“Kalau kita selamat, jangan percaya siapa pun di keluarga saya. Termasuk saya.”
Bisikan Aditya nyaris tenggelam oleh raungan mesin.
Aku belum sempat bertanya ketika jet kembali menukik tajam. Gelas-gelas kristal berhamburan dari meja. Tubuhku terangkat dari lantai sebelum Aditya menarikku ke kursi dan memasangkan sabuk pengaman.
“Pegang ini!” teriaknya.

Tanganku mencengkeram sandaran kursi. Air mata mengalir tanpa bisa kutahan.
Aku bahkan belum memahami bagaimana seorang pengasuh anak miskin yang seharusnya terbang ke Jakarta bisa berada di jet pribadi seorang triliuner, dituduh mencuri koper rahasia, lalu mendapati wajah seorang wanita dalam foto tua yang sangat mirip denganku.
Sekarang pesawat kami mungkin akan jatuh.
Dari kokpit terdengar suara pilot.
“Pak Aditya! Sistem navigasi utama diretas! Autopilot mengambil alih kendali!”
“Putuskan jaringan!”
“Sudah! Tidak berhasil!”
Aditya menatap koper hitam di lantai.
USB terenkripsi di dalamnya masih memancarkan lampu hijau kecil.
“Cabut benda itu!” teriakku.
Aditya tersentak.
Ia meraih USB tersebut lalu mencabut modul kecil yang terhubung pada perangkat pelacak di sisi koper.
Sekejap kemudian layar kabin mati.
Pesawat kembali berguncang.
Namun beberapa detik setelahnya, suara pilot terdengar.
“Kendali manual kembali!”
Aku menutup wajah sambil menangis.
Jet perlahan berhenti menukik.
Ketika akhirnya pesawat mendarat darurat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, kakiku hampir tidak mampu berdiri.
Tiga mobil SUV hitam sudah menunggu di landasan.
Aditya turun lebih dahulu. Aku mengikuti beberapa langkah di belakang sambil memeluk koper itu.
“Pak.”
Aditya berhenti.
“Saya tidak ingin ikut.”
Ia menoleh.
“Saya hanya ingin pulang ke Jakarta. Saya tidak peduli dengan warisan atau keluarga Anda.”
“Lima ratus miliar baru saja dicuri menggunakan akses yang berkaitan dengan koper itu. Seseorang mencoba menjatuhkan pesawat kita. Kalau mereka mengetahui siapa kamu, pulang sendirian justru lebih berbahaya.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajah Aditya menghilang.
Yang tersisa adalah ketakutan.
Perjalanan menuju vila keluarga Adiwijaya di kawasan Nusa Dua berlangsung dalam keheningan. Di sepanjang perjalanan, pikiranku terus kembali kepada foto tua itu.
Aku teringat satu-satunya benda yang kubawa sejak dari panti asuhan.
Sebuah liontin kecil berbentuk matahari.
Menurut Bu Sari, pengasuh panti, liontin itu sudah tergantung di leherku ketika seseorang meninggalkanku di depan gerbang dua puluh enam tahun lalu.
Tanganku refleks menyentuh leher.
Aditya melihatnya.
Wajahnya mendadak berubah.
“Boleh saya lihat?”
“Kenapa?”
“Liontin itu.”
Aku menggenggamnya erat.
Aditya tidak memaksa. Ia hanya mengeluarkan ponsel, membuka sebuah foto lama, lalu memperlihatkannya kepadaku.
Opa Surya berdiri bersama seorang perempuan muda.
Perempuan dalam foto koper.
Di lehernya tergantung liontin berbentuk matahari yang sama.
Napas seolah berhenti di paru-paruku.
“Namanya Larasati Adiwijaya,” ujar Aditya pelan. “Putri sulung Opa. Kakak ayah saya.”
“Dia siapa bagi saya?”
Aditya tidak menjawab.
Karena kami sudah tiba.
Di dalam vila, seorang lelaki berusia lebih dari delapan puluh tahun duduk di kursi roda.
Begitu melihatku, tubuhnya gemetar.
“Laras…”
Aku membeku.
Lelaki tua itu menangis.
“Bukan,” katanya kemudian. “Kamu bukan Laras. Kamu anaknya.”
Aku berdiri tanpa mampu berkata apa-apa.
Opa Surya meminta semua pengawal keluar.
Aditya tetap berada di ruangan.
“Dua puluh tujuh tahun lalu,” ujar Opa, “Laras jatuh cinta kepada seorang dokter muda bernama Bima Lestari. Dia bukan orang kaya. Ayah Aditya menentang hubungan mereka karena takut Laras menjadi pewaris utama perusahaan.”
Aku menelan ludah.
“Lalu?”
“Mereka menikah diam-diam. Setahun kemudian kamu lahir.”
Kakiku melemas.
“Orang tua saya masih hidup?”
Opa menundukkan kepala.
“Tidak.”
Satu kata itu menghancurkan sesuatu di dalam dadaku.
Opa menjelaskan bahwa kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan mobil ketika aku baru berusia beberapa bulan. Polisi menyebutnya kecelakaan biasa, tetapi Laras sebelumnya sudah mengirimkan bukti bahwa seseorang dalam keluarga mencoba merebut saham miliknya.
Sebelum meninggal, ia menitipkanku kepada seorang perawat bernama Mariam.
Mariam kemudian membawaku ke panti asuhan dan menghilangkan jejak identitasku.
“Untuk melindungimu,” kata Opa.
“Dari siapa?”
Opa belum sempat menjawab.
Pintu terbuka.
Seorang wanita sekitar enam puluh tahun masuk bersama beberapa pengawal.
Pakaiannya elegan. Wajahnya tenang.
Aditya langsung berdiri.
“Tante Ratna.”
Wanita itu tersenyum.
“Jadi akhirnya anak Laras pulang juga.”
Darahku serasa membeku.
Ratna berjalan mendekat.
“Jangan takut, Indah. Saya bukan monster seperti cerita mereka.”
Opa Surya menghantam sandaran kursinya.
“Keluar!”
Ratna justru tertawa.
“Sudah tiga puluh tahun, Kak, tapi kamu masih menyalahkan saya.”
Kemudian ia menatap Aditya.
“Dan kamu. Benar-benar mengecewakan. Gadis asing masuk jetmu membawa koper berisi akses ke rekening keluarga, lalu kamu malah membawanya kemari.”
“Transaksi lima ratus miliar itu pekerjaan Tante?”
Ratna tersenyum tipis.
“Buktikan.”
Aditya membuka laptop.
Tim siber perusahaan sudah mengirim laporan.
Semua orang terdiam.
Dana itu ternyata tidak pernah meninggalkan yayasan.
Transaksi tersebut hanya simulasi pemindahan yang sengaja dibuat terlihat seperti pencurian.
“Seseorang ingin membuat Indah terlihat seperti pelaku,” kata Aditya.
Ratna bertepuk tangan perlahan.
“Bagus. Kamu akhirnya mulai menggunakan otakmu.”
Aku mundur.
“Kenapa?”
Ratna menatapku.
“Karena koper itu seharusnya tidak pernah sampai kepadamu.”
“Aku bahkan mengambilnya karena tertukar!”
“Itulah yang membuat semuanya berantakan.”
Ratna kemudian mengungkap sesuatu yang membuat Aditya pucat.
Koper tersebut sebenarnya dibawa oleh seorang mantan pengacara keluarga yang hendak menyerahkannya kepada Opa Surya. Di dalamnya terdapat dokumen kepemilikan saham asli Laras serta bukti manipulasi perusahaan selama puluhan tahun.
Namun di Bandara Juanda, seseorang dari pihak Ratna hendak mencurinya.
Aku mengambil koper itu lebih dahulu tanpa sengaja.
“Jadi semua ini kebetulan?” tanyaku.
“Awalnya,” jawab Ratna.
Ia menatap tanda lahir di bawah telingaku.
“Setelah saya melihat rekaman CCTV bandara, saya tahu siapa kamu.”
Aku merinding.
Ratna memberi isyarat.
Dua pengawal bergerak ke arahku.
Aditya berdiri di depanku.
“Jangan sentuh dia.”
“Geser, Aditya.”
“Tidak.”
Ratna tertawa kecil.
“Kamu pikir kamu sedang melindungi gadis miskin? Kalau dokumen itu sah, dia memiliki dua puluh delapan persen saham Adiwijaya Group. Lebih banyak daripada kamu.”
Aku menatap Aditya.
Sekarang aku mengerti.
Aku bukan hanya keluarga.
Aku adalah ancaman terhadap kekuasaannya.
Ratna mendekat dan berbisik, “Serahkan koper itu. Saya akan memberimu sepuluh miliar rupiah. Kamu bisa hidup nyaman selamanya.”
Sepuluh miliar.
Aku teringat kamar kosku.
Utang sewa.
Sandal murah.
Wawancara kerja yang sudah pasti kulewatkan.
Dengan uang sebanyak itu, aku tidak perlu bekerja lagi.
Aku memandang koper tersebut.
Kemudian teringat bayi yang kutolong malam sebelumnya.
Aku bekerja enam belas jam bukan karena ingin kaya. Aku bertahan karena aku tahu bagaimana rasanya tidak memiliki siapa-siapa ketika sedang membutuhkan pertolongan.
“Tidak.”
Senyum Ratna menghilang.
“Pikirkan baik-baik.”
“Saya sudah berpikir.”
Ratna memberi isyarat kepada pengawalnya.
Namun sebelum mereka bergerak, pintu vila terbuka.
Polisi masuk bersama petugas keamanan internal perusahaan.
Ratna terkejut.
Aditya mengangkat ponselnya.
“Semua percakapan Tante direkam.”
Wajah Ratna memutih.
Tetapi kejutan terbesar belum datang.
Salah seorang polisi membawa seorang wanita tua masuk.
Aku langsung mengenalinya.
“Bu Sari?”
Pengasuh panti yang membesarkanku menangis ketika melihatku.
Ia memelukku erat.
“Maafkan Ibu, Nak.”
Ternyata Bu Sari bukan sekadar pengasuh.
Nama aslinya Mariam Sari.
Dialah perawat yang membawa bayi Laras melarikan diri dua puluh enam tahun lalu.
Akulah bayi itu.
Mariam menyerahkan dokumen kelahiran asli dan rekaman suara Laras sebelum meninggal. Bukti itu juga menunjukkan bahwa Ratna pernah membayar seseorang untuk merusak rem mobil Laras dan Bima.
Ratna kehilangan seluruh ketenangannya.
“Itu bohong!”
Polisi memborgolnya.
Sebelum dibawa pergi, Ratna berteriak kepada Opa Surya.
“Semua ini terjadi karena keluarga ini menyembah uang!”
Opa tidak menjawab.
Mungkin karena sebagian ucapan itu benar.
Setelah Ratna pergi, ruangan terasa sunyi.
Opa Surya menangis sambil meminta maaf kepadaku.
Namun ada satu orang yang justru berdiri menjauh.
Aditya.
Aku menghampirinya.
“Kenapa?”
Ia tersenyum pahit.
“Karena ada sesuatu yang belum kamu tahu.”
Aditya membuka salah satu dokumen.
“Kalau identitasmu terbukti, kendali terbesar perusahaan jatuh kepadamu.”
Aku terdiam.
“Bukankah itu yang ditakuti Tante Ratna?”
“Bukan cuma dia.”
Aditya menatapku lurus.
“Saya juga takut.”
Aku menunggu.
“Sebelum pesawat berangkat, saya sudah tahu koper itu hilang. Saya diperintahkan mengambilnya kembali dengan cara apa pun. Ketika melihatmu di jet, pikiran pertama saya adalah menyerahkanmu kepada polisi.”
“Lalu kenapa tidak?”
Matanya jatuh pada foto Laras.
“Karena ibu saya meninggal ketika saya berusia sepuluh tahun. Sebelum meninggal, beliau selalu mengatakan bahwa keluarga kita pernah menghancurkan seorang perempuan baik demi harta. Saya baru sadar perempuan itu adalah ibumu.”
Lalu sesuatu yang tidak pernah kubayangkan terjadi.
Aditya Adiwijaya, lelaki yang beberapa jam sebelumnya memandangku seperti sampah, berlutut di hadapanku.
Air matanya jatuh.
“Saya minta maaf atas dosa keluarga saya.”
Aku terpaku.
“Berdiri, Pak.”
“Saya serius.”
“Saya juga serius. Berdiri.”
Aditya menatapku.
“Saya tidak membutuhkan seorang triliuner berlutut di depan saya. Kalau Anda benar-benar merasa bersalah, gunakan kekuasaan Anda untuk memperbaiki apa yang keluarga Anda rusak.”
Enam bulan kemudian, pengadilan mengesahkan identitasku sebagai Indah Larasati Lestari.
Aku resmi menjadi salah satu pemegang saham terbesar Adiwijaya Group.
Tetapi aku tidak membeli mansion.
Aku juga tidak meninggalkan pekerjaanku begitu saja.
Sebagian dividen pertamaku kugunakan mendirikan rumah singgah untuk anak-anak terlantar dan program kesehatan gratis bagi bayi dari keluarga tidak mampu.
Namanya Rumah Laras.
Aditya datang saat peresmian.
“Masih menyesal salah naik pesawat?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku tertawa.
“Setiap kali ingat tiket Jakarta saya hangus.”
Ia menyerahkan sebuah amplop.
“Tiket pengganti?”
Aku membukanya.
Di dalamnya ada surat dari perusahaan tempat aku seharusnya wawancara enam bulan lalu.
Mereka menawarkan posisi kepadaku sebagai direktur program sosial.
Aku menatap Aditya.
“Kamu yang mengatur ini?”
Ia menggeleng.
“Baca nama penandatangannya.”
Tanganku gemetar.
Nama itu adalah dokter yang bayinya kuselamatkan di Surabaya pada malam sebelum seluruh hidupku berubah.
Di bawah tanda tangannya terdapat tulisan tangan.
Kami tidak mencari orang dengan silsilah terbaik. Kami mencari orang yang tetap memilih menolong ketika hidup tidak pernah menolongnya.
Aku menangis.
Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Koper yang salah memang membawaku menemukan keluarga, kekayaan, dan nama yang selama puluhan tahun dirampas dariku.
Namun bukan darah Adiwijaya yang menentukan siapa diriku.
Bukan pula saham, jet pribadi, atau miliaran rupiah.
Sebelum mengetahui bahwa aku seorang pewaris, aku sudah menjadi Indah Lestari.
Seorang anak panti yang bekerja sampai tubuhnya hampir roboh.
Seorang perempuan yang tetap menyelamatkan nyawa orang lain meskipun dirinya sendiri sedang kesulitan.
Dan mungkin itulah warisan paling berharga yang tidak pernah berhasil dicuri siapa pun dariku.
