Bu Marni tidak menangis malam itu.
Ia hanya duduk di kursi kerja anaknya, memandangi bukti transfer Rp1,6 miliar yang selama empat tahun ia kira digunakan untuk melunasi rumah tempat mereka tinggal.
Di luar, suara kendaraan terdengar samar dari jalan kompleks. Jam dinding menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh menit. Dimas dan keluarganya mungkin sedang memesan makanan mahal, meniup lilin ulang tahun Siska, lalu berfoto bersama seolah kehidupan mereka sempurna.
Sementara itu, perempuan yang membiayai sebagian kehidupan mereka sedang menemukan rencana untuk menyingkirkannya.

Bu Marni mengeluarkan ponsel.
Tangannya tidak lagi gemetar.
Ia memotret setiap dokumen di dalam map biru, mulai dari evaluasi geriatri, formulir panti jompo, catatan tulisan tangan Dimas, hingga bukti transfer ke perusahaan milik Hendra.
Setelah itu, semuanya dikembalikan tepat seperti semula.
Bu Marni menelepon Ning.
“Ning, kamu masih punya nomor Pak Arif?”
“Pengacara yang dulu mengurus warisan Mas Joko?”
“Iya.”
“Ada. Kenapa?”
Bu Marni menatap foto Pak Joko di layar ponselnya.
“Aku membutuhkan orang yang masih percaya bahwa aku waras.”
Keesokan paginya, seperti biasa, Bu Marni sudah berada di dapur ketika Siska turun.
“Bu, bikinkan telur setengah matang dua, ya. Dimas ada rapat pagi.”
Bu Marni mengangguk.
“Baik.”
Siska bahkan tidak menyadari perubahan pada tatapan ibu mertuanya.
Dimas turun beberapa menit kemudian.
“Bu, nanti jangan keluar sendiri dulu.”
“Kenapa?”
Dimas berhenti sebentar.
“Belakangan Ibu suka lupa.”
Bu Marni menatap wajah anaknya.
“Lupa apa?”
Dimas tampak salah tingkah.
“Ya, hal-hal kecil. Kemarin remote TV saja Ibu cari ke mana-mana.”
Bu Marni tersenyum.
“Remote-nya dipakai Rendy dan ditaruh di kamarnya.”
Dimas terdiam.
Siska segera menyela.
“Pokoknya kami cuma khawatir.”
Bu Marni meletakkan telur di meja.
“Ibu senang kalian begitu perhatian.”
Kalimat itu membuat keduanya lega.
Mereka mengira Bu Marni tidak mencurigai apa pun.
Padahal pukul sepuluh pagi, ketika rumah sudah sepi, sebuah taksi daring membawa Bu Marni ke kantor Pak Arif di pusat Surabaya.
Pengacara berusia enam puluhan itu membaca dokumen yang ditunjukkan Bu Marni hampir setengah jam tanpa banyak bicara.
“Bu Marni pernah menandatangani surat kuasa pengelolaan aset?”
“Tidak.”
“Pernah diperiksa di klinik ini?”
“Tidak pernah.”
Pak Arif melepas kacamatanya.
“Kalau begitu kita jangan terburu-buru menuduh siapa pun. Kita kumpulkan bukti terlebih dahulu.”
Bu Marni mengangguk.
“Ada satu lagi.”
Ia membuka aplikasi perbankan.
Setelah Pak Joko meninggal, Bu Marni masih memiliki deposito, tabungan pensiun, dan beberapa investasi. Totalnya hampir Rp900 juta.
Selama ini Dimas tahu keberadaan uang itu.
Itulah sebabnya Bu Marni mulai memahami mengapa anaknya belum memasukkannya ke panti.
Mereka masih menunggu sesuatu.
Pak Arif menyarankan Bu Marni membuat pemeriksaan kesehatan independen di rumah sakit berbeda.
Dua hari kemudian, Bu Marni menjalani serangkaian tes kognitif.
Hasilnya jelas.
Tidak ditemukan tanda demensia.
Dokter bahkan tertawa ketika Bu Marni mampu mengingat semua kata dalam tes memori dan menjelaskan tanggal, tempat, serta aktivitas keuangannya dengan rinci.
“Untuk usia 68 tahun, fungsi kognitif Ibu sangat baik.”
Bu Marni meminta hasil pemeriksaan tertulis.
Langkah berikutnya adalah bank.
Seluruh deposito dicairkan sesuai ketentuan dan dana yang bisa dipindahkan dialihkan ke rekening baru yang hanya diketahui Bu Marni.
Kartu debit tambahan yang selama ini digunakan untuk kebutuhan keluarga Dimas diblokir.
Autodebet listrik, internet, dan beberapa pembayaran sekolah dihentikan.
Namun Bu Marni tetap menjalani hari-harinya seperti biasa.
Ia memasak.
Menyapu.
Menonton sinetron sore.
Bahkan ketika Siska mengatakan bahwa mereka berencana mengajaknya “beristirahat beberapa minggu di tempat khusus lansia”, Bu Marni hanya menjawab dengan tenang.
“Kalau menurut kalian itu yang terbaik.”
Siska tersenyum lega.
Tiga hari kemudian, kekacauan mulai terjadi.
“Mas!”
Teriakan Siska terdengar dari ruang keluarga.
“Kartu Ibu ditolak!”
Dimas mengambil kartu debit yang biasa mereka gunakan.
Ia mencoba membuka aplikasi pembayaran.
Gagal.
Lalu menelepon bank.
Bu Marni duduk di sofa sambil mengupas jeruk.
“Ibu memblokir kartunya?” tanya Dimas.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena itu rekening Ibu.”
Nada suara Bu Marni begitu sederhana sehingga Dimas kehilangan kata-kata.
Siska berdiri dengan wajah tegang.
“Tapi tagihan rumah selama ini dibayar dari sana.”
“Mulai bulan ini kalian bayar sendiri.”
“Ibu kenapa, sih?” suara Siska meninggi. “Kami selama ini merawat Ibu.”
Bu Marni berhenti mengupas jeruk.
“Merawat?”
Ia menatap menantunya.
“Kalau begitu sebutkan satu obat yang Ibu minum setiap hari.”
Siska membuka mulut.
Tidak ada jawaban.
“Tidak tahu?”
Bu Marni tersenyum tipis.
“Karena Ibu memang tidak minum obat rutin.”
Dimas mulai pucat.
Malam itu, untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, mereka makan tanpa masakan Bu Marni.
Keesokan harinya, Dimas mengetuk kamar ibunya.
“Ibu, kita perlu bicara.”
Bu Marni sedang memasukkan pakaian ke koper.
Dimas melihatnya.
“Ibu mau ke mana?”
“Solo.”
“Untuk apa?”
“Pulang.”
“Ini rumah Ibu juga.”
Bu Marni tertawa kecil.
Kalimat itu terdengar lucu setelah semua yang ia temukan.
Dimas duduk di tepi tempat tidur.
“Bu, kalau masalahnya uang, bilang saja. Jangan seperti ini.”
Bu Marni menatap anak laki-lakinya lama.
Ia masih bisa melihat Dimas kecil dalam wajah pria berusia empat puluhan itu.
Anak yang dulu takut petir dan berlari ke kamarnya.
Anak yang menangis ketika pertama kali ditinggal sekolah.
Itulah yang membuat pengkhianatan terasa jauh lebih menyakitkan.
“Dimas.”
“Iya, Bu.”
“Uang rumah Solo dulu benar dipakai melunasi KPR?”
Wajah Dimas berubah.
Hanya sepersekian detik.
Namun seorang ibu mengenal anaknya terlalu baik.
“Tentu.”
“Bank apa?”
Dimas terdiam.
“Bank yang KPR rumah ini.”
“Namanya?”
“Bu, kenapa tiba-tiba menanyakan hal lama?”
Bu Marni mengangguk perlahan.
“Tidak apa-apa.”
Ia kembali melipat pakaian.
Dimas keluar kamar dengan langkah cepat.
Kurang dari lima menit kemudian, terdengar suara bisikan Dimas dan Siska dari lorong.
Malam itu, Bu Marni menerima pesan dari Ning.
Marni, Siska menghubungi keluarga. Katanya kondisimu semakin parah dan kamu mulai menuduh orang mencuri uangmu.
Bu Marni membaca pesan itu dua kali.
Jadi mereka mulai bergerak.
Keesokan paginya, Dimas mengatakan seluruh keluarga akan berkumpul pada hari Minggu.
Katanya mereka ingin membicarakan kesehatan Bu Marni.
Bu Marni setuju.
Hari Minggu pukul sebelas, ruang keluarga dipenuhi kerabat.
Ning datang dari Solo.
Hendra dan istrinya hadir.
Beberapa saudara Dimas juga datang.
Di meja terdapat makanan dan minuman, tetapi suasananya lebih mirip sidang keluarga.
Siska memulai pembicaraan.
“Kami sebenarnya tidak ingin membuka kondisi Ibu kepada semua orang.”
Bu Marni duduk diam.
“Tapi beberapa bulan terakhir kondisi Ibu semakin mengkhawatirkan. Ibu sering lupa dan mulai curiga kepada kami.”
Hendra mengangguk.
“Orang tua dengan demensia memang kadang merasa hartanya dicuri.”
Dimas menundukkan kepala seolah menjadi anak yang sangat terpukul.
“Kami cuma ingin Ibu aman.”
Siska mengeluarkan map biru.
“Kami sudah menemukan tempat perawatan terbaik.”
Bu Marni memandang map itu.
Map yang sama.
“Jadi kalian ingin memasukkan saya ke panti?”
“Bukan membuang, Bu,” kata Dimas cepat.
“Untuk perawatan.”
Bu Marni mengangguk.
“Baik.”
Semua tampak terkejut.
“Tapi sebelum itu, Ibu juga membawa beberapa dokumen.”
Pak Arif muncul dari ruang depan bersama seorang perempuan muda dari kantornya.
Wajah Dimas langsung kehilangan warna.
“Siapa dia?”
“Pengacara Ibu.”
Bu Marni meletakkan hasil pemeriksaan rumah sakit di atas meja.
“Dua dokter spesialis menyatakan fungsi kognitif Ibu normal.”
Siska berdiri.
“Tes itu bisa saja tidak akurat.”
“Benar,” jawab Pak Arif. “Karena itu kami juga memeriksa dokumen klinik yang Anda gunakan.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas.
“Nomor registrasi pada evaluasi Bu Marni ternyata milik pasien lain.”
Ruangan langsung sunyi.
Wajah Siska memucat.
Dimas menatap istrinya.
“Kamu bilang dokumennya aman.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Terlambat.
Ning menutup mulutnya.
Bu Marni menatap anaknya.
“Jadi kamu tahu?”
Dimas sadar kesalahannya.
“Bu, dengarkan dulu.”
“Belum selesai.”
Pak Arif mengeluarkan bukti transfer Rp1,6 miliar.
“Empat tahun lalu, dana milik Bu Marni dikirim ke PT Hendra Jaya Konstruksi.”
Semua mata beralih kepada Hendra.
Pria itu berdiri.
“Itu investasi!”
Bu Marni menatapnya.
“Investasi apa?”
Hendra terdiam.
“Kontraknya mana?”
Tidak ada jawaban.
“Laporan keuntungannya?”
Tetap tidak ada.
Pak Arif kemudian meletakkan dokumen terakhir.
“Kami memperoleh catatan bahwa perusahaan tersebut saat itu sedang menghadapi utang proyek dalam jumlah besar. Dana Rp1,6 miliar masuk, kemudian dalam waktu kurang dari dua minggu digunakan untuk membayar sejumlah kewajiban perusahaan.”
Siska mulai menangis.
“Ayah bilang akan dikembalikan.”
Bu Marni menoleh kepada Dimas.
“Kamu tahu?”
Dimas menunduk.
Itu sudah menjadi jawaban.
“Aku cuma mau membantu keluarga Siska, Bu. Waktu itu perusahaan Papa hampir bangkrut. Aku pikir nanti uangnya bisa dikembalikan.”
“Lalu kenapa bilang untuk KPR?”
“Karena aku tahu Ibu tidak akan setuju.”
Bu Marni merasakan sesuatu pecah di dalam dadanya.
Bukan kemarahan.
Melainkan harapan terakhir bahwa anaknya mungkin tidak seburuk yang ia kira.
“Lalu apartemen Solo?”
Dimas tidak menjawab.
“Setelah Ibu masuk panti, kamu mau menjualnya untuk menutup uang yang kalian ambil?”
Siska tiba-tiba berkata, “Kami tidak punya pilihan!”
Bu Marni menatapnya tajam.
“Selalu ada pilihan. Kalian memilih berbohong.”
Rendy yang sejak tadi berdiri dekat tangga tiba-tiba turun.
Wajah remaja itu pucat.
“Ayah.”
Dimas menoleh.
Rendy mengeluarkan ponselnya.
“Aku juga mau bilang sesuatu.”
“Masuk kamar,” bentak Siska.
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya, suara Rendy terdengar tegas.
“Aku dengar Ayah dan Mama bicara minggu lalu.”
Ia memutar sebuah rekaman.
Suara Siska terdengar jelas.
Kalau apartemennya sudah terjual, kita bisa balikin sebagian uang Papa. Sisanya buat biaya kuliah anak-anak.
Kemudian suara Dimas.
Yang penting Ibu sudah di panti. Kalau surat demensianya beres, semuanya lebih gampang.
Siska terduduk.
Dimas menatap putranya dengan wajah tidak percaya.
“Kamu merekam Ayah?”
Rendy menahan air mata.
“Karena aku takut Nenek benar-benar dibuang.”
Bu Marni memandang cucunya.
Anak yang malam itu tertawa ketika dirinya ditinggalkan ternyata selama beberapa hari terakhir hidup dalam rasa bersalah.
“Nek, maaf.”
Bu Marni tidak menjawab.
Rendy menangis.
“Waktu ulang tahun Mama, aku ikut tertawa karena aku pengecut. Aku tahu Nenek sedih, tapi aku takut Mama marah.”
Bu Marni akhirnya berdiri dan memeluk cucunya.
Saat itulah air matanya jatuh untuk pertama kali.
Bukan karena kehilangan uang.
Bukan karena rumah.
Melainkan karena akhirnya ada seseorang di rumah itu yang memilih mengatakan kebenaran meski harus melawan keluarganya sendiri.
Dua bulan kemudian, Bu Marni kembali ke Solo.
Ia tidak menjual apartemennya.
Dengan bantuan Pak Arif, persoalan dana Rp1,6 miliar masuk ke proses hukum dan mediasi. Hendra akhirnya mengakui bahwa uang tersebut digunakan untuk menyelamatkan perusahaannya. Sebagian aset perusahaan dijual untuk mengembalikan dana Bu Marni secara bertahap.
Dimas beberapa kali datang meminta maaf.
Bu Marni tidak menutup pintu untuknya.
Namun ia juga tidak langsung memaafkan.
“Maaf itu bukan penghapus,” katanya suatu sore. “Maaf adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa kamu berubah.”
Hubungannya dengan Rendy justru menjadi semakin dekat.
Remaja itu sering datang ke Solo pada akhir pekan.
Suatu sore, ketika mereka sedang membersihkan lemari lama, Rendy menemukan sebuah amplop dengan tulisan tangan Pak Joko.
Bu Marni mengenali tulisan suaminya.
Tangannya gemetar ketika membuka surat tersebut.
Marni, kalau suatu hari aku pergi lebih dulu, jangan habiskan hidupmu hanya untuk menjadi ibu, istri, atau nenek. Kamu juga berhak menjadi dirimu sendiri. Anak yang baik akan tetap mencarimu meskipun kamu tidak membawa uang. Anak yang hanya mencari uangmu mungkin perlu kehilangan uang itu agar sadar bahwa yang paling berharga sebenarnya adalah ibunya.
Bu Marni membaca bagian terakhir berulang kali.
Seolah Pak Joko telah menulis surat itu untuk hari tersebut.
Rendy memeluk neneknya dari samping.
“Nenek masih marah sama Ayah?”
Bu Marni memandang halaman apartemennya yang diterangi matahari sore.
“Masih kecewa.”
“Bisa memaafkan?”
“Suatu hari mungkin.”
Rendy terdiam.
Bu Marni lalu tersenyum.
“Tapi Nenek sudah memaafkan diri Nenek sendiri.”
“Maksudnya?”
“Karena terlalu lama membiarkan orang lain membuat Nenek merasa tidak berharga.”
Beberapa bulan kemudian, Bu Marni menggunakan sebagian uang yang berhasil dikembalikan untuk membeli rumah kecil di pinggiran Solo.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Namun di ruang tamunya terdapat banyak foto.
Foto Pak Joko.
Foto Ning.
Foto Rendy dan Vanya ketika berkunjung.
Bahkan ada satu foto Dimas yang diambil ketika ia datang membawa makanan dan meminta izin memperbaiki pagar rumah ibunya.
Bu Marni tidak menghapus anaknya dari hidupnya.
Ia hanya mengubah tempat Dimas di dalam hidupnya.
Dulu, Dimas adalah pusat dunianya.
Sekarang, Bu Marni sendiri yang berdiri di pusat kehidupannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak Pak Joko meninggal, ketika malam tiba dan rumah menjadi sunyi, Bu Marni tidak merasa ditinggalkan.
Ia merasa pulang.
