Hujan semakin deras mengguyur bumi saat aku melangkah keluar dari area pemakaman. Suara tawa ayahku dan keluarganya perlahan meredam, tergantikan oleh suara gemuruh guntur dan deru angin. Aku tidak menoleh lagi. Dengan buku tabungan biru yang mendekap erat di balik mantelku, aku memanggil taksi dan menuju ke pusat kota, langsung ke Bank Sentral Metropolitan—tempat di mana Nenek selalu menabung semasa hidupnya.
Pukul dua siang. Suasana bank cukup lengang karena cuaca buruk. Di dalam ruangan yang hangat dan beraroma kopi mahal itu, aku mengeringkan tangan dengan tisu, lalu melangkah menuju salah satu meja Customer Service yang kosong.
Seorang wanita muda dengan papan nama “Sarah” menyapaku dengan senyum profesional yang ramah. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”

Aku duduk, meletakkan buku tabungan biru yang sedikit kotor oleh sisa lumpur pemakaman di atas meja kaca. “Saya ingin memeriksa saldo dan hak atas rekening ini. Pemiliknya baru saja meninggal, dan akun ini diwariskan kepada saya.”
Sarah mengambil buku tabungan itu dengan hati-hati. Begitu dia membuka halaman pertama dan melihat nomor rekening serta nama yang tertera, senyum profesionalnya langsung runtuh. Matanya membelalak.
Dia mengetikkan nomor tersebut ke komputernya. Detik berikutnya, warna merah langsung menyelimuti wajahnya, sebelum akhirnya berubah menjadi pucat pasi. Jarinya gemetar di atas keyboard. Dia menatap layar komputer, lalu menatapku, seolah-olah melihat hantu.
“M-mohon tunggu sebentar,” bisiknya dengan suara tercekat.
Sarah berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang dan hampir jatuh. Dia berlari setengah pincang menuju ruangan kaca di belakang, tempat Manager Utama berada. Dari dinding kaca, aku bisa melihat Sarah berbicara dengan panik kepada seorang pria paruh baya bertubuh tegap, Tuan Vance.
Tuan Vance mendengarkan, melirik ke arahku melalui kaca, dan wajahnya ikut menegang. Dia segera mengangkat telepon meja, berbicara dengan nada mendesak, lalu berjalan cepat keluar ruangan menuju meja depan.
Beberapa petugas keamanan bank tiba-tiba bergerak, memblokir pintu keluar masuk bank.
Sarah kembali ke mejanya, napasnya memburu. Dengan suara yang gemetar namun berusaha ditekan agar tidak menimbulkan kepanikan di lobi, dia berbisik kepada rekan di sebelahnya:
“Hubungi polisi — JANGAN BIARKAN WANITA ITU PERGI!”
Jantungku berdegup kencang. “Ada apa ini? Mengapa Anda memanggil polisi? Saya adalah ahli waris sah dari pemilik buku ini!” seruku, berusaha tetap tenang meski tanganku mulai dingin.
Tuan Vance mendekat dan memberi isyarat agar aku tenang. “Nona Elise… mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami tidak menahan Anda sebagai pelaku kejahatan. Kami menahan Anda demi keselamatan Anda, dan karena akun ini memicu Red Alert (Peringatan Merah) otomatis dalam sistem keamanan federal kami.”
“Peringatan Merah?” tanyaku bingung.
Tuan Vance duduk di hadapanku, menyeka keringat dingin di dahinya. “Buku tabungan ini bukan sekadar buku tabungan biasa. Ini adalah akun amanah korporasi kuno yang sudah dikunci selama dua puluh lima tahun. Nenek Anda, Ny. Evelyn Hale, bukan hanya seorang pensiunan guru seperti yang diketahui orang-orang.”
Dia memutar layar komputernya ke arahku. Di sana tertera angka yang membuat napas saya tertahan.
$$V = \$147,000,000.00$$
Seratus empat puluh tujuh juta dolar. Ditambah dengan aset obligasi negara yang nilainya terus berlipat ganda.
“Tapi bukan itu alasan polisi datang,” lanjut Tuan Vance dengan suara rendah. “Alasannya adalah, dua puluh lima tahun yang lalu, ketika ibu kandung Anda meninggal secara misterius, ayah Anda, Victor Hale, mencoba mencairkan seluruh dana ini menggunakan dokumen palsu. Nenek Anda mengetahuinya, mengunci akun ini dengan kode enkripsi berlapis, dan memasukkan klausul hukum: ‘Jika ada aktivitas atau upaya pembukaan akun ini, pihak berwajib harus segera diberitahu untuk menangkap Victor Hale atas dugaan penipuan, penggelapan, dan konspirasi pembunuhan.’“
Tuan Vance menatapku dengan tatapan iba sekaligus hormat. “Nenek Anda tahu, jika dia menggunakan uang ini saat Anda masih kecil, ayah Anda akan membunuh kalian berdua demi harta ini. Dia berpura-pura miskin, membiarkan dirinya dihina, demi melindungi Anda sampai Anda berusia dua puluh enam tahun—usia legal yang dia tetapkan dalam sistem kami agar Anda bisa mengklaim hak ini sepenuhnya dengan aman.”
Pintu bank terbuka, dan empat petugas kepolisian berpakaian preman masuk dengan tergesa-gesa. Di belakang mereka, melangkah masuk Tuan Bell, sang pengacara keluarga yang tadi hadir di pemakaman.
Tuan Bell berjalan ke arahku dan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan kemenangan besar.
“Maafkan saya karena diam tadi di pemakaman, Elise,” kata Tuan Bell sambil memegang pundakku. “Nenekmu meminta saya memberikan pertunjukan yang meyakinkan agar Victor percaya dia telah menang. Victor mengira dia telah menghancurkan hidupmu, padahal dia baru saja melemparkan kunci kekaisaran yang sebenarnya ke dalam lumpur.”
Tuan Bell menyerahkan sebuah surat bersegel resmi kepadaku. “Ini surat pribadi dari Nenekmu, yang hanya boleh diserahkan setelah buku tabungan ini aktif.”
Aku membuka surat itu dengan tangan bergetar. Tulisan tangan Nenek yang anggun tertera di sana:
Untuk Elise-ku tersayang,
Maafkan Nenek karena membuatmu hidup dalam kesederhanaan dan menahan hinaan mereka begitu lama. Serigala-serigala itu harus mengira kita lemah agar mereka lengah.
Hari ini, akun ini telah aktif. Detektif yang bekerja bersamaku selama puluhan tahun telah mengantongi seluruh bukti kejahatan ayahmu di masa lalu yang sengaja kusimpan untuk hari ini.
Pergilah dan ambil apa yang menjadi milikmu. Jadilah singa yang kutahu ada di dalam dirimu.
Dengan kasih, Nenek.
Satu jam kemudian, proses administrasi selesai. Seluruh aset resmi dialihkan atas namaku.
Saat aku berjalan keluar dari bank dikawal oleh Tuan Bell dan dua petugas polisi, ponselku bergetar. Itu adalah panggilan video dari Mark, saudara tiriku. Aku mengangkatnya.
Layar menunjukkan ruang tengah rumah keluarga Hale yang mewah. Di sana, Ayahku sedang duduk di sofa sambil minum wiski, merayakan “kematian” Nenek dan kemiskinanku.
“Hei, gelandangan,” ejek Mark dari seberang telepon. “Bagaimana makan siang satu dolarmu di bank? Apa mereka memberimu roti gratis?”
Ayahku merebut ponsel itu, wajahnya memerah karena alkohol. “Elise, bersikaplah tahu diri. Datanglah besok ke rumah, kemasi barang-barang busuk Nenekmu dan angkat kaki dari paviliun belakang.”
Aku menatap wajah pria yang telah menyiksaku dan mengkhianati ibuku itu. Aku tersenyum—senyuman paling dingin yang pernah kutampilkan dalam hidupku.
“Saya tidak akan datang besok, Victor,” kataku tenang.
“Lancang sekali kamu memanggil namaku! Kamu—”
“Tapi,” potongku tajam, “mungkin Anda yang harus bersiap-siap. Coba lihat ke luar jendela rumah Anda sekarang.”
Di layar ponsel, aku bisa melihat ekspresi kebingungan di wajah ayahku. Dia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan rumah.
Detik berikutnya, suara sirine polisi meraung-raung memecah keheningan di sekitar rumahnya. Tiga mobil polisi langsung memblokir gerbang, dan belasan petugas bersenjata turun, mendobrak pintu depan rumah Hale.
“Apa-apaan ini?!” teriak Victor panik. Ponsel di tangannya berguncang hebat. Dari speaker, aku bisa mendengar suara polisi berteriak: “Victor Hale, Anda ditahan atas tuduhan konspirasi pembunuhan, penipuan finansial, dan pemalsuan dokumen negara!”
“Elise! Apa yang kamu lakukan?!” teriak Celeste hysteris di latar belakang.
Aku menatap layar untuk terakhir kalinya sebelum memutuskan sambungan.
“Nenek menitipkan salam untukmu,” bisikku. “Dan dia benar… buku biru ini memang tidak berguna untukmu. Tapi bagi saya, ini adalah akhir dari kalian.”
Aku memasukkan ponselku ke dalam saku, menarik napas dalam-dalam menikmati udara segar setelah hujan, dan melangkah masuk ke dalam mobil limosin yang telah disediakan oleh bank untukku. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, akulah yang memegang kendali.
