Maya tidak langsung menjawab.
Tangannya justru semakin erat memeluk bayi kecil yang sejak tadi tertidur di dadanya.
Ardiansyah berdiri beberapa langkah di depannya, menatap wajah bayi itu seolah sedang berusaha mencari jawaban dari garis hidung, bentuk bibir, atau lekuk alisnya.
“Tujuh bulan lalu Nadia bilang dia keguguran,” ulangnya dengan suara lebih rendah. “Dia mengirim hasil pemeriksaan, surat dokter, bahkan foto gelang rumah sakit.”

Maya merasakan tengkuknya dingin.
“Kalau begitu semua itu palsu.”
Ardiansyah mengalihkan pandangan kepadanya.
“Kamu yakin bayi ini anak Nadia?”
“Saya melihat sendiri Kak Nadia hamil. Saya juga menjemputnya dari rumah sakit enam hari lalu.”
“Dan dia langsung pergi?”
“Ke London.”
Rahang Ardiansyah mengeras.
Maya lalu menceritakan semuanya. Tentang Nadia yang meninggalkan bayinya begitu saja. Tentang Bu Endang yang memaksanya berhenti sekolah. Tentang rencana keluarga mereka untuk mengumumkan bahwa bayi itu adalah anak Maya agar reputasi Nadia tetap bersih.
Semakin lama Maya bicara, ekspresi Ardiansyah semakin sulit dibaca.
Saat Maya selesai, pria itu hanya berkata, “Saya mau tes DNA.”
Maya mengangguk.
“Itu memang seharusnya dilakukan.”
Ardiansyah tampak sedikit terkejut karena Maya tidak membantah.
“Saya tidak datang untuk memaksa Anda percaya,” lanjut Maya. “Saya datang karena bayi ini berhak tahu siapa ayahnya. Dan saya berhak mendapatkan hidup saya kembali.”
Kalimat terakhir membuat Ardiansyah menatapnya lebih lama.
Tidak ada air mata di wajah Maya. Tidak ada usaha mencari belas kasihan.
Yang ada hanya seorang gadis berusia delapan belas tahun yang tampak kelelahan, mengenakan sepatu kanvas murah, menggendong bayi bukan miliknya, tetapi berdiri dengan keberanian yang bahkan jarang dimiliki orang-orang yang masuk ke ruangan itu.
Ardiansyah menekan tombol interkom.
“Hubungi Rumah Sakit Mahendra. Siapkan pemeriksaan DNA. Rahasia.”
Kurang dari dua jam kemudian, mereka berada di salah satu ruang VIP Rumah Sakit Mahendra Jakarta.
Sampel diambil.
Dokter mengatakan hasil tercepat membutuhkan beberapa jam.
Maya duduk di sofa dekat jendela sambil memberi susu pada bayi yang belum memiliki nama resmi itu.
Ardiansyah berdiri di seberang ruangan.
“Siapa namanya?”
Maya terdiam.
“Kak Nadia tidak pernah memberi nama.”
Tatapan Ardiansyah berubah.
“Enam hari?”
Maya mengangguk.
“Di rumah kami hanya dipanggil bayi.”
Untuk pertama kalinya, wajah Ardiansyah menunjukkan sesuatu yang menyerupai luka.
Dia berjalan mendekat.
“Boleh saya gendong?”
Maya memandangnya sesaat sebelum perlahan menyerahkan bayi itu.
Gerakan Ardiansyah canggung.
Jelas dia belum pernah menggendong bayi.
Namun ketika bayi kecil itu menggeliat dan jemarinya tanpa sengaja menggenggam ujung jari Ardiansyah, pria tersebut langsung membeku.
Maya melihat perubahan kecil di wajahnya.
Tatapan dingin itu menghilang.
“Kalau benar dia anak saya,” ucap Ardiansyah pelan, “saya tidak akan membiarkan siapa pun membuangnya lagi.”
Maya menunduk.
Entah mengapa kalimat itu terasa seperti ditujukan juga kepadanya.
Tiga jam kemudian, hasilnya keluar.
Kemungkinan hubungan biologis antara Ardiansyah Mahendra dan bayi tersebut adalah 99,99 persen.
Ardiansyah membaca lembar hasil pemeriksaan itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Setelah itu dia duduk.
Tidak mengatakan apa-apa selama hampir satu menit.
Maya justru merasa lega.
Setidaknya satu bagian dari kekacauan ini telah selesai.
Namun Ardiansyah tiba-tiba mengangkat kepala.
“Saya perlu tahu kenapa Nadia melakukan ini.”
Maya tersenyum pahit.
“Karena sejak kecil dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.”
“Bukan itu.”
Ardiansyah berdiri.
“Memalsukan keguguran, menyembunyikan anak, lalu pergi ke luar negeri. Itu terlalu terencana.”
Maya teringat tulisan keemasan yang muncul di hadapannya.
Bongkar apa yang telah keluargamu curi dari masa depanmu sendiri.
Dadanya kembali terasa sesak.
“Pak Ardiansyah.”
“Panggil Ardi saja.”
Maya mengabaikan permintaan itu.
“Saya rasa ada sesuatu yang lebih besar.”
Malam itu, untuk pertama kalinya Maya tidak kembali ke Bintaro.
Ardiansyah menempatkannya sementara di apartemen tamu milik keluarga Mahendra, lengkap dengan pengasuh bayi dan seorang dokter anak yang memeriksa kondisi bayi tersebut.
Maya baru saja selesai mandi ketika ponselnya berdering.
Nama Bu Endang muncul di layar.
Dua puluh tiga panggilan tidak terjawab.
Maya akhirnya mengangkat telepon.
Suara ibunya langsung meledak.
“Kamu bawa bayi itu ke mana?”
“Ke ayahnya.”
Keheningan terjadi beberapa detik.
Lalu terdengar suara napas Bu Endang yang berat.
“Kamu gila?”
“Tidak. Justru untuk pertama kalinya aku sedang waras.”
“Maya, pulang sekarang!”
“Aku tidak pulang.”
“Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan? Kalau keluarga Mahendra tahu semuanya, hidup Nadia bisa hancur!”
Maya menatap lampu-lampu Jakarta dari balkon.
“Kenapa Ibu selalu takut masa depan Nadia hancur, tapi tidak pernah takut menghancurkan masa depanku?”
Bu Endang langsung diam.
Maya melanjutkan.
“Ibu mau aku berhenti sekolah. Ibu mau semua orang mengira aku hamil di luar nikah. Ibu bahkan siap membiarkan namaku rusak seumur hidup.”
“Ini demi keluarga!”
“Tidak, Bu. Ini demi Nadia.”
Suara Bu Endang berubah dingin.
“Kamu tidak tahu apa-apa.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Tidak ada jawaban.
Yang terdengar justru suara sambungan telepon diputus.
Keesokan paginya, Ardiansyah datang membawa sebuah map cokelat.
“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Di dalam map terdapat salinan rekening bank, dokumen transfer, dan beberapa surat yang tidak dimengerti Maya.
“Apa ini?”
“Selama empat tahun terakhir, ada transfer rutin dari sebuah rekening investasi atas namamu.”
Maya tertawa kecil karena mengira Ardiansyah salah bicara.
“Saya tidak punya rekening investasi.”
“Justru itu masalahnya.”
Ardiansyah meletakkan satu dokumen di hadapannya.
Nama lengkap Maya tercetak jelas.
Maya Prameswari Surya.
Pemilik manfaat sebuah dana pendidikan sebesar hampir tiga miliar rupiah.
Wajah Maya langsung pucat.
“Ini tidak mungkin.”
“Ayahmu pernah bekerja untuk perusahaan milik kakek saya?”
Maya berpikir.
“Dulu Ayah bekerja di sebuah perusahaan konstruksi. Saya tidak tahu namanya.”
Ardiansyah membuka halaman berikutnya.
“Mahendra Infrastruktur.”
Napas Maya tertahan.
Dari dokumen itu terungkap bahwa lima belas tahun sebelumnya, Pak Surya mengalami kecelakaan kerja saat proyek pembangunan gedung. Mahendra Group membayar kompensasi kecelakaan dan membentuk dana pendidikan khusus bagi kedua anak Pak Surya.
Namun ada satu hal aneh.
Dana milik Nadia telah digunakan untuk biaya sekolah dan pendidikan.
Sementara dana Maya terus dicairkan secara bertahap.
Tetapi Maya tidak pernah menerima satu rupiah pun.
“Siapa yang mencairkan?” tanya Maya.
Ardiansyah menunjuk tanda tangan di dokumen.
Bu Endang.
Maya merasa dunia di sekelilingnya berputar.
Semua seragam bekas.
Semua penolakan saat dia meminta ikut kursus.
Semua ucapan bahwa keluarga mereka tidak punya uang.
Semua keputusan untuk memprioritaskan Nadia.
Ternyata bukan karena mereka tidak mampu.
Uang untuk Maya memang ada.
Hanya saja diambil.
Tangannya mulai gemetar.
“Totalnya?”
“Sekitar satu koma delapan miliar sudah dicairkan.”
Maya menatap kosong.
“Untuk apa?”
Ardiansyah membuka transaksi lain.
Sebagian besar uang mengalir ke biaya pendidikan Nadia.
Sekolah internasional.
Kursus bahasa Inggris.
Program persiapan beasiswa.
Biaya hidup selama kuliah.
Bahkan deposit apartemen Nadia di London.
Maya menutup mulutnya.
Air mata yang sejak kemarin dia tahan akhirnya jatuh.
Bukan karena jumlah uangnya.
Tetapi karena tiba-tiba seluruh masa kecilnya memiliki penjelasan yang jauh lebih menyakitkan.
Dia tidak pernah menjadi anak yang tidak layak mendapatkan kesempatan.
Kesempatannya sengaja dipindahkan kepada Nadia.
“Mereka mencuri hidup saya,” bisiknya.
Ardiansyah tidak membantah.
Maya pulang ke Bintaro sore itu.
Bukan sendirian.
Ardiansyah ikut bersamanya bersama seorang pengacara keluarga.
Begitu pintu rumah dibuka, Bu Endang langsung berdiri.
Pak Surya berada di belakangnya.
Wajahnya terlihat seperti orang yang tidak tidur semalaman.
“Apa-apaan ini?” bentak Bu Endang.
Maya masuk.
“Aku mau jawaban.”
Dia meletakkan salinan dokumen di atas meja.
Wajah ibunya seketika kehilangan warna.
Pak Surya langsung menunduk.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Ibu tahu?”
Bu Endang mencoba mempertahankan ekspresi tegasnya.
“Dengar dulu.”
“Aku bertanya, Ibu tahu?”
Bu Endang akhirnya berkata, “Iya.”
Maya memejamkan mata.
Satu kata itu jauh lebih menyakitkan daripada yang dia bayangkan.
“Kenapa?”
“Nadia lebih membutuhkan kesempatan itu.”
Maya tertawa kecil sambil menangis.
“Lebih membutuhkan?”
“Nadia berbakat. Sejak kecil dia selalu ranking satu. Gurunya bilang dia bisa sekolah tinggi, bisa bekerja di luar negeri. Kalau uang itu dibagi, tidak akan cukup untuk siapa-siapa.”
“Itu uangku.”
“Kamu adiknya!”
“Jadi?”
“Dalam keluarga, kita berkorban.”
Maya menatap ibunya tajam.
“Kenapa yang selalu berkorban aku?”
Bu Endang tidak menjawab.
Pak Surya tiba-tiba bicara.
“Cukup, Endang.”
Semua orang menoleh.
Pria yang selama bertahun-tahun hampir selalu diam itu akhirnya mengangkat wajah.
“Aku yang salah.”
Bu Endang menatapnya.
“Surya!”
“Aku tanda tangan dokumen awalnya. Aku tahu uang Maya dipakai.”
Maya merasa dadanya kosong.
Bahkan ayahnya.
Pak Surya menangis.
“Ayah takut melawan ibumu.”
Maya menggeleng perlahan.
“Takut bukan alasan untuk membiarkan anak sendiri kehilangan masa depan.”
Ruangan sunyi.
Lalu Ardiansyah meletakkan sebuah dokumen lain.
“Ada satu hal lagi.”
Bu Endang langsung terlihat panik.
Dokumen tersebut bukan tentang dana pendidikan.
Melainkan hasil penelusuran rumah sakit yang membuktikan bahwa surat keguguran yang dikirim Nadia kepada Ardiansyah dibuat menggunakan data medis pasien lain.
Ardiansyah menatap Bu Endang.
“Siapa yang membantu Nadia?”
Bu Endang tidak menjawab.
“Menggunakan dokumen medis palsu adalah pelanggaran hukum.”
Wajah Bu Endang berubah.
“Saya hanya ingin melindungi anak saya.”
“Maya juga anak Anda.”
Kalimat Ardiansyah membuat Bu Endang terdiam.
Tiga hari kemudian, Nadia pulang dari London.
Bukan karena rindu pada bayinya.
Tetapi karena Ardiansyah mengirim satu pesan pendek.
Pulang, atau pengacaraku yang akan datang.
Pertemuan dilakukan di kantor Mahendra Group.
Begitu masuk, Nadia langsung melihat bayinya berada dalam gendongan Ardiansyah.
Wajahnya berubah.
Namun yang pertama keluar dari mulutnya justru bukan pertanyaan tentang kondisi anaknya.
“Ardi, aku bisa jelaskan.”
Maya yang berdiri di sudut ruangan akhirnya mengerti.
Nadia belum berubah.
Bahkan sekarang.
“Aku takut,” kata Nadia sambil menangis. “Aku baru dapat kesempatan ke London. Kalau keluarga Mahendra tahu aku hamil sebelum menikah, aku pikir semuanya selesai.”
Ardiansyah menatapnya datar.
“Jadi kamu memutuskan anak kita yang harus dianggap tidak pernah ada?”
“Aku berniat kembali nanti.”
“Kapan?”
Nadia tidak mampu menjawab.
Maya menatap kakaknya.
“Kak.”
Nadia menoleh.
“Kenapa uang pendidikanku dipakai untukmu?”
Wajah Nadia langsung membeku.
Maya tersenyum getir.
“Kakak tahu juga, ya?”
Tidak ada jawaban.
Itulah pengakuan paling jelas.
Maya merasa sesuatu dalam dirinya akhirnya patah.
Tetapi anehnya, setelah patah, dia justru merasa ringan.
Dia tidak perlu lagi mengejar pengakuan dari keluarga yang sejak awal memilih untuk tidak melihat nilainya.
Beberapa bulan kemudian, hidup Maya berubah total.
Bukan karena dia menjadi bagian dari keluarga Mahendra.
Dia menolak ketika Ardiansyah menawarkan uang.
Sebaliknya, Maya menggunakan dana pendidikan yang berhasil dikembalikan melalui proses hukum untuk kuliah jurnalistik di salah satu universitas di Jakarta.
Bu Endang dan Pak Surya harus mempertanggungjawabkan penyalahgunaan dana tersebut secara hukum dan mengembalikan aset yang masih bisa ditelusuri.
Nadia kehilangan program magangnya setelah kasus pemalsuan dokumen medis terbongkar.
Namun hal yang paling mengejutkan terjadi setahun kemudian.
Maya sedang duduk di sebuah kafe dekat kampus ketika Ardiansyah datang membawa seorang bocah kecil yang sudah mulai belajar berjalan.
Namanya Raka.
Nama yang dipilih Ardiansyah setelah resmi mendapatkan hak pengasuhan.
Raka langsung mengulurkan kedua tangan begitu melihat Maya.
“Tante!”
Maya tertawa dan mengangkatnya.
Ardiansyah duduk di hadapannya.
“Ada sesuatu untukmu.”
Dia menyerahkan amplop.
Maya membukanya.
Di dalamnya ada surat penerimaan program pertukaran mahasiswa jurnalistik di London.
Maya menatapnya tidak percaya.
“Saya tidak mendaftar ini.”
“Saya tahu.”
“Lalu?”
“Dosenmu yang merekomendasikanmu. Kampus mengirim email ke yayasan pendidikan kami untuk bantuan pendanaan.”
Maya terdiam.
London.
Kota yang dahulu menjadi tujuan Nadia saat meninggalkan bayinya.
Kota yang pernah dibayar menggunakan uang yang seharusnya menjadi masa depan Maya.
Kini kota yang sama membuka pintu untuk Maya karena prestasinya sendiri.
Ardiansyah tersenyum.
“Kali ini tidak ada yang mencuri kesempatanmu.”
Maya menatap Raka yang tertawa di pangkuannya.
Kemudian dia melihat surat itu sekali lagi.
Dulu dia pikir hidupnya hancur ketika ibunya memaksanya menjadi ibu dari bayi kakaknya.
Ternyata bayi itulah yang membawanya menemukan seluruh kebenaran.
Tentang keluarganya.
Tentang uang yang dicuri.
Tentang pengorbanan yang selama ini hanya berjalan satu arah.
Dan yang paling penting, tentang dirinya sendiri.
Maya akhirnya mengerti bahwa menjadi anak yang selalu disuruh mengalah tidak berarti dia dilahirkan untuk kalah.
Ada saatnya seseorang harus berhenti menerima peran yang diberikan orang lain kepadanya.
Ada saatnya dia harus menulis kehidupannya sendiri.
Enam bulan kemudian, Maya berdiri di bandara Soekarno-Hatta dengan koper di sampingnya.
Bu Endang tidak datang.
Nadia juga tidak.
Namun Maya tidak merasa kehilangan apa pun.
Di depan pintu keberangkatan, Ardiansyah berdiri sambil menggendong Raka.
Raka melambaikan tangan kecilnya.
“Tante Maya pulang?”
Maya tersenyum.
“Iya. Tante pasti pulang.”
“Bawa hadiah.”
Maya tertawa.
“Pasti.”
Sebelum Maya berbalik, Ardiansyah berkata, “Maya.”
Dia menoleh.
“Terima kasih karena hari itu kamu membawa Raka kepada saya.”
Maya menggeleng.
“Justru saya yang harus berterima kasih.”
“Kenapa?”
Maya melihat wajah kecil Raka.
“Karena kalau bukan karena dia, saya mungkin masih tinggal di rumah itu, menjalani hidup yang dipilihkan orang lain untuk saya.”
Pengumuman keberangkatan terdengar.
Maya menarik koper dan berjalan menuju pemeriksaan imigrasi.
Di tangannya ada paspor.
Di dalam tasnya ada surat penerimaan universitas.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada seorang pun yang menentukan ke mana dia boleh pergi.
Kali ini, masa depan itu benar-benar miliknya.
