair.”
Beberapa tamu bahkan tertawa sinis mendengarnya.
Aku menggeleng.
“Uang asuransi itu tidak pernah menjadi milikmu.”
Dimas menatapku tajam.
“Aku penerima manfaat utama.”
“Dulu.”
Wajahnya berubah.
Aku melanjutkan.
“Delapan bulan lalu aku memperbarui polis.”
Dia memucat.
Aku melihat kebingungan mulai memenuhi wajahnya.
“Kau tidak membaca surat yang dikirim perusahaan asuransi karena kau terlalu sibuk dengan Rania.”
Aku membuka sebuah dokumen.
“Penerima manfaat utama polis itu adalah ibuku.”
Ibuku menutup mulut.
Dimas menatapku tidak percaya.
“Tidak mungkin.”
“Kau hanya penerima sekunder.”
Ruangan itu mendadak penuh bisikan.
Namun, aku belum selesai.
“Dan ada satu masalah yang jauh lebih besar.”
Aku mengganti halaman.
Kali ini muncul dokumen dari perusahaan asuransi.
“Ketika seseorang dinyatakan hilang dalam tugas, klaim tidak otomatis dibayarkan hanya berdasarkan acara peringatan atau dugaan kematian.”
Aku menatap Dimas.
“Perusahaan asuransi membutuhkan dokumen resmi.”
Salah satu jenderal yang duduk di barisan depan berdiri perlahan.
Dia adalah Brigadir Jenderal Haris, atasanku.
“Saya kira saya perlu membantu menjelaskan bagian itu.”
Dimas menegang.
Jenderal Haris berjalan ke depan altar.
“Kapten Amanda tidak pernah dinyatakan gugur secara resmi.”
Katedral kembali sunyi.
“Status terakhirnya adalah hilang dalam tugas. Ada perbedaan hukum yang sangat besar.”
Dimas terlihat seperti hendak pingsan.
Jenderal Haris melanjutkan.
“Surat kematian yang digunakan untuk pengajuan awal klaim ternyata bukan dokumen yang dikeluarkan oleh institusi militer.”
Aku melihat Rania menoleh cepat kepada Dimas.
Itu reaksi yang selama ini kutunggu.
Dimas balas menatapnya.
“Apa?”
Rania mundur.
Aku tersenyum tipis.
“Sekarang bagian terbaiknya.”
Aku membuka dokumen berikutnya.
Sebuah surat kematian.
Terdapat stempel.
Tanda tangan.
Nomor registrasi.
Semuanya terlihat resmi.
Tetapi semuanya palsu.
Dimas menatap Rania.
“Kamu bilang dokumen itu asli!”
Rania langsung panik.
“Kamu yang menyuruhku mencari seseorang yang bisa mengurusnya!”
“Aku tidak menyuruhmu memalsukan dokumen militer!”
“Jangan bohong!”
Suasana berubah kacau.
Dua orang yang beberapa menit sebelumnya terlihat seperti pasangan sempurna sekarang saling menyalahkan di depan hampir lima ratus orang.
Aku membiarkan mereka berdebat selama beberapa detik.
Lalu aku berkata, “Terima kasih.”
Mereka berhenti.
“Untuk apa?”
Aku menunjuk tablet.
“Pengakuannya.”
Wajah mereka berubah.
Dimas menatap sekeliling.
Baru saat itulah dia menyadari sesuatu.
Ada lebih banyak petugas keamanan di dalam katedral daripada yang seharusnya.
Beberapa pria dan wanita berpakaian formal berdiri di dekat pintu.
Mereka bukan tamu.
Seorang pria berusia sekitar empat puluhan melangkah maju.
Dia menunjukkan kartu identitas.
“Saya Arif Nugroho dari kepolisian.”
Rania langsung mundur.
Dimas menggeleng.
“Tidak. Tunggu.”
Petugas lain mulai mendekat.
Arif berkata tenang, “Kami memiliki dugaan pemalsuan dokumen, penyalahgunaan identitas, penipuan keuangan, dan percobaan mendapatkan pembayaran asuransi menggunakan informasi palsu.”
Dimas menoleh kepadaku.
“Amanda, jangan lakukan ini.”
Aku hampir tidak percaya mendengar kalimat itu.
“Jangan lakukan apa?”
“Kita bisa menyelesaikannya sebagai suami istri.”
Aku menatap cincin kawin di jariku.
Enam minggu lalu, benda itu adalah satu-satunya yang membuatku terus berjalan.
Setiap malam di hutan, ketika aku merasa tidak akan bertahan sampai pagi, aku memegang cincin itu.
Aku membayangkan rumah.
Aku membayangkan Dimas menungguku.
Ternyata sementara aku berusaha pulang kepadanya, dia sudah merencanakan kehidupan setelah kematianku.
Aku melepas cincin itu perlahan.
Kemudian meletakkannya di atas peti mati kosong.
“Kita sudah selesai menjadi suami istri ketika kau merayakan kematianku.”
Dimas menatap cincin itu.
Untuk pertama kalinya hari itu, ekspresi di wajahnya terlihat benar-benar hancur.
Bukan karena kehilangan diriku.
Karena kehilangan semua yang dia kira akan dia dapatkan.
Polisi menggiring Dimas pergi.
Rania mengikuti beberapa langkah di belakangnya.
Sebelum melewati pintu, Rania menoleh kepadaku.
“Aku tidak pernah berniat sejauh ini.”
Aku menjawab tanpa emosi, “Semua pengkhianatan selalu terasa kecil pada langkah pertama.”
Dia menundukkan kepala.
Pintu katedral tertutup kembali.
Aku berdiri di tengah altar.
Ratusan orang masih menatapku.
Namun sekarang tidak ada lagi kemarahan di dalam diriku.
Yang tersisa hanya kelelahan.
Ibuku menghampiriku.
“Pulanglah bersama kami.”
Kali ini aku tidak menolak.
Beberapa minggu kemudian, penyelidikan berkembang jauh lebih besar daripada yang kuduga.
Bisnis Dimas ternyata tidak hanya terlilit utang.
Dia telah memalsukan laporan keuangan selama bertahun-tahun.
Namaku digunakan sebagai penjamin dalam beberapa transaksi.
Rania membantu memindahkan sejumlah dana melalui rekening perusahaan.
Acara peringatan kematianku hanyalah tahap terakhir dari rencana yang sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum kecelakaan helikopter terjadi.
Namun, ada satu fakta yang paling mengejutkanku.
Polisi menemukan sebuah dokumen yang dibuat Dimas tiga bulan sebelum kecelakaan.
Dokumen itu berupa rancangan perubahan polis asuransi yang berusaha menempatkan dirinya sebagai satu-satunya penerima manfaat.
Permohonan tersebut ditolak karena tanda tanganku tidak sesuai.
Aku membaca dokumen itu berkali-kali.
Untuk beberapa saat, satu pertanyaan mengerikan muncul di kepalaku.
Apakah kecelakaan helikopter itu benar-benar kecelakaan?
Penyelidikan militer segera dilakukan.
Berbulan-bulan kemudian, jawabannya akhirnya datang.
Tidak ada sabotase.
Kerusakan mesin memang murni kecelakaan.
Anehnya, kabar itu justru membuatku lega.
Dimas adalah pengkhianat.
Penipu.
Seorang pria yang memanfaatkan dugaan kematianku.
Tetapi setidaknya dia bukan orang yang mencoba membunuhku.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, aku kembali bertugas.
Untuk pertama kalinya, aku mengunjungi lagi katedral tempat acara peringatanku diselenggarakan.
Tidak ada bunga.
Tidak ada ratusan tamu.
Tidak ada peti mati.
Aku duduk sendirian di bangku paling belakang.
Ibuku datang beberapa menit kemudian dan duduk di sampingku.
“Kamu memikirkan hari itu?”
Aku mengangguk.
“Kadang-kadang.”
Dia menggenggam tanganku.
“Apa yang paling kamu sesali?”
Aku memandang altar.
Lalu aku tersenyum.
“Bukan karena menikahi orang yang salah.”
Ibuku terlihat heran.
“Lalu?”
“Aku menyesal pernah percaya bahwa pulang berarti kembali kepada seseorang.”
Aku menatap tangannya yang menggenggam tanganku.
“Padahal pulang adalah kembali kepada orang-orang yang benar-benar ingin kita tetap hidup.”
Ibuku tersenyum sambil menahan air mata.
Kami duduk dalam diam.
Sebelum meninggalkan katedral, aku melewati tempat peti mati itu pernah diletakkan.
Aku berhenti sejenak.
Hari itu seharusnya menjadi simbol kematianku.
Namun bagiku, justru di sanalah sesuatu yang lain berakhir.
Pernikahan yang dibangun di atas kebohongan.
Kepercayaan yang diberikan kepada orang yang salah.
Dan kehidupan lama yang terlalu lama kupertahankan.
Aku berjalan menuju pintu utama.
Cahaya matahari menyambut dari luar.
Kali ini tidak ada lima ratus orang yang terpaku melihatku.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada kejutan.
Hanya langkahku sendiri.
Dan anehnya, itu terasa jauh lebih indah.
Karena setelah selamat dari hutan, kecelakaan, pengkhianatan, dan bahkan pemakamanku sendiri, akhirnya aku memahami satu hal.
Bertahan hidup bukan sekadar tetap bernapas.
Bertahan hidup adalah memiliki keberanian untuk meninggalkan kehidupan yang sudah tidak layak kita perjuangkan, lalu berjalan menuju kehidupan baru tanpa menoleh ke belakang.
