Di pemakaman suamiku, ibunya menatapku tajam dan berkata dengan dingin

Keheningan yang terjadi setelahnya begitu pekat, seolah-olah detak jantung semua orang di ruangan itu berhenti serentak. Tante Marlene yang tadi mengangguk setuju kini terpaku dengan mulut setengah terbuka. Grant melangkah maju, tangannya turun dari dada, bersiap untuk merebut ponsel itu dari tangan Noah.

“Noah,” desis Grant, suaranya bergetar antara panik dan amarah yang ditahan. “Ini pemakaman ayahmu. Jangan bermain-main dengan ponselnya. Berikan pada Paman.”

Namun Noah tidak bergeming. Dia tidak mundur satu langkah pun. Anak delapan tahun itu justru mengangkat ponsel Daniel sedikit lebih tinggi, jarinya berada tepat di atas layar yang menyala.

“Jangan menyentuh anakku, Grant,” kataku, akhirnya bersuara. Nada suaraku rendah, dingin, dan penuh penekanan yang membuat Grant menghentikan langkahnya.

Aku berdiri dari kursiku, menyejajarkan posisiku di samping Noah, meletakkan satu tangan di bahu kecilnya yang kokoh. Aku menatap Vivian, yang matanya kini bergerak gelisah dari Noah ke ponsel, lalu ke arah kerabat yang mulai saling berpandangan penuh tanya.

“Rekaman… rekaman apa maksudmu, Sayang?” Vivian mencoba tertawa, namun suaranya terdengar mencekik, seperti gesekan kertas amplas. “Ayahmu pasti hanya bercanda. Dia… dia sangat suka bercanda, bukan?”

“Ayah tidak bercanda, Nenek,” jawab Noah datar. “Ayah bilang, kalau terjadi sesuatu padanya, dan jika Nenek mulai mengatakan hal-hal buruk lagi tentang Ibu, aku harus menyalakan ini. Ayah bilang Nenek dan Paman Grant mengira Ayah tidak tahu tentang dokumen yang kalian palsukan.”

Bisikan-bisikan baru mulai menjalar di ruang duka, kali ini bukan ditujukan kepadaku, melainkan kepada Vivian dan Grant.

Wajah Vivian yang tadinya pucat kini mulai memerah karena malu dan ketakutan. Dia tahu persis apa isi rekaman itu. Seminggu sebelum kecelakaan tragis itu, Daniel menemukan bahwa ibunya dan Grant telah mencoba mengalihkan dana perusahaan keluarga dan memalsukan tanda tangannya untuk mengubah hak waris atas rumah yang kami tinggali. Daniel sangat murka. Dia telah mengonfrontasi mereka dan merekam seluruh pengakuan mereka sebagai jaminan agar mereka tidak mengusik kehidupan kami lagi.

Daniel tidak pernah memberi tahu mereka bahwa dia menyimpan salinan cadangannya di ponsel yang sering digunakan Noah untuk bermain game. Daniel bersiap untuk melindungi kami, bahkan saat dia sudah tidak ada di dunia ini.

“Cukup!” bentak Grant, mencoba mengendalikan situasi yang kian tak terkendali. “Ini keterlaluan! Menuduh orang tua di hari pemakaman anaknya sendiri? Wanita ini pasti telah mencuci otak anak ini!” Grant menunjukku dengan jari gemetar.

“Apakah kita perlu memutarnya sekarang, Grant?” tanyaku tenang, menatap lurus ke matanya. “Di depan Tante Marlene? Di depan para kolega bisnis Daniel yang duduk di belakang? Aku yakin pengeras suara di ruang duka ini cukup bagus untuk memperdengarkan suara Daniel dengan sangat jelas.”

Vivian mundur selangkah, tangannya yang memakai cincin berlian besar gemetar hebat hingga menyentuh tepi peti mati Daniel. Keangkuhan yang tadi dipamerkannya runtuh total. Dia menatap peti mati anaknya, lalu menatap cucunya, dan akhirnya menatapku. Tidak ada lagi tatapan tajam nan dingin. Yang tersisa hanyalah keputusasaan seorang wanita yang kedoknya hampir dikuliti di depan umum.

“Jangan…” bisik Vivian, suaranya nyaris tak terdengar. “Tolong… jangan.”

Aku memandang ke arah kerabat yang tadi berbisik mencelaku. Mereka kini menundukkan kepala, tidak berani menatap mataku.

Aku membungkuk sedikit, menatap Vivian tepat di matanya, membalikkan keadaan yang tadi dia ciptakan. “Daniel memang masuk ke dalam hidupku tanpa membawa apa-apa selain cintanya, Vivian. Dan dia pergi dengan meninggalkan kebenaran yang akan menjaga kami. Sebaiknya Anda duduk kembali, dan biarkan kami mengucapkan selamat tinggal pada suamiku dengan tenang.”

Vivian tidak mengatakan sepatah kata pun. Dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur, dia berbalik dan berjalan perlahan menuju barisan belakang, diikuti oleh Grant yang terus mengumpat pelan dengan wajah merah padam.

Ruangan itu kembali sunyi, namun kali ini sunyi yang penuh dengan rasa hormat yang terlambat.

Aku kembali duduk, menarik Noah ke dalam pelukanku. Noah meletakkan ponsel ayahnya ke dalam tas hitamku, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku mengecup keningnya, merasakan air mata yang akhirnya jatuh—bukan karena luka akibat cacian mereka, melainkan karena rasa syukur yang mendalam.

Daniel telah tiada, tetapi cintanya dan perlindungannya tidak pernah benar-benar meninggalkan kami. Di depan peti matinya, aku berjanji bahwa aku dan Noah akan baik-baik saja, dan tidak akan ada satu orang pun yang bisa mengubur kami dalam rasa malu yang tidak pernah kami miliki.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang